
Richi menghanduki rambutnya yang basah. Dia seperti memikirkan sesuatu. Tentang apa yang Hugo sampaikan tadi.
"Ichi. Ikut kakak sebentar". Ricky berdiri di ambang pintu. Lalu dia berjalan menuju ruangan yang di ikuti Richi dari belakang.
Sesampainya didalam, Richi duduk di sofa. Ruangan pribadi Ricky. Disinilah dia sering menghabiskan waktu untuk pekerjaannya.
"Kau habis naik motor, kan?" Ricky duduk sedikit di atas meja kerjanya. Melipat tangannya, dan memasang wajah serius.
Jika sudah begini, Richi tahu yang dia lakukan salah. Richi hanya diam. Dia tertunduk. Walau hubungan mereka akrab, tetapi Richi tetap menghormati kakaknya.
"Kau tak perlu berpikir dari siapa aku tahu. Beruntunglah karena Ayah dan Ibu tidak tahu ini." Ricky berjalan mendekati adiknya. Dia duduk di hadapannya.
"Kau harus ingat. Terakhir kali bermotor, apa yang terjadi?"
Richi menyandarkan kepalanya di sofa. Mencoba menerawang beberapa tahun silam saat dirinya bermotor ria dengan teman-teman lainnya.
"Kak, aku hanya pergi ke kedai kopi Clair. Tidak berbuat aneh-aneh." Ucap Richi memelas pada kakaknya. Ada rasa berterima kasih sebab masih merahasiakannya dari Ayah dan Ibu.
"Siapa laki-laki yang bersamamu?"
"Dia Hugo. Anak Tuan Erhard pemilik Lovvi Group." Ucap Richi perlahan. Karena takut dengan reaksi kakaknya.
"Apa! Hei, Richi. Kau dekat dengan keluarga yang seperti itu?" Benar, kan. Reaksi Ricky melebihi Ibu.
"Itukan hanya gosip, kak. Lagi pula, aku tidak berteman dengannya. Aduh, ceritanya panjang, kak".
"Jadi menurutmu, dia tidak seperti Ayahnya?" Mendengar itu, Richi mulai berpikir. Hugo juga memiliki banyak kekasih. Dia memilih perempuan seperti memilih ikan segar di pasar.
Richi terdiam. Yang di ucapkan kakaknya benar. Hugo dan Ayahnya memang mirip. Tapi, bukankah itu hanya gosip untuk menjatuhkan presdir Lovvi Group?
"Benar, kan? Jangan sampai kau suka dengan anak itu. Kau harus lihat keluarganya, mengerti?"
Richi hanya diam dan menatap kakaknya.
"Apa kau menyukainya?"
Richi menggelengkan kepalanya dengan tenang.
"Lalu?"
"Reaksi Kakak melebihi Ibu." Jawabnya sambil memicingkan mata. "Mengaku saja. Kau sekongkol dengan Emerald, kan."
__ADS_1
"Apa maksudmu itu?"
"Dari mana dia tahu aku suka bunga, suka ice skating, suka es krim?"
"Mana aku tahu". Jawab Ricky sambil buang muka.
"Melarangku dekat dengan orang lain, maksudnya biar aku dengan Emerald, kan? Kakak pasti melakukan sesuatu dengan Emerald". Tuduh Richi pada kakaknya yang sejak awal saling kenalan, tapi sudah sangat akrab dengan Emerald.
"Kalian akrab untuk bisnis perusahaan, tapi sekalian mendekatkanku padanya, kan?" Richi memandang curiga pada kakaknya.
"Sudah sana, keluar. Kenapa malah kau yang mengintrogasiku?" Ricky beranjak lalu duduk di meja kerjanya.
"Aku tahu, aku ini sangat peka. Dasar kalian lelaki. Hei kak, kau urus saja percintaanmu yang selalu gagal itu". Ejeknya kemudian berlari supaya kakaknya tidak menonjoknya.
"Apa kau bilang! Sini kau." Ricky berdiri di tempatnya. Sudah hampir melemparkan sesuatu di tangannya. Untungnya Richi sudah keluar dan menutup pintu dengan sempurna.
...🍃🍃🍃🍃...
Jam pelajaran telah usai. Para murid seperti biasa, berhamburan keluar gerbang, ada pula yang masih di sekolah untuk melaksanakan aktivitas ekskul atau lainnya.
Camilla sudah ada di lapangan basket. Dia melihat Hugo yang berjalan menuju tangga turun dari lantai dua.
