Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Kriteria


__ADS_3

Hugo tengah bercengkrama bersama beberapa gadis. Gadis-gadis itu bercerita banyak hal namun nampaknya dia tidak mendengarkan karena matanya tertuju pada Richi yang bercerita sambil tertawa dengan Emerald.


Tak lama, mereka berpisah. Richi melambaikan tangan pada Emerald lalu berjalan ke arahnya


"Hugo, bagaimana perempuan kesukaanmu?" Tanya salah satu dari mereka.


"Apakah harus berambut panjang?" Sambung yang lain.


Mata Hugo menatap Richi yang berjalan tanpa melihat ke arahnya. Dia mengingat wajah cantik gadis itu saat rambut panjangnya terurai.


"Tentu saja". Jawabnya dengan senyuman.


"Ah, sayang sekali rambutku pendek". Sahut salah satu dari mereka.


"Aku suka gadis yang memakai dress, memakai heels, berdandan layaknya perempuan. Itu sangat mempesona." Ucap Hugo dengan santai, kalimat yang pernah juga ia ucapkan pada Richi.


"Hugo menyukai gadis anggun, bukan tangguh seperti itu". Sindir gadis lain saat melihat Richi berjalan dengan cuek.


"Haha, baiklah aku masuk ke kelasku dulu. Sampai jumpa". Pamitnya saat melihat Richi sudah masuk ke kelasnya.


Sementara Richi, menghempaskan tubuhnya di kursinya.


"Hah, dari tadi orang-orang terus menyindirku. Ya, ya, aku tahu aku tidak masuk kriterianya, sebab itu kalian puas, ha?" Gerutu Richi dengan nada pelan. Dia tidak ingin ada yang mendengar.


"Iki siki gidis ying inggin, piki driss" ejek Richi dengan meniru ucapan Hugo tadi, dia lalu membuka novel dan mulai membacanya.


"Sial, tidak masuk otakku!" Ucapnya sambil menutup lagi Novelnya karena ia tidak bisa fokus.


Ponselnya bergetar, Richi membukanya. Ia mendapat alamat kemana hari ini Carina melangkah.


"Aku tidak suka ini, tetapi harus. karena sudah sangat merepotkan". Gumamnya lagi lalu menyimpan ponselnya.


~


Hugo duduk melingkarkan tangannya di lutut. Dia melihat teman-temannya yang bermain basket di lapangan, sesekali melirik kelas Richi yang sudah tertutup walau sejak tadi dia sudah melihat gadis itu pulang dengan terburu-buru.


Hugo memutar-mutarkan benda kecil di tangannya. Dia merasa sangat berat menjalani hari, apalagi Richi tampak tidak peduli.


Padahal tadi, ingin sekali dia duduk dengan gadis itu. Juga saat hampir menabraknya, wajah Richi seperti tidak suka.


Richi, sulit sekali walau hanya untuk berteman denganmu. Batinnya.


Daren yang baru bermain basket duduk disebelahnya. Peluh sudah membasahi seluruh tubuhnya.


"Kau tidak main?" Tanyanya pada Hugo yang diam saja dengan memegang jepit rambut Richi di tangannya.


"Jadi, kalian memutuskan tidak berteman lagi?"


Hugo melirik benda kecil di tangannya, "dia selalu di teror oleh gadis-gadis itu".


Daren menahan tawa. "Ya, dia pernah mengatakannya padaku."

__ADS_1


"Benarkah?"


Daren mengangguk, "waktu itu aku melihatnya tengah duduk disini, memegang ponsel sambil menggerutu, ternyata dia diancam ini itu oleh penggemarmu".


Hugo diam, dulu dia menyukai orang-orang yang mengidolakannya karena merasa menjadi orang yang penting. Sekarang sepertinya dia mulai membenci itu.


"Aku tahu kau menyukainya. Kau hanya kurang berusaha." Ucapnya sambil menepuk-nepuk bahu Hugo dan kembali bermain. Sementara Hugo tidak menyetujui perkataan Daren, karena gadis itu tidak menginginkan kedekatan dengan dirinya lagi.


"Sulit sekali hidupku sekarang". Gumamnya lalu menarik napas panjang.


...🦇...


Richi mengambil jarak, dia tengah mengikuti Carina yang berjalan sangat santai. Dia menunggu tempat yang tepat untuk menyerang gadis itu.


Hari ini, Richi bolos dari latihannya karena akan memberi pelajaran pada orang yang sudah beberapa kali mengganggunya.


Richi menutupkan hoodi ke kepalanya dan menaikkan masker yang melingkar di lehernya, dia sudah menemukan tempat yang tepat.


Richi mempercepat jalannya, menarik lengan Carina masuk ke dalam gang sempit yang ia lewati.


Carina yang terkejut dengan cepat mengambil jarak saat Richi melepas cengkramannya.


"Siapa kau!" Pekiknya. Lalu melihat dari atas hingga bawah, rok yang sama dengannya.


