
Setelah beberapa hari, Hugo akhirnya masuk sekolah. Walau luka sayat tubuhnya sudah membaik, namun luka bekas tembak masih belum begitu kering.
Hugo memaksa masuk sekolah karena rasa bosannya di rumah sakit, dia dizinkan masuk tapi dengan syarat belum bisa beraktivitas seperti biasa.
Kini dia pun mulai menginjakkan kaki masuk ke pintu utama sekolah, para siswi sudah kegirangan melihat Hugo datang dengan kacamata hitam dan jeket kulitnya. Mereka dengan semangat mendatangi Hugo dengan berbagai pertanyaan.
Hampir seminggu dia tidak datang, ternyata banyak dirindukan para siswi. Biasanya, Hugo berseliweran di lapangan sekolah membuat mata mereka kembali segar.
"Hugo, apa benar kau sakit?"
"Kak, Kenapa tidak masuk sekolah?"
"Hugo, kau sudah sembuh?"
"Kak Hugo, akhirnya sekolah lagi".
Hugo menyapa seadanya, karena matanya mulai menyapu setiap tempat, mencari seseorang yang sudah lama ingin ia lihat.
Dia tidak menemukannya, Hugo berjalan terus melewati lapangan basket, disana Richi juga tidak ada. Hingga matanya naik melihat lantai dua deretan kelasnya, Richi berada di atas.
Gadis itu tengah berdiri di atas balkon depan kelasnya melihat ke arah Hugo yang berjalan dengan iringan banyak gadis. Merasa diperhatikan, Hugo mulai meladeni para gadis yang penasaran dengan keadannya selama ini.
"Tenang, aku baik-baik saja." Samar-samar Richi mendengar ocehannya di bawah.
Richi tersenyum tipis. Melihatnya seperti itu membuatnya yakin Hugo sudah benar-benar sembuh.
"Terima kasih, ya." Ucap Hugo saat mendapatkan sebuah surat dari seseorang. Matanya lalu melirik ke atas, Richi sudah tidak ada disana. Dia bergegas, berjalan cepat dan meninggalkan para gadis yang antusias karena kehadirannya.
Hugo melewati kelas Richi. Bisikan antar siswa terdengar dari orang-orang yang Hugo lewati. Ada pula yang memberanikan diri menyapa.
Hugo menoleh, melihat ke arah tempat duduk Richi dari jendela bening yang ia lewati. Gadis itu tidak ada di tempatnya sampai Hugo melirik ke dalam seluruh isi kelas, Richi tidak disana.
"Kau mencariku?"
Suara Richi mengejutkan Hugo. Dia tidak sadar ternyata gadis itu ada di depannya.
"Untuk apa mencarimu!" Jawabnya tegas, dia menyembunyikan gelagapnya.
Richi tersenyum padanya. Kali pertama, Richi menunjukkan senyumannya saat berbicara pada Hugo. Lelaki itu terenyuh, hatinya gembira ternyata Richi sudah mulai santai padanya.
"Bisa bicara sebentar, Hugo?"
~
__ADS_1
"Terima kasih banyak, sudah menolongku". Richi mengayunkan kakinya di bangku yang agak tinggi membuat kakinya tidak menapak di tanah. Mereka duduk di belakang sekolah, Hugo yang mengajaknya dengan alasan supaya orang-orang tidak mendengar ucapan mereka.
"Aku mengkhawatirkanmu."
"Benarkah?" Ucapnya asal, dalam hatinya menangkis kekhawatiran Richi karena gadis itu ternyata pergi berkencan setelah malam itu.
"Daren bilang, kau tidak boleh dijenguk. Syukurlah hari ini kau datang."
"Daren bilang begitu?" Hugo mengerutkan alisnya. Melihat Richi mengangguk, Dia mengepalkan tangan, Daren ternyata mengarang hal seperti itu pada Richi. Pantas saja dia semakin kesal lantaran gadis ini bahkan tidak menjenguknya.
"Kenapa kau membantuku?" Hugo memandang ke depan. Dia ingin sekali mendengar jawaban Richi tentang hal itu.
Richi menggoyangkan lagi kakinya di bawah, seperti tengah berpikir. Karena dia sendiri juga tidak tahu apa yang mengerakkan hatinya membantu Axel dan yang lain.
"Karena mereka yang meminta."
"Siapa?"
"Axel mendatangiku, dia meminta bantuan". Richi melompat kecil dan berdiri dari duduknya. "Terima kasih sudah mengorbankan dirimu. Jika kau perlu bantuan lagi, kau panggil saja aku sebagai bentuk balas budiku".
"Tidak perlu begitu. Kau yang membantuku."
"Tetap saja, aku merasa bersalah. Akan ku usahakan saat kau membutuhkanku". Ucapnya lalu pergi meninggalkan Hugo sendiri.
Matanya memandang punggung gadis itu yang perlahan menjauh. Perkataan Richi bahwa dia khawatir seperti sebuah hiburan semata. Bukan sesuatu yang sebenarnya terjadi. Bagaimana pun, gadis itu sudah membantunya beberapa kali. Walau dia bersenang atau berkencan sekalipun, Hugo tidak punya hak untuk marah.
"Masih pagi, Richi. Kau sudah pacaran saja." Greta berbicara sambil menatap ponselnya saat Richi baru memasuki kelas.
"Wah, baru juga Hugo sekolah, kau sudah mengajaknya bertemu, ya." Sambung Neli lagi.
Melihat sekelas memegang ponsel, Richi tertarik melihat juga. Sepertinya ada hal menarik di laman web sekolah. Benar saja, fotonya tengah duduk bersama Hugo barusan ternyata sudah menyebar luas.
Richi menyimpan lagi ponselnya. Hal semacam ini dengan Hugo, dia sudah biasa.
~
Richi duduk dengan segelas coklat dingin dan novel di salah satu sudut kantin. Dia menutup kepalanya dengan topi, menunggu Frans dan Eric datang.
Tak lama, Axel, Daren, dan Isac duduk di meja Richi sambil membawa nampan makanan. Mereka datang sembari mengobrol dengan