
"Ayo, mulai." Richi langsung berjalan masuk ke satu pintu dapur kedai Clair diikuti dengan yang lain.
Dari dalam dapur, ada pintu lain menuju ruang santai. Richi menggeser lemari lalu membuka pintu di belakang lemari tadi. Richi menuruni tangga ruang bawah tanah.
Terasa gelap, Richi menyalakan lampu hingga terlihat foto mereka berempat di atas layar lebar hingga barang-barang tempur mereka.
"Ah, sudah lama sekali tidak kemari." Ucap Bella.
"Aku tetap membersihkannya." Sambung Clair.
Richi melihat dua pisau penuh noda darah di atas rak.
"Ah itu, aku sengaja tidak membersihkannya." Tukas Clair saat melihat Richi menatap pisau itu.
"Iyewwh. Itu bukannya bekas darah Lexus?" Tanya Olive dan Clair tertawa sambil mengangguk.
"Ah, aku ingat sekali. Untung polisi datang, kalau tidak, sudah entah jadi apa lelaki sialan itu." Ungkap Bella lalu semua menatap Richi yang masih melihati belati itu.
Mereka bergidik, membayangkan Richi berada di puncak amarah yang luar biasa dan berharap hal itu tidak akan terjadi lagi. Karena takkan ada yang berani berhadapan dengan gadis itu jika dia benar-benar murka, termasuk Lexus yang berada di tim Elang, satu lingkaran dengan Ricky pada waktu itu.
Richi meletakkan tasnya di atas meja yang berada di tengah-tengah ruang, yang lain menarik kursi, duduk di tempat mereka masing-masing.
Richi menarik kain putih yang menutupi papan tulis putih, dia mulai menulis sesuatu disana.
Membaca apa yang ditulis Richi membuat teman-temannya mengerutkan alis.
"Harry? Siapa itu?" Tanya Bella dan Richi terus menulis dan menggambar sesuatu disana.
"Dengar, aku punya misi baru. Gunakan kemampuan kalian dengan baik, karena aku membutuhkannya." Ucap Richi lalu menjelaskan apa yang ia gambar disana hingga membuat teman-temannya terbelalak.
"Stripe? Yang benar saja.." Clair menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sumpah, tidak kusangka.." ujar Olive.
"Jika kalian bisa melihat tatonya, malah lebih bagus." Sambung Richi.
"Lalu, apa selanjutnya?" Tanya Clair.
Richi memandang kedepan, "biar aku yang menghadapinya sampai kudapatkan kepercayaannya. Setelah itu, jalankan apa yang sudah kujelaskan pada kalian."
Mereka mengangguk, untuk misi kali ini mereka tidak punya banyak pekerjaan.
"Bagaimana kalau mereka tahu kau Valiant?". Tanya Clair lagi.
"Itu yang aku katakan tadi, aku khawatir Harry juga menjebakku setelah mendengar informasi dari Lexus, satu-satunya yang mengetahui bahwa aku Valiant."
"Dimana kita mencari Lexus?" Ucap Olive sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di meja.
"Dia bersembunyi bersama tuan Saver. Mereka pasti bersekongkol dengan Harry." Tukas Bella.
__ADS_1
"Kurasa mereka takkan banyak melakukan tindakan saat ini. Menurutku, kita perlu menculik salah satu kelompok Stripe." Ucap Clair.
"Tidak bisa, itu akan membuat kita ketahuan sudah menyelidiki mereka." Jawab Olive.
"Mereka bermain halus, maka kitapun demikian. Bagaimana Bella, kau bisa melakukannya, kan?" Tanya Richi.
Bella mendesah, "yang seperti ini pasti selalu diserahkan padaku. Baiklah, akan kujalankan."
"Aku akan mengirimkan semua informasinya ke surelmu nanti. Kalau gitu, kita tutup sampai disini". Ucap Richi membereskan barangnya ke dalam tas lalu keluar.
Dia berhenti, memandang keluar jendela dapur.
"Ah, hujan!" Seru Bella yang dibelakangnya.
Richi berjalan dan mendapati Hugo masih disana, duduk sambil bermain ponsel.
"Sudah selesai?" Hugo tersenyum cerah mendapati Richi yang menatapnya.
"Wah, kau benar-benar pacaran dengan Hugo ya, Darrel. Kalau begitu, kenapa kau memberiku saran rambut panjang dan segala macam?" Pekik Bella pada Richi.
