Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Surat Cinta Richi


__ADS_3

"Ah.. sudah kuduga." Ucapnya lalu bersandar di kursi. "Kau pasti orang yang spesial". Clair mencondongkan wajahnya ke depan sambil berbisik. "Kau orang pertama yang dia bawa kesini".


Hugo hanya diam. Karena diapun berbohong supaya wanita di depannya ini tidak mengganggunya.


"Ehm"


Suara Richi di sebelah menyentakkan Clair.


"Baiklah Tuan Hugo, panggil aku jika ingin sesuatu" Ucapnya lalu pergi ke meja pemesanan.


Richi duduk lalu mengambil sendok yang terletak di nampan. Ia memakan yang disediakan Clair.


"Hm.. lezat sekali. Kau cobalah". Richi memberikan sendok lain di atas nampan. Mendorong makanan itu ke depan Hugo.


"Apa ini?" Hugo melihat makanan itu asing. Tidak pernah melihat sebelumnya. "Makanan kucing?"


"Makanlah. Itu dibuat hanya untukku. Kau tidak akan menemukannya dimanapun" Ucapnya pada Hugo yang seperti enggan dengan makanan itu.


Hugo menyuapkan seujung sendok makanan itu. Lalu dia terdiam. Mengunyah perlahan. Melihat itu Richi tersenyum tipis.


Setelah kejadian hari itu dilapangan basket, Richi mulai memandang Hugo dengan rasa yang berbeda. Ada sedikit kasihan dalam hatinya. Sebab Hugo ternyata sangat handal dalam menyembunyikan perasaannya. Sementara Richi, dia tidak menyembunyikan apapun dalam dirinya. Dia selalu menunjukkan apa yang ia rasakan.


Hugo sudah menghabiskan beberapa sendok dengan lahap. Dia lalu meraih minuman Richi yang bahkan belum sempat diminumnya.


"Itu Choco Frape Macchiato" Kata Richi saat melihat Hugo merasa ada yang aneh di lidahnya setelah meminum itu.


Richi lalu menggendong Mouza yang sedang tiduran. Dia duduk dan bermain dengan kucing itu di meja lain.


Hugo mengambil ponselnya diam-diam mengarahkannya pada Richi.


~


"Kau yakin?"


Richi mengangguk. Sambil menggendong Mouza dia masuk lagi ke kedai Kopi.


Hugo pulang sendiri. Richi masih ingin berlama-lama disana.


Saat membuka pintu mobil, Hugo tak sengaja melihat benda kecil di ujung bawah kursinya. Dia lalu mengambil benda itu.


'Ini pasti jepit rambut yang dia cari tadi' Batinnya. Dia melirik ke dalam kedai yang berdinding kaca. Melihat Richi bermain dengan Mouza sambil tertawa hingga rambut panjangnya bergoyang di belakangnya.


Tak sadar, Hugo menatap gadis itu. Rambutnya membuat Hugo meleleh. Hugo memang sangat menyukai gadis dengan rambut panjang.


Dia tidak berniat mengembalikannya. Membiarkan gadis itu menguraikan rambutnya yang indah hingga orang lain dapat melihatnya. Tidak perlu di sembunyikan. Begitu pikirnya.


Dia masuk kedalam mobilnya, menyimpan jepit itu di dalam kantong jeketnya.


💌💌💌💌

__ADS_1


Hugo duduk di atas meja dalam kamarnya.


Dia tidak kemana-mana, tidak pula kencan dengan Camilla. Dia hanya berbohong supaya bisa melihat Richi di rumahnya.


Setelah kejadian di lapangan basket, entah kenapa hatinya resah. Dia sendiri tidak paham, gadis itu bahkan tidak pernah meliriknya, tapi wajahnya menggantung di pelupuk mata.


Pada awalnya dia menyangkal. Lalu setelah melihatnya dengan Emerald dan hari ini di kedai kopi tadi, ada sedikit kesal dan kesenangan yang timbul dalam dirinya.


Hugo meletakkan jepit rambut Richi lalu mengambil buku-buku yang akan ia pelajari.


TAK. Sebuah surat jatuh di bawah. Hugo mengingat-ingat, apa isi benda putih itu. Lalu dia teringat pernah tidak sengaja menarik kertas dari tangan Richi supaya gadis itu marah. Tetapi gadis itu malah tidak peduli.


Pelan-pelan Hugo membuka surat itu. Tertulis nama pengirim yang dia tidak kenali. Lalu membacanya dengan teliti.


...Dear, Richi D. Wiley....


...Terima kasih telah menerima dan membaca surat ini. Sejujurnya aku menyukaimu karena wajahmu. Lalu timbul rasa kagum karena kecerdasanmu dalam berbagai hal. Aku tahu kau anak yang pintar. Aku tahu kau menyukai basket sejak kecil. Walau terlihat seperti itu, namun aku juga tahu kau menyukai hal-hal yang disukai perempuan pada umumnya. Aku tahu kau menyukai bunga. Aku tahu kau menyukai benda-benda imut dan unik, aku juga tahu kau menyukai kucing. Hal itu sangat menarik perhatianku. Kau adalah perempuan yang unik......


...Aku sangat ingin mendekatimu, ku harap kau mau membalas suratku ini....


