
Richi mengendarai motornya menuju tempat tongkrongannya bersama tim Fox. Olivia tadi menghubunginya lewat telepon rumah, menyuruhnya datang karena ada yang mau dia katakan secara langsung. Olivia juga bilang, kalau Aron saat ini ada disana bersama mereka, juga ingin mengabarkan sesuatu pada Richi.
Sudah satu minggu dia tak memakai ponsel. Belum ada niatan, karena ternyata tidak memakai ponsel juga menenangkannya. Tapi, di dalam hatinya, sebenarnya dia merindukan Hugo. Lelaki itu terus menerus menelepon ke rumah, tapi Richi enggan menjawab. Dia selalu bilang sibuk saat pelayan mengatakan Hugo meneleponnya.
Sambil menancap gas, Richi berpikir tentang perasannya. Dia masih sangat menyayangi Hugo. Tapi Richi tak ingin lelaki itu terlalu bermudah-mudahan dengan perempuan lain. Sempat terpikir, mungkin Hugo masih terbiasa dengan sifatnya yang dulu dan sulit berubah, dan itu membuatnya merasa berat jika melihat lelaki itu.
Richi berhenti di lampu merah. Dia membetulkan posisi sarung tangannya sambil mendengar ocehan dua perempuan di dalam mobil kap terbuka.
"Wuaaah. Ganteng sekali. Aku sangat suka padanya. Keren Aron Hamlet."
Richi menggelengkan kepala. Benar-benar setenar itu Aron, ternyata. Dia yang memang sama sekali tak pernah tahu siapa Aron, tiba-tiba saja bertemu Aron yang juga ternyata sahabat Olivia di sekolah.
"Lihat. Dia menang dan terpilih jadi model majalah luar negeri. Wuaaah.."
Richi menoleh pada dua perempuan yang tampak antusias memperhatikan sebuah baliho besar di tepi jalan.
Richi spontan membuka kaca helmnya. Dia membulatkan mata saat foto dirinya dan Aron berada disana dengan tulisan selamat yang cukup besar.
"Dasar Gila. Sudah kubilang jangan disebarrr. Aakhhh."
Suara klakson mobil dibelakang Richi membuatnya terkaget. Dia langsung menancap gas motornya menuju tempat yang sudah dijanjikan dengan yang lain.
Sesampainya disana, Richi langsung mencari keberadaan teman-temannya. Dia mendapati Clair berdiri menghadap kolam ikan besar tengah menelepon seseorang.
"Rel, kau datang juga!" Olivia berdiri dan menyambutnya dengan pelukan. "Selamat, ya. Kata Aron foto-fotomu sukses membuat TheMost kalang kabut. Banyak orang yang menanyakan dirimu."
Aron ikut berdiri dari duduknya. "Terima kasih banyak, Rel. Aku terpilih jadi model majalah terbesar di dunia. Aku sangat berterima kasih padamu."
"Tapi kau melupakan satu hal, Aron." Ucap Richi dengan setengah kesal. "Foto-fotoku malah di publish begitu. Itu tidak sesuai kesepakatan!"
"Soal itu.. maafkan aku, Rel. Itu diluar kendaliku. Foto-foto itu diambil dari web perlombaan dan sebenarnya mereka hanya mengucapkan selamat padaku." Jelas Aron dengan rasa bersalah.
"Iya. Tapi aku juga terseret. Aku bilang, kan, aku tidak mau foto-foto itu tersebar!"
Aron menunduk. Dia tidak sangka Richi semarah itu hanya karena sebuah foto. Tapi dia memang merasa bersalah karena lari dari kesepakatan.
"Rel, foto itu pasti akan hilang dua atau tiga hari lagi. Ini juga bukan kuasa Aron. Dia sudah bilang pada agensinya. Hanya saja, foto itu menang dan pasti tersebar." Clair mencoba menenangkan Richi. Dia terus mengusap pungunggung gadis itu.
Richi mendesah pelan lalu terduduk di tempatnya.
"Maafkan aku. Aku akan katakan pada timku untuk menarik semua billboard yang keluar." Kata Aron. Dia menjauh untuk menelepon seseorang.
"Satu lagi, yang ingin kami katakan."
Richi menoleh pada Bella. "Ada apa?" Tanyanya.
"Aku melihat Camilla bersama Eline dan Erine. Mereka tengah bersama di salah satu pub." Jelas Bella. Dia diam menunggu reaksi Richi. Tapi gadis itu hanya bersandar di kursi sambil melipat kaki.
"Mungkin mereka tengah merencanakan sesuatu." Sambung Bella lagi.
__ADS_1
"Merencakan apa? Mereka satu sekolah dan mungkin berteman." Richi mencoba berpikir lurus. Pikirannya juga butuh istirahat karena belakangan terlalu sering berpikir.
"Awalnya juga aku berpikir seperti itu, tapi.. aku mendengar Camilla beberapa kali menyebut namamu dan Olivia. Jadi, aku curiga."
Lama Richi diam sampai akhirnya dia menatap Olivia. "Biarkan saja sampai mereka menunjukkan diri. Mungkin saja mereka hanya bergosip."
Aron datang dan langsung duduk di depan Richi. "Aku sudah sampaikan pada tim. Mereka menurutiku tapi tidak semua bisa diturunkan. Sekali lagi maafkan aku, ya."
Richi mengangguk saja. Toh, foto-foto itu juga ternyata sudah banyak tersebar di internet.
"Besok malam, keluargaku mengadakan pesta atas terpilihnya aku. Jadi, kuharap kalian semua bisa datang. Termasuk kau, Rel. Orang tuaku ingin menyampaikan terima kasihnya secara langsung."
"Akan kuusahakan."
