Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
S2 - Cemburunya Richi


__ADS_3

Semester satu banyak pelajaran dasar saja. Hal itu tentu membuat Richi mulai bosan padahal ini baru hari ketiga belajar, tapi dia merasa jenuh lantaran pelajaran yang amat ringan baginya.


Kali ini, Richi duduk deretan bangku di stadion besar kampus. Dia memperhatikan sebagian siswa yang mulai praktek lari jarak pendek, sekitar 400 meter. Dia sudah melakukannya tadi. Dia kini duduk sendirian karena yang lain sibuk berlatih.


Richi menoleh kesebelahnya saat Evan duduk lalu memberi sebotol minuman kaleng.


"Thanks." Ucapnya sembari menerima minuman itu.


"Tidak salah pilih jurusan?" Tanya Evan memulai pembicaraan.


"Sepertinya begitu."


Evan tergelak. "Kupikir kau akan memilih sesuatu yang berbau militer."


Richi tak menyahut. Dia menenggak minumannya menatap kedepan.


"Kau sendiri?"


"Aku kuliah hanya untuk mengisi waktu luang." Jawab Evan.


Richi mengangguk-angguk, lalu dia teringat saat dulu Evan menolongnya. Laki-laki itu tampak kikuk dan pemalu. Tapi sekarang, kurun waktu satu tahun lebih, Evan sudah banyak berubah dimulai dari postur tubuhnya.


"Terima kasih, waktu itu kau menolongku. Aku mencarimu tapi kau menghilang."


"Aku harus kabur. Kalau tidak, aku bisa dibunuh karena berkhianat."


"Tapi mereka semua sudah tidak ada sekarang."


"Ya, kau benar. Akupun sudah kembali ke tempatku."


"Kembali? Memang sebelumnya kau dimana?"


"Sebuah kelompok yang hebat dan luar biasa. Awalnya aku pergi ke kota itu hanya untuk jalan-jalan. Tapi ternyata aku kecopetan sampai pada akhirnya ditawari masuk kesana supaya dapat uang." Jawab Evan tanpa melihat Richi. Tapi gadis itu tak lepas pandang dari Evan.


"Apa.. kelompokmu itu.. Foldcury?"


"Uhukk!!" Evan terbatuk sampai minuman yang hampir ia teguk tertumpah.


"Ah, aku benar." Tebakan Richi tepat sasaran.


"Kau.. tahu??"


Richi menggelengkan kepala. "Aku hanya pernah mendengarnya."


Evan menoleh ke kiri dan kanan, memastikan tak ada yang mendengar pembicaraan mereka.


"Kelompokku sangat terkenal dimanapun. Jadi kuharap, kau takkan memberitahu siapapun."


"Aku penasaran, kelompok kalian sebenarnya seperti apa? Apa kalian juga menjual anak-anak kecil?"


"Apa?? Hei, kami tidak seperti itu!" Suara Evan mengeras, membuat beberapa orang menoleh pada mereka.


"Maaf, aku hanya bertanya."


Evan menghela napas. "Kuakui, ketua kelompok kami memang sedang dalam kondisi tidak baik. Tapi, kami tidak sampai melukai perempuan dan anak-anak."


Richi mengangguk-angguk. Kalau dilihat dari karakter Evan sih, memang sepertinya tidak begitu.


"Sebenarnya Foldcury itu penyedia jasa pengawal atau bodyguard. Orang-orang awam mengenalnya sebagai itu. Tapi, yang tahu dunia hitam, pasti langsung paham. Apalagi jika disebut nama tuan Yohan, pemimpin Foldcury, pasti semua orang akan tunduk."


Richi menenggak minumannya. Yohan, katanya. Dia benar-benar tidak tahu apapun tentang Foldcury.


Tapi jika bukan Foldcury, lalu anak yang kemarin itu, dibawah tekanan siapa?


Richi keluar dari gedung olahraga dengan rambut cepol asal dan seragam olahraga berwarna abu hitam yang sedikit berkeringat. Dia menyandang tasnya disebelah bahu, lalu berjalan gontai seperti tanpa tujuan.


TIN!


Richi mengedikkan bahu, kaget dengan klakson mobil yang terparkir tak jauh darinya. Dia tahu, itu mobil Hugo yang baru dibelinya


"Wah, mobil siapa itu? Keren!"


"Itu bukannya mobil keluaran terbaru, ya?"