Hugo mengerutkan alisnya. "Bukankah ini menjijikan?" Ucapnya lalu menutup surat itu sebentar lalu membukanya lagi. Dia membaca ulang kata-kata di surat itu.


Richi menyukai bunga? Hugo lalu tersenyum miring. "Benarkah gadis sepertinya suka bunga?" Katanya heran.


Richi menyukai kucing? Itu benar, Hugo melihatnya langsung.


Richi menyukai benda imut? Hugo melirik jepit rambut gadis itu. Benar. Benda itu imut dan cantik.


Lamunan Hugo terhenti saat ponselnya bergetar. Camilla menelponnya.


Wajahnya cerah. Dia meletakkan benda kecil di tangannya, kemudian berlalu menuju jendela yang terbuka, lalu mengobrol ria dengan pacarnya itu.



🦩🦩🦩🦩


Camilla sedang menunggu Hugo di depan sebuah restoran. Setelah merengek, Hugo mau mengabulkan permintaannya untuk kencan malam ini walau Hugo sudah mengatakan dia juga baru pulang makan-makan dengan temannya, tetapi gadis itu tidak peduli.


Camilla merapikan lagi rambutnya yang tertiup angin malam. Padahal Hugo sudah mereservasi tempat itu, tetapi dia enggan menunggu di dalam. Dia ingin masuk dengan menggandeng tangan Hugo.


Seperti biasa, Camilla membiarkan rambut panjangnya terurai dengan pita kecil di atasnya. Dia memakai dress yang cantik. Karena ini adalah malam pertama berkencan setelah Hugo mengajaknya pacaran.


Tiba-tiba dari arah seberang, seorang pria asing mendekatinya.


"Halo, gadis. Kau menunggu siapa?"


Camilla menatapnya jijik. Dia menggeser kakinya, menjauh dari tubuh pria asing yang bau alkohol itu.


"Kau ikut saja denganku, kita akan bersenang-senang, bagaimana?" Pria itu mendekati Camilla yang sudah menjauh perlahan. Camilla merinding. Dia berharap Hugo segera datang dan melindungi dirinya dari orang asing itu.

__ADS_1


Pria itu menarik tangan Camilla. "Ayolah. Aku sudah tidak kuat. Kau cantik sekali".


"Lepaskan aku! Lepas!" Camilla teriak ketakutan. Disekitar tidak begitu ramai orang.


Lalu tiba-tiba,


BUK!!


Pria itu tersungkur ke depan. Punggungnya baru saja kena tendangan yang amat kuat.


"Sialan! Siapa kau!" Pria itu teriak. Berusaha bangkit lalu gagal.


Camilla terbelalak. Harapannya sirna saat berpikir Hugolah yang menolongnya.


"Kau!"


"Oh, kau mengenalku?" Richi berdiri tak jauh dari Camilla.


Hugo mendadak muncul. Melihat itu, Camilla langsung mendekapnya. "Honey, aku takut sekali. Pria asing itu menggodaku". Sesekali dia melihat reaksi Richi saat dirinya mendekap erat Hugo.


"Hei kau! Perempuan sialan! Kau hanya anak kecil. Jangan ikut campur!" Maki pria itu sambil menunjuk-nunjuk Richi dan berusaha bangkit.


Hugo melihat arah pria asing itu menunjuk. "Richi?" Dia baru sadar Richi juga ada disana.


"Kau benar-benar berkencan ya, Hugo. Tapi tidak bisa melindungi kekasihmu dengan baik. Ckckc.." Kata Richi sambil menggelengkan kepalanya yang ditutupi topi hitam.


Pria itu tiba-tiba bangkit. Matanya penuh kemarahan melihat Richi. "Wanita ******! Kau kemarilah sebelum aku membunuhmu!"


BUK!


Tendangan Hugo mendarat di wajah pria asing itu. Dia terjatuh. Keluar darah dari mulutnya. Dia tidak dapat berdiri lagi. Sesekali terdengar batuk dari mulutnya.


"Kau gila? Seharusnya kau lari!" Teriak Hugo pada Richi.


Walau bingung kenapa ia harus lari, namun dia diam saja melihat wajah Hugo yang memerah karena amarah.


Camilla terus menempelkan dirinya pada Hugo.


Orang-orang yang melihat mulai bubar. Pria itu dibawa oleh tim keamanan di tempat itu.


Richi melihat Hugo yang menatapnya dengan mata yang penuh kebencian. Dia sedikit bingung, apa yang salah dari perbuatannya. Kenapa Hugo terlihat begitu berang.


Tak mau terlibat, Richi melangkah pergi.


"Hei, Kau harus mengucapkan terima kasih pada kekasihku! Dia telah menolongmu!" Ucapnya sedikit teriak pada Richi. Sengaja menekan kata Kekasih untuk mempertegas pada Richi bahwa mereka berkencan.


Richi berbalik, menatap Hugo, lalu Camilla yang melingkarkan tangannya di pinggang Hugo. "Akulah yang menolongmu". Katanya lalu pergi begitu saja.


"Hei, Hugolah yang seharusnya menolongku tadi. Bukan kau!" Ucapnya pada Richi yang tak menoleh lagi.

__ADS_1


"Hugo, tanganku sakit" Rengeknya pada Hugo yang masih menatap punggung Richi sampai hilang di kegelapan malam.


To Be Continued....


__ADS_2