Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Malam di Villa


__ADS_3

Richi memperhatikan Isac dan Axel membakar kayu di dekat tenda mereka. Yang lain sudah masuk karena aktifitas siang yang melelahkan dan memilih istirahat di dalam villa.


Sedangkan Daren dan Olivia entah kemana, mungkin merayakan hari jadi mereka yang ke dua jam.


"Lihat apa, sayang?"


Hugo datang dan memeluk Richi dari belakang.


"Hugo, kau tidak mau bergabung dengan mereka?" Tanya Richi menunjuk Axel dan Isac yang tampak seru berdua. Padahal seharusnya bertiga, tapi karena Daren sudah punya kekasih, jadi lain ceritanya.


"Kalau kau mau, aku akan pasang tenda satu lagi."


"Maksudnya satu tenda denganmu?"


"Iyalah."


Richi menyikut perut Hugo sampai lelaki itu meringis lalu tertawa.


"Bisa ikut aku sebentar?"


"Kemana??"


"Ikut saja."


Hugo menarik tangan Richi masuk ke dalam villa dan naik ke lantai dua.


"Mau kemana, Hugo?"


Hugo tak menjawab. Dia membuka pintu perlahan lalu menatap Richi.


"Silakan, calon Nyonya Richi Erhard.."


Richi tertawa kecil mendengar ucapan Hugo. Dia melangkahkan kaki memasuki teras balkon dan mematung disana.


Tak ada respon yang keluar dari bibir Richi. Dia hanya diam. Raut wajahnya pun datar saja.


"Terlalu biasa, ya? Aku sudah terlalu sering melakukan ini, kan?"


Richi menoleh kebelakang. "Tidak. Ini sangat bagus. Tapi.. kapan kau menyiapkan ini?" Tanyanya saat sadar sejak tadi Hugo selalu bersamanya.


"Tidak perlu kau pikirkan. Sebenarnya ada yang lebih seru dari ini, sih."


"Apa?"


Hugo menunjuk ke dalam pintu kamar yang terbuka. "Tuh.."


Senyum Richi langsung melebar melihat sofabed panjang dengan selimut dan bantal diatasnya. Juga projektor mini yang menyinari tembok putih untuk menampilkan film yang akan mereka tonton nanti. Tak lupa berbagai macam makanan dan minuman diatas meja.

__ADS_1


"Kita makan malam dulu ya, cinta." Hugo membantu gadis itu dengan menarik kursi dan mempersilakannya duduk.


"Jadi, kita makan malam berdua saja? Yang lain bagaimana?" Tanya Richi.


"Kenapa memikirkan mereka? Aku sudah merencanakan ini sebelum melihat mereka tiba-tiba sampai disini karena undangan seseorang."


"Untung saja mereka sudah kelelahan sampai memilih tidur. Kalau tidak..."


Richi hanya tersenyum jika Hugo sudah mengomel. Dia akan tetap santai supaya rencana Hugo berjalan dengan lancar.


"Boleh dimakan, tidak?" Richi mengetuk-ngetuk piring dengan sendok, mendengar omelan Hugo membuatnya lapar. Apalagi jelas dari cara Hugo berbicara, lelaki itu menyalahkannya.


"Bolehlah. Itukan memang untukmu."


Richi mulai menyuapkan makanan ke mulutnya. Begitu juga Hugo. Mereka menikmati makan malam yang diatur Hugo dengan rapi.


Setelah selesai makan pun mereka masih bercerita asyik disana. Tak ada yang mengganggu karena teman-temannya semua tahu apa yang Hugo sediakan untuk Richi.


"By the way, Harry meneleponku dan marah-marah. Karena kita semua pergi tanpa sepengatahuannya. Apalagi dia juga baru tahu kalau kau dan Ibu diculik oleh ayahnya. Dia sendiri juga tidak mendapat kabar bagaimana keadaan ayahnya. Dia bilang, dia tidak peduli soal itu." Jelas Hugo, dia mengingat dua hari lalu Harry menelepon dan menanyakannya soal itu.


"Tapi karena kau sebut, aku juga jadi penasaran, sih. Lalu Hugo, apakah Evan itu temanmu yang kau bilang menyamar di Stripe?"


Hugo menggelengkan kepala. "Temanku itu sudah lama kabur dari sana. Tapi sepertinya kau terus memikirkan si Evan-Evan itu, ya." Mata Hugo kini menyelidik tajam pada Richi.


"Bukan begitu, Hugo. Aku hanya penasaran kenapa dia mau membantuku secara cuma-cuma, lalu pergi begitu saja sebelum aku mengucapkan terima kasih."


