
"Apa haru-haruannya sudah? Aku ingin bergabung dengan mereka." Ucap Jonathan menujuk ke arah dua ayah dan anak berada.
Marry tertawa pelan. "Pergilah, Jo."
Lelaki itu langsung berlari ke arah Ricky, sementara Richi datang mendekati ibunya.
"Ibu.." Richi memeluk Marry yang juga langsung membalas pelukan Richi.
"Ibu baik-baik saja? Apa ada yang sakit?"
"Tidak sayang, kenapa masih disini? Pergilah. Kalian bisa ikut celaka." Marry merapikan rambut Richi yang berserak di depan wajahnya.
"Ibu bicara apa? Bomnya sudah mati."
"Apa?" Marry melihat ke tubuhnya dan benar saja, bom itu sudah tidak menunjukkan waktunya.
"Kenapa tidak bilang!?" Bentak Marry pada Hugo kemudian menjewer telinga lelaki itu. "Kau sengaja membuat Ibu terus jantungan, ya!"
"Aduh, bu. Maaf. Tadi kan, ibu ajak bicara." Rintih Hugo sambil memegangi tangan Marry. Richi hanya terkekeh.
"Bicarain apa, Bu?" Sela Richi ditengah keributan ibunya dengan Hugo.
"Mau tau aja." Balas Hugo sambil terus memegangi telinganya yang merah.
Nampaknya Marry punya telinga baru untuk dijewer selain Ricky.
"Permisi, bisa saya ambil benda itu?" Jonathan muncul lagi, menunjuk benda yang masih terikat di tubuh Marry.
"Ya ya, bawa saja ini." Tukas Marry. Richi membantu ibunya membuka bom dan menyerahkannya pada Jonathan.
"Keluar dari sini sekarang, karena rumah ini akan kita hancurkan dalam waktu 15 menit." Ucap Jonathan lalu berlari kecil ke arah Ricky.
"Hugo, giliranmu!" Teriak Ricky.
Hugo menengok ke arah Ricky dengan menyipitkan mata. Angin di atas terasa kian kencang.
"Kau dengar? Pergilah dari sini bersama ibu."
"Lalu, kau?"
"Aku masih harus mengaktifkan benda itu. Nanti aku akan turun setelah selesai." Ucapnya lalu berdiri. "Kelompok Valiant yang lain sudah berkumpul di depan bersama prajurit jenderal. Gabunglah kesana." Hugo mengelus puncak kepala Richi, kemudian berlari kecil kearah Ricky.
"Lalu orang tua itu, kenapa masih disana?" Marry menunjuk Wiley yang masih berdiri dengan bersedekap.
"Ayah tidak akan puas kalau tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri, Bu. Ayo." Richi membawa ibunya berjalan menuju pintu ke bawah tangga.
"Huh. Dia bahkan tidak menengokku dan hanya fokus pada penjahat itu!" Gerutu Marry. Sontak membuat Richi menoleh heran pada ibunya.
Diliriknya sang ayah yang tengah menatap ke arah mereka. Apalagi mata ayah sedikit membulat tak berkedip saat melihat Marry cemberut saja.
Richi menahan tawa. Perang belum berakhir rupanya.
~
Hugo tengah fokus dengan benda di tubuh Albern. Dia mencoba mengaktifkan kembali waktu yang sudah ia nonaktifkan tadi.
"Hugo. Kumohon ampunkan aku.. hiks.."
Hugo mengangkat alisnya sebelah, melirik sekilas pada Albern yang diikat dikursi. Tangisan Albern persis seperti anak kecil yang kehilangan ibunya.
"Ampunkan aku, Hugo. Aku mau kau jadikan apapun asal jangan bunuh aku... hiks.."
"Aku prihatin padamu, tapi aku tidak punya kuasa soal itu." Jawabnya tanpa menoleh dan terus fokus.
"Ayah, seperti ini akhir hidup kita?" Tanya Albern pada sang ayah. Henry meliriknya dengan sisa tenaga yanga ada dia sudah tidak bisa bicara. Bibirnya terasa perih karena pecah dan terus mengalirkan darah.
"Anggap saja ini balasan untuk orang-orang yang mati saat menjalankan tugas kalian." Hugo menepuk-nepuk tubuh Albern lalu mundur dari tempatnya.
__ADS_1
"A-aku tidak mau mati.." tangisan Albern pecah dan semakin menjadi. Dia teriak memohon supaya diselamatkan oleh lima orang yang tersisa disana.
"Sudah?" Tanya Wiley dan Hugo mengangguk.
"Aktifkan." Titah Wiley.
Hugo mengaitkan dua kabel dan waktu dari bom itu aktif berjalan mundur.
"Ada kata untuk istrimu, Henry?"
Tak ada jawaban. Hanya tangisan Albern yang terdengar.
"Kurasa dia akan sangat tersiksa setelah mendengar berita nanti." Wiley melangkah meninggalkan mereka, diikuti Ricky dan yang lain.
Tangisan Albern tak membuat mereka berhenti melangkah. Sudah waktunya menghukum orang yang tidak merasa bersalah dan malah balas dendam. Semoga saja dengan hukuman itu, Albern mau merubah dirinya.
Hugo menyeringai pada Albern yang masih menangis ke arahnya, sebelum akhirnya menutup pintu atap.
Albern terisak-isak. Napasnya terengah dan hampir tak bisa bernapas. Dia menoleh kearah ayahnya yang perlahan menutup mata.
"Ayaaah! Jangan tinggalkan aku!! Jangan mati dulu, yaaah." Teriak Albern.
Henry terjatuh dari kursi. Dia meringkuk dan benar-benar sudah tak sanggup menahan rasa sakitnya.
"Ayaaaaahhhh.."
