Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Lapangan Tembak


__ADS_3

"AAARGH!" Hugo meringis, ponsel di tangannya terjatuh tepat di wajahnya saat suara Ayahnya mengagetkan dirinya.


Hugo bangkit sambil memegang batang hidungnya.


"Kau sedang jatuh cinta, ya?" Tebak David.


"Ada apa Ayah kemari?" Tanya Hugo tanpa menjawab pertanyaan ayahnya.


"Tidak ada, hanya ingin melihatmu yang sedikit... berubah".


"Berubah apanya!" Serunya.


"Tapi melihatmu seperti ini rasanya lumayan, seperti mempunyai anak laki-laki normal".


Kerut di dahi Hugo timbul, entah apa maksud ayahnya ini.


"Ya sudahlah. Kau jangan lupa latihan menembak besok. Sudah lama kau absen. Dan jangan terlalu lama memendam perasaan." Ujar David lalu keluar dari ruang latihan Hugo.


"Memendam perasaan, apanya!" Sanggahnya lalu meninju samsaknya lagi.


💌


"Hugooo!" Camilla berlari kecil menghampiri Hugo yang hampir masuk ke dalam mobil. Dia membawa beberapa paperbag di tangannya.


"Hugo, kau tidak merindukanku?" Ucapnya dengan wajah cemberut karena Hugo tidak meresponnya.


"Mil, aku buru-buru."


"Kau mau kemana? Aku kan, baru datang. Apa kau tidak bertanya selama berhari-hari aku kemana??" Rengeknya pada Hugo yang terlihat cuek saja.


"Masuklah. Bicara di dalam". Ucapnya saat melihat Richi keluar dari gerbang utama sambil mendengarkan musik dari headsetnya.


"Pasti mendengarkan Avril Lavigne" Gumamnya pelan.


"Apa?" Camilla mendongak dari dalam mobil.


"Tidak, bukan kau. Ayo jalan". Ucapnya kemudian pada supirnya.


"Hugo, kita akan kemana?" Tanya Camilla manja sambil menyandar di bahu Hugo.


"Ke lapangan tembak milik keluargamu"


"Oh, jadi kau akan kesana. Rajin sekali, padahal aku yang punya saja malas-malasan latihan." Tukas Camilla.


Hugo tidak menyahut. Dia mengeluarkan ponselnya dan melirik banyak pesan masuk. Tetapi tidak ada dari orang yang ia harapkan.


"Hugo, kau tahu aku dari mana? Aku dari liar negeri dan membelikanmu beberapa benda yang kembar denganku, oh ya, kau tahu..."


Camilla bercerita panjang lebar mengenai dirinya beberapa hari lalu, tetapi Hugo sama sekali tidak mendengarkannya. Pikirannya penuh dengan agenda apa yang akan ia lakukan dengan gadis tomboi itu.


Sesampainya disana, Hugo berjalan dengan tenang seperti milik pribadi, para pegawai memberi hormat padanya karena mereka sudah mengenal Hugo. Terlebih saat ini Hugo bergandengan dengan anak pemilik tempat itu.


"Kau disini. Aku mau mengganti bajuku". Ucapnya lalu menuju ruang ganti.


Hugo melepas seragamnya, menggantinya dengan celana jeans sobeknya dan kaos turtleneck lengan pendek dan jeket hitam.


Saat keluar, dia sudah melihat Daren, Axel, dan Isac duduk di kursi yang tersedia di pinggir lapangan yang luas itu.

__ADS_1


"Hugo, kenapa tidak bilang mereka ikut? Aku pikir hanya kita berdua." Ucapnya dengan cemberut.


"Kau bawa apa, Camilla. Makanan, ya? Bagi-bagi, dong" Axel melirik tas yang di tenteng Camilla sejak tadi.


"Enak saja. Ini buat Hugo!"


"Apa itu?" Sambung Hugo.


Camilla langsung merespon, dia mengeluarkan benda-benda yang ia beli untuk Hugo. Baju couple, jam tangan dan juga makanan-makanan yang ia beli dari sana.


Hugo mengambil makanan dan mengunyahnya dengan santai.


"Hugo, kau tidak berbagi dengan kami?" Celetuk Isac.


"Ambil saja."


Mendengar itu, Axel dan Isac langsung mengambil makanan walau wajah Camilla sudah bertekuk sepuluh.


"Ayo, gerak." Ajak Hugo yang langsung bangkit ke pinggir lapangan.


Seorang laki-laki membawa stroli berisi berbagai macam senjata yang akan digunakan Hugo untuk latihan.


Mereka terkaget serentak saat mendengar suara tembakan beruntun dari sebelah mereka.


"Wah, keren. Siapa itu?" Axel dan yang lain menoleh ke arah sumber suara.


Seorang dengan celana tentara berwarna coklat dan kaos hitam lengan pendek yang mengepas badan, juga headphone di kedua telinganya tengah berdiri tegak memegang pistol Desert Eagle dengan kedua tangan.