"Masa, sih? Aku saja tidak kenal dengannya. Tapi, mungkin juga, ya. Soalnya dulu aku tidak kenal denganmu, tapi kau kenal denganku." Ucap Richi yang ingin memperbaiki raut wajah Hugo.


"Kau juga pasti kenal denganku, kan? Makanya kau tidak suka. Kalau tidak kenal, mana mungkin ada perasaan tidak suka."


"Jelaslah. Siapa juga yang tidak kenal dengan laki-laki yang membuat keresahan disetiap sudut sekolah."


"Aku meresahkanmu? Sedari awal pesonaku sudah membuatmu resah, ya." Ledek Hugo.


Richi mencebik. "Siapa yang terpesona siapa."


"Hehe. Iyaa. Aku yang duluan jatuh cinta padamu. Meresahkanku siang dan malam. Kadang terlihat persis laki-laki, kadang sangat anggun sampai aku lupa diri."


Richi tergelak. "Tuh, kan.."


"Tapi kau juga akhirnya jatuh cinta, kan? Hm? Hm?" Hugo menaik turunkan alisnya. Dia sebenarnya ingin mendengar ungkapan cinta dari Richi. Tapi gadis itu tampak mengangguk saja sambil tersenyum tanpa kata-kata yang membuat hatinya senang. Yah, begitulah. Hugo benar-benar harus sabar menghadapinya.


"Sudahlah. Ayo, kita mulai menonton."


Hugo mengajak Richi pindah tempat. Kini mereka memasuki ruang menonton dengan sofabed disana.


Richi duduk dan mulai mengunyah berondong jagung sementara Hugo tengah menyetel projektor dan memilih film.

__ADS_1


"Mau nonton film romantis?"


Richi menggeleng kepala. "Aku ingin menonton Zombie."


"Apa? Ini kan, malam berdua. Kenapa yang ditonton malah yang seperti itu?"


"Ah, Hugooo. Aku inginnya itu.." rengek Richi dengan suara manjanya.


Si tomboy itu, kalau sudah pada mode perempuan tulen, dia akan manja dan suaranya pun bisa berubah seperti itu. Tentu membuat Hugo tak berkutik dan menurut saja demi mempertahankan sisi perempuan Richi yang sudah muncul.


"Iyaa-iyaa. Ya sudah, kita nonton yang itu." Hugo memutar film. Dia pun duduk disebelah Richi dengan kaki berselonjor, membentangkan selimut, lalu bersandar di badan sofa.


Hugo melirik Richi gadis itu mengunyah dengan mata yang lurus ke depan. Sesekali dia bergerak untuk mengambil minuman dan meletakkannya kembali.


"Chi."


"Hm." Jawabnya dengan terus fokus.


"Ngunyah terus."


Richi langsung menoleh. "Kenapa memang?"


Hugo menghela napas. Padahal, salah satu list Hugo saat menonton adalah dirinya bisa berselonjor di kursi sambil memeluk Richi.


"Tidak ada kenyangnya." Ucap Hugo pelan, namun Richi masih bisa mendengarnya.


"Iya. Perutku perut karet. Bawaannya mau mengunyah terus. Kenapa? Apa menjadi masalah?" Jawabnya santai, walau dia tahu Hugo tengah meledeknya.


"Enggak. Bagus, dong. Jadi uangku jelas terpakai untuk apa nantinya. Istriku si tukang makan." Sahut Hugo dengan mengelus rambut Richi.


"Eh tapi, kalau aku gendut, bagaimana?" Tanya Richi tiba-tiba.


"Tidak apa-apa. Kan, lucu. Gemes, pasti lebih enak dipeluk dan dicubit pipinya. Nanti juga kau akan sulit berlari apalagi berkelahi."


Richi diam sejenak, lalu meletakkan makanan yang ada dipangkuannya ke atas meja. Tentu hal itu membuat Hugo geli dan menahan tawa.


Gadis itu duduk dengan mengarah pada Hugo yang masih bersandar di sofa empuk itu.


"Kalau aku gendut, kau masih suka kan, Hugo?" Richi mulai bertanya serius.


"Hmm.. bagaimana, ya?" Hugo pura-pura berpikir. Melihat wajah tegang Richi membuatnya ingin menjahili sebentar.


Hugo menyipitkan matanya dan mulai memasang wajah serius.


"Enggak, kayaknya."


Richi menatapnya kesal. Lalu saat hendak beranjak pergi, Hugo menarik tangannya sampai tubuh Richi jatuh kepelukannya.

__ADS_1


__ADS_2