Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Memori Buruk


__ADS_3

"Kakak.."


Richi memiringkan kepalanya, melihat ke arah laki-laki bertubuh tinggi berdiri paling depan. "Kau rupanya." Ucapnya lalu tersenyum miring.


Lelaki itu melihat pertumpahan darah di depannya. Gadis itu benar-benar menghabisi seluruh anggotanya.


Dia menggeser posisinya, memiringkan tubuh seperti memberi jalan pada Richi lalu menundukkan kepala. Melihat ketua tim melakukan itu, mereka mengikutinya, membuka jalan walau dengan kebingungan dengan apa yang ketua tim mereka lakukan pada orang yang sudah mengacaukan tempat mereka.


Richi berjalan saja, melewati mereka tanpa tanpa berkata apa-apa. Ternyata tak salah dia memberi pelajaran pada lelaki itu saat dia diculik oleh suruhan Carina ke dalam mobil waktu itu.


Setelah merasa Richi keluar, lelaki itu berteriak pada Gary.


"Bodoh! Kau bodoh sekali!!"


Gary tersentak, bagaimana mungkin kakaknya juga takut pada gadis itu apalagi pasukan dibelakangnya begitu banyak.


"Bereskan semua! Panggil tim medis, Cepat!"


Anggotanya bergerak sesuai instruksi lalu memeriksa orang-orang yang tergeletak, apakah masih hidup atau sudah mati.


"Kak.. Kak, a-ada apa.." Gary masih kebingungan. Apalagi melihat tatapan tajam kakaknya membuatnya semakin penasaran apa yang terjadi sekarang.


"Jadi gadis yang mau kau kerjai itu, dia? HAH!?" Eddy berjalan kesana kemari sembari menjambaki rambutnya, merasa frustrasi sebab adiknya kini membuat masalah besar yang mungkin tak dapat diatasi.


"A-apa.. ada apa.." Gary berusaha bangkit dengan sisa tenaganya, dia ingin sekali mendengar mengapa kakaknya itu begitu takut sekarang.


"Dia itu Valiant, bodoh!"


"A-apa.." Gary menganga, matanya membulat dan tak berkedip mengingat apa yang ia baru saja lakukan pada gadis itu. Pantas saja gadis itu sangat tangguh bahkan tak tersentuh oleh anak buahnya.


"Kau lihat!! Anggota perempuannya saja kita tidak bisa lawan!! Apalagi kalau sampai ketuanya yang datang dan menghancurkan apa yang sudah kubangun! Bangsat!" Edyy melemparkan bola biliar ke lemari kaca hingga pecahannya jatuh ke tubuh Gary, lelaki itu menutupi kepalanya dan merasakan penyesalan luar biasa.


"Kak.. ba-bagaimana.." ketakutan mulai menyelimutinya lagi. Apalagi Richi tidak membunuhnya, mungkin saja dia menyisakannya untuk dibunuh langsung oleh Keen, ketua Valiant yang tidak pernah menunjukkan wajahnya sama sekali, namun kekuatannya membuat semua kelompok bahkan organisasi kriminal tunduk jika disebut namanya.


Keen, tidak pernah muncul jika bukan pada situasi yang paling genting. Karena mengirim anak buahnya saja sudah bisa menyelesaikan pertikaian. Semua organisasi di kota ini sudah tahu siapa Valiant, kelompok yang tidak jelas keberadaannya, tidak tahu bidangnya, hanya tiba-tiba muncul jika sesuatu mengganggu mereka. Yang hanya mereka jelas tahu, Valiant bukan organisasi yang membuat kejahatan.


"Jason!" Teriak Eddy memanggil anggotanya.


"Ya, Bos."


"Mulai sekarang, apapun yang Gary katakan dan perintahkan, kalian jangan ikuti. Dia bukan lagi atasan kalian!"


Gary melototkan matanya. "A-apa! Kak.. apa yang kau lakukan!"


"Aku menyelamatkan apa yang sudah kubangun. Kau hanya membuat masalah dalam organisasiku!" Ucapnya lalu menuju ruang Cctv.


"Bos.. a-aku sempat menyalin videonya.." ucap pria yang sempat dihajar Hugo di dalam ruang cctv tadi. Lalu dengan berjalan pincang, dia ikut masuk ke ruangan cctv dan menunjukkannya pada Eddy.


Melihat video di layar, dia mengepalkan tangannya dan menonton dengan geram, namun tidak bisa berbuat apa-apa, dia merasa gadis itu luar biasa.


Eddy keluar ruangan, duduk di kursi kekuasaannya dan mulai berpikir.


