
Richi bersiap berlari, tapi lengannya ditarik oleh Hugo. "Kau mau kemana? Aku akan ikut bersamamu."
"Tidak bisa. Aku harus ke ruang inti." Richi langsung berlari menuju tempat dimana ia dan Clair berpisah tadi.
Richi tidak mau menghabiskan banyak waktu di gedung bawah tanah itu sebab bisa saja Valiant akan kehilangan banyak anggota.
Dia berlari dan mendapati banyak tubuh bergeletak dengan luka tembak. Clair juga tidak ada di tempatnya.
"Darrel!"
Samar-samar Richi mendengar suara orang memanggilnya. Dia berhenti.
"Darrel. Sst!" Richi berhenti, dia melihat ke arah sumber suara dan mendapati beberapa anggota dari tim Rajawali dan Jaguar ada di satu ruang. Mereka melambai, meminta Darrel mendekat.
Richi mendatangi mereka dengan sedikit bingung. Ada apa orang-orang itu bersikap aneh.
Begitu Richi mendekat, mereka langsung menarik tangan Richi dan menutup pintu perlahan. Disana, ada sekitar 9 anggota Valiant tengah bersembunyi.
"Gawat. Komander disekap." Salah satu dari mereka bersuara.
"Apa? disekap bagaimana? Bicaralah yang benar!" Sentak Richi.
"Benar, Darrel. Tadi, dua orang bertubuh sangat besar datang dari salah satu ruang dan berhasil menangkap Komander. Mereka membawa Komander ke dalam ruangan paling sudut."
Richi mengerutkan dahinya. "Lalu, kalian bersembunyi?? Dimana Jo dan Simon??"
"Simon..." Mereka saling tatap.
"Simon tertembak dan terkapar di dalam sana." Jelas salah satu anggota itu.
"Kami dititahkan Komander untuk pergi. Dia bilang, misi sudah selesai melalui earpiece. Tapi kami tengah menyusun rencana karena orang-orang itu memegang kendali atas ruangan ini. Dia meledakkan bom di salah satu ruang." Jelas orang itu dan Richi langsung mengambil earpiece di telinga Kanannya. Dia menggenggam erat alat kecil yang ternyata sudah kehabisan batrai.
Richi membuang napas secara perlahan. Sejujurnya, kini dirinya mulai kehilangan arah. Tubuhnya juga sedikit bergetar, jika Ricky mati, dia bagaimana?
Richi menekan tombol kecil di telinga kirinya. "Harry, Ricky sudah tertangkap oleh dua orang itu." Nada suara Richi bergetar. Harry bilang, kalau dua orang itu sudah muncul, maka akan sulit dihadapi.
"Harry, aku harus apa.." lirih Richi.
__ADS_1
Sementara di tempat lain, Harry melepas headset-nya. Tubuhnya langsung bersandar di kursi dan menghela napas kasar. Dia tidak tahu harus berbuat apa tapi yang ia tahu, situasi Richi saat ini sangat sulit.
"Harry, ada apa?" Tanya Shera.
Harry tak menjawab, dia tengah berpikir sembari mengetuk-ngetukkan jari di pahanya.
Richi berdiri menatapi anggota lainnya. Dia tahu, saat ini yang diharapkan hanyalah dirinya. Dia harus menemukan jalan untuk menyelamatkan kakaknya dan juga Simon yang terluka. Lalu, Clair? Apa dia juga tertangkap.
Suara kaki melangkah terdengar, anggota lain dengan sigap mengintip dan mendapati Hugo bersama Eline berada diluar.
Segera mereka memanggil keduanya, dan Hugo langsung memeluk Richi saat mendapati gadis itu tengah berdiri sendiri di ujung ruang.
"Hei, kau tidak apa-apa? Ricky dalam bahaya." Ucap Hugo sambil mengelus lembut punggung gadis itu.
Tak bisa dipungkiri, Richi yang sedang dalam posisi cemas dan bingung, merasa jauh lebih baik saat Hugo berada disisinya.
Dia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Hugo, memeluk lelaki itu sebentar untuk meringankan pikirannya. Berusaha mencari jalan keluar.
"Kemana yang lain?" Tanya Richi.
"Jo, Eddy, dan Erine tengah menjinakkan bom. Aku mencarimu karena khawatir."
