
"Richiii!" teriak Hugo. Namun tidak ada jawaban sama sekali.
"RICHII. KAU DIM-" Hugo langsung berlari ke sisi mobil.
"Richi!" Hugo mendapati kekasihnya terduduk lemas bersandar di samping badan mobil. Dia langsung memeluk gadis itu dengan perasaan yang campur aduk antara sedih melihat kondisi kekasihnya dan senang akhirnya bertemu dengannya.
"Hei, apa yang terjadi?" Ricky membantunya berdiri dan mengusap lembut wajah Richi yang tampak kacau.
"Cepatlah susul Ibu." Ucap Richi dengan mata yang berair.
Ricky menghapus air mata adiknya dan memeluk dengan erat. Rasa bersalah amat mengguncangnya hingga tanpa sadar mata Ricky ikut berair.
"Maafkan aku." Lirihnya. Dia merasa tak berguna jika Richi mengalami hal yang seperti ini. Tanggung jawab yang diberikan sang ayah, dia tidak bisa menjalankannya dengan benar.
Richi melepaskan pelukannya. "Ibu butuh bantuanmu, kak." Ucapnya sambil menghapus air matanya.
"Ya. Aku akan segera pergi. Ayah juga sudah menuju kesana. Kau pulanglah. Aku akan membawa ibu pulang. Kau tenang saja."
Ricky berjalan menuju mobil dan tentu hal itu membuat seluruh anggota ikut masuk ke dalam mobil. Mereka bergerak menuju tempat dimana plat yang dicari itu berhenti. Sebuah rumah besar milik tuan Draw yang katanya telah disita negara. Nyatanya masih ia gunakan dan keluarga itu juga bisa lolos dari penjara.
Entah apa yang terjadi, namun Ricky bertekad akan menghabisi mereka semua yang terlibat dalam kasus kali ini.
Richi mulai menjatuhkan diri karena tidak kuat menahan sakit di tubuhnya. Namun dengan cepat Hugo menggendong tubuh Richi yang hampir saja ambruk dan menjatuhkan senjatanya.
"Aku akan membawamu ke rumah sakit." Hugo membawa Richi masuk ke dalam mobil dibantu Daren membuka pintu.
"Tidak. Jangan ke rumah sakit." Richi memejamkan mata, menahan rasa denyut di kepalanya.
"Kau perlu diobati, Chi.." Hugo menerima tisu dari Axel yang duduk di depan dan mengusap darah Richi dengan perlahan.
Richi hanya diam saat Hugo membersihkan lukanya. Dia menahan sakit supaya bisa menjemput ibunya.
"Kita kesana. Menyusul mereka karena aku sudah punya rencana."
"Tapi, Chi.."
"Kalian tidak akan bisa masuk ke sana. Penjagaannya sangat ketat dan kalian tidak tahu titik penting dari rumah itu."
"Lalu.. kita harus bagaimana?" Tanya Axel yang sudah ikut membawa senjatanya.
"Hugo, pinjam earpiece. Ada sesuatu yang ingin kukatakan."
Hugo menyerahkan earpiece-nya pada Richi. Dia lalu mengumumkan sesuatu pada semua anggota Valiant yang hampir berada di kediaman Henry Draw.
__ADS_1
**
"Ayah!"
Ricky menemui Wiley yang sudah berada tak jauh dari kediaman Henry. Tak sendirian, Wiley membawa tiga truk pasukannya. Namun ia terhenti lantaran dia merasa ada yang tidak beres dari medan yang akan mereka lalui.
Kini mereka berdiri di atas sebuah tanah tinggi, membuat mereka memperhatikan rumah luas milik Henry dengan leluasa.
"Pasukan ayah bilang tempat ini banyak jebakan."
"Aku juga berpikir begitu. Apalagi mereka tidak menaruh penjaga disekitar tempat yang beresiko bagi kediaman mereka ini." Ucap Ricky.
Bzzztt
Suara bising dari earpiece membuat mereka mengedikkan bahu karena bising.
'Hai. Kalian mendengarku?'
"Darrel!" Pekik Bella spontan.
"Ada apa?" Tanya Ricky sambil memegangi earpiece-nya.
Richi menghela napas. Dia tengah berganti pakaian di dalam mobil Hugo sementara yang lain membereskan kekacauan yang telah ia lakukan dan membuang mayat-mayat itu ke dalam sungai dibawah jembatan.
"Kalian akan sulit masuk ke dalam karena banyak jebakan dan ranjau. Hati-hati. Salah seorang dari anggota Stripe akan membawa kalian ke jalan belakang."
"Cari saja dibalik-balik pohon. Anaknya agak penakut. Aku sudah memberinya tanda dibahu untuk kalian kenali. Jangan bunuh dia." Kata Richi sambil memakai celana panjangnya.
Mereka langsung memperhatikan sekitar dan tidak menemukan siapapun disana.
'Tidak ada siapapun disini.' Suara Olivia terdengar.
"Kau yakin? Sudah cek ke atas?" Ucap Richi.
Mereka mendongak dan mendapati seorang laki-laki duduk diatas pohon dengan santai. Dia langsung kaku saat semua mata mengarah padanya.
"Apa dia manusia? Hei, sedang apa kau?" Teriak Clair dari bawah.
'Namanya Evan. Dia yang akan membantu kalian.' Jelas Richi yang kini mengancingkan jeketnya sampai leher. Dan suara kancing itu terdengar jelas ditelinga Ricky.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya lelaki itu.
'Aku? Hufff..' Richi membuang napasnya sebelum menjawab. 'Aku akan menjalankan bagianku. Sisanya, minta Evan yang menjelaskan pada kalian.'
__ADS_1
"Hei, kau tidak diizinkan ikut!" Pekik Ricky.
'Ibuku terancam. Aku tidak bisa diam.'
"Hei, hei. Kami yang akan membawa Ibu, kau diam saj- akh sial!" Maki Ricky saat adiknya itu menutup koneksinya.
Evan sudah turun ke bawah. Dia menunduk karena diperhatikan banyak orang.
"Apa yang terjadi?" Tanya Wiley.
"Orang itu yang akan menjelaskannya. Richi sudah punya rencana sendiri." Kata Ricky lalu memanggil Evan.
"Jelaskan pada kami apa yang gadis itu rencanakan padamu."
"Tapi, tunggu dulu. Apa kau bisa dipercaya?"
Pertanyaan Eddy membuat Evan menunduk. Padahal berhadapan dengan Keen dan ayahnya saja sudah membuat Evan merinding. Ditambah rasa curiga itu membuatnya semakin takut.
"Kau benar-benar bertemu putriku?" Tanya Wiley.
"I-iya. A-aku yang mengendarai mobil yang membawa Richi saat disekap. Dia menyuruhku menemui kalian untuk menjelaskan denah rumah itu." Jawab Evan dengan tenang dan mendapat anggukan dari Wiley.
"Kalau begitu, cepat jelaskan."
Evan kemudian menjelaskan detail rumah dimana lokasi kemungkinan Marry disekap, juga jebakan-jebakan yang ada di area rumah besar itu.
"Lalu, apa rencananya?" Tanya Ricky.
Evan menggelengkan kepala. "A-aku tidak tahu karena dia hanya menyuruhku datang sendirian tanpa mobil itu."
"Hah. Mau apa lagi dia." Desis Ricky, merasa heran dengan kelakuan adiknya.
"Tapi, tuan. Hati-hatilah karena disemua tempat sudah disediakan kamera." Ucapnya sambil melihat ke atas dan benar, ada beberapa kamera kecil di batang pohon-pohon itu.
"Tidak usah perdulikan itu karena mereka pasti sudah tahu akan diburu. Tugas utama kita adalah menghancurkan benteng dari samping. Ricky, kau bagian belakang." Titah sang ayah dan mendapat anggukan dari Ricky. Dia segera membawa pasukannya berjalan menuju belakang dibantu oleh Evan supaya tidak terjebak. Dan Wiley beserta pasukannya, tidak punya rencana karena mereka akan menghancurkan rumah Henry dengan granat yang sudah ia siapkan dengan matang.
Sementara di tempat lain. Richi yang sudah bersiap keluar dari mobil dengan menyeret basoka dan masuk ke dalam box mobil yang sudah dibersihkan oleh Hugo dan yang lain.
"Kau yakin?" tanya Hugo sebelum menutup pintu.
"Ya. Pakai itu supaya kau mirip dengan anggota Stripe."
Daren dan Hugo memakai pakaian yang mereka ambil dari mayat tadi. Tak lupa menutup wajah dengan masker khas Stripe juga kata kunci mereka saat di depan pintu masuk. Untunglah Richi berhasil mengorek semua dari Evan.
__ADS_1
Richi mengunci pintunya dari dalam. Ia sendirian, sedangkan Hugo dan Daren berada di depan untuk membawanya menuju alamat yang sudah Evan berikan.