
Daren menegang. Matanya mendelik tajam pada Hugo seolah mempertanyakan apa maksud dari meminta dirinya menembak Olivia sebagai tantangan?
"Apaa!! Kenapa aku??" Pekik Olivia dan mendapati tawa kecil dari Richi dan Clair.
"Jangan tegang. Ini hanya Game. Hitung-hitung sebagai latihan. Bagaimana, Daren?"
"Skip."
"Tidak ada skip-skip. Semua harus dijalani. Salah sendiri pilih Dare." Timpal Isac.
Daren diam sejenak. Dia tampak murung sebab harus berhadapan lagi dengan Olivia. Apalagi tadi dia sudah memainkan perasaannya, apakah harus ia timpal lagi?
Olivia pula menundukkan pandangannya. Entah mengapa, hatinya sedikit kecewa karena Daren menolak melakukannya. Walau dia sangat tahu, Daren enggan karena lelaki itu tidak suka padanya.
"Hei, Olivia."
Pandangan Olivia naik melihat Daren yang kini menatapnya dengan mode serius.
"Aku menyukaimu."
"Cieeee..." sorak yang lain, apalagi Axel dan Isac malah saling pukul karena merasakan sesuatu yang berbeda.
"Masa begitu? Yang benar, dong." Timpal Hugo merasa tidak puas.
Terdengar decakan dari mulut Daren. Dia menegakkan tubuhnya dan menatap Olivia. Sementara gadis itu tampak cuek padanya.
Sejenak Daren diam seperti tengah mengumpulkan nyali. Dia terus menatap gadis itu, sampai tak ada lagi yang bersuara. Bahkan suara kunyahan jagung pun tak lagi terdengar. Saat itulah, Daren perlahan menarik napasnya menatap Olivia.
"Olivia, aku sangat menyukaimu."
Deg! Lagi, jantung Olivia berdetak kencang. Padahal ini hanya game, tetapi tatapan dan nada bicara Daren sama persis seperti tadi. Sejenak ia tergugah, sampai Olivia teringat, karena wajah itulah dia tertipu.
"Aku sungguh-sungguh. Ini dari hatiku yang terdalam. Aku benar-benar sangat menyukaimu."
"Sihiiyyyy.." sorak sorai yang lain tak membuat Olivia terbawa suasana hati. Dia memang juga tengah menatap Daren, tapi dengan wajah yang dingin. Baginya, ucapan Daren adalah sebuah angin lalu.
"Wah, aku juga bisa merasakan ketulusan itu." Kata Bella yang mulai mengunyah jagungnya lagi.
"Sudah, mari kita mulai lagi." Axel mulai memutar botolnya lagi. Kini, botol itu terhenti di Richi.
"Wuaaahh..." semua menatap Richi. Gadis itu tengah bersandar di kursi bersidekap dengan jeketnya.
"Bagaimana saudara Hugo, anda tertarik untuk bertanya?" Isac mengangkat-angkat alisnya, memberi kesempatan pada kekasih Richi.
"Terima kasih atas kesempatannya saudara Isac." Balas Hugo kemudian mencondongkan tubuhnya menghadap Richi.
"Aku pilih Dare." Kata Richi tanpa ditanya.
__ADS_1
"Hm, baiklah." Hugo meletakkan telunjuknya di pipi, lalu mengetuk-ngetuk kecil disana. "Sekarang, cepat ci-"
"Truth saja." Richi yang tahu kalau Hugo tengah mengambil kesempatan, langsung memotong kalimat Hugo.
Yang lain, menutup mulut mereka karena tengah menahan tawa, juga merasa kasihan pada Hugo. Bisa mereka lihat wajah Hugo langsung berubah masam saat kekasihnya itu dengan cepat menolak permintaannya.
"Ya sudah. Truth? Jawab pertanyaanku." Hugo sedikit kesal pada Richi.
"Siapa cinta pertamamu."
"Kau."
"Uuuuu...." serentak yang lain merasa terkesima dengan jawaban cepat Richi.
Gadis itu menatap Hugo dengan senyum miring nan samar di wajahnya. Seperti tengah menantang Hugo.
"Siapa yang pertama kali menciummu."
"Kau."
"Uuuuu..." sorak para penonton merasa senang dengan interaksi keduanya.
"Siapa yang akan kau nikahi nantinya."
"Belum tahu."
"Kenapa begitu??"
"Karena aku tidak bisa membaca masa depan." Jawab Richi santai.
"Tapi kau tak memilihku?"
"Kau kan, bertanya. Siapa yang akan kunikahi nantinya? Dan aku benar-benar belum tahu."
Jawaban Richi membuatnya kesal. Apalagi teman-teman malah menertawakannya. Walau ia tahu, jawaban Richi sangat logis dan gadis itu terlihat tidak menggilainya.
"Ck. Baiklah. Sekarang, apa kalimat yang menyenangkanku?" Tanya Hugo yang kini berharap Richi akan mengatakan 'i love you' di depan semua orang.