Aron pamit pergi karena ada yang harus dia urus. Sementara mereka mulai bercerita banyak hal sepeninggal Aron.
"Rel, Hugo ada di depan." Kata Clair. "Dia memintaku mengatakan padamu untuk menemuinya."
"Kau ya, yang bilang kalau kita ada disini?" Tuduh Bella pada Clair.
"Iyaaa. Maaf, dia selalu meneleponku menanyakan Darrel." Akunya sambil cemberut.
Richi melemparkan kunci motornya pada Clair. "Aku akan mengambilnya nanti." Ucapnya kemudian pergi.
Richi berjalan santai dengan hoodie di kepalanya, mencari letak mobil Hugo yang terparkir tak jauh dari motornya.
Richi membuka pintu mobil Hugo. Dia terkejut dengan penampakan pertama saat membuka pintu. Richi terpaku sebentar, di kursinya sudah ada bucket bunga, boneka, kotak hadiah dan beberapa paperbag.
Richi masuk dan memangku hadiah yang diberikan oleh Hugo itu. Lelaki itupun tersenyum cerah karena Richi akhirnya mau menemuinya.
"Aku memberimu ponsel baru. Kau suka?" Hugo membantu membukakan salah satu paperbag berisikan kotak ponsel dan membukanya.
"Aku juga beli yang sama. Jadi, kita couple. Hehe."
Hugo menyerahkan ponsel itu pada Richi. Ponsel lipat terbaru berwarna lilac. Dia juga menunjukkan ponselnya yang sama.
"Kau suka, kan?" Hugo meraih tangan Richi dan menggenggamnya. "Aku sangat menyesali perbuatanku, Chi. Aku tidak akan melakukannya lagi. Aku janji, jika berhadapan dengan perempuan, aku akan lebih berhati-hati. Aku berharap kau mau kembali padaku. Beri aku kesempatan.."
"Kau menyogokku rupanya."
"Tidak.." Sanggah Hugo cepat. "Aku memang ingin memberimu hadiah. Tapi, aku akan memberikan apapun asal kau mau memaafkanku."
"Hugo, aku-"
"Iya, iya. Aku tahu ayahmupun bisa membelikan ini untukmu. Kau mau bilang itu, kan? Aku tahu.."
Richi tertawa mendengar itu. Hugo sampai hapal dengan apa yang ingin dia katakan.
"Tapi, bukankah rasanya berbeda jika yang memberinya adalah orang yang kau cintai?"
__ADS_1
"Apaa.." Richi malah terkekeh.
"Aku orang yang kau cintai, kan?" Tanya Hugo memastikan. Tetapi Richi hanya tertawa saja.
"Katakan, kau mencintaiku kan, Chi?"
Wajah serius Hugo membuat Richi tergelak. Untuk soal perasaan, Hugo memang tidak bisa dibercandakan.
Richi menyentuh rahang Hugo. "Iya. Aku cinta padamu."
Hugo menarik Richi kepelukannya. "Haah. Lega mendengarnya. Maafkan aku, ya. Aku sangat merindukanmu.." bisik Hugo.
Richi membalas pelukan itu. Dia juga merindukan Hugo. Bertahan dengan egonya membuat sesak juga. Untung saja Hugo mau terus menerus membujuknya untuk kembali.
"Coba lihat ke belakang." Kata Hugo.
Richi terkejut dengan menutup mulutnya dengan tangan. "A-apaa..."
"Untukmu. Aku membelikan semua barang-barang lucu dan imut untuk isi kamarmu. Kujamin tidak ada kamera di dalamnya."
Richi memeriksa kotak-kotak yang berpita merah jambu di kursi belakang.
"Kudengar kau mengeluarkan semua peralatan di dalam kamarmu setelah tahu ada kamera tersembunyi. Jadi, aku mencari barang-barang lucu ini untuk disimpan dalam kamarmu. Supaya kau terus ingat padaku."
Richi mengguncang-guncangkan bola salju kaca yang ada di salah satu kotak. Memang lucu, membuat Richi tersenyum senang. Dia sampai penasaran, apa lagi isi di kotak-kotak itu?
"Aku suka sekali. Terima kasih, Hugo."
Richi malah terus fokus pada snowball di tangannya, membuat Hugo tergelak. Untunglah rencananya berhasil.
Ternyata Hugo masih menyimpan surat dari Damian yang waktu itu dicurinya. Dia membaca ulang dan dari surat itu membuatnya punya ide seperti ini. Lelaki itu benar, Richi memang seperti laki-laki dari luar. Tapi gadis ini sangat menyukai benda-benda mungil dan lucu seperti yang sudah ia belikan untuk Richi.
"Kita jalan, ya. Aku ingin makan malam bersamamu." Hugo menjalankan mobilnya. Dia memperhatikan Richi masih sibuk dengan mainan barunya.
"Kau mau, kan?" Tanya Hugo lagi, memastikan Richi mendengar ucapannya.
"Ah, iya. Terserah padamu. Tapi, Hugo.."
"Iya?"
"Aku.. suka sekali dengan ini.." Richi mengangkat snowball di tangannya. Di dalamnya ada dua angsa yang berlampu merah jambu.
"Iya. Aku juga suka sekali padamu."
Richi malah tertawa dan mengecup pipi Hugo. Membuat konsentrasi lelaki itu buyar.
"Ri-richi.."
Dia melirik Richi beberapa kali karena harus fokus ke jalan, tapi Richi tak peduli, dia lagi-lagi mengguncang-guncangkan snowball salju itu. Hugo tak bisa menahan senyum. Hatinya berbunga-bunga, apalagi membahagiakan Richi sebenarnya sangat mudah...
__ADS_1