
Richi tidak bisa tidur. Dia gelisah sebab perasaan aneh di hatinya yang tak kunjung menghilang.
Richi mulai mengingat ponselnya, dia mencari kesana kemari tetapi tidak ketemu.
"Ah, iya. Ponselku ada padanya". Ucapnya saat mengingat dirinya yang memberi ponselnya pada Hugo.
Dia melirik jam, sudah pukul 1 pagi dan ia keluar kamar menuju lapangan basket.
Richi memantul-mantulkan bola, melirik keranjang dan memasukkannya dengan tepat.
Dia terus bermain sendirian sampai letih, keringat di sekujur tubuhnya mulai keluar. Richi memilih bermain supaya membuat pikirannya lebih baik. Entah mengapa sejak tadi dia ingin menangis, tanpa alasan.
Ricky yang mendengar berisik dari ruang kerjanya pun keluar dan mendapati adiknya tengah bermain sendirian.
"Kenapa dia?" Gumamnya pelan. Ricky memilih untuk tidak menunjukkan muka sebab gadis itu memang terlihat sedang frustrasi. Ricky beranjak, menuju kamarnya dan membiarkan adiknya menyelesaikan persoalannya sendiri.
Setelah dirasa lelah, Richi berhenti, mengatur napasnya yang tersengal. Lalu dengan keras melemparkan bola ke tembok hingga bola itu terpantul jauh. Dia kesal sebab perasaannya tak kunjung membaik.
Richi telentang, merebahkan tubuh yang masih sesak, memandang langit penuh bintang, sama seperti malam saat dirinya membantu Hugo kala itu.
Richi memegang dadanya yang berdegup kencang saat memikirkan Hugo, dan menyadari kini dirinya memang telah sangat menyukai lelaki itu. Entah bagaimana, dia juga tidak menyadari itu sampai Hugo yang mengucapkan kata itu, kata yang seharusnya menyenangkan menjadi menyedihkan sekarang.
"Kenapa aku begini!" Gumamnya sambil menutup mata dengan lengan kanannya.
Dia belum bisa menerima hatinya yang kini beralih, walau dia sendiri perlahan mengagumi Hugo karena ternyata lelaki itu sangat memikirkannya. Bahkan ia membeli tiket dan memadamkan lampu hanya supaya Richi bisa melakukan apa yang ia suka.
"Bagaimana ini, aku tidak ingin jatuh seperti ini". Gumamnya lagi.
Bagaimana jika Hugo tahu kalau dia menyukainya? Bukankah Hugo sendiri yang mengatakan jika dia menyukai perempuan anggun, sementara Richi sendiri tidak demikian.
Dia mendesah kesal, sebab yang ia tahu lelaki itu pula menganggapnya teman dan apa yang dilakukannya pada Richi semata-mata bentuk terima kasihnya yang sudah berulang kali menyelamatkan dirinya.
Sementara di tempat lain, Hugo juga merenung. Dia bertopang dagu di atas lututnya. Hugo kini duduk di atas atap rumahnya. Rupanya kejadian tadi juga membuatnya gundah.
Pasalnya, dia menyesal, kenapa tidak langsung saja mengatakan kalau dirinya menyukai gadis itu. Tetapi dia takut, kalau Richi akan menjauh. Bagaimana pun, membangun hubungan sampai seperti ini pada Richi adalah suatu usaha besar. Yang mana dulunya gadis itu terlihat amat membenci dirinya.
Hugo memejamkan mata, melihat lagi wajah Richi yang selalu ada di pelupuk mata. Entah kenapa dirinya selalu mengelak saat lidahnya mulai berkata sesuai dengan apa yang hatinya ingin ucapkan.
Dia juga memahami apa yang Richi rasakan padanya, bagaimana pun Richi terlihat tidak peduli padanya. Dia bahkan tidak memperlihatkan satu saja sikap yang menunjukkan bahwa Richi menyukainya.
Hugo menghela napas, lalu membuka ponsel Richi yang sejak tadi bersamanya.
Dia membuka gallery gadis itu dan hanya mendapatkan foto-foto yang hampir sama dengan apa yang ia temukan di laman profilnya.
Hugo lalu menemukan satu folder berisi foto-foto Richi yang tengah latihan bela diri. Dia melihat satu-satu dengan seutas senyum, perempuan yang sangat ia kagumi karena kepintaran dan kekuatannya.
Hugo menarik napas lagi. Dia berpikir, dulu dia menyukai gadis anggun, dan memandang Richi dengan tatapan remeh.
__ADS_1
Lalu sekarang, dia malah merasa gadis seperti Camilla sangat merepotkannya. Justru gadis seperti Richi sangat cocok padanya karena Richi bahkan bisa menyeimbanginya, mulai dari hobi yang sama, bela diri yang sama, juga kecepatan dirinya yang hampir bisa Richi imbangi.
"Aku benar-benar menyukaimu sampai seperti ini". Ucapnya pada foto Richi yang tengah memegang bola basket di tangannya sambil tersenyum. Hugo memegang dadanya, setiap memikirkan Richi, dia selalu berdebar.
"Eh?" Mata Hugo membulat saat melihat deretan foto Richi yang terlihat Girly. Gadis itu mengikat satu rambutnya dan meletakkan ekor rambut ke depan, bertopang dagu dengan senyuman.
Hugo menggeser foto lagi, menemukan Richi dengan kaca mata di atas kepalanya dan stiker love kecil di pipinya. Richi mengedipkan matanya, terlihat sangat imut.
Dia terus menggeser foto-foto yang imut dan bahkan ia tidak pernah sangka, gaya seperti itu bisa Richi lakukan, membuat Hugo semakin menyukai gadis itu.
"Kenapa aku baru bertemu denganmu, hm?" Ucapnya pada foto Richi.
"Bagaimana ya, supaya kau melirikku sebagai laki-laki yang kau sukai?"
"Hei, kau! Apa tidak sedikitpun menyukaiku, ha? Kau tidak tahu, kalau hampir semua perempuan yang melihatku selalu jatuh cinta. Kau ini, benar-benar bukan perempuan, ya!" Bentaknya seperti orang gila.
Sementara dari bawah, David melongo, mendapati Hugo dari jendela ruang kerjanya. "Anak itu, Kenapa lagi dia?" Gumamnya saat melihat Hugo seperti bicara sendirian di atas atap kamar tidurnya. Diapun menggeleng kepala, lalu menutup jendelanya karena tak mau mengganggu putranya yang tampak aneh itu.
"Hah.. Sial. Baru kali ini aku menyukai gadis sampai seperti ini. Kau beruntung, Richi. Lihatlah, betapa banyak gadis yang ingin mendapatkan hatiku, dan kau mendapatkannya bahkan tanpa meminta!" Pekiknya lagi.
Dia menggeser lagi foto itu dan terbelalak saat mendapati foto Richi dengan banyak pria berkaos hitam dan celana militer persis yang Richi pakai saat di lapangan tembak.
Dia melihat Richi tengah tersenyum lebar dengan busur panah di tangannya, dan seekor rusa yang tergeletak dengan anak panah di tubuhnya.
"Tunggu, di-dia.. anggota militer?"
Hugo tak bersuara, karena kini pikirannya yang mencoba menerka. Ucapan Daren bahwa keluarganya tidak bisa di akses, taktik Richi dan caranya berkelahi, bukankah semua sangat terlatih? Apalagi saat Richi berhasil keluar dari mobil penculik.
Hugo menahan napasnya, gadis itu ternyata bukan orang biasa.
...🍒...
"Chi.." Sapa Emerald saat melihat Richi jalan dengan gontai.
"Kau tidak bisa dihubungi. Tadi malam kau kemana?"
Richi gelagap, dia tak tahu harus menjawab apa. "A-aku.."
"Ini ponselmu, kan? Aku menemukannya. Lain kali jangan teledor menaruh barang." Ucap Hugo sembari menyerahkan ponsel Richi di depan Emerald.
Richi terbengong, tak paham ucapan Hugo. Dia lalu menerima ponsel itu. Dan Hugo berlalu begitu saja.
"Jadi ponselmu hilang, Chi? Itu sebabnya kau tak ada karena mencarinya?"
Richi tidak menjawab, dia melihat punggung Hugo yang menjauh.
"Syukurlah ponselmu ketemu. Ayo, kita jalan." Ajak Emerald. Richi pun berjalan bersama Emerald masuk ke dalam pintu utama Oberon.
__ADS_1
...🦫...
"Kau yang bernama Richi?" Seorang laki-laki berpakaian seragam hitam persis seperti orang-orang yang mencegatnya kemarin, menemui Richi saat gadis itu tengah berjalan sendiri menuju gedung latihan tinju.
Richi tak menjawab, dia melirik 2 orang lagi dibelakang lelaki itu.
"Ikut kami, atau wajahmu akan kami gores dengan ini!" Ucapnya dengan tegas sambil menunjuk belati di tangannya.
Richi tak bergeming, dia pula tak bisa menebak siapa mereka. Tetapi jelas bukan Stripe, sebab Saver ternyata bagian dari mereka dan secara terang-terangan Lexus lari darinya.
"Ayo." Dua laki-laki itu merubah posisi ke belakang Richi seakan menggiring dirinya untuk masuk ke dalam sebuah mobil.
Richi menghela napas, suasana hatinya masih buruk, lalu ketiga orang ini malah mencari masalah.
Richi akhirnya mengikuti, dia masuk ke dalam mobil. Dan di dalam, Richi memulai aksinya. Dia menghabisi tiga orang itu dan berhasil merebut belati dari tangan satunya.
Sampai semua terkapar, kecuali satu orang yang sengaja ia sisakan.
Richi memutar-mutar belati di tangannya, menatap dingin ke arah lelaki yang sudah penuh darah di wajahnya.
"Katakan."
Lelaki itu tak menjawab walau dia tahu apa maksud gadis di depannya.
"Cepat, kau tahu apa akibatnya, kan?" Ucap Richi dengan lembut. Matanya terus melihat pisau yang berputar di jarinya.
"Aku..tidak tau.. ARRGH!" Rintihnya saat belati itu berhasil menusuk pahanya.
"Katakan". Ucap Richi lagi sembari Menahan belati yang masih menancap di paha pemuda itu.
"Aku...tidak akan.. AAARGGHHH!" Jeritnya semakin kuat, karena Richi semakin memperdalam tusukan di paha lelaki itu.
"A-ampun.. Ampunkan aku.." Ucapnya di tengah rintihan.
"Ca-carina. Di-dia yang me-menyewa ka-kami". Tukas lelaki itu sambil menahan sakit.
"Hah. Sepertinya aku yang harus menghajarnya langsung."
Lelaki itu menjerit lagi saat Richi mencabut dengan keras belati di tangannya.
"Ka-kau, siapa.." Tanyanya dengan nada merendah, wajahnya terluka parah akibat goresan yang Richi berikan padanya.
"Part of Valiant". Jawabnya dengan senyum miring saat langsung melihat wajah ketakutan lelaki itu.
Richi turun dari mobil, merapikan rambut dan bajunya.
"Hei, awas kalau kau bilang pada orang lain!" Ancamnya, lelaki itu dengan cepat mengangguk sambil menahan sakitnya.
__ADS_1
TBC