__ADS_1


"Aku belum pernah lihat, kayanya mahal."


TIN!


Klaksin itu berbunyi lagi, menyuruhnya segera masuk karena sesuai perjanjian, Richi tak mengizinkan Hugo turun atau menunjukkan wajah diantara mahasiswa olahraga.


Richi membuka pintu mobil itu, dia bisa mendengar bisik-bisik sekitar yang merasa kagum dan penasaran siapa orang dibalik kemudi yang menjemput Richi.


"Lama sekali!" Gerutu lelaki itu dan langsung menjalankan mobilnya.


"Kau naik mobil ini sengaja menarik perhatian orang-orang, ya?"


"Oh, tentu. Aku ingin semua laki-laki disini tahu kalau kekasihmu ini keren!" Jawabnya dengan percaya diri.


"Jangan tunjukkan mukamu."


"Iyaaa-iyaaa. Astaga kau ini." Keluh Hugo lalu memperlambat laju mobilnya. Dia menepi dan turun untuk membeli sesuatu.


Tak lama, ia kembali dengan segelas brown sugar yang baru-baru ini rasanya disukai banyak orang, termasuk dirinya.


"Nih, minum dulu. Olahraga bikin capek, kan?"


Richi menerima minumannya, "tidak sama sekali. Aku malah bosan karena terlalu ringan."


Hugo menggelengkan kepala. Benar-benar kekasihnya itu.


Sebentar, Hugo diam. Memperhatikan titik keringat Richi. Lalu dia melihat baju perempuan itu yang ternyata agak basah.


"Chi, kau berkeringat?"


Richi mengangguk sambil menyedot minumannya.


"Aaah. Jangan sampai kena jok mobilku!"


Richi menoleh dengan kening berkerut. "Apa katamu?"


"Jangan bersandar. Ini mobil baru, kalau kena keringat bisa kotor."


Richi memandangnya dengan tatapan kesal. "Kau takut mobilmu kotor karena keringatku?"


"Aaaahh! Lalu kenapa kalau mobil baru???" Richi menghentak-hentakkan kedua kakinya, membuat Hugo panik dengan karpet dibawah yang baru ia beli dengan harga mahal.


"Eeeehhh. Chi, jangan begitu. Nanti jadi kotor."


Kesal, rasanya ingin meninju wajah Hugo. Bisa-bisanya dia lebih mementingkan mobil ketimbang dirinya sendiri.


"Jadi, kau lebih memilih mobil ini dari pada aku?"


"Apa?"


"Cepat pilih. Aku atau mobilmu!"


Hugo menganga. "Mana bisa kau dan mobil dijadikan pilihan."


"Aku bilang pilih aku atau mobilmu?" Richi memegang handle pintu, bersiap kalau Hugo memilih mobilnya.


"A-aku jelas pilih kau lah. Tapi-"


"Bagus." Ucap Richi sambil bersandar dan menyedot lagi minumannya, membuat Hugo terus menganga lantaran tubuh Richi berkeringat itu akan membuat jok mobilnya kotor.


Tapi, yah, dari pada bertengkar dan dia didiamkan Richi berhari-hari, membuatnya pusing setengah mati, lebih baik jok mobilnya kotor saja. Toh, mobil ini memang dia beli khusus untuk kencan bersama gadis itu.


"Eehh.." Richi mendadak menegakkan tubuh, menatap ke arah depan dengan serius, membuat Hugo juga mengarahkan pandangannya ke depan. Disana, ada Erine yang berdiri di pinggir jalan seperti menunggu seseorang. Rambut hitam panjangnya yang ia gerai terbang dengan lembut.


"Dia kuliah disini?"


"Sekelas denganku." Jawab Hugo dan Richi hanya mengangguk-angguk tanpa melepaskan bibirnya dari sedotan.


Hugo ingin melihat raut cemburu di wajah Richi. Tapi gadis itu tampak tenang dengan mata terkunci ke arah Erine.


"Kau cemburu?"


"Kau bercanda, cemburu padanya?"

__ADS_1


"Yaah, dulu kau kan, marah-marah karena memperebutkanku." Hugo senyum-senyum sendiri mengingatnya.


Tak! Ia meletakkan minumannya di atas dashboard mobil dengan kasar. "Siapa yang memperebutkanmu? Aku hanya mengingatkan kalau dia harus tahu kau itu masih berstatus kekasihku. Kalau kau mau bersamanya, sana pergi! Aku tidak larang!" Richi cemberut, membuang wajahnya ke arah lain.


