Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Terjebak di Air Terjun


__ADS_3

Daren mengangkat Olivia ke tepi aliran air. Olivia terbatuk setelah mereka lama menyelam di dalam air. Pancuran dan tekanan dari air terjun membuatnya dan Daren terpisah. Untunglah Daren dengan cepat menarik tangan Olivia dan membawanya naik.


"Sialan kau!" Maki Olivia di tengah napasnya yang terengah. Dia terus mengambil napas dalam untuk mengisi pasokan oksigen yang hampir habis.


Sementara Daren menahan tawa melihat Olivia yang sempat-sempatnya memaki disaat seperti ini.


"Kau baik-baik saja?" Daren menepuk pelan punggung Olivia yang sudah bahasa kuyup sama seperti dirinya.


Olivia dengan cepat menyingkirkan tangan Daren dengan kesal.


"Aku hampir mati karenamu!" Berang Olivia.


"Kenapa aku? Bukannya kau yang membuatku tak bisa menahan beban badanmu yang berat itu."


"A-apa kau bilang?!" Mata Olivia terbelalak. Bisa-bisanya disaat seperti ini Daren menyinggung soal berat badan.


"Lagi pula, kenapa kau sekhawatir itu padaku?" Senyum Daren mengembang melihat perubahan wajah Olivia yang terkaget dengan pertanyaan itu.


"Sudahlah! Aku mau pulang." Olivia bangkit dan langsung menyadari posisinya saat ini.


Dia memperhatikan sekitarnya yang hanya bebatuan dan air terjun tepat di hadapannya.


"Ini dimana?" Tanyanya bingung.


Daren membuka dan memeras jeketnya yang sangat basah lalu menutupkannya ke badan Olivia. Sejenak wanita itu terenyuh dengan perlakuan Daren. Memang sekarang dia sangat kedinginan.


"Tutupi, bajumu transparan."


Mata Olivia membulat sempurna. "Sialan, kau!"


BUK! Olivia meninju perut Daren dan cepat-cepat mengancingkan jeket itu rapat-rapat ke tubuhnya.


Daren merintih memegangi perutnya yang terkena serangan Olivia.


"KENAPA KAU MEMUKULKU??"


"Makanya jaga matamu!" Pekik Olivia tak mau kalah.

__ADS_1


"Justru aku tengah menjaga mataku makanya aku berikan jeket itu. Kembalikan!"


Olivia memeluk tubuhnya sendiri, menolak melepaskan jeket itu karena dia menyadari, kaos putih yang ia pakai memang tipis dan tentu saja saat basah membuat tubuhnya terlihat.


Olivia melihat ke atas langit yang tertutupi pohon-pohon besar. "Daren, kita dimana?"


"Di belakang air terjun." Jawabnya dengan malas dan mulai berjalan memasuki ceruk yang terlihat gelap.


"Hei, mau kemana? Kenapa masuk ke dalam gua?" Olivia mengikuti Daren yang tak menghiraukannya. "Hei, Apa kau tidak pulang?"


"Aku tidak tahu jalan pulang." Jawabnya kemudian mengutip ranting-ranting kering.


"Apa?? Jadi maksudmu kita tersesat?? Apa tidak bisa kita berenang kesana? Kau bilang ini dibelakang air terjun. Seharusnya di depan sudah jalan pulang, kan?" Olivia tak habis pikir, bisa-bisanya orang itu malah duduk sambil menggosok-gosokkan batu ke daun dan ranting kering. Padahal hari masih sore dan masih ada waktu untuk mencari jalan.


"Kau saja sana. Kau pikir gampang melalui aliran sungai dibawah tekanan air terjun? Bisa-bisa kau tak muncul lagi kepermukaan."


Olivia menahan tangisnya. Bagaimana bisa hari pertama liburan berakhir buruk begini? Mau tak mau dia ikut duduk di dekat Daren yang sudah berhasil menyalakan api.


"Lalu kita bagaimana?" Tanya Olivia dengan nada parau. Dia kebingungan. Bagaimana jika dia tidak bisa keluar dan mati di tempat ini? Bagaimana nasib bunda dan adiknya?


Matanya menangkap Olivia yang memeluk lutut sambil menopang dagunya diatas lutut. Wajahnya juga terlihat sangat sedih.


"Kau kenapa?"


Olivia tak menyahut, dia semakin mengeratkan pelukan pada lututnya.


