
"Ha-harry..." Richi menahan napasnya. Harry memegangi luka di pinggang kirinya.
"Hugo, sumpah. Aku tidak menembaknya." Ucap Richi dengan wajah yang penuh khawatir.
Lalu mata mereka terbelalak melihat seseorang yang berdiri menggenggam pistol dari ujung lorong.
"Shera?"
Mata Hugo menyipit, memastikan apa yang ia lihat. Jika benar Shera, bagaimana ia bisa ke tempat ini dan menembak Harry?
"Shera..." Harry mulai tergeletak, tak kuat menahan lukanya.
Shera datang dengan pistol yang masih tertahan di genggamannya. Dia mendekat, mengarahkan lagi senjatanya pada Harry.
"Shera, syukurlah kau selamat." Ucap Harry tersenyum tanpa memperdulikan apa yang akan Shera lakukan padanya.
"Shera, hiduplah dengan baik, hm?"
Shera mengokang senjatanya, tidak suka dengan ucapan Harry.
"Hidup dengan baik, katamu? Hidupku sudah tidak baik-baik saja sejak aku mengenalmu." Lirihnya pada Harry dengan mata yang berkaca.
Suara langkah kaki berlari mendekat. Tiga orang laki-laki mengangkat Harry tanpa memperdulikan Shera yang memegang senjata. Harry dibawa oleh orang-orang itu.
Shera menatap ke arah Richi dan Hugo. Dia mengangguk kecil pada Hugo dan pergi begitu saja.
"Hugo, apa yang terjadi?" Tanya Richi yang masih bingung.
"Nanti aku jelaskan. Sekarang, ayo pergi." Hugo mengambil pistol yang Richi jatuhkan tadi, dan membawa gadis itu pergi.
"Bzzt, Cepat semua keluar dari rumah itu! Ada bom yang akan meledak dalam hitungan 15 detikkk !!"
"A-apa??" Hugo terdiam beberapa saat setelah mendengar peringatan dari Keen.
"Hugo, ada apa?"
Tanpa menjawab, dengan cepat Hugo berlari menggandeng tangan Richi yang terpaksa ikut berlari kencang.
Hugo menemukan pintu dari samping dan langsung berlari keluar. Beberapa langkah kakinya menyentuh tanah, bom besar meledakkan seisi rumah membuat tubuh Richi dan Hugo terlempar beberapa meter.
Richi bangkit dan masih terduduk di atas tanah. Matanya membulat melihat rumah itu kini hancur dan berapi. Hanya beberapa detik saja, jika terlambat dia dan Hugo akan mati di dalam.
"Richi, kau tidak apa-apa?" Hugo memegang kedua bahu gadis itu lalu memeluknya.
"Syukurlah, aku sangat mengkhawatirkanmu."
Richi melepaskan pelukannya. "Kau bagaimana bisa memakai pakaian Valiant??"
"Ah, itu.."
"Richi!" Ricky berlari dan langsung berjongkok memeluk adiknya.
"Kau terluka? Apa perutmu baik-baik saja?"
__ADS_1
Richi mengangguk, lalu matanya teralihkan pada anggota Valiant yang mendekat.
"Lapor, Komander! Kami menyelamatkan beberapa barang sebagai bukti tetapi gudang beton itu ikut hancur."
Dari suaranya, itu adalah Clair.
"Tidak apa, aku akan proses tempat ini besok." Ucapnya lalu manarik tangan Richi untuk berdiri.
"Ayo, tugas kita sudah selesai." Ucap Ricky lalu merangkul bahu adiknya sambil berjalan.
"Kau yakin tidak mau kugendong?" Tanya Ricky.
"Aku tidak apa-apa, bagaimana cara kalian menemukanku?"
Percakapan keduanya dilihat oleh Hugo yang seperti punya saingan untuk mendapatkan Richi.
Clair menepuk pundak Hugo. "Lawanmu adalah kakak iparmu. Hehe." Ucapnya dan berlalu pergi.
Begitu juga Jonathan dan Simon menepuk pelan bahunya sambil berjalan, entah apa maksud orang-orang itu.
"Nampaknya kau sudah lulus seleksi awal." Kata Ray tiba-tiba yang ikut berjalan disebelah Hugo.
"Apa maksudmu."
"Belum pernah ada yang berani membantah Keen dalam Valiant kecuali Darrel. Lalu kau masuk dan bisa mengimbangi. Kurasa kau cukup hebat untuk masuk dalam tim Elang."
Penjelasan Ray tak membuat hati Hugo senang. Karena matanya terus menatap Ricky dan Richi yang mengobrol dengan seru.
"Kau kan, yang bertarung dengan Keen dua tahun lalu?" Tanya Ray lagi.
"Kurasa dia memang mengakui kehebatanmu dari dua tahun yang lalu."