"Hehehehe." Hugo malah terkikik, merasa senang karena gadis itu cemburu tapi tidak mengaku.


"Jangan tertawa!!" Pekik Richi kesal.


"Aku senang kau cemburu."


"Aku tidak cemburu!"


"Masa? Berarti aku boleh, dong, mendekatinya."


Richi cukup lama menatapnya dengan tajam. "Ya sudah, sana pergi dekatin dia!" Richi menarik handle pintu, tapi pintu mobil tidak terbuka.


"Buka pintunyaaa!!"


"Kau mau kemana?" Tanya Hugo dengan sedikit tawa, melihat Richi cemburu merupakan kesenangan baginya.


"Mau pergi! Sana kau ajak dia naik mobil BARUMU ini!" Tekan Richi pada Hugo yang terus menahan tawa.


"Sudah, aku cuma bercanda. Sini, aku peluk."


"Serius juga tidak masalah. Kau pikir aku peduli! Buka pintunya!"


"Kau milikku, tidak bisa lari kemanapun."


Richi mendesah kesal, lalu bersandar dengan tangan melipat di dada.


"Kau marah-marah saja aku suka. Sini cium." Hugo bersiap dengan bibirnya, tapi gadis itu langsung mendorong pipi Hugo dengan tangannya.


"Sana, pergi!"


"Enggak. Aku mau cium."


"Sanaa! Aku tidak mau kau ciumm!" Richi terus menolak rangkulan Hugo.


"Ooohh. Kau ini sebenarnya marah karena apa? Cemburu?"


"AKU BILANG AKU TIDAK CEMBURU!" Teriak Richi kesal.


"Hehe. Iya, kau tidak cemburu. Tapi marah saat kubilang mau dekati dia, kan?"


"Aku tidak marah! Sana dekatin saja."


Hugo benar-benar senang melihat Richi cemburu. Padahal biasanya gadis itu tidak peduli bahkan saat Hugo dikerumuni banyak perempuan sekalipun. Tapi saat ini melihat kecemburuan Richi membuat hatinya senang dan semakin jatuh cinta pada gadis itu.


Hugo meraih tangan Richi, namun dengan cepat gadis itu menepisnya. Alisnya berkerut, tanda hatinya sedang tidak baik.


"Maaf, aku bercanda. Aku cuma suka melihatmu cemburu. Maaf, ya, sayang." Tutur Hugo, meraih tangan Richi tapi lagi-lagi ditepis.


Senyuman Hugo mulai menipis. Nampaknya dia terlalu mempermainkan emosi Richi.


"Sini, biarkan aku memelukmu sebentar." Hugo memaksa. Dia menarik tengkuk leher Richi, tapi gadis itu menolak. Dia mendorong tubuh Hugo dengan keras.


"Aku mau turun!" Sentak gadis itu sambil menjaga jarak tubuh yang ingin dipeluk Hugo.


Laki-laki itu tak peduli, dia terus menarik tubuh Richi yang memberontak.


"Lepas!"


Richi akhirnya kalah, Hugo dengan kuat menarik dan mengecup bibir Richi, tapi lagi-lagi gadis itu mendorong tubuh Hugo.


Hugo pula mengerahkan tenaganya, menekan tubuh Richi mendekat dan memaksa mencium lagi bibir itu, mellumatnya dan memberikan sensasi hangat keseluruh tubuh gadis itu.


Perlahan tangan Richi yang menggenggam keras bahu Hugo pun melemas, dia luluh.


Hugo terus mellumatnya, memberi decapan sampai menelan saliva yang ada disana. Dia tidak berhenti sampai merasa kekasihnya itu benar-benar tenang.


"Aku sangat mencintaimu. Tidak pernah ada yang lain, kau tahu itu, kan." Bisik Hugo ditengah napasnya yang memburu. Dia menatap bibir Richi yang basah karena ulahnya.


Richi hanya diam. Emosinya langsung mereda dengan apa yang Hugo lakukan padanya. Entah kenapa perasannya malah menjadi lebih baik.

__ADS_1


Lagi, Hugo mengecup bibir Richi dan mellumatnya beberapa detik.


Hugo mengusap lembut bibir basah Richi dengan ibu jarinya. "Maafkan aku, ya." Tutur Hugo. Dia mengecup kening kekasihnya, kemudian menjalankan mobilnya.


__ADS_2