Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Hutang Penjelasan


__ADS_3

"Mereka mau masuk, tuh. Ayo, cepat."


Tangan Hugo tertahan saat melihat dua mobil hitam melaju kencang ke arah Richi dan kawan-kawannya. Mobil itu berhenti dan banyak laki-laki yang keluar dari sana.


"Siapa mereka?" Tanya Daren.


"Aku harus cepat!"


"Tunggu." Daren menahan tangan Hugo yang hampir membuka pintu. Parkiran itu memang tengah sepi, mobil pun hanya beberapa saja berjejer di atas. Jika melihat dari seragamnya, sepertinya itu Stripe.


Richi menyipitkan mata melihat laki-laki bermasker sekitar dua belas orang bersiap menyerang. Sementara Bella dan yang lain sudah bersiap dengan kuda-kudanya.


"Kau rupanya." Tukas Richi sembari memasukkan tangan ke kantong hoodi-nya.


Lelaki itu menunjuk dirinya sambil terheran. Padahal dia memakai masker tetapi perempuan di depannya sudah mengenalinya. "Kau tahu aku?" Tanyanya heran.


"Sebenarnya tidak, tapi karena kau bicara, aku jadi tahu." Richi tersenyum menghina kebodohan Albern, adik tiri Harry.


"Sialan!" Makinya.


"Kau menginginkanku?" Tanya Richi langsung.


"Ya, aku ingin membunuhmu. Kalau aku bisa, aku akan mendapatkan semua harta ayahku." Tukasnya lalu tertawa.


"Kalau begitu, ayo. Satu lawan satu." Richi maju satu langkah lalu menatap semua orang di hadapannya. "Kalian, saksikan aku bertarung dengan bos kalian ini. Jika dia kalah, kalian harus mundur!"


"Rel, biar aku saja yang menghadapinya." Ujar Clair.


"Biar aku saja, Clair. Kalian bersiaplah jika mereka menyerang tiba-tiba." Bisik Richi.


Clair merogoh knuckle yang selalu ia simpan di kantong celana lalu memakainya.


"Baiklah. Sini maju."


Richi maju beberapa langkah namun Albern sudah berteriak.


"SERAAAANGGG!!!"


Mendengar itu, Clair dan yang lain langsung berlari ke depan Richi, menghajar para berandal yang hanya fokus pada Richi.


BRAK!! Satu hantaman di wajah berhasil Clair layangkan hingga wajah pria itu berdarah. Knuckle yang Clair kenakan memang langsung merusak tanpa ampun.


Perkelahian pun terjadi, mata Richi menangkap Albern yang tersenyum menatap pertempuran di depannya.


Mata Richi tajam ke arahnya, sampai ia menyadari bahwa mata rubah menajam pada mangsanya.


Albern yang menyadari sinar laser ke arahnya, langsung berlari.


Mata Hugo mengikuti arah Albern berlari yang dikejar Richi dari belakang dan..


BRUK!!


Albern tersungkur ke depannya akibat tendangan Richi.


"Hah, sial!" Umpat Richi sambil menepuk-nepuk tangannya karena sempat ikut terjatuh.


"Bangun kau, bodoh!"

__ADS_1


Albern bangkit dengan meringis. "Kau, sialan!" Dia mengeluarkan senjata dari balik bajunya.


"Daren! Cepat keluarr!" Pekik Hugo panik saat melihat lelaki itu mengeluarkan pistol.


Hugo dan Daren langsung keluar. Lari Hugo terhenti saat menyadari Daren malah lari ke arah Olivia yang masih bertarung.


Ah, terserahlah. Batinnya.


"Angkat tangan!" Albern menodongkan senjata dengan tangan bergetar.


Richi memutar bola mata, kesal dengan pertikaian yang tiada akhir ini.


"Richiiii.."


Richi mengerutkan dahi mendengar suara Hugo yang muncul. Lalu saat Albern teralihkan pada Hugo, dia langsung mendekat dan menendang pistol di tangan Albern.


BRUK!


"Aaaakkk.." Albern merintih saat tangannya yang meraih pistol jatuh itu berhasil diinjak Richi.


"Lemah." Tukas Richi lalu menendang pistol ke arah belakang, dan didapat dengan baik oleh Hugo.


Hugo mengarahkan senjata pada Albern yang masih tergeletak karena tangannya yang diinjak kuat oleh Richi.


DOR!


Albern terisak, ia tiba-tiba menangis saat Hugo menembakkan senjata di sebelah kepalanya. Dia terkaget dan gemetar, untung saja tidak kena, batinnya.


"Bangsat! Berani kau menyentuh Richi!" Pekik Hugo pada Albern yang sudah meringkuk di atas lantai.


