Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
S2 - Menolong Erine


__ADS_3

Hugo masuk ke dalam mini swalayan yang tak jauh dengan tempat Richi berada. Dia langsung menuju tempat dimana area minuman berada.


Disana, dia melihat seorang perempuan mengambil beberapa minuman botol.


"Erine." Sapa Hugo.


Perempuan itu tampak kaget saat mendengar suara siapa yang keluar dari pria bermasker di depannya. Sontak ia menyembunyikan dua botol minuman keras yang baru ia ambil dari kulkas.


"H-hugo.."


Lelaki itu melihat ke arah tangan yang tersembunyi. Hugo tersenyum kecil saat tahu bahwa yang diumpetkan Erine adalah minuman keras.


"Kau ada di Ventown? Malam-malam begini?"


"Ah, aku tinggal disini sekarang." Jawabnya cepat.


"Begitukah? Apa bersama Eline?" Hugo mengambil dua botol air mineral dari dalam showcase cooler.


"I-iya. Kalau begitu aku duluan." Erine berjalan cepat menuju kasir. Hugo juga demikian.


Dia bisa melihat kegugupan Erine, mungkin karena ketahuan membeli minuman keras, bati Hugo. Padahal usia mereka memang sudah legal membeli minuman itu.


Setelah membayar, Erine langsung keluar. Tak lagi menoleh pada Hugo dibelakangnya yang mengantri membayar.


Hugopun ikut keluar setelah membayar. Namun, ia melihat Erine masih berdiri di sebelah lorong minimarket bersama dua orang lelaki yang tak dikenal.


"Aku bilang berikan minuman itu, atau kau kuhajar!"


Hugo berjalan mendekat. Nampaknya Erine tengah ditodong oleh dua orang preman itu.


Melihat Hugo datang, Erine spontan berdiri dibelakang lelaki itu.


"Tolong, Hugo. Mereka ingin mencelakaiku."


"Hah?" Hugo menoleh sebentar kebelakang, dimana Erine berdiri takut dibalik tubuhnya. Hugo agak bingung, pasalnya dia tahu betul kekuatan Erine.


"Hei, bangsat! Aku cuma mau minumanmu satu botol. Kenapa kau berlagak sekali? Apa minuman itu lebih berharga dari nyawamu?" Pekik orang itu. Dia memegang botol bir yang hampir habis.


"Pergilah sebelum kalian kuhajar."


Mendengar ucapan Hugo membuat mereka berdua tertawa. "Hajar, katanya? Hei, kau tidak tahu aku, ya?"


TRANG! Lelaki itu memecahkan botol ditangannya hingga botol itu menjadi tajam dan ia menyodorkannya pada Hugo.


"Sialan. Kau mau mati, hah? Aku benci sekali pada orang yang banyak gaya sepertimu!"


"Hajar saja dia!" Seru seorang lagi diantaranya.


BUG!


Satu hantaman keras dikepala salah seorang membuat kepalanya mengeluarkan darah.


Richi menghantamkan ujung tumitnya ke kepala lelaki itu dengan sangat keras.


Satu lagi, Richi tanpa jeda, dengan satu tangannya berhasil membuat seorang diantara mereka terkapar.

__ADS_1


"Sayang.." Hugo tertegun. Dalam hitungan 5 detik saja Richi sudah membuat dua orang itu lari dengan memegangi bagian yang terluka.


Richi menjatuhkan sepatunya kebawah. Lalu memakainya. Matanya tak lepas dari Erine yang masih berdiri dibelakang Hugo.


"Kau bukan tipe perempuan lemah yang berlindung dibalik tubuh laki-laki."


Erine menunduk. Dia malu apalagi ada Hugo disana.


"Sudah selesai, kan? Kami permisi dulu ya, Erine. Kalau kau masih butuh bantuan, kami berdua ada di hotel seberang. Kamar nomor 279." Richi tersenyum pada gadis itu, lalu berjalan lurus diikuti Hugo dibelakangnya.


Di hotel? satu kamar?? Erine mengerang tertahan. Tangannya mengepal mendengar ucapan Richi. Sambil berjalan, Erine menghentak-hentakkan kakinya karena marah.


Setelah merasa cukup jauh berjalan, Richi menjatuhkan tubuhnya, membuat Hugo panik dan langsung menggendong Richi dibelakang punggungnya.


"Kakimu masih sakit, kenapa malah menyerang seperti tadi." Tukas Hugo sambil terus berjalan menggendong Richi.


"Kau pikir karena siapa??"


Hugo malah terkikik. "Sudah aku bilang, dia tidak menyukai laki-laki."


Richi menghela napas. "Bagaimana kalau ternyata dia menyukaimu?"


"Apa? Hahaha." Hugo tertawa, membuat Richi menjambaknya dari belakang.


"Haha. Maaf, sayang. Aku hanya berpikir itu tidak mungkin. Dia sangat tomboi."


"Bukankah kau dulu menganggapku begitu?"


Hugo diam. Dia tahu Richi memang tak suka dengan Erine.