Semua anggota langsung mengeluarkan apa yang mereka punya. Richi mengambil sesuatu yang dia perlukan dari anggot-anggota itu.
"Dengar, aku punya satu rencana. Tapi, jika kali ini gagal, aku minta pada kalian untuk keluar saja, sesuai dengan apa yang Ricky katakan."
"Mana bisa begitu." Sahut Hugo cepat. "Aku akan terus berada disampingmu." Katanya lagi.
"Bukan begitu, Hugo. Valiant tidak pernah membuat anggotanya mengorbankan diri demi pimpinan. Sekarang, dengarkan aku. Aku akan masuk ke dalam dan kalian, cover saja aku."
"Chi.."
"Dengarkan saja aku, Hugo."
Richi mengeluarkan satu senjata lain dari balik bajunya. Senjata yang Harry berikan padanya. Senjata yang dilengkapi tegangan listrik di dalam amunisinya.
Harry bilang, itu cukup mempan untuk membasmi dua penjaga itu.
__ADS_1
Richi berjalan menuju ruang dimana Ricky disekap. Richi berhenti sebentar saat melihat pintu itu terbuka lebar dan mendengar suara seseorang yang didekap.
Gadis itu menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya menodongkan senjata ke dalam ruang dan mendapati beberapa orang disana tengah asyik bermain kartu.
Richi nampak bingung ketika orang-orang di dalam tidak memperdulikannya. Mereka bermain dengan hening, tampak serius dan satu diantaranya melihat Richi sekilas saja kemudian fokus lagi pada kartunya.
Richi melihat orang-orang itu. Dua diantaranya pasti orang yang Harry ceritakan tadi. Walau sudah tahu kelemahannya, tetap saja, melihat perawakan dan tubuh yang mengerikan itu membuatnya ngeri.
Di tengah meja ada tumpukan uang dan Ricky, dia mengerang melihat adiknya yang berdiri sendiri diambang pintu dengan raut bingung karena kehadirannya bahkan tidak digubris padahal mereka sempat menoleh sebentar.
"Hhhmmmpppp.." Mata Ricky melotot, menyuruh adiknya untuk segera pergi. Sementara Richi memandang dengan nanar. Kakaknya terlihat menyedihkan dengan luka tembak dibagian dada dan bahu kanannya. Pelipis laki-laki itu berdarah, juga memar dibagian rahangnya.
Richi menahan rasa kacaunya. Bagaimana Ricky yang sangat hebat menurutnya, bisa kalah begitu. Pantas saja orang-orang itu sepele padanya.
"Hmmmppp.." Ricky tampak gelisah di tempatnya sambil terus berteriak dan melotot pada Richi.
Dari belakang, seseorang hampir saja memukul Richi dengan balok besar yang langsung disadari dan Richi dengan cepat mengelak dan menghajar lelaki itu.
Untunglah, walau musuhnya kuat, Richi masih menang dikecepatan dan ketangkasannya menghajar orang itu di titik vital.
BRAK!
Richi membanting tubuh lawan diatas meja judi, membuat semua kartu dan uang yang ada di atas menjadi berantakan.
Kini mata lima orang yang ada disana menatap tajam ke arahnya. Richi mengangkat dagunya.
"Lawan aku atau kalian akan mati." Tukas gadis itu dengan dada yang naik turun.
"Kau layani saja kami. Kalau kami puas, maka temanmu itu akan kami lepaskan hidup-hidup."
"HMMMPPPPPP!!" Suara Ricky memberat, dia tidak suka dengan pembicaraan orang-orang itu.
"Baik. Aku akan melayani kalian dan membuat kalian puas hingga tidak bisa berdiri." Tukas Richi seraya mengeluarkan pistolnya.
TAK! Dia menembakkan senjata listrik itu ke dada salah satu lelaki bertubuh besar. Dia menjerit karena tegangan listrik di dalamnya. Membuat kedua matanya terbuka lebar hingga darah yang mengalir dari dadanya.
"Bangsat! Hajar dia!" Berang pria bertubuh paling besar dan berhasil membuat ketiga lainnya mengeluarkan senjata mereka.
__ADS_1
"Kau yang mencari masalah, gadis. Kau akan menerima akibatnya." Kata salah seorang dari mereka dengan meletakkan telunjuknya di pelatuk, bersiap menembak Richi dan membidik tepat dikepalanya.