
Malam ini, Richi diantar Hugo ke markas Valiant. Dia tahu Clair dan yang lain ada di dalam sebab saat dia ke kafe Clair, dia tidak ada disana.
Richi yang masih dengan seragamnya, masuk ke dalam dengan santai lalu langkahnya terhenti saat melihat sesosok tubuh yang ingin sekali ia hajar sejak dulu.
Lexus menghentikan langkahnya saat mendapati Richi berdiri dengan tatapan mematikan seolah ingin membunuhnya.
Lexus menelan ludah. Dia tahu perempuan di depannya bisa sangat bengis jika emosinya sudah tersenggol dengan sempurna, seperti yang ia lakukan dulu.
Lexus tak berani bergerak, dia tertunduk sesekali melihat Richi yang juga tidak bergerak di tempatnya.
"Chi, kenapa kemari?"
Suara Ricky tak juga mengalihkan perhatiannya sementara Lexus sudah mulai merasa lebih tenang karena kemunculan Ricky.
"Ah, aku lupa bilang. Dia sekarang disini karena membantu kita. Dia sudah meminta maaf dan tinggal kita lihat saja usahanya untuk menghancurkan Stripe."
"Mau dikhianati dua kali?"
"Yah.. biarkan saja dia memperbaiki kesalahannya. Kita tinggal menontonnya saja, kan." Ucap Ricky lalu merangkul adiknya menuju ke ruangan Elang.
Dia duduk disana sementara Richi memperhatikan struktural yang ada di papan tulis.
"Kalian rapat tanpaku?" Tanya Richi.
"Kau sedang sakit, mana bisa aku menyuruhmu ikut."
Richi duduk dan meletakkan tasnya di atas meja.
"Dari mana kau?" Tanya Ricky.
"Melihat Hugo latihan."
Ricky tertawa pelan. "Latihan juga ternyata."
"Ada apa?"
"Tidak ada. Ada apa kemari?."
"Aku mau tahu rencana kalian." Tukas Richi.
"Belum ada rencana. Kami masih menyusun saja sebab Lexus belum mendapat banyak hal dari sana."
"Kau percaya? Tidak berpikir kalau dia bisa saja menjebakmu? Kau tahu kan kak, fotomu terpampang disana dengan jelas dan mereka tengah memburumu?" Richi menekan suaranya supaya Ricky bisa berpikir.
"Aku juga punya rencana kalau dia berkhianat lagi. Aku tidak bodoh, memangnya aku sepertimu."
Richi memutar bola matanya. Setiap ada kesempatan, pasti Ricky menghinanya lagi.
"Pokoknya aku juga harus mendapat laporan hasil rapat. Stripe sudah lama berdiam, aku yakin mereka menyusun rencana lagi."
"Iya, aku tahu." Jawab Ricky sambil bersandar. "Lalu soal bom itu, benar-benar tidak kusangka Harry yang melakukannya di perusahaan ayahnya sendiri."
"Dia pasti dendam karena ayahnya yang meninggalkan ibu kandungnya saat usianya masih sangat bayi." Jelas Richi.
"Jika begitu, Harry benar-benar orang yang berbahaya. Aku juga tengah memburunya. Aku penasaran siapa tuan besar itu. Dia pasti melakukan sesuatu yang ilegal, makanya dia takut aku menggagalkan dan menangkapnya."
"Aku sedang tidak ingin berpikir keras. Aku kemari cuma mau tahu rencana kalian saja." Richi berdiri dan memakai tasnya. "Antar aku, kutunggu diluar."
Richi berjalan keluar. Dia melihat Lexus tengah berdiri dan menyalakan rokok.
Lexus terkaget saat mendapati Richi berdiri di belakangnya. Dia sedikit menunduk dan langsung mematikan rokoknya.
"Kau tahu kan, apa yang terjadi padamu kalau sampai kau mengkhianati Keen untuk yang kedua kali? Aku akan menyiksamu sampai kau yang merindukan kematianmu."
Lexus tak bergeming, setetes keringat mengalir di dahinya.