Sementara Daren langsung menendang laki-laki yang akan menghajar Olivia dari belakang.


"Diam disitu, biar aku yang menyelesaikannya." Ucap Daren tanpa menoleh ke belakangnya.


Mata Olivia tak berkedip memandang sosok laki-laki yang kini terlihat melindunginya. Daren dengan sigap menghajar satu laki-laki yang memang Olivia sudah kewalahan menanganinya.


BRUK! Lelaki itu berhasil tersungkur dengan wajah yang menghantam lantai.


"Kau baik-baik saja?" Daren kini menatap Olivia yang masih tertegun di tempatnya.


"Lukamu.."


Olivia menjauhkan wajahnya yang hampir disentuh Daren.


"Ini biasa." Ucap Olivia.


"Hah, lihat itu. Padahal wajahku yang lebih parah." Ungkap Bella yang bibirnya mengeluarkan sedikit darah. Sementara Clair, tak tersentuh dan malah tangannya penuh darah karena knuckle yang dikenakannya.


"Ayo ke mobilku." Daren menarik tangan Olivia yang menurut saja.


"Hai, kalian baik-baik saja?" Richi menghampiri kedua temannya, mengecek keadaan mereka. "Mana Olive?"


Tanpa jawaban, mata Richi mengikuti arah mata Clair dan Bella melihat.


"Ah, disana rupanya."


"Sial, bisa-bisanya acara kita gagal." Tukas Clair.

__ADS_1


"Tak apa, Clair. Kita bisa menggantinya dilain waktu." Sahut Richi sambil menepuk punggung sahabatnya dengan lembut.


"Aduh! Sakit tahu!" Pekik Olivia dari tempat yang agak jauh disana. Suaranya nyaring di ruang tertutup yang sepi.


"Makanya diam! Jangan gerak-gerak!" Pekik Daren tak mau kalah.


"Aku saja, sini!"


"Ck! Diam kubilang!"


Richi dan yang lain menggelengkan kepala. Nampaknya hubungan antara tuan dan supir mulai berjalan dengan baik.


~


"Itu kenapa aku mau ikut tadi!" Hugo berjalan mondar-mandir dihadapan tim Fox yang sudah tiba di markas mereka, membawa Albern sebagai sandera.


"Lain kali, kemana pun kau pergi, Richi. Aku akan ikut! Kalian dengarr??!"


"Hei, Hugo. Apa kau tidak berlebihan?" Bella menatap sebal ke arah Hugo.


"Ya, kau pikir kau siapa harus kami turuti." Sambung Olivia.


"Aaah.." Hugo berdiri menatapi keempat perempuan itu secara bergantian.


"Kalian lupa, siapa aku disini?"


Clair membuang wajah. Ya, tim Elang memang tim yang tertinggi di Valiant dan punya kekuasaan di atas tim yang lain.


"Tapi kami baik-baik saja, tahu! Tanpa kau pun kami bisa menyelesaikannya!" tukas Bella.


"Bella benar, Hugo. Kami bisa menyelesaikannya." sambung Richi dan Hugo mencebik mendengar itu.


"Aaah. Aku kesal. Tiket nonton jadi hangus, kaan! Padahal kita sudah lama tidak jalan-jalan seperti ini." Clair tampak kesal sejak tadi. Pasalnya, dia sulit meninggalkan kedai jika bukan hal penting. Saat dia punya waktu luang, malah seperti tengah menjalankan misi.


"Kalian ikut saja bersama kami, ke Villa-ku minggu depan." sahut Hugo tiba-tiba.


"Ke Villa-mu? Serius?" Clair antusias dan anggukan Hugo membuat ketiganya tersenyum senang.


"Clair!"


Semua menoleh pada sumber suara.


"Kau tidak apa-apa? Kudengar kalian diserang."


Wajah Clair menegang, Simon malah memegangi wajah Clair yang tampak baik-baik saja.


"Syukurlah kau tidak apa-apa." tukasnya lagi.


"Simon, kesini sebentar!" Jonathan memanggil dan Simon mengikutinya.


"Clair, kau berhutang penjelasan pada kami." Tukas Olivia yang menatap ketegangan Clair. Sementara yang lain melongo apalagi Richi.


Ada hubungan apa Clair dan Simon selama ini? Simon? Lelaki yang seperti tidak ada dikehidupan ini, pendiam, cuek, dingin. Lalu tiba-tiba... Mata Richi menatap Clair.


"A-aku.. Akan jelaskan.." Ucap Clair gugup...


TBC

__ADS_1


** Jangan Lupa Baca SYAHDU (Teman Tidur Kontrak) karya Author. **


__ADS_2