
Hugo terduduk di lapangan basket tengah kota. Dia dan teman-temannya masih memakai setelan jas mereka saat pesta tadi.
Saat mendapat kabar bahwa akan ada penggeledahan tempat yang dijadikan base oleh Stripe, mereka berempat langsung menuju lokasi dan meninggalkan pesta mereka.
"Kau yakin itu Richi?" Tanya Isac yang berdiri berkacak pinggang.
"Ya, aku yakin".
"Asli! Dia tidak bisa dikenali, aku pikir itu laki-laki. Apa mereka semua Valiant? Kenapa mereka memakai serba hitam? Bukankah Valiant memakai masker merah?" Tanya Axel penuh dengan penasaran.
"Entahlah, aku juga penasaran, kenapa Valiant bisa ada disana? Apa mereka yang ngebom gedung itu?" Sambung Isac lagi.
"Yang lebih mengejutkanku, bukankah Richi baru saja berdansa denganmu, Hugo?" Daren melirik Hugo yang sejak tadi diam saja.
"A-apa? Gadis yang anggun tadi, itu Richi? Dari mana kau tahu, Daren?" Tanya Axel tergagap.
"Bukankah itu terlihat jelas? Ya kan, Hugo".
Hugo mendesah, dia kehilangan fokus sebab harum tubuh Richi masih tercium di hidungnya. Padahal biasanya gadis itu tidak memakai parfum sensual seperti itu.
Lalu tatapan Richi saat membidikkan senjata padanya, seperti ada kebencian. Kenapa? Bukankah Richi juga pada awalnya seperti pasrah saja saat akan dicium di pesta tadi?
"Jadi, Richi datang dan berdansa dengan Hugo? Apa dia tahu itu Hugo?" Tanya Isac.
Daren tertawa. "Entahlah, yang jelas, Richi membuat Hugo gelagapan karena pesonanya".
"Gila, Richi itu apa, sih. Baru saja datang dengan dandanan yang mempesona. Lalu tiba-tiba sudah berubah menjadi Valiant yang garang dan menakutkan." Pekik Axel yang merasa takjub.
Mereka semua terdiam, sebab segala pertanyaan yang timbul dalam benak mereka tak satupun terjawab.
Sedangkan Hugo, jantungnya masih saja berdegub saat mengingat Richi dengan topengnya.
'Apa aku yang salah mengartikan? Kupikir dia juga menyukaiku ketika kami berdansa tadi, lalu saat dia membidikkan senjata padaku, matanya menyorot tajam seolah membenciku' ucap Hugo dalam batinnya. Dia benar-benar tidak bisa menebak apa yang dirasakan gadis yang amat disukainya itu.
...🍅...
Richi menyeret langkahnya menuju luar gerbang, badannya terasa pegal dan capek apalagi setelah kejadian malam tadi mereka tidak langsung bubar dan masih menyusun strategi dengan apa yang mereka dapatkan di gedung itu.
Dia berencana langsung pulang dan istirahat saja, namun seseorang menghentikan langkahnya.
Richi melengos, Camilla berdiri tegak melipat tangan di dada.
"Minggirlah."
__ADS_1
Camilla tidak menggeser, malah menaikkan dagunya. "Ternyata kau sangat kurang ajar, ya". Ucapnya.
Orang-orang mulai memperhatikan, apalagi Camilla terlihat lebih tegas dari pada Richi yang badannya lesu karena tidur hanya 3 jam.
Richi menguap, dia tampak tak peduli pada Camilla.
"Lihatlah, perempuan sepertimu,, berharap Hugo jatuh hati padamu?" Camilla tertawa mengejek. "Kasihan sekali."
Richi menatap Camilla, ucapan itu yang sering ia dengar dan hiraukan, namun sekarang malah menyinggung perasaannya.
"Kau merasa lebih unggul dariku? Apa kau tidak melihat tingkahmu yang seperti laki-laki itu membuat lawan jenis bahkan tidak melirik padamu. Aku kasihan padamu, Richi. Kau mendekati banyak laki-laki, berharap apa?" Camilla tersenyum sinis. Dua orang laki-laki datang dan berdiri di belakang Richi.
"Ikut aku". Ucapnya lalu berjalan.
Kedua Laki-laki di belakang Richi seolah menjaga supaya gadis itu menurut dan tidak lari. Dengan malas, Richi mengikuti sebab tidak elok menghabisi mereka di depan banyak siswa, batinnya.
Axel yang melihat kejadian di depannya, langsung mengambil ponsel untuk mengadukan pada Hugo yang sudah pulang sedari tadi.
Setelah cukup jauh dan tidak ada orang, Camilla memulai lagi.
"Aku tahu kau pasti bisa bela diri. Jadi aku membawa orang untuk menghabisimu." Ucapnya sambil memperhatikan kuku-kukunya.
"Aku sedang tidak ingin bertarung." Sahut Richi dengan nada melemas, karena memang tubuhnya sangat lelah.