"Iya hehe. Jangan bilang Hugo, ya. Aku pingin lihat dia latihan". Ucapnya dengan wajah berbinar.
"Hugooo..." Camilla berlari kecil saat melihat Hugo mendekat ke lapangan basket.
"Kenapa kemari?" Tanya Hugo yang melihat Camilla mendekati lalu memeluk lengan Hugo.
"Kau kenapa? tidak kasih kabar sama sekali dari kemarin." Ucapnya cemberut.
"Aku tak pegang ponsel. Duduklah, aku mau latihan."
Camilla duduk di bangku tepi lapangan. Dia siap-siap menyemangati Hugo walau tidak dibutuhkan.
Tak lama, Richi turun dari tangga. Diapun ingin melihat anak-anak basket latihan.
Para pemain sudah di lapangan. Mereka memulai latihannya.
"Richi. Sini!" Teriak Eric sambil melambaikan tangannya.
Richi duduk disebelah Eric. Sambi bercerita, Richi terlihat mengunyah makanan ringan.
__ADS_1
Melihat Richi, Camilla berteriak heboh. Menyemangati dengan menyebut-nyebut nama Hugo. Suaranya menggema di lapangan yang terkurung banyak ruang.
Orang-orang memperhatikannya. Namun memaklumi sebab yang melakukannya adalah Camilla. Gadis imut dan cantik sepertinya, orang-orang akan memaklumi. Apalagi dia dan Hugo dianggap sangat serasi.
Richi yang awalnya fokus menonton pertandingan, jadi merasa terganggu dengan suara nyaring Camilla.
"Goo Hugo Go.. Go Hugo Go.." Teriaknya ala yell yell anak cheerleaders.
"Hey, Richi" Camilla mendekat. Dia berdiri di sebelah Richi.
Richi mendongak, melihat gadis cantik itu dengan rambut yang sengaja dibiarkan begitu saja dan menambah aksen imut dengan bandana di atasnya.
"Kau jangan coba dekat-dekat dengan kekasihku. Karena dia sangat tidak berminat denganmu. Jadi, kau tidak perlu melihatnya begitu. Hugo menyukai gadis sepertiku. Berambut panjang indah dan menjaga tubuhnya. Tidak sepertimu." Ucapnya yang melihat Richi mengunyah makanannya sedari tadi.
Richi menatap gadis itu sambil tetap mengunyah. "Anda siapa, ya?"
Telak, Camilla merasa sedikit malu. Dia juga geram karena seperti hanya dirinya yang mengenal Richi.
"Oh. Kau yang kemarin malam hampir dikerjai oleh pria asing, bukan?" Richi mengingat wajahnya dengan benar kali ini. Ya, dia Camilla. Batin Richi.
Frans dan Eric yang mendengar sedikit kaget. Dikerjai pria asing?
Camilla mengerutkan alisnya. "Ya. Aku bersyukur karena Hugo menyelamatkanku. Dan kau, jangan pura-pura tidak tahu. mustahil kau tidak mengenalku. Aku popular di sekolah manapun!" Bentaknya dengan menutupi rasa malunya.
Richi membelokkan wajahnya ke lapangan basket. "Kau tahu nona, aku sama sekali tidak tahu dan tidak mau tahu." KRAUK! Richi memperjelas suara keripik kentang yang ia kunyah.
"Hei, Nona. Apa masalahmu dengan Richi?" Tanya Eric tiba-tiba.
Mendengar itu, Camilla terdiam. Dia menghentakkan kakinya lalu pergi ke tempatnya semula. Tapi, dia merasa memang tidak punya masalah dengan Richi. Entah mengapa hatinya cemburu pada gadis itu. Apalagi dari info yang ia dapat, gadis itu jago bermain basket. Sementara dia ingin sekali belajar supaya bisa bermain bersama Hugo. Pasti romantis. Batinnya.
Hugo menghampiri Camilla yang sudah semangat memberikannya air mineral. Hugo menenggak minuman itu lalu kembali lagi ke lapangan.
"Hugoo, semangat!" Teriaknya lagi. "Ayoo Hugo.. "
"Dia sadar tidak, sih. Akan melawan siapa nanti? Bukannya dia ketua tim cheerleaders di sekolahnya ya?" Tanya Frans heran.
Eric yang melihat Camilla ikut menggerutu "Berisik sekali. Padahal sedang tidak bertanding. Ini hanya latihan, Latihan!"
KRAUK! Suara keripik kentang pecah lagi di mulut Richi. Membuat satu keluhan lagi di kuping Eric.
To be Continued....
__ADS_1