"Apa?" Hugo menyipitkan matanya menatap Richi. "Kau bilang begitu pada orang-orang?"
"Aku mau pulang, kau mau disini?" Tanya Richi tak peduli pada ucapan mereka berdua.
"Ya sudah, aku antar. Ayo.."
Hugo dan Richi menuju pintu keluar.
"Di mobil, juga padamu waktu itu."
Richi menatap keluar, hujan amat deras.
"Rel, gunakan payung itu." Clair menunjuk payung di atas rak tak jauh dari Richi.
Hugo mengambilnya lalu mereka berdua menuju mobil.
Melihat Hugo membukakan pintu untuk Richi, membuat Bella meringis.
"Ah, aku kalah lagi dari Darrel."
"Dari apapun, kau memang kalah, Angsa!"
"Stop memanggilku Angsa, sialan!" Pekiknya pada Clair yang tertawa lepas.
"Padahal aku menyukai Hugo yang tampan itu.."
Mendengar itu, Clair dan Olive tertawa tanpa suara dibelakang Bella yang terus memandang ke luar sampai mobil Hugo pergi.
"Perfect couple ya, Clair." Ucap Olive supaya Bella terus merasa iri.
__ADS_1
"Betul. Aku sudah duga tuan Hugo menyimpan rasa pada Darrel sejak awal." Ungkap Clair. "Dia satu-satunya orang yang Darrel ajak kemari".
"Benarkah? Beruntung sekali, Hugo. Ah.. Siapa yang tidak iri, lihatlah Hugo. Sudah tampan, postur tubuhnya juga bagus untuk setinggi dirinya, kaya raya pula." Tukas Olive lagi.
Bella tak bergeming, dia berdiri saja disana, memandang derasnya hujan yang membasahi motornya.
~
"Chi.." Hugo melirik sekilas kekasihnya yang tengah mengangguk-angguk dengan lagu Avril Lavigne-nya.
"Ya.."
"Apa kalian semua tadi Valiant?"
Richi mengangguk.
"Berarti Bella juga bisa beladiri dan lainnya? Clair juga?"
"Iya. Justru mereka yang lebih jago dariku. Juga Clair yang lebih handal memegang senjata dari pada aku."
"Yang benar? kalau kulihat justru sepertinya kaulah bosnya."
"Aku hanya ketua Tim. Clair, dia selalu memegang kendali dari jauh. Ketepatan tembakannya hampir selalu 100%. Mendiang Ayah Clair adalah teman Ayahku, dia yang mengajariku memegang beragam senjata dari usia 10 tahun. Bisa kau bayangkan Clair dari usia berapa, kan." Jelas Richi panjang lebar.
Hugo mengangguk lambat. "Tetap saja kekasihku yang lebih keren". Ucap Hugo dan mendapat senyuman lebar dari Richi.
Mobil berhenti di depan gerbang rumah Richi.
"Aku akan meminta pelayan bawakanku payung."
"Tunggu.." Hugo memegang ujung lengan baju Richi. "Besok kita makan malam, ya? Aku akan memesan tempat yang bagus untukmu".
"Ah, Hugo. Maaf. Aku ada janji besok malam. Bagaimana kalau lusa?"
"Janji dengan siapa? Apa tidak bisa dibatalkan? Aku sangat ingin makan malam bersamamu besok."
Melihat raut wajah Hugo yang sangat mengharapkannya, Richi merasa bingung. "Ah.. bagaimana ya, Hugo. Aku sangat ingin bersamamu, tetapi aku tidak bisa membatalkannya karena ini hal yang penting bagiku." Richi memutar otaknya supaya Hugo mau memundurkan waktunya.
"Tapi besok.."
"Aku janji, lusa malam aku akan pergi denganmu. Bagaimana? Tolong ya, Hugo. Please" Mohonnya dengan raut wajah tak kalah bingung.
Hugo mendesah, lalu mengangguk saja walau raut wajah yang kecewa tak bisa ditutupi.
Richi meraih tangan Hugo, "Terima kasih atas pengertianmu, Hugo." Ucapnya sambil menggenggam erat jari-jari Hugo.
Richi menelepon pelayannya, tak lama keluar seorang membawa payung besar.
"Aku masuk, ya. Hati-hati dijalan, Hugo." Ucapnya lalu keluar dari mobil dan berjalan dipayungi oleh pelayannya.
__ADS_1
Hugo mendesah, "Padahal besok ulang tahunku." Gumamnya pelan, lalu melajukan mobilnya.
TBC