"Jadi, kau merasa dia menyukaiku?"


"Yaa, baiklah. Jadi dia normal dan menyukaiku, begitu?"


"Ya. Dia sangat normal." Jawab Richi.


"Hmm.. baiklah. Jadi aku perlu menjaga jarak dari siapapun yang berusaha mencuriku darimu, kan?"


"Hugo, aku serius!" Pekik Richi.


"Hahah. Iya, sayang. Aku juga serius. Baiklah. Aku akan mendengarkanmu sekarang. Aku akan menjauhinya dan berusaha mengabaikannya."


"Awas saja kalau kau melanggar itu!" Ancam Richi.


"Aku tidak berani pada kekasihku. Aku sangat takut, apalagi sekarang dia semakin cantik." Goda Hugo pada Richi. Mereka berdua bercanda dengan Hugo yang masih menggendong Richi, dan tak mempedulikan tatapan sekitarnya.


~


Erine berjalan dengan kesal. Padahal sedikit lagi, Hugo menolongnya. Sial sekali, Richi ternyata juga ada disana.


"Hei, kenapa wajahmu bertekuk seperti itu?" Tanya Joy saat melihat Erine baru duduk dan langsung meneguk minumannya.


Joy dan Sarah saling pandang. Padahal saat pergi dia terlihat sangat baik, setelah pulang, dia terlihat kesal.


"Aku bertemu Hugo."

__ADS_1


"Hah? Benarkah? Dimana? Aku ingin sekali bertemu!" Teriak Sarah histeris. Selama ini dia hanya mendengar cerita Hugo melalui Erine. Tapi kali ini, dia sangat ingin bertemu.


"Sudah pergi. Dia bersama kekasihnya."


"Hah? Dia punya kekasih?" Tanya Sarah.


"Aku juga pernah dengar selentingan itu, sih. Namun tidak ada bukti. Hanya saja teman-temanku mengaku pernah melihat Hugo bersama perempuan dan cukup mesra." Sahut Joy.


"Ah. Lemas sekali mendengarnya. Tapi, siapa ya, pacarnya."


"Kau tidak perlu tahu. Kalau kau tahu, kepalamu bisa stres memikirkannya." Sambung Erine.


"Kenapa begitu?"


"Karena dia sangat tidak cocok dengan Hugo. Dan itu membuatmu menghabiskan waktu untuk memikirkan kenapa Hugo bisa berkencan dengan perempuan sepertinya padahal masih banyak yang lebih cocok." Jelas Erine panjang lebar.


"Yah, berarti selera Hugo rendah, dong." Sahut Joy dan Erine hanya mengangguk sembari menatap minuman keras dalam gelasnya.


~


Richi tengah bernapas lega. Setelah berganti pakaian, kini sang kekasih duduk dengan memijit kaki Richi yang berada diatas pahanya. Mata mereka menatap layar besar yang menampilkan film animasi.


"Kau mengantuk, Hugo?" Tanya Richi saat melihat mata Hugo sedikit layu.


"Tidak." Jawabnya kemudian mempercepat pijitannya.


"Kalau lelah, sudahi saja. Lagian sudah lebih baik, kok." Hugo tersenyum, lalu mencium kaki Richi, dan meletakkannya pelan-pelan diatas sofa.


"Aku mau mengerjakan tugas dulu. Kalau lelah, tidur duluan saja."


Hugo menggeser duduknya kebawah, lalu membuka laptop dan mulai mengerjakan tugas.


"Oh ya, sayang. Aku satu kelompok dengan Erine dan besok sepertinya akan ada diskusi bersamanya." Hugo menjelaskan pada Richi supaya tidak salah paham.


"Satu kelompok berapa orang?" Tanya Richi.


"Hanya aku dan dia. Besok kalau kami tengah mendiskusikan materi, aku akan mengajakmu juga."


Richi tersenyum puas. Dengan begitu, dia bisa bermesraan dengan Hugo di hadapan Erine, supaya gadis itu panas.


Hugo menoleh, melihat Richi yang tersenyum aneh dimatanya.


"Kalau senyummu yang seperti itu muncul, pasti ada sesuatu yang aneh sedang kau rencanakan." Tukas Hugo dan mendapat pelukan dari belakang oleh Richi.


"Benar. Kau sudah sangat mengerti aku, ya." Bisik Richi kemudian mengecup lembut telinga Hugo, membuat aliran darah lelaki itu langsung beradu kencang.


"Kau..." Hugo menatap Richi yang wajahnya sangat dekat.


"Hm? Apa?"


Hugo langsung bangkit dan mendorong tubuh Richi hingga gadis itu terlentang diatas sofa. Kini dia berhasil mengungkung gadis itu dibawahnya, menatap dengan mata yang sudah dipenuhi oleh kabut gairah.


"Hugo, apa yang.."


Richi terdiam saat Hugo tiba-tiba saja mellumat bibirnya.

__ADS_1


TBC


**Mau lanjut? Like dulu😋😋


__ADS_2