
Bel sekolah berbunyi, para siswa berhamburan keluar dengan berisik. Sebagian dari mereka mulai merasa khawatir dengan jawaban-jawaban yang mereka isi, atau mendiskusikan jawaban yang tidak mereka mengerti.
Lain hal dengan Hugo, dia sudah berdiri di depan kelas Richi dengan pulpen di telinganya. Dia tersenyum menatap Richi yang baru saja keluar dari kelas dengan lemas.
"Sulit, ya?" Tanya Hugo sembari merangkul Richi menuju lantai bawah.
"Biasa aja." Jawab gadis itu.
"Memang menyebalkan di ujian pertama malah disambut matematika dan fisika. Aku bisa mengerti perasaan orang-orang." Ujarnya dengan nada yang menyombong, dengan secara tidak langsung dia mengatakan kalau dirinya tidak keberatan.
Richi melepaskan tangan Hugo yang melingkar di bahunya. "Kau hanya handal di matika dan fisika, Hugo. Yang lain, nilaimu hanya rata-rata."
"Ya, memang. Tapi, asal kau tahu saja. Laki-laki yang jago eksak, itu sangat keren dan tampan." Hugo memuji dirinya sendiri.
"Iya, tapi sayang sekali itu tidak dibutuhkan dalam suatu hubungan. Karena yang dibutuhkan dalam hubungan adalah loyalitas dan saling menjaga perasaan." Balasan Richi membuat senyum Hugo memudar.
"K-kenapa nyasar kesitu?" Tanya Hugo penasaran.
"Ingin saja." Jawab Richi dan langsung membuka pintu mobil. Tanpa sadar percakapan mereka membawa sampai ke depan gerbang sekolah.
"Chi, tidak pulang denganku?" Tanya Hugo yang melihat Richi dijemput Simon.
"Bukannya kau ada janji?" Tanya Richi balik dan Hugo mulai ingat janjinya pada Eline.
"Ah, iya. Aku lupa."
Richi masuk ke dalam mobil, dibantu Hugo menutup pintu dan terus memperhatikan mobil gadis itu sampai menghilang dari pandangannya.
"Kau sedang berhubungan dengan siapa?" Tanya Daren tiba-tiba, membuat Hugo terperanjat dan menoleh kebelakangnya.
"Aku? Tidak ada."
Daren mengangguk lambat. Sejak tadi dia mendengar pembicaraan dua orang tadi di depannya. Daren tahu bahwa Richi tengah menyindir Hugo, tapi lelaki itu tidak mengerti.
"Yang benar?" Tanya Daren memastikan.
"Benar. Ada apa, sih?"
Daren menggelengkan kepalanya. Dia juga yakin Hugo tidak bodoh, tapi apa maksud Richi tadi?
"Kau mau kemana?"
Baru Hugo bertanya, sebuah sepeda berhenti di depan Daren. Itu Olivia. Mendayung sepeda dari Meteroid menuju Oberon yang jaraknya sekitar 3 kilo meter.
__ADS_1
Daren langsung melempar kunci pada Olivia. "Aku tunggu disini." Katanya pada Olivia yang tak banyak bicara, langsung mendayung sepedanya lagi menuju parkiran Oberon.
"Masih mempekerjakannya?" Tanya Hugo.
"Aku masih butuh supir."
"Butuh supir atau pendamping?" Ledek Hugo.
"Nanti malam ada perayaan tahunan perusahaan keluarga Camilla. Aku terpaksa datang untuk membayar denda Olivia yang meninju Camilla waktu itu." Jelas Daren.
"Lalu, kenapa kau membawa dia?" Tanya Hugo lagi dengan mata yang mengarah pada Olivia.
"Dia supirku, jelas dia ikut."
Hugo menyipitkan matanya. "Kau mau membuat dia cemburu atau-"
"Kami tidak punya hubungan apa-apa. Cemburu apanya." Balas Daren cepat.
TIN!
Olivia sudah muncul dibalik kemudi mobil merah Daren. Dia mengelekson lagi, sampai bahu Daren terangkat karena kaget.
"Dia sudah tidak sabar. Sana pergi." Tukas Hugo. "Tapi, kalau aku boleh kasih saran, nyatakan perasaanmu jika kau memang menyukainya, atau tinggalkan jika tidak berniat padanya. Ah, kurasa kau lebih paham soal itu dibanding aku." Hugo menepuk bahu Daren kemudian berjalan menuju parkiran mobilnya.