"Olive, apa kau kedinginan?" Daren pindah posisi kesebelah Olivia.


"Bagaimana kalau Bunda mencariku. Bagaimana kalau kita tidak bisa keluar dari sini? Bagaimana kalau tidak ada yang menemukan kita dan akhirnya kita mati disini?" Olivia mulai terisak. Rasanya dia belum mau mati karena memikirkan bunda dan adik laki-lakinya.


"Bagaimana.. hiks.. bagaimana kalau bunda mencariku.."


"Olivia, hei.." Daren mengusap lembut puncak kepala gadis yang bahunya naik turun karena menahan isakan.


"A-aku.. hiks.. aku takut.. bunda akan bersedih.."


Daren menarik gadis itu kepelukannya. Wah, Daren agak terkejut dengan reaksi Olivia. Padahal kemarin dia sanggup menghajar tiga orang laki-laki dengan wajah babak belur tanpa air mata sedikitpun. Tapi sekarang, dia malah menangis. Dan lagi, sepertinya yang membuat dia sangat bersedih adalah bundanya.

__ADS_1


Tanpa Daren sadari, tangannya mengelus lembut rambut gadis itu. Sampai perlahan isakan Olivia mereda dan sepertinya Olivia menyadari apa yang tengah terjadi saat ini.


Tubuh Olivia sudah kaku. Dia juga tidak berani menegakkan tubuhnya, apalagi tangan Daren nampaknya tak berhenti mengelus. Olivia seperti menyadari sesuatu. Walau keadaan tubuh yang basah, dia bisa merasakan nyamannya berada di dalam sebuah pelukan seorang laki-laki. Apalagi postur tubuh Daren, sebenarnya adalah tipe kesukaannya.


"Sepertinya kau betah dipelukanku. AAAAAKKK.."


Belum sedetik Daren mengucapkan itu, tangan Olivia dengan kuat mendorong Daren hingga ia terjungkir ke belakang. Seperti dihinggapi kotoran, Olivia mengusap semua tubuhnya yang mengenai kulit Daren termasuk kepalanya yang hampir berasap karena diusap Daren.


"Aaah.. pinggangku.." Daren merintih sambil mencoba duduk kembali. "Kau.."


Olivia mendengus kesal. Padahal dia hampir saja mengubah cara pandangnya pada Daren. Tapi sikap menyebalkan Daren muncul lagi disaat yang tidak tepat. Eh.


"Sudahlah! Sekarang kita harus bagaimana? Aku tidak mau mati disini. Aku mau keluar dan bebas." Tukas Olivia menutup rasa malunya.


"Memangnya apa yang akan kau lakukan? Dunia ini bahkan hampir gelap." Daren kembali duduk dan menambah ranting-ranting supaya api tidak padam.


Olivia tak menjawab. Dia memperhatikan sekelilingnya. Di depannya ada air terjun yang sangat deras. Kiri dan kanan juga penuh dengan alira air yang sangat deras. Dan sekarang dia menghadap gundukan bukit kecil yang menganga gelap. Olivia duduk kembali. Benar, tidak ada jalan.


"Keringkan dulu bajumu sambil berpikir." Kata Daren dengan senyuman pada Olivia. Entah apa maksudnya. Dan si sialan itu, masih saja tenang. Batin Olivia.


Sementara diseberang, Richi dan Hugo berdiri menghadap air terjun yang jatuh sangat deras.


"Sudahlah, ayo."


"Tapi, Hugo. Tidak ada yang bisa memastikan mereka selamat atau tidak!"


Richi sejak tadi memekik kesal karena Hugo selalu saja mengatakan hal yang sama. 'Mereka pasti selamat.'


"Percaya padaku, aku dan Daren tahu tempat ini dengan baik. Lagi pula, mereka pasti tengah bersenang-senang." Hugo terkekeh sendiri membayangkan apa yang terjadi dibalik air terjun itu.


"Apa sih, maksudmu, Hugo."


"Cepat, hari sudah gelap." Hugo pergi saja tanpa memperdulikan Richi. Walau masih khawatir, Richi mengambil kamera Olivia dan berlari mengejar Hugo yang sudah berjalan menjauh dari tempat itu.


Hugo sejak tadi sudah merasa kalah langkah. Sialan kau, Daren. Selalu saja tahu tempat yang bagus. Batin Hugo.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2