Di hadapannya, ada patung manusia berdiri tegak dan orang itu menembak dengan tepat di satu titik.


"Bukankah itu perempuan?" Isac mengamati karena ada gulungan rambut di atas kepalanya.


"Lho, Richi?"


Mereka terbelalak saat melihat Richi berdiri tak jauh dari mereka. Gadis itu tengah fokus apalagi headphone di telinganya membuat dia tidak mendengar suara dari jauh.


Richi mengambil senapan HK 416 dan mulai menggenggamnya.


Richi membidik, dia menargetkan titik yang sama, yaitu kepala patung yang sudah bolong di tengahnya.


Dia lalu menyuruh seseorang untuk menjauhkan lagi patungnya sekitar 300 meter.


Richi lalu membidik, lalu menembak hingga tubuhnya sedikit terdorong ke belakang.


"Gila, Richi menembak satu titik dari jarak segitu?" Pekik Axel.


"Kenapa memangnya? Hugo juga bisa. Iya kan, Hugo?" Ucap Camilla tak mau kalah.


Daren menghampiri Richi yang tengah menurunkan headphone nya ke leher.


"Richi!" Panggil Daren.


Gadis itu menoleh dan sedikit terkejut melihat Hugo dan yang lain juga berada di satu tempat dengannya.


"Kau disini juga?"


Richi mengangguk. Dia tengah mengunyah permen karet.

__ADS_1


"Nona, silakan". Seorang pelayan menyerahkan Glock 45 Gap. Pistol kecil yang sering digunakan para mafia. Pistol yang sengaja ia minta karena mengingat Tuan Saver menggenggamnya waktu itu.


"Hei, kalau kau bisa menembak 5 kali dalam satu titik, aku akan memberikanmu apa yang kau mau". Tukas Camilla pada Richi dengan sedikit ledekan.


"Pakai yang itu". Camilla menunjuk senjata Shak 12, senjata yang sering digunakan militer untuk berperang. "Titiknya adalah dada."


Richi memakai lagi Headphone-nya. Dia membidik patung baru yang berjarak 300 meter.


"Bagaimana kalau dia meminta Hugo?" Axel terkikik.


"Aku akan berikan, karena aku yakin yang tadi adalah kebetulan dan keberuntungannya". Ucapnya sambil tersenyum sinis.


Richi membidik, dia menembak sebanyak 5 kali di bagian dada patung hingga patung itu bolong dan terjatuh. Tanpa meleset, bidikan Richi luar biasa hingga membuat orang-orang itu tercengang.


"Ka-kau!"


Camilla menggigit lidahnya. Dia tidak sangka gadis tomboi yang ia sepelekan sehebat itu.


Richi mengarahkan pistolnya kepada Camilla yang tengah menggandeng tangan Hugo. Dengan spontan dia mendekap Hugo saat melihat kemana pistol itu mengarah.


Richi menurunkan senjatanya, lalu melempar dengan asal ke atas meja troli yang berisikan banyak senjata.


Richi melepas sarung tangan dan headphone lalu pergi tanpa kata.


"Wah, seksi betul". Celetuk Axel sambil menggelengkan kepalanya.


"Kau mencari apa, Hugo". Tanya Isac sambil terkikik karena melihat Hugo terus menatap kearah perginya Richi.


"Dia sedang mencari kelemahan perempuan itu." Jawab Axel lalu ikut terkikik.


Mendengar itu, Camilla semakin kesal. Dia lalu memanggil kepala penjaga di tempatnya.


Seorang lelaki berbadan tegap dengan cepat menghadap Camilla.


"Kau harus buat perempuan tadi tidak bisa lagi masuk kesini!" Pekiknya pada kepala tempat itu.


"Apa? Ada apa denganmu, Camilla?" Sentak Axel.


"Apakau yang Nona maksud adalah Nona Richi? .."


"Kau mengenalnya? Baguslah. Blokir dia dari tempat ini!"


"Tapi Nona.."


"Kau melawanku?!" Bentaknya.


"Camilla, kau berlebihan. Dia takkan meminta apapun darimu. Percayalah." Kata Hugo dengan tenang sambil memilah milih senjata.


"Mohon maaf, Nona. Tetapi Ayah Nona Richi salah satu penanam modal terbesar di tempat ini, jadi.."


"Apa kau bilang?" Camilla mengepalkan tangannya. Dia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Sudahlah, Camilla. Hugo benar, Richi takkan meminta apapun. Kau dengar, dia juga bukan orang sembarangan, kan?" Daren ikut menimpali.


"Camilla hanya takut Richi meminta Hugo". Isac dan Axel tertawa, sementara Hugo sudah memakai headphone dan bersiap menembak. Dia tidak peduli pada apa yang Camilla katakan. Baginya, gadis itu hanya cemburu yang biasa seorang gadis lakukan saat kekasihnya dilirik perempuan lain.


Hugo tersenyum samar. 'Dia sangat menawan' batinnya.

__ADS_1


To Be Continued...


__ADS_2