__ADS_1
"Ayo, Chi." Ricky berjalan menuju mobilnya. Richi menatap tajam, lalu meninggalkan Lexus sendirian.
Lexus melirik Richi, dia tahu perempuan itu sangat serius dengan ucapannya. Tetapi dia juga serius ingin terus bergabung dalam Valiant. Walau awalnya Saverlah yang berada di tim Elang, dan dia di Stripe. Tetapi posisinya saat dulu waktu ketahuan, dia tengah berada di Valiant, dan sekarang dia hanya ingin kembali seperti dulu, akur pada keduanya antara Valiant dan juga Stripe. Dia juga berencana untuk menemui Hugo Erhard, orang kedua yang ia khianati.
~
"Kau sudah minum obat?" Tanya Ricky sambil fokus pada jalanan di depannya, sementara Richi celingak-celinguk kesana kemari menatap mobil kakaknya. Sudah sangat lama dia tidak menaiki mobil itu.
"Kenapa?" Tanya Ricky bingung.
"Aneh, seperti bau parfum perempuan."
"Itu hanya perasaanmu saja."
Richi tidak berhenti, dia membuka laci dashboar di depannya.
"Hei, apa yang kau lakuk..."
JRENG!
"K-kau..." Richi mengeluarkan tanktop berwarna merah jambu dari laci, ia mengangkatnya dengan jari telunjuk, melihat kakaknya dengan ekspresi yang seolah meyakinkan dirinya bahwa Ricky tidak mungkin melakukan hal mesum di dalam mobilnya.
"Hei hei!" Ricky dengan cepat mengambil dan memasukkannya lagi ke dalam laci, sesekali matanya melirik jalan ke depannya.
"Kau jangan berpikir yang macam-macam, itu punya temanku yang ketinggalan!" Pekiknya berusaha meyakinkan adiknya yang menganga menatap ke arahnya.
"Kau.."
"Aku tidak melakukan apa-apa!" Bentaknya membela diri.
"Kenapa marah-marah? Aku tidak menuduhmu."
"Wajahmu itu! Aku tahu maksudnya!" Pekik Ricky dan membuat Richi berniat mengerjainya.
"Yaah, kau kan, sudah dewasa. Aku juga bisa maklumi itu." Jawabnya pura-pura santai.
"Baju Cecilia bagus juga, ya. Kau sampai tertarik dan menyimpannya."
"Aku tidak sengaja untuk menyimpan. Aku juga berniat untuk mengembalikannya. Kau tidak bisa duduk diam saja, apa?"
Richi mengangguk lambat. Itu artinya baju di laci memang punya Cecilia, kan?
"Kau kenapa tidak pernah cerita padaku soal Cecilia?"
"Bukan tidak mau cerita, aku hanya..." Ricky membelalakkan matanya menatap Richi.
"Hei, lihat ke depan!!" Pekik Richi yang menyadari kakaknya tak berkedip ke arahnya.
Sontak Ricky menatap lagi ke depan dan melihat lagi ke arah Richi secara bergantian.
"Kau tahu dari mana soal Cecilia??"
"Memangnya siapa lagi?"
Ricky melengos, "hah, sialan."
"Memalukan ya, karena aku tahu soal itu? Hugo sudah cerita, kok.
"Aku hanya ingin kau sadar, kalau lelaki itu bukan lelaki baik-baik. Dia tahu aku berpacaran dengan Cecilia, kenapa malah dia mengencani gadis yang sudah punya kekasih?"
"Anggap saja dia salah, lalu Cecilia itu sendiri, apa tidak gila? Berpacaran denganmu lalu kencan dengan laki-laki lain. Dan sekarang, kau masih berhubungan dengannya??"
Ricky menyandarkan tubuhnya di kursi kemudi, manatap lurus ke depan.
"Aku rasa sekarang kaulah yang bodoh. Sangat bodoh malah!"
__ADS_1
Ucapan Richi membuatnya melirik tajam.
"Aaahhh! Jangan jangan dia yang kau sebut peri cinta itu, ya??"