"Kau harus mengatakan sesuatu yang membuatku tercengang." Timbal Hugo lagi.
Richi menarik napas perlahan. Dia melihat teman-temannya satu persatu sebelum menjawab pertanyaan Hugo. Terakhir, dia menatap lembut ke arah kekasihnya itu.
"Aku.. tidak.."
Hugo mengerutkan dahi. Tidak? Apa maksud Richi? Batinnya.
"Baiklah, Hugo. Aku tidak tahu apakah kalimat ini yang kau tunggu-tunggu sejak dulu. Tetapi, aku tidak jadi melanjutkan sekolah militer. Aku akan berkuliah bersamamu."
__ADS_1
Semua hening. Raut terkejut juga tergambar pada wajah Clair, Olivia, dan Bella. Padahal mereka sangat tahu, kalau Richi menggilai sekolah militer.
Bibir Clair terbuka, ingin bertanya, kenapa Richi melakukan itu, apakah demi Hugo? Bukankah berlebihan? Tetapi bibirnya tertahan. Apalagi situasi nampaknya tak mendukungnya.
Sementara Hugo, matanya membulat mendengar itu. Bibirnya sedikit terbuka karena ia benar-benar kehilangan kata. Benarkah? Richi akan berkuliah bersamanya?
"Wah, kau benar-benar tercengang ya, Hugo." Ledek Axel yang cekikikan melihat reaksi temannya itu.
Tanpa bicara apa-apa, Hugo langsung menarik tangan Richi untuk menjauh dari teman-temannya. Dia butuh ruang, untuk memperdalam pertanyaannya pada Richi yang telah membuatnya berdebar.
Hugo menarik Richi sampai kue taman belakang yang memperlihatkan dengan jelas taman langit di atas, bertabur banyak sekali bintang-bintang.
"Chi, kau serius?" Tanya Hugo dengan menggenggam erat kedua tangan Richi.
Gadis itu tersenyum lalu mengangguk. Dia sudah memikirkan itu jauh hari. Rasanya memang dia tak bisa jauh dari laki-laki itu, entah dia sadar atau tidak, perasaannya lada Hugo sudah kian bertambah.
"Aku sudah memikirkannya matang-matang. Aku akan berkuliah saja. Supaya kau tidak cemberut setiap kali membicarakan tentang perkuliahan."
Bukannya tersenyum, Hugo malah murung. Dia mengelus lembut rambut Richi.
"Kau serius?" Tanyanya sekali lagi, meyakinkan Richi kalau dia tidak sedang mabuk. Karena Richi bahkan tak menyentuh gelas wine tadi.
"Serius."
"Bagaimana kalau kau menyesal? Bagaimana kalau ternyata aku tidak sesuai harapanmu? Bagaimana kalau..." Hugo tak melanjutkan pertanyaannya. Entah mengapa, dia malah seperti mempunyai beban yang sangat berat.
"Maksudnya kalau aku salah?" Lanjut Richi dan Hugo menunduk. "Kenapa kau berpikir seperti itu? Bukankah seharusnya menjadi motivasi dalam dirimu, supaya aku tidak salah memilih. Tapi.. kalaupun memang salah, biarlah menjadi salahku."
"Enggak." Hugo mengeratkan genggamannya. "Kau sudah berkorban padaku. Aku sangat-sangat menghargai itu. Kau tahu aku sangat mencintaimu kan, Chi. Aku juga bisa merasakan perasaanmu padaku. Jadi, aku akan menjaganya dengan baik. Percayalah padaku."
Richi mengangguk saja. Dia memang mempercayai Hugo, tapi tidak sepenuhnya. Otaknya tengah berusaha untuk berpikir ke depan. Perasaan manusia bisa berubah dalam hitungan detik, bisa saja Hugo berubah dikemudian hari. Yang penting sekarang, dia melakukan apa yang perlu dilakukan. Biarkan Hugo yang membuktikannya.
Hugo menarik tengkuk gadis itu, menundukkan kepalanya hingga bibirnya menyentuh bibir Richi. Bibir keduanya saling berdecap, mellumat dengan nikat di cuaca malam yang dingin. Mereka berciuman lama, sampai Hugo yang mengakhiri ciuman itu.
Dia mengelap lembut bibir Richi yang basah, lalu menariknya ke dalam pelukannya. Hugo mengecup puncak kepala gadis itu dengan lembut.
Hangat napas Hugo membuat Richi memejamkan matanya di dada bidang kekasihnya.
Tanpa sadar, Richi menghembuskan napas berat.
"Kenapa?" Tanya Hugo.
Richi mendongak, menatap Hugo dengan wajah khawatir. "Aku belum bilang pada Ricky soal ini."
Mata Hugo malah membulat, terlebih saat melihat raut kekasihnya yang terlihat cemas. Apakah pertanda buruk?
"Ja-jadi..."
__ADS_1
"Bisakah kau saja yang mengatakannya?" Pinta Richi dengan mata yang berkedap-kedip memohon pada pacarnya.