"Tidak bisa dibiarkan. Aku tidak mau apa yang kubangun hancur seketika.." gumamnya menatap kosong ke depan, mencari cara supaya bisa mendapat perlindungan.

__ADS_1


"Jason, kirim potongan video itu pada tuan besar. Dia sedang mencari perempuan itu." Titahnya pada Jason. "Darrel. Ya, dia pasti Darrel yang dicari tuan besar. Jika aku memberitahunya, aku akan mendapat keuntungan besar."


"Bos, sebaiknya, kita jangan gegabah. Keen bisa saja tidak tahu soal ini karena gadis itu sudah menyelesaikan masalahnya disini. Lalu, jika sampai perempuan itu ditangkap dan mereka tahu bahwa video itu didapat dari Blackstone, kita benar-benar akan habis!" Jason mencoba menasehati bosnya, memberi pertimbangan agar masalah tidak sampai lebih dalam lagi.


Eddy berdiri, menatap ke arah pisau penuh darah yang tergeletak di bawah kursinya, "Tawarkan video itu lalu minta perlindungan dari mereka. Aku yakin mereka akan menerima tawaran itu." titahnya lagi, menghiraukan nasihat bawahannya.


Jason mengangguk lalu menuju ruang cctv untuk menyalin videonya. Eddy mulai mempertimbangkan langkah apa yang selanjutnya ia ambil untuk menyelamatkan organisasinya.


~


Hugo menatap Richi yang tengah mengobati luka tusuk di tangannya. Mereka tak banyak bicara sejak keluar dari tempat rongsokan tadi. Banyak yang ia ingin tanyakan, namun melihat suasana hati Richi, ia mengurungkan niatnya.


Richi sudah membersihkan wajah dan tubuhnya dari noda darah yang menempel dengan tisu basah. Wajah bringasnya pula sudah berubah ke mode semula. Kini, hanya terlihat gurat kekhawatiran disana.


Dia dengan tekun melilitkan perban di lengan Hugo di dalam mobil, seperti sudah terbiasa melakukannya. Dia benar-benar tahu urutan pengobatan yang ia lakukan pada Hugo.


"Kau yakin, kau baik-baik saja?"


Richi mengangguk, lalu menempelkan plaster untuk mengakhiri lilitan perban.


Terdengar ******* kasar napasnya, Richi menatap lekat wajah Hugo. "Terima kasih, kau sudah menolongku."


Hugo menarik senyum di salah satu sudut bibirnya. Wajah Richi benar-benar berubah 360°. Dia tadi melihat Richi seperti serigala, namun sekarang wajahnya sudah menjadi perempuan normal pada umumnya yang tengah cemas pada pacarnya yang sakit.


"Aku tidak mungkin membiarkanmu begitu saja. Aku sangat khawatir, sejenak aku melupakan siapa kekasihku sampai aku melihatnya sendiri."


Richi tak bergeming. Suasana hatinya masih buruk sebab perlakuan para lelaki sialan tadi padanya.


"Apa ada sesuatu yang mengganjal di hatimu?" Hugo mengelus lembut pipi Richi. Dia bertanya, sebab melihat gurat kesedihan amat dalam yang belum pernah ia lihat diwajah Richi sebelumnya.


Saat usianya 7 tahun, dia dan temannya diculik. Emely namanya. Gadis cilik yang satu sekolah dengan Richi. Mereka adalah gadis yang periang dan suka tertawa, namun saat tengah menunggu kedua orang tua mereka di depan sekolah sambil bermain di taman, mereka diculik. Dua orang guru yang menemani mereka tak berkutik sebab diancam dengan senjata api.


Sampai di tempat yang dia tak ketahui, seorang dari 4 pelaku itu masuk dan mulai menggerayangi Emely di depan Richi. Ingin dia melawan, namun tak bisa karena ikatan di tangannya.


Emely menangis histeris, sementara tubuh Richi bergetar menyaksikan hal yang sepatutnya ia tidak saksikan. Sampai saat pria itu selesai dan melihat ke arah Richi.


Richi kecil mulai ketakutan dan menangis ketika pria itu membuka rok sekolahnya. Untunglah, saat itu juga, Ayahnya berhasil menemukan mereka.


Namun pemerkosaan pada Emely sudah terjadi, gadis kecil itu tak pernah lagi masuk ke sekolah. Begitu juga Richi yang mengalami trauma hingga harus mengikuti terapi psikologis demi menyelamatkan mentalnya.


Dari situlah, Richi lebih banyak diam dan tidak banyak bersosialisasi apalagi dengan laki-laki. Namun, karena adanya dukungan dan semangat dari orang tua dan kakaknya, dia bisa melewati semuanya.