Ricky tak menyahut, dia bahkan tidak menoleh.
Richi tertawa terbahak-bahak sampai memegangi perutnya sementara Ricky hanya melengos.
"Bodoh, Ricky bodoh! Ah aku rasa aku tidak perlu menyeramahimu karena sekarang kau pasti sangat sadar akan kebodohanmu!" Ucapnya dan terus menertawakan kebodohan kakaknya itu.
...🦢...
Harry tersenyum sejak tadi, dia akan melangsungkan rencananya beberapa hari lagi.
"Kau tahu, Shera, aku akan menjebak Keen dan Richi Darrel. Aku terpaksa menumbalkan mereka untuk ayahku yang brengsek itu. Hahaa. Aku mungkin bisa menyelamatkan Richi, tetapi kakaknya itu tetap harus mati. Terlalu banyak menyusahkan!"
Shera tak menyahut, dia pun enggan melihat ke arah Harry.
"Ah, sedikit lagi saja. Akhirnya aku bisa menguasai saham si gila itu. Lega rasanya. Dia pasti memburuku sekarang, hahaha." Tawa Harry terhenti saat ponsel Shera bergetar tanda pesan masuk.
Harry meraihnya. "Kata sandinya ulang tahunku, kan?" Dia mengetik disana lalu mengerutkan alis karena ternyata salah.
"Bukannya kau bilang sandimu ulang tahunku? Kau mengubahnya??"
Shera tak menyahut.
"Kau punya hubungan dengan laki-laki lain, Shera? Cepat katakan, apa sandinya!"
Harry membanting ponsel Shera, dia tidak suka gadis itu yang masih bisa bertukar kabar walau kedua tangannya masih terikat.
"Shera, semakin kau tidak mau berbicara, semakin aku menyiksamu!" Pekik Harry namun Shera justru tak peduli.
Harry mendekat, dia melepaskan ikatan di tangan Shera. Gadis itu memegang pergelangan tangannya yang berbekas dan merah.
"Aku melepaskan ikatan ini supaya kau lebih leluasa. Jangan sampai kau mencoba untuk lari, karena aku akan membunuhmu."
"Aku tidak peduli. Kalau kau mau membunuhku, silakan saja!"
Shera akhrinya membuka mulut, tetapi kata yang keluar dari mulutnya malah yang tidak enak didengar Harry.
"Kau.. sudah benar-benar tidak mencintaiku lagi, Shera??"
"Ya! Aku tegaskan, aku tidak suka lagi padamu. Bahkan aku membencimu, Harry. Kau bilang kau bisa mendapatkan gadis manapun, kan? Sekarang carilah, pacari semua gadis-gadis itu karena aku tidak peduli. Aku tidak peduli!" Kalimat Shera penuh penekanan, dia menarik napas dalam-dalam.
"Kau pernah bilang aku perempuan murah, kan? Sekarang, bisakah kau melepaskan perempuan murah ini? Aku yakin kau mampu menyewa perempuan yang lebih berkelas dariku!"
Harry menatap Shera tak percaya, Shera kini benar-benar terlihat berbeda. Tatapan matanya penuh kebencian, bukan seperti Shera yang dulu ia kenal.
"Kau mau aku meninggalkanmu?"
"Ya, aku ingin lepas darimu."
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipi kiri Shera. Dia tak tampak kaget, Shera bahkan tersenyum.
"Jika belum puas, kau bisa melakukannya lagi." Ucapnya.
Harry memandangnya dengan geram, gadis di depannya benar-benar sudah berubah dan membuatnya sangat kesal.
"Pergilah, aku tidak suka melihatmu di kamarku."
Shera dengan senang hati keluar dari hunian Harry, dia membawa tas kecilnya saja.
Dia masuk ke dalam lift, berdiri menatap Harry yang napasnya naik turun membelakangi Shera. Gadis itu terus menatap Harry sampai pintu lift tertutup lagi.
__ADS_1
"Good bye, Harry." Gumam Shera sambil tersenyum getir.
Tbc