
'Tim Jaguar. Cepat cari Darrel di seluruh gedung ini !'
Eline mendesah saat mendengar nama timnya yang disebut oleh Keen. Walau agak malas, dia tetap bergerak dari tempatnya.
"Mau kemana? Acara akan dimulai." Kata Camilla.
"Eee.. toilet." Jawab Eline dan langsung bergerak dari tempatnya.
Setelah beberapa menit menelusuri gedung, mereka berkumpul dibelakang altar untuk memberi laporan bahwa tidak menemukan apapun di dalam gedung. Tentu itu membuat Hugo semakin gelisah.
"Chi, dimana? Katakan padaku." Hugo terus berbicara sendiri sambil terus mencari lagi. Walau sudah berkali-kali, dia tetap mencari sendiri.
~
BRAK!
Pintu terbuka lebar. Mata Richi membulat saat mengetahui siapa yang datang.
"Hei, cepat bawa dia kebelakang. Permainan pertama akan dimulai."
Richi mencoba menstabilkan napasnya yang mulai terasa berat. Kali ini, dia tidak tahu apa yang akan dia hadapi. Apalagi Albern tersenyum nakal dengan mengangkat sebelah alisnya.
"Sampai jumpa di rumah, Darrel, perempuan yang katanya tidak bisa terkalahkan. Huahahhaa." Albern pergi begitu saja tanpa memberitahu apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Apa benar mereka juga akan melakukan sesuatu pada ibu? Batin Richi mulai tak tenang.
"Angkat tangan!" Seorang dari mereka mendekat dengan menodongkan senjata. Richi mengangkat tangan saat yang lain meletakkan ujung pistol di belakang kepalanya.
Richi perlu menekan lagi tombol di telinganya untuk memberitahu kelompoknya dimana dia berada. Tapi dia tidak tahu caranya agar tidak ketahuan. Sejak tadi dia mendengar suara Hugo yang terus mencarinya. Sayang sekali, Richi hanya mengikuti permainan sampai dimana ia bisa melawan. Untuk saat ini, dia memilih menahan diri karena tidak ingin terluka walau sebenarnya, Richi menyimpan pistol dalam holster di pahanya.
SRUK! Kepala Richi langsung dibungkus kain hitam hingga membuatnya tak berdaya. Dia mengikuti kemana arah empat laki-laki itu membawanya.
~
Upacara pernikahan sudah selesai dilakukan. Acara itu nampaknya berjalan lancar tanpa hambatan. Jika benar Henry Draw berkeliaran disekitar sini, kenapa dia belum muncul?
Valiant juga semakin memperketat penjagaan. Bahkan anggota Stripe yang lain sudah duduk tenang sambil menikmati acara. Tidak ada yang mencurigakan di pesta itu. Lalu, apa sebenarnya yang terjadi?
"Kau sudah tahu dimana Richi?" Tanya Wiley pada anaknya.
Ricky diam. Dia belum menemukan jawabannya. Sudah berkali-kali ia bertanya, tapi tidak ada jawaban dari adiknya. Jika sang ayah mengamuk besar sekarang, Ricky harus menerimanya.
Ricky mengangkat wajahnya. Matanya menatap ke arah dimana tempat duduk ibunya sudah kosong.
"Ayah, di-dimana Ibu.."
Wiley menoleh, dia langsung menuju ke mejanya saat bersama Marry tadi. Tapi istrinya tidak ada disana.
"Kau lihat Marry?" Tanya Wiley pada teman satu mejanya.
__ADS_1
"Dia bilang ke toilet."
Wiley berlari ke arah toilet wanita dan menunggu disana sampai dua menit. Dia tidak sabar hingga meberobos masuk ke dalam, membuat beberapa perempuan langsung keluar karena aksinya.
"Marry!" Wiley membuka satu-satu bilik, tetapi semuanya kosong.
Dia keluar dengan napas yang berat dan pikiran berkecamuk. Bagaimana bisa dia kehilangan istrinya dalam waktu lima detik?
"Marry!" Teriak Wiley lagi. Dia tidak menemukan istrinya di area manapun.
"Cari Marry sekarang!" Pekiknya pada orang diseberang telepon.
"Ayah, dimana ibu?" Tanya Ricky yang menghampiri ayahnya.
Wiley tak menjawab. Dia membuang napas dengan kasar karena nampaknya ada yang mulai mengibarkan bendera perang padanya.
Ricky menahan napas saat menyadari bahwa ibunya pun kini terseret. Ricky berjalan keluar gedung, dia menitahkan seluruh anggota Valiant untuk mencari sang ibu dan juga Richi di sekitar dan luar gedung.
~
'Richi, kau mendengarku? Katakan kau ada dimana, Chi?'
Richi tidak tahu dia ada dimana. Dia hanya mendengar suara Hugo sebagai temannya. Dia berharap laki-laki itu terus berbicara untuk membantunya sedikit merasa lebih baik.
Tiba-tiba saja dia merasa orang-orang tidak lagi memeganginya. Dia berdiri sendiri.