"Jalan." Tukas Daren pada Olivia setelah duduk disebelahnya.
Dia membiarkan saja, toh terserah kepada majikan. Hari ini, sebenarnya Olivia belum mau bekerja. Tapi karena Daren mentitah, dia mau tak mau menurut. Padahal Richi dan yang lain tengah berkumpul di lapangan basket tengah kota. Ingin rasanya bergabung bersama mereka. Tapi demi pekerjaan dan duit, dia harus merelakan itu.
"Kita kemana?" Tanya Olivia tanpa menoleh.
"Terserah." Jawabnya tanpa membuka mata.
"Hah?"
Terserah bagaimana? Ini mobil tengah berjalan dan kemana arahnya, Olivia tidak tahu. Apa perlu dibawa kerumah sakit jiwa saja? Batin Olivia.
"Kalau ke taman kota, bagaimana?" Tanya Olivia yang teringat tim Fox ada disana.
"Terserah." Jawab Daren lagi tanpa membuka mata.
Olivia meliriknya sekilas, lelaki itu tampak punya beban. Olivia membiarkannya saja walau dia agak penasaran, sekelas Daren, masalah apa sih, yang membuat dia sampai seperti itu?
Tak lama, Olivia menghentikan mobil di dekat lapangan basket. Suara berisik sudah terdengar dari mobil, membuat Daren membuka matanya.
__ADS_1
"Karena jawabanmu terserah, aku membawamu kesini. Kebetulan Darrel dan yang lain tengah berkumpul."
Daren keluar dari mobil. Dia mendapati Axel, Isac, Frans, dan Eric bermain di tengah lapangan.
Daren langsung menghampiri mereka, disana Richi ikut bergabung dan beberapa anak basket lainnya.
"Woeeh, Daren, kau kesini juga." Sapa Axel dengan napas terengah.
"Kenapa tidak bilang, kau kemari?" Tanya Daren.
"Kami sudah mengajakmu. Tapi kau bilang sedang tak ingin main basket."
Olivia berlari masuk ke lapangan melewati Daren, membuat lelaki itu terus menatap ke arahnya. Olivia langsung ikut bermain bersama Richi dan yang lain, dia masuk ke dalam tim Richi tanpa izin.
"Ayo, main." Ajak Axel.
"Nggak, ah." Jawabnya dan langsung menuju bangku pinggir lapangan bersama Bella dan Clair yang tengah berbincang.
Baru Daren mau duduk, dia langsung dikejutkan oleh bola yang menyasar tepat di kepalanya.
DUK!
Kepala Daren sampai terdorong ke samping karena benturan bola itu. Dia bisa mendengar cekikikan orang-orang di dalam lapangan kecuali satu. Orang itu menganga dengan mata membulat.
"OLIVIAAAAA!!" Teriak Daren pada gadis yang bersembunyi dibalik tubuh Richi.
"Rel.." lirihnya dibahu Richi.
"Hahaha. Gitu, doang!" Tukas Isac sambil mengambil bola.
"HEEEYY!!"
Suara berat nan besar bergaung. Mereka semua melihat ke arah dimana suara itu berasal. Beberapa laki-laki masuk ke dalam lapangan bahkan merebut bola dari Isac dengan tertawa-tawa. Hal itu sontak membuat Clair dan Bella langsung berdiri mengambil posisi.
"Wah, berani sekali kalian main tanpa izin dan tidak membayar???" Lelaki itu menatapi Olivia dan yang lain secara bergantian, lalu matanya berhenti pada Richi.
"Tapi, tidak sangka lho, ada perempuan jago bermain basket disini." Lelaki itu berdiri dihadapan Richi. Tingginya melebihi Hugo, dan badannya juga lebih besar. Dia terlihat lebih tua dari Richi.
"Aku sudah memperhatikanmu. Kau sangat menarik." Lanjutnya lagi.
Teman-temannya yang lain tertawa, apalagi satu orang yang merebut bola terus mengusik Ring basket dibelakangnya.
"Main bersama, atau kencan denganku? Kau pilih saja."
__ADS_1
Richi tidak menjawab. Dia menatap tajam pada lelaki itu.
Suasana hatinya sedang tidak baik. Richi sejak tadi memaksa Frans dan Eric untuk bermain basket diluar supaya dia bisa menyalurkan emosinya. Tapi nampaknya, ada yang lebih seru dari sekedar bermain basket.