"Sayang sekali, aku ingin sekali melihatmu tersiksa. Karenamu aku putus dengan Hugo."
"Jelas ada, aku punya mata-mata yang melihat kedekatan kalian berdua. Hugo jadi membenciku karena dia menganggap aku terlalu menyelidikinya".
"Sudahlah, aku berjanji padamu tidak akan mengganggu Hugo. Apa kau puas?"
Camilla tertawa lebar. "Kau pikir aku percaya dengan omongan perempuan sepertimu? Habisi dia!"
Kedua laki-laki itu menyerang ke arah Rich.
"Astagaaaa!!" Pekiknya sembari langsung meninju kedua orang yang datang kepadanya.
Satu orang berhasil terkapar, dan tinggal yang satunya bertahan walau wajahnya sudah babak belur.
"Hentikan!!"
Suara Hugo tertangkap di telinga Richi, membuat gadis itu menoleh. Melihat peluang, lelaki itu berhasil menumbuk sudut bibir Richi hingga mengeluarkan darah.
Dengan cepat Hugo menarik dan menghantam lelaki itu hingga terkulai tak berdaya di atas tanah.
__ADS_1
"Hu-hugo". Camilla terbelalak saat melihat Hugo yang tiba-tiba muncul. Padahal seharusnya saat ini Hugo sedang latihan tinju.
"Apa-apan, Camilla!". Hugo menatap dengan berang, tangannya masih terkepal.
"Hugo.." Camilla mendekat lalu menyatukan kedua tangannya di dada. "Aku tidak bermaksud jahat, aku hanya memberinya sedikit pelajaran supaya dia tahu diri!" Ucapnya mencari alasan.
Hugo melirik Richi. Gadis itu tengah membuang wajahnya, enggan melihat Hugo dan Camilla. Darah yang mengalir dari bibirnya diseka oleh Richi dengan kasar.
"Hugo, kenapa kau marah padaku seperti itu, bukankah kau dan dirinya tidak ada apa-apa? Bukankah kau bilang tidak ada satu hal pun yang kau sukai darinya?"
Ucapan Camilla membuat Richi langsung menatap ke arah Hugo dengan sendu. Apakah benar Hugo berkata begitu? Satupun tidak?
"Kau ingat? Kau bilang kau tak pernah menganggapnya perempuan. Makanya, aku pikir menghajarnya seperti ini pasti tidak apa, iya kan, Hugo?" Pekik Camilla pada Hugo yang sejak tadi diam saja.
"Hugo, apa kau marah karena aku begini? Kalau kau marah artinya kau dan dia memang ada apa-apa!"
Hugo melihat lagi ke arah Richi. Gadis itu kini memandangnya dengan berang, membuat Hugo merasa bersalah sebab karena dirinya, Richi harus kerepotan lagi.
"Ya, aku memang tidak suka padanya, bukan berarti kau bisa menghajar dia begitu!"
"Maafkan aku, Hugo. Aku berjanji akan menjadi perempuan yang baik." Lalu Camilla beralih pada Richi.
"Kau dengar kan, apa yang dikatakan Hugo? Ah satu, ya banyak yang bilang rambutmu bagus. Hanya itu yang disukai Hugo darimu bukan berarti dia menyukai keseluruhan dirimu! Kau harus sadar itu!"
"Camilla, sudahlah!"
Camilla mendekap lengan Hugo. "Apa kau mau kembali padaku, Hugo. Jika kau tidak ada hubungan apapun, artinya kau masih menyukaiku, kan?"
Richi mengambil tasnya yang tergelatak di tanah, dia meninggalkan kedua orang itu. Berlari dengan cepat, berharap tak ada satupun yang melihat matanya yang kini berair. Untuk pertama kali dalam hidupnya telah menyukai seseorang, namun membuatnya tersiksa.
Terlebih ucapan Hugo pada Camilla, bukankah itu terlalu menyakiti hatinya?
Emerald yang tengah berjalan ke arah mobilnya, melihat Richi berlari dengan mata yang berair.
"Richi.." Emerald memanggilnya dengan khawatir. Gadis itu tidak pernah terlihat lemah, lalu hari ini, dadanya naik turun seolah dirinya tengah sangat tersakiti.
Emerald menarik Richi kepelukannya, dia mengusap punggung gadis yang mendekap tubuhnya, memendam wajahnya di dada Emerald dan menangis.
Emerald tidak bertanya walau dalam hatinya sangat ingin tahu apa yang membuat gadis itu menangis tersedu seperti ini.
"Ayo, aku antar kau pulang".
Emerald membukakan pintu, lalu Richi masuk dengan masih memendam wajah di kedua tangannya. Dia tidak bisa menghentikan tangisnya terlebih ucapan Camilla benar-benar menusuk batinnya.
__ADS_1
Untuk pertama kali, Richi mulai tidak menyukai dirinya sendiri.
TBC