"Jadi, kau mengajakku bermain-main?" Ucap Richi tanpa membuka maskernya.


Carina mengernyitkan alis, melihat siapa sosok di depannya namun dia tidak mengenali suaranya.


"Katakan, apa maksudmu mengirimkan banyak orang bayaran untuk menghajarku".


"Astaga, aku sampai takut. Ternyata itu kau. Baguslah akhirnya kau dengan berani menemuiku."


Carina melangkahkan kakinya ke depan. "Kau gadis kurang ajar!" Pekiknya sambil menunjuk Richi.


"Kau sengaja datang dan menggoda Harry, kan? Kau juga yang menggagalkan rencanaku pada Hugo. Maumu apa, ha?"


Richi melengos. Membiarkan perempuan itu bicara semaunya.


Carina menyunggingkan senyum miringnya. "Kau perempuan murahan. Kau mendekati banyak laki-laki. Apa itu yang diajarkan Ibumu padamu?"


BRAK!!


Richi memutar tubuhnya, memberikan tendangan tepat di pipi gadis itu.


"Berdiri. Kau mengajakku bertarung, kan?" Tantang Richi.


Carina memegang pipinya yang mulai bengkak, dia berdiri dengan tatapan berang. "Kurang ajar, apa kau tidak tahu siapa aku?" Pekiknya lalu mulai menyerang Richi.


Dengan sigap, Richi menahan dan menyerang Carina hingga gadis itu tersungkur kebelakang.


Carina memegang hidungnya, dia tidak sangka gadis itu amat kuat. Bahkan tenaganya seperti laki-laki.

__ADS_1


Richi mengernyitkan alis saat rok Carina tersingkap hingga memperlihatkan ukiran tato di pahanya. Dengan cepat, Carina menutup lagi Roknya.


"Kau?" Richi mendekati Carina, dan menyingkap rok gadis yang sudah mengeluarkan darah di hidungnya.


Richi terbelalak saat melihat tato dengan ukiran huruf S persis lambang yang ia pernah lihat dua tahun lalu di bahu seseorang.


"Kau Stripe?"


Carina terkesiap. Dia dengan cepat berdiri dan lari. Namun Richi berhasil menarik lengannya dan menghempaskan tubuh gadis itu hingga terjatuh.


Richi menahan Carina dengan menginjakkan kakinya di leher gadis itu.


"Ternyata kau salah satu anggota Stripe. Pantas kau berlagak. Aku ingin sekali membunuhmu!" Mata Richi menyorot tajam, aura yang menakutkan kini terlihat disana dan membuat Carina ketakutan.


"Si-siapa kau". Ucapannya terbata karena injakan kaki Richi di lehernya mulai mengencang.


Richi melepaskan kakinya dan berjongkok, "Kau mau tahu? Tetapi setelahnya kau harus mati."


Carina bergerak mundur, bibirnya gemetar. Dia sangat ketakutan apalagi mata Richi tidak berkedip ke arahnya.


"Jangan mengangguku!" Ucap Richi penuh penekanan dan langsung mendapat anggukan dari Carina.


"A-aku ja-janji".


Richi berdiri, dan melangkah pergi. Sementara Carina masih diam di tempatnya. Dia merasa menyesal apalagi entah bagaimana Richi bisa mengetahui Stripe.


Carina mulai menyadari sesuatu yang ia tidak boleh ungkapkan. Jika bosnya tahu ada orang lain yang mengetahui dirinya bagian dari Stripe, habislah dia.


Sementara Richi berjalan sambil melepas maskernya. Dia tidak menyangka Stripe mulai memperluas anggota sampai merekrut perempuan menjadi bagiannya.


"Mereka pasti punya rencana." Gumamnya kemudian berlari menuju mobilnya.


...🐾...


Daren menemui Richi, dia datang dengan selembar kertas di tangannya.


"Kau sibuk?"


Richi menoleh, Daren duduk di sebelahnya.


"Dua malam lagi ada acara pesta dan.."


"Aku tidak suka pesta". Ucapnya memotong kalimat Daren.


"Ya, aku sudah dengar itu. Tapi kali ini berbeda. Ini pesta topeng dan tidak akan ada yang tahu kalau kau datang". Jelasnya pada Richi, namun gadis itu hanya diam.


"Hal berat pasti sedang terjadi. Aku hanya ingin memberikan ini, datanglah untuk sejenak menghibur diri". Daren meletakkan selembar kertas undangan di sebelah Richi lalu ia berdiri.


"Jangan lupa bawa itu sebagai kartu masuk." Ucapnya lalu pergi begitu saja. Sementara Richi menoleh pada kertas itu.


"Pesta topeng?" Gumamnya pelan. Dia melirik lagi pada Hugo yang tengah berdiri bersama banyak perempuan lalu mengingat ucapan Hugo tentang perempuan kesukaannya.

__ADS_1


"Hah, aku tidak akan datang!" Ucapnya lagi.


TBC


__ADS_2