"Sepertinya tidak begitu." Hugo ragu sebab selama ini Ricky terlihat membencinya.
"Keen memang begitu. Apapun yang berkaitan dengan Darrel, pasti membuatnya menjadi keras. Dia sangat menyayangi adiknya."
Hugo menghela napas. Memang benar, semua orang pasti menyayangi adik dan Hugo sangat memaklumi itu.
Hugo berhenti dan menatap ke belakang, kobaran api masih sangat terlihat. Untungnya rumah itu tidak berdekatan pada pohon-pohon sehingga pembakaran tidak akan menjalar ke hutan.
Tapi, bagaimana dengan Harry dan Shera? Apakah mereka sempat keluar?
"Ayo, jangan bengong." Ajak Olivia yang sejak tadi berjalan di belakangnya.
~
Hugo membuka maskernya saat sudah berada di dalam mobil. Dia duduk sambil menatap Richi yang bersebelahan dengan Ricky.
Nampaknya jalan pulang terasa lebih seru sebab orang-orang di dalam sudah bercanda. Ricky juga tidak setegang tadi. Dia asyik mengobrol bersama Ray dan Jonathan. Sementara Simon hanya menjadi pendengar karena dia tidak banyak bicara.
Hugo menatap kekasihnya yang duduk tak jauh dari hadapannya. Hanya interaksi lewat mata, sebab untuk berbicara rasanya agak canggung mengingat orang-orang di dalamnya kurang bersahabat.
"Dari pada senyum-senyuman, mending saling bicara."
__ADS_1
Ucapan Jonathan membuat Hugo merasa agak malu.
"Kau jangan ikut campur." Tukas Ray pada Jonathan.
"Hei, Keen. Kau tidak lihat perjuangan pangeran menolong tuan putri?" Tanya Jonathan dan Ricky hanya diam.
"Kau ternyata bisa mengimbangi Elang." Tukas Ray lagi.
"Apa? Jadi Hugo masuk dalam tim Elang?" Tanya Richi.
"Hanya sementara!" Ricky menghela napas mendengar nada kekhawatiran adiknya pada Hugo.
"Kenapa tidak selamanya saja? Iya, kan, Ray?" Tanya Jonathan dan Ray mengangguk.
"Dia juga bisa memimpin di depan seperti tadi." Sambung Ray.
"Hah? Jadi kakak buat dia memimpin? Kau gila ya, kak? Kau menyetarakan dia dengan dirimu?" Nada Richi meninggi. Merasa kesal kenapa kakaknya sangat jahat membuat Hugo yang belum berpengalaman memimpin pertempuran.
"Aku tidak memaksa, dia mau sendiri. Dia bahkan membangkang saat kusuruh berhenti." Mata Ricky menajam pada Hugo.
"Bagaimana kalau kau masuk tim Elang saja? Kita akan resmikan ini dan..."
"Tidak!" Richi langsung menolak ucapan Jonathan.
"Kenapa? Kau tidak tahu kehebatannya, ya?"
Richi melengos. Dia sangat tahu, bahkan Hugo sering kelepasan saat bertarung dan Richi yang selalu membantunya. Kalau masuk dalam tim Rajawali, mungkin. Untuk Elang, sangat tidak mungkin.
"Keen, kau setuju kan, dia masuk Elang? Kita juga sudah lama berempat semenjak pengkhianat itu keluar." Tukas Ray lagi dan Keen hanya diam menatap tajam pada Hugo.
"Hugo, kau bagaimana? Mau bergabung dengan Valiant di Tim Elang?" Tanya Jonathan.
"Tidak! Tidak! Tid.."
"Oke." Jawab Hugo memotong ucapan Richi.
"Apa??" Richi membelalakkan matanya pada Hugo.
"Aku akan bergabung." Lanjut Hugo lagi.
"Hugo, sebaiknya tidak usah! Aku tidak setuju!" Bantah Richi dengan nada meninggi.
"Aku setuju." Tukas Ricky dengan mata yang terus menatap tajam pada Hugo.
"Kak.." Richi tak menyangka, kakaknya pasti akan mengerjai Hugo nantinya. "Kau gila, ya?" Richi menatap terus ke arah Ricky yang tak mendengarkan ocehannya.
"Aku setuju." Ucap Ray.
"Aku juga setuju." Lanjut Jonathan dan mereka menatap Simon yang mengangguk tanda setuju. Hal itu membuat Richi frustrasi.
"Aah! Kalian!!"
"Empat suara, Darrel. Kau kalah." Jonathan tertawa puas sementara Richi menatap Hugo dengan kesal tetapi Hugo menghindari pandangan Richi. Dia tahu setelah ini, dia pasti dimarahi habis-habisan oleh kekasihnya itu.
__ADS_1
Tbc