Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Menjebak Damian (2)


__ADS_3

Gadis itu langsung menitahkan pelayannya pergi dengan gerakan mata. Cepat-cepat pelayan itu melangkah menuju dapur dengan membungkam mulutnya sendiri supaya tidak membocorkan apapun yang dia lihat barusan.


"Halo. Apa ini Damian?"


Tanya Richi dengan nada yang ceria. Namun beberapa detik ia menunggu, tak ada jawaban dari seberang.


"Bukan, ya? Apa ini Hugo?" Tanya Richi lagi.


'Bukan! Ini aku.' Sentak lelaki itu dengan cepat.


"Damian, kau kah?" Suara Richi terdengar gembira. Membuat hati Damian serasa berbunga.


'I-iya. I-ini.. aku.'


Richi duduk di atas meja, lalu menatap kamera cctv di atasnya.


"Akhirnya kau meneleponku juga. Senang bisa berkenalan dengan orang yang sudah lama mengagumiku."


Damian memperbesar layar demi melihat senyum lebar Richi. Dia mengelus wajah Richi di layar monitornya. Tetapi tiba-tiba dia terfokus pada tangan Richi yang berdarah, membuat gagang telepon putih itu berlumuran cairan merah kental yang masih mengalir dari telapak tangan Richi.


'Richi.. ta-tanganmu..'


"Kenapa tanganku?"


'Tanganmu.. ber-berdarah.'


Richi menatap ke arah kamera dengan senyumannya yang masih merekah. "Aku tahu. Tapi aneh, tidak terasa sakit sedikitpun. Kenapa, ya?"


Richi memindahkan telepon dari telinga kanan ke telinga kiri. Kini pipinya pun terkena noda darah, membuat Damian merasa tersiksa dengan perilaku Richi.


"Kau tahu Damian, terkadang menyiksa diri membuatmu merasa lebih baik." Ucap Richi. Dia memainkan darah yang masih menetes dari tangannya.


'Cepat obati! Aku tidak mau kau terluka.'


Richi terasenyum miring. "Untuk apa. Toh, tidak ada yang peduli padaku."


'Aku peduli!' Jawab lelaki itu cepat.


"Benarkah?"


'Ya! Aku peduli padamu. Cepat obati! Aku tidak mau kau kesakitan. Kau bisa infeksi.'


"Kau bohong."


'A-apa?'


"Kau tidak benar-benar peduli padaku. Kau juga sama dengan Hugo. Kau juga akan membuangku."


'Tidak! Itu tidak benar! Aku tidak sama dengan lelaki sialan itu!' Pekiknya dari seberang.

__ADS_1


Richi tertawa renyah. "Mana mungkin. Kau saja tidak menunjukkan diri. Padahal aku kesepian. Tapi kau.."


'Ayo bertemu.'


"Apa?"


'Ayo, kita bertemu. Aku ingin menyapamu secara langsung. Aku ingin makan siang bersamamu.'


Senyum Richi merekah kembali. "Aku mau. Aku sangat mau. Apa kau yang akan kesini?" Tanya Richi.


'Tidak. Aku.. tidak bisa keluar dari tempatku.'


"Lalu?"


'Datanglah ke tempatku.'


"Tempatmu?"


'Ya, aku.. aku sedang di tempatku. Tapi.. kau harus datang sendirian."


"Aku memang berencana ingin datang sendiri. Tapi, kau dimana?"


'A-aku.. di gudang Timberbox depan rel kereta api. Kau tahu?'


Timberbox? Gudang kayu yang sudah lama terbengkalai. Ternyata dia disana. Batin Richi.


"Kenapa kau disana? Bukan di rumahmu, ya? Apa kita tidak ke restoran mewah saja?"


"Tidak. Aku akan ke tempatmu."


'Kau mau kesini?'


"Ya, aku tidak suka keramaian. Kau pasti tahu itu, kan?"


'Ya, ya, aku sangat tahu. Itu sebabnya kita memiliki banyak kesamaan.'


"Benarkah? Baiklah aku kesana sekarang."


'Jangan sekarang. Datanglah satu jam lagi. Aku perlu membereskan beberapa hal.'


Richi tersenyum tipis, menatap lagi ke arah kamera di atasnya. "Oke. Aku akan kesana satu jam lagi."


'Baiklah. Sampai bertemu nanti, Richi.' Ucap lelaki itu dengan penuh senyuman. Tak bisa ia hindari deguban jantung yang mengguncang terlebih saat ini wajah Richi tampak begitu jelas.


"Damian."


'I-iya?'