"Aku ingin sekali bertemu Emely, tapi aku tahu dia pasti sangat malu. Berita terakhir yang kudengar, keluarganya sudah pindah keluar negeri setelah kejadian itu."


Hugo hanya mendengarkan, matanya tak lepas dari wajah kekasihnya yang terlihat sedih. Pasti hal itu sangat melukai perasaannya dan memori buruk yang tak bisa dilupakan.


"Itu juga yang menjadikanku ingin lebih kuat dan hebat, mengikuti Taekwondo, Muay-Thai, menembak, pedang, apapun. Supaya tidak terjadi hal yang sama." Ungkapnya lalu menoleh ke arah Hugo.


"Apa yang terjadi pada pria itu?" Tanya Hugo penasaran.


"Aku membunuhnya dengan tanganku sendiri. Yah, dia dipenjara selama 5 tahun, hukuman yang sangat tidak pantas. Jadi, aku memantaskannya, menyiksanya sampai mati." Ekspresi Richi dingin, dia seperti terbiasa melakukan hal itu.


"Artinya, kau sudah membunuh manusia saat usiamu 12 tahun?"

__ADS_1


"Dia bukan manusia." Sanggah Richi.


"Benar." Hugo mengelus lembut rambut Richi yang wajahnya sudah bertekuk.


"Jadi, kenapa kau bertanya padaku saat aku ingin meninju si brengsek itu?"


"Aku khawatir kau akan membunuhnya, Hugo. Membunuh orang akan membuat kewarasanmu sedikit terganggu. Aku juga begitu dulu. Saat meyakinkan diriku bahwa yang kubunuh bukan manusia, barulah aku sedikit tenang."


Penjelasan Richi membuat Hugo tersenyum. "Apa sekarang sudah berpengalaman?"


"Yang jelas-jelas mati ditanganku, hanya dia. Yang lainnya, aku tidak tahu apakah mati atau masih hidup setelah kuhajar." Richi menaikkan bahunya.


"Lagipula, aku tidak menusukkan pisau pada titik vital, kalau cepat ditangani aku rasa masih bisa selamat." Jawab Richi enteng.


"Yang tadi juga bukan manusia, kan? Kenapa tidak kau habisi saja?"


Richi terdiam sebentar. "Entah. Aku juga tidak tahu."


"Aaahh.. aku lelah sekali.." ucapnya tiba-tiba lalu meletakkan kepalanya di dashboard mobil.


"Kau perempuan yang kuat. Syukurlah laki-laki yang kau sukai adalah aku." Hugo tersenyum bangga.


"Kau merasa beruntung, ya." Ledek Richi.


"Tentu saja." Jawab Hugo sembari mengelus lembut punggung Richi.


"Aaaarghh!" Pekik Richi sambil menegakkan punggung yang ditepuk Hugo.


"Chi, kenapa??" Hugo panik melihat Richi seperti menggeliatkan tubuhnya.


"Punggungku sakit.."


"Kenapa? Apa aku mengelusnya terlalu kuat??"


"Bukan.. tadi seseorang memukulku dengan stik biliar sampai patah." Richi mengaduh, menyentuh perlahan punggungnya.


"Apa?? Ayo, kita ke dokter". Hugo langsung menyalakan mesin mobil, dia tak bisa bayangkan sekuat apa pukulan itu sampai stik biliarpun patah.


"Tidak perlu, aku pulang saja dan akan diobati dirumah."


"Tidak bisa begitu, kau harus kedokter sekarang."


"Kau saja yang ke dokter, lukamu itu cukup dalam, tahu."


"Aku tidak apa-apa. Ini tidak begitu sak.. Aaahhkk.." Hugo merintih saat Richi menyentuh luka itu dengan telunjuknya.


"Aakh. Baiklah. Aku akan membelikan baju dulu untukmu. Kita ke hotel terdekat dan akan menelepon dokter pribadiku supaya datang kesana. Jangan bantah." Tukas Hugo dan langsung menjalankan mobilnya. Sementara Richi cemberut dan entah mengapa menurut dengan perkataan Hugo. Dia duduk bertahan tanpa bersandar karena punggungnya terasa nikmat.


TBC


...○●○●...


Halo, terima kasih banyak atas Like, Komen, Hadiah, dan Vote-nya, ya.

__ADS_1


Mohon maaf apabila masih ada kata-kata dari Author yang tidak dimengerti. Kedepannya Author akan perbaiki sembari terus belajar. Terimakasih🤗


__ADS_2