Richi membuka sarung hitam yang menutup wajahnya. Dia melihat semua laki-laki mengelilinginya dengan wajah yang tersenyum senang. Entah apa maksud mereka, tapi mata Richi menangkap seorang yang wajahnya sangat ia kenali.
Marry tergeletak diatas tanah dalam keadaan pingsan. Ternyata mereka sudah melakukan aksinya. 'Bagaimana bisa? Kemana ayah? Kenapa ibu bisa diculik oleh mereka?'
Tanpa berpikir panjang, Richi berlari ke arah ibunya tetapi tubuhnya ditendang kuat oleh satu orang yang dengan senang mendaratkan kakinya di perut Richi. Gadis itu tersungkur kebelakang sambil meringis memegangi perutnya.
Richi melihati ibunya yang diangkat paksa oleh beberapa orang.
"Hei.. m-mau kau bawa kemana.. ibuku.." ucap Richi dengan tersendat karena perutnya yang sakit.
"Kami akan bersenang-senang dengan ibumu, setelah itu baru padamu. Hahaha."
Richi menangis. Dia ingin berdiri tetapi satu kaki menahan punggungnya untuk bangkit.
"Yah, menangis dia. Hahaa." Semua kelompok Stripe yang ada disana tertawa melihat Richi yang menangis.
"Kau bisa menangis juga, eh? Kau tak ingat betapa sadisnya kau menghajar kami waktu itu?"
Richi tak bisa lagi mendengarkan mereka. Matanya menatap sang ibu yang masih ada disana. Kemana ayah? Kenapa ayah lama sekali? Richi menangis terisak.
"Hei-hei. Mana yang menangis? Ada yang melapor padaku kalau wanita tak terkalahkan itu menangis. Mana? Aku mau lihat!"
__ADS_1
Albern datang sambil tertawa terbahak-bahak menujuk wajah Richi yang sudah basah dengan air mata.
Namun Richi tak menghiraukannya. Matanya menatap sang ibu yang tak berdaya.
"Bawa perempuan itu, cepat!" Titah Albern pada anak buahnya. Merekapun menyeret Marry masuk ke dalam sebuah mobil.
Richi menekan tombol di telinganya. "632WAY. Lacak sekarang Ibu dalam bahaya!" Pekik Richi dengan suara seraknya.
Richi berusaha bangkit dan berlari ke arah ibunya. Namun Albern menghantamkan ujung pistolnya ke kepala Richi sampai ia terhempas ke tanah.
"Sialan, dia pakai earpiece!" Albern mencabut dan menghancurkan earpiece itu ke tanah hingga hancur berantakan.
Albern mengerutkan dahi menatap Richi yang tergeletak di atas tanah. Kode apa yang dia katakan tadi? Albern tidak mengerti.
"Bawa dia, cepat!" Titah Albern dan dia pun pergi dengan mobilnya.
Richi diangkat oleh dua orang. Dia merasakan cairan kental mengalir dari pelipisnya yang bocor akibat hantaman Albern tadi.
Pandangan Richi gelap saat kepalanya ditutup lagi dengan sarung hitam. Dia diseret oleh satu orang yang membawanya masuk menuju dalam mobil.
"Hai. Kau mendengarku?"
Richi mengerjap beberapa kali. Berusaha membuka matanya yang melemah. Dia mendengar suara bisikan dari seseorang di sebelahnya.
"Aku Evan. Kau mendengarku, kan?"
Richi tidak menjawab karena dia tidak yakin. Tetapi laki-laki yang tengah menggotongnya itu terus mengoceh.
"Aku akan menolongmu." Bisik Evan lagi.
"Hm.."
"Jangan keras-keras. Kau akan naik ke dalam truk berisikan empat laki-laki di dalamnya. Kau butuh pistol?" Tanya Evan.
Richi berusaha menguatkan dirinya. Dia tidak tahu siapa laki-laki yang tengah berbicara dengannya tapi nampaknya dia benar-benar ingin menolong.
"Kau bisa selamatkan ibuku? Aku bisa berusaha sendiri." Ucap Richi pelan.
"Aku ditugaskan mengawasimu. Ibumu dibawa ke rumah tuan Draw." Bisik Evan lagi.
"Cepat! Masukkan dia ke dalam! Lambat!" pekik salah satu anggota Stripe pada Evan.
"Hei, kau menyetir sana!" Titah yang lain.
"A-apa? Aku dibagian belakang." Jawab Evan.
Richi tidak bisa melihat apa yang terjadi secara jelas. Namun ia bisa melihat bayangan Evan dan temannya dari balik kain yang menutup kepalanya.
__ADS_1
"Sudah, sana menyetir. Kami mau bersenang-senang dibelakang. Hahaha." Mereka terkikik lalu menaikkan Richi ke dalam truk dan menutupnya dari dalam.
Evan berdiri dibelakang truk. Dia menghela napas. Nampaknya dia gagal menolong gadis yang membuatnya terpesona itu.