"Kau mau aku memakai baju apa?"

__ADS_1


Mata Damian melebar. Dia melihat wajah Richi menatap ke arahnya. Gadis itu benar-benar menggugah hatinya.


'M-memangnya boleh, aku meminta?'


"Tentu. Aku akan melakukannya sebagai hadiah karena kau sudah mau menemaniku hari ini."


'Ee.. sebenarnya.. a-aku..'


"Iya? Katakan saja."


'A-aku suka melihatmu memakai gaun merah.. yang waktu itu kau pakai saat pergi bersama Harry. A-aku sangat menyukai baju itu.'


Ingin rasanya memaki, namun Richi memilih memendamnya dulu. "Benarkah? Selera kita sama. Aku akan bersiap."


'Richi.. sebelum itu,, obati lukamu.'


Richi melambaikan tangan ke arah kamera sambil tersenyum. "Tentu, Damian." Ucap perempuan itu lalu menutup telepon.


Sementara Damian langsung melompat kegirangan.


"Aaaaaahhhhahahah, yeaaahh!! Akhirnyaa.. penantianku yang panjang ini membuahkan hassiiil!!" Damian terus berjoget merayakan kemenangannya.


"Mmmuuaachh.." Damian mencium tembok, dimana foto-foto Richi menempel banyak hingga menutupi warna dinding.


"Aku harus membereskan ruangan ini dulu, lalu mandi dan memakai pakaian yang rapi. Tuksedo yang sudah kubeli untuk bertemu Richi, akhirnya terpakai juga. Hihihi, Senangnya...." Damian langsung membereskan bekas bungkus makanan dan sampah lainnya. Dia mempersiapkan tempat itu untuk acara makan siangnya bersama gadis yang selama ini hanya ada dalam khayalannya saja.


...~...


Richi duduk sembari mengatur emosi yang sejak tadi menguasai hatinya. Lelaki itu bilang, dia akan bersiap menyambut kedatangan Richi dan memintanya memakai gaun berwarna merah. Dia akan mengabulkan permintaan lelaki itu dan memberi kejutan lainnya sebagai tanda awal perkenalan.


Richi menggulung telapak tangan kanannya dengan perban. Dia memang sudah tak merasakan perih di tangannya, hanya saja dia merasa perasaannya kini tak bisa digambarkan.


Richi seperti ikut terbawa seperti psikopat menghadapi orang gila seperti Damian.Tapi, memang itu yang harus ia lakukan supaya lelaki itu percaya padanya.


Richi berdiri di depan kamera. Entah saat ini dia diperhatikan oleh Damian atau tidak, Richi hanya memperlihatkan seringainya pada Damian.


"Let's we start, dude." Bisik Richi ke arah kamera, dimana layar besar di ruangan Damian kini menunjukkan seluruh wajah Richi secara dekat. Namun tidak ada orang disana, karena Damian tengah sibuk mempersiapkan pesta kecil untuk perempuan kesukaannya.


~


"Dia benar-benar cantik.." Puji Damian. Dia berdiri di depan layar monitor besarnya, memperhatikan Richi yang tengah mengaplikasikan lipstik merah di depan cermin. Gaun dan pita kecil di rambut Richi sangat membuat gadis itu mempesona seperti biasa.


Damian tersenyum kecil. "Inikah yang akan menjadi kekasihku nanti?" Ucapnya sembari membenarkan posisi dasi kupu-kupu yang hinggap di kerah kemeja putihnya. Dia sudah rapi dengan tuksedo hitam. Hari ini, akan menjadi hari terspesial baginya.


Richi keluar dari kamar. Dia melangkah bebas dengan dress seatas lutut dan sepatu kets putihnya. Richi sudah memperkirakan apa yang akan terjadi, itu sebabnya dia tak ingin mempersulit diri dengan memakai hak tinggi.


Richi masuk ke dalam mobil, meninggalkan rumahnya dengan menancap gas dengan kencang karena tak sabar bertemu dengan Damian, orang yang sudah berani mengusik kehidupan pribadinya.


Beberapa menit perjalanan, Richi kini berdiri di depan sebuah kereta yang melaju kencang, menutupi gudang yang menjadi ruang pribadi bagi Damian.

__ADS_1


Setelah kereta berlalu, Richi berjalan melewati rel, menuju gudang besar yang ada di hadapannya. Gadis itu tidak bisa menahan rambutnya yang tertiup angin ke wajahnya, karena tangan gadis itu tengah sibuk, menggenggam dua jeriken berisikan bensin dan pemantiknya.


TBC


__ADS_2