Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Raid (2)


__ADS_3

Richi memicingkan matanya. Orang itu, dia seperti mengenalnya. Richi menatap lelaki yang tengah tertawa-tawa dengan seksama.


"Baiklah, Nona. Sepertinya kau bukan orang sembarangan hingga bisa sampai disini. Kau sudah menunjukkan pada kami betapa kau mencintai tuan kami. Kau patut diberi pelajaran."


Lelaki itu ternyata tidak sendiri. Dua orang dari sudut gelap dibelakangnya keluar sembari memegang belati.


"Tolong pelan-pelan. Dia adalah gadis kesayangan tuan Hard kita". Ucapnya dengan menyeringai.


"Hiaaat" Satu orang maju dengan gesit dan mengarahkan belati beberapa kali ke wajah Richi.


Dengan sigap dia memelintir lengan lelaki itu hingah pisaunya terjatuh. Lalu dengan sigap Richi meninju wajahnya dengan tangan kiri yang ber-knuckle sekuat tenaga. Wajahnya pecah dan mengeluarkan darah. Dia menjerit kesakitan.


Satu lagi, maju dengan Brutal tanpa teknik. Richi dengan sigap merunduk dan menendang belakang lututnya dan tendangan Dwi Hurigi mendarat di kepala hingga terbanting dengan keras di atas lantai. Lelaki itu terkulai. Tendangan Richi membuatnya tidak berkutik.


"Sialan kau!" Lelaki dengan wajah berdarah menyerangnya lagi dengan belati di tangannya. Richi menendang secepat kilat belati itu hingga terpental. Richi menusukkan belati yang ia gengam di bahu lelaki itu. Menekannya dengan kuat hingga jeritan lelaki itu terdengar di seluruh ruangan dalam kilang.


"Hugo!" Suara Axel terdengar dari jauh.


"Siapa kau?" Suaranya terdengar berat. Lelaki itu berjalan mendekat. Tawa yang dari tadi dia tunjukkan lenyap saat menyaksikan perempuan di depannya sangat lincah dan kuat.


Richi tidak menjawab. Dia membalikkan badan menghadap Hugo. Membantu dan memapah Hugo yang bersandar di tembok menyaksikan Richi yang mempertahankan dirinya.


Hugo merintih saat Richi membantunya berdiri. Sayatan di tubuhnya terasa menyakitkan.


Richi menoleh saat Bunyi senjata dikokang terdengar di telinganya.


"Diam di tempat!" Laki-laki itu mengeluarkan senjata apinya dari balik jeket yang ia sembunyikan dari tadi.


Richi memegang tubuh Hugo yang tidak bisa berdiri tegak. Sesekali dia melirik pintu keluar yang hanya berjarak 3 meter. Tetapi dengan berat badan Hugo yang ia papah, tidak mungkin dia lolos dari senjata api itu.


Richi terdiam. Dalam hatinya sedikit ciut dengan pistol di tangan orang itu.


"Larilah". Suara Hugo terdengar pasrah. Richi menoleh. Wajah Hugo sangat dekat hingga dia bisa merasakan gurat khawatir yang penuh luka hantaman itu.


"Kau takkan bisa kabur, Nona. Sayang sekali kau memilih mengorbankan dirimu demi tuan Hard yang bahkan tidak bisa melindungimu". Ucapnya sambil tertawa.


Dia tidak begitu mendengarkannya. Richi meneliti ruang. Dia melihat lantai yang basah dan jarak lelaki itu yang tidak begitu jauh berdiri.


Richi menepuk pelan belakang badan Hugo. Seperti mengerti, Hugo mencoba berdiri tanpa topangan. Richi menendang benda kecil ke arah samping Lelaki itu hingga membuatnya lengah melihat ke arah benda yang mendarat di sebelahnya.


Dengan sigap, Richi merunduk dan meluncurkan kakinya hingga mendekat lelaki itu. Dia dengan segap menendang kaki meninju dagu bawah laki-laki itu dengan knuckle di jari kirinya hingga muncratan darah keluar dari mulutnya. Tanpa ampun, Richi menikam bahu lelaki itu dengan belati, menekannya dengan kuat sampai dia menjerit.


"Kau mengingatku, tuan Saver?"


Mata lelaki itu melotot mendengar namanya disebut.


"Si-sia-pa kau." Suaranya tertahan, rasa sakit di dada kanannya sangat luar biasa. Dia tidak bisa menebak perempuan yang memakai masker hitam itu.


"Kuharap kau masih punya waktu untuk mencaritahu!" Tegas Richi lalu menarik tikamannya ke bawah sampai lelaki itu tergeletak dengan mulut ternganga karena menahan rasa sakit.

__ADS_1


Richi berdiri menatap laki-laki itu. Kenangan dua tahun lalu muncul dengan lekat. Saver, salah satu orang yang ingin sekali dia habisi, akhirnya benar bisa dibalaskannya malam ini. Richi mengambil belati yang menusuk Saver.


Dia berjalan menuju Hugo. Lalu lelaki itu dengan sigap memeluk Richi yang mendekat.


DOR!


Richi terbelalak. Hugo memeluk dan membalikkan badannya demi melindungi Richi yang hampir tertembak.


"Hu-hugo.." Richi ikut berlutut karena tidak kuat menahan Hugo. Dia menyentuh luka yang mengalirkan banyak darah. Dari pelukan Hugo, dia melihat punggung kanan lelaki yang tengah ia peluk terkena timah panas.


Richi melempar belati ke arah lelaki yang wajahnya penuh darah. Dia menjerit karena tikaman belati mendarat di lengannya yang memegang pistol.


"Ayo, Hugo. Kau harus bisa berdiri". Richi memapah Hugo yang berusaha berdiri dan berjalan dengan kaki terseret.


"Hugo, kau tidak boleh pingsan" Ucapnya dengan nada gemetar sambil terus berjalan.


Richi menutup pintu saat melihat lelaki itu mencoba berdiri.


DOR!


Suara tembakan terdengar lagi hingga membuat pintu tepat di bawah kaki Richi bolong. Richi terduduk di balik pintu. Dia tidak kuat memapah Hugo.


Hugo bangkit dengan sekuat tenaga karena tahu bahaya jika tetap disana. Dia berdiri menarik Richi ke tubuhnya dan menyelinap di balik tembok. Suara tembakan sangat jelas terdengar hingga membuat banyak bekas di pintu.


Hugo memeluk erat Richi merapat supaya tubuhnya tidak tersentuh timah panas.


Hugo menunduk. Dia melepas jepit rambut Richi hingga membuatnya terurai ke bawah. Dia memeluk gadis itu dengan rambutnya yang indah.


Richi menurunkan masker yang menutupi wajahnya karena sesak. Dia sudah tidak sadar atas apa yang Hugo lakukan pada rambutnya karena kekhawatirannya saat ini. Dia memendamkan wajahnya di dada Hugo. Dia sedikit takut, Hugo mengeluarkan banyak darah karena dirinya.


Richi mendekap lelaki itu dengan erat. Suara tembakan yang terus menerus terdengar tidak bisa meredam suara detakan jantung Hugo yang terasa di telinga Richi. Hugo, jantungnya berdegup sangat kencang.


Richi mendongak, melihat Hugo yang ternyata menunduk menatapnya. Pandangan mereka bertemu cukup lama. Dia melihat Richi dengan raut dinginnya.


"Hugo.." Richi mencoba memanggil saat melihat Hugo melemas.


Mata Hugo berkedip beberapa kali dengan lamban. Richi memapahnya saat suara tembakan tidak lagi terdengar.


"Ayo, cepat." Richi membawanya keluar dari sebuah pintu yang terbuka lebar menampilkan lapangan luas yang diterangi rembulan.


Dia berhenti, mendudukkan Hugo di bawah pohon besar.


Hugo bersandar dan meringis memegang pundak kanannya yang masih mengeluarkan darah.


"Hugo, kau bertahanlah. Aku akan mencari teman-temanmu".


Hugo menarik tangan Richi yang hendak pergi.


"Kenapa?" Richi berjongkok menanyakan apa yang Hugo perlukan.

__ADS_1


Lelaki itu hanya diam dan menatap wajah Richi yang penuh kecemasan. Rambutnya yang terurai dengan lembut menyapu wajahnya karena angin, membuat Hugo tenang. Wajah panik gadis itu, dia menyukainya.


Sesekali Hugo menelan ludah karena menahan sakit pada seluruh tubuhnya.


"Kau harus segera di bawa ke rumah sakit. Tunggu disini."


"Ja-ngan". Suara Hugo tersendat. Tangannya menggenggam lengan Richi.


Melihat itu, Richi menuruti dan duduk disebelahnya. Mungkin Hugo takut, kalau ada yang datang lagi menikamnya. Pikir Richi.


Mereka terdiam disana. Melihat ke arah langit yang biru gelap karena cahaya rembulan yang amat terang hingga gudang tanpa lampu pun masih membuat wajah mereka terlihat jelas.


Richi memandang halaman langit yang sangat indah. Kali ini, taburan bintang kini dia lihat ketika bersama Hugo.


"Kau, terli-bat la-gi". Suara Hugo terputus. Dia ingin sekali mengobrol, tetapi rasa sakit di dadanya menghambatnya.


Richi memegang ujung rambutnya yang menyibak ke wajahnya karena hembusan angin. "Hugo. Terima kasih, kau menolongku. Aku hampir mati".


"Kau memang bodoh sekali, ya. Kau pikir tembakan itu seperti kena cubit, apa!" Richi merepet sambil menahan tangisnya. Membayangkan suara tembakan yang hampir mengenainya tadi, sangat mengejutkan jantungnya. Dia bahkan tidak tahu harus apa jika Hugo tertembak di titik vitalnya.


Wajah Hugo memucat. Dia melihat gadis di depannya terlihat sangat sedih. Entah karena Hugo yang terluka, atau karena dirinya yang hampir saja mati jika tidak diselamatkan Hugo.


"Kau benar. Aku memang menghindarimu".


Ucap Richi tiba-tiba. Hugo melihat Richi dengan ekor matanya. Dia tidak mampu menolehkan kepalanya.


Richi tertunduk. "Kau membuatku terlibat dengan banyak pertarungan. Itu membuatku sangat tidak menyukaimu".


Richi menekuk lututnya dan mendongakkan wajah melihat langit yang indah.


"Lalu entah kenapa, akupun tidak bisa tenang saat mendengarmu di siksa oleh mereka." Richi terdiam sebentar. Dia melihat Hugo yang tengah menutup mata menahan sakit.


"Kali ini, aku yang sengaja melibatkan diriku sendiri untuk menolongmu. Kau jangan menganggapnya beban. Hugo, kau harus bertahan. Kau tahu kan, kau pasti punya banyak impian yang mau kau gapai".


Ucapan Richi membuatnya membuka matanya perlahan. Dia memaksa tangannya meraih ujung rambut Richi yang menyentuh tanah. Hugo menyentuh rambut gadis itu tanpa Richi sadari.


Richi menyimpulkan senyum di sudut bibirnya.


Richi lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Hugo. "Bertahanlah, Hugo. Kumohon". Richi meneteskan air matanya. Dia berharap Daren segera datang dan menyelamatkan Hugo. Alangkah merasa bersalahnya dia jika Hugo tidak bisa terselamatkan.


Hugo tersenyum tipis. "Hei.. a-ku.."


"Richi! Hugo!" Suara Axel menggema membuat Richi langsung berdiri.


Richi menghapus air matanya. "Cepat! Cepat tolong Hugo..!" Suara Richi ikut menggema. Dia senang akhirnya Axel menemukan dirinya dan Hugo yang tengah sekarat.


Hugo belum sempat mengucapkan kata-katanya. Padahal dia ingin sekali mengatakan itu. Matanya sangat berat.


Petugas medis menggotong tubuhnya naik ke tandu dan menyeretnya menuju ke dalam Ambulan yang sudah di panggil sejak tadi.

__ADS_1


Hugo masih bisa melihat Richi tengah berdiri menatapnya dengan rasa kekhawatiran yang besar. Richi menghapus air yang keluar dari sudut matanya. Sampai Hugo masuk ke dalam mobil, Matanya berkedip beberapa kali hingga akhirnya tertutup tidak sadarkan diri.


To Be Continued...


__ADS_2