Teriakan Albern terdengar dari bawah. Semua orang menatap ke atap rumah.
"Kasihan juga." Lirih Clair yang teringat pada ayahnya.
"Ayahnya sudah mati duluan. Dan tinggal dia yang ada di atas." Sahut Simon saat mendengar lirih pelan Clair.
Bella melirik jam di tangannya. "Kenapa belum meledak juga?"
Richi ikut melirik jam tangannya. "Apa kau salah set, Hugo." Richi mendongak, melihat wajah Hugo yang berdiri sambil memeluk dirinya dari belakang.
"Apa kau tadi menambah waktunya?" Sahut Clair.
"Tidak. Aku memang hanya mengaktifkan waktu, tapi tidak dengan bomnya." Jawabnya sambil mencium puncak kepala Richi.
"Apaa?!" Serentak semua yang ada disana. Richi membalikkan tubuhnya.
"Kenapa tidak kau aktifkan, Hugo? Bagaimana kalau ayah tahu?" Tanya Richi.
"Memang itu yang kami rembukkan tadi. Jenderal akan membunuh tuan Henry secara perlahan dan memberi pelajaran mental pada anaknya. Rumah ini akan diambil negara. Sayang dong, kalau dihancurkan."
"Ooo..." sahut semua yang ada disana secara serempak.
...🦋...
Sudah lima hari berlalu sejak kejadian itu. Walau sang ibu sempat merajuk, seperti biasa, sang ayah bisa membuatnya luluh. Lucu sekali, sebenarnya. Tapi karena itu orang tua, rasanya agak durhaka kalau tertawa.
"Mau pesan apa?" Tanya Hugo pada Richi yang bermain game di ponselnya. Mereka tengah duduk berdua di coffee shop tak jauh dari rumah.
"Seperti biasa." Jawab Richi tanpa menoleh, masih fokus pada ponselnya.
Hugo diam. Seperti biasa? Apa memangnya?
Hugo tiba-tiba teringat pada saat ia datang dan Emerald membawakan minuman yang katanya kesukaan Richi. Apa ya, itu?
"Ya sudah. Tunggu dulu disini." Hugo menjauh dari Richi. Dia mengambil ponsel dan menelepon Clair. Barangkali perempuan itu tahu.
'Ada apa?' Sahut Clair langsung.
"Clair. Kau tahu apa minuman kesukaan Richi?"
Beberapa detik Clair diam diseberang. 'Kau siapanya, Hugo? Kenapa tidak tahu.'
__ADS_1
"A-aku.. lupa." Jawabnya asal, kemudian melirik Richi yang masih serius dengan ponselnya.
'Lupa katamu? Kepalamu minta dihantam, ya!'
"Kau boleh menghantamku nanti, sekarang jawab dulu itu."
Terdengar decakan dari seberang. 'Coffee choco frape dengan toping machiato diatasnya.'
"Oooh. Oke, terima kasih, Clair."
Hugo langsung berlari ke dalam coffee shop dan memesankan minuman untuknya dan Richi.
Tak lama, dia datang lagi membawa dua cup minuman.
"Ini, Coffee choco frape dengan machiato." Hugo meletakkan minuman itu di depan Richi.
"Thanks, Hugo." Ucapnya sambil terus menatap ponsel.
"Ya, sama-sama, sayang." Hugo menarik kursi dan duduk didepan Richi.
"Bagaimana kabar Albern, ya? Apa dia masih di atas atap sebagai jasad, atau ada yang menolongnya?" Tanya Hugo sambil mengaduk minumannya.
Hening. Tidak ada jawaban karena Richi asyik dengan ponselnya.
"Kau tahu sesuatu, Chi?" Tanya Hugo memperjelas pertanyaannya.
"Hmm.. tidak." Jawab gadis itu asal. Lagi-lagi tidak menatap Hugo. Membuat lelaki itu kesal.
"Menurutmu, aku cocok jadi model, Chi?"
"Cocok."
"Kalau aku jadi model, bagaimana?"
"Bagus."
Hugo menghela napas. Dia benar-benar diabaikan oleh Richi.
"Kemarin aku bertemu perempuan cantik tengah menangis di club, jadi aku memboncengnya dengan motorku. Dia memelukku erat dari belakang dan itu sangat hangat. Kau tahu, Chi-"
BRAK! Richi meletakkan ponselnya dengan kasar. Kini matanya menatap Hugo dengan tajam.
"Apa kau bilang!"
"Aku bilang, bagaimana keadaan Albern disana? Apa dia diselamatkan? Atau mati bersama ayahnya??" Hugo mengulang pertanyaannya.
"Bukan yang itu."
"Iya, aku nanya itu."
"Enggak. Aku dengar kau sebut perempuan cantik." Jelas Richi.
"Tidak ada. Aku bertanya soal Albern. Kenapa malah jadi perempuan cantik." Sanggah Hugo lagi.
Richi tidak berkedip menatap Hugo. Wajahnya mulai kesal.
"Makanya, dengarkan kalau aku cerita. Kau malah asyik sendiri dengan ponselmu." Hugo melipat kaki dan membuang wajahnya kesamping. Dia merajuk.
Melihat itu, Richi langsung pindah kesebelah Hugo.
"Maaf. Game-nya seru. Kan, kau sendiri yang merekomendasikannya padaku." Jawab Richi, dia menarik-narik lengan baju Hugo.
"Tadi bertanya apa? Soal Albern? Ku tidak tahu. Soalnya aku juga tidak bertanya pada Ayah."
Hugo belum mau bicara. Tangannya bersedekap di dada.
"Hugo, kita belum ada liburan, ya? Ke pantai, mau? Bagaimana kalau kita sewa Villa disana. Setuju?"
__ADS_1
"Setuju!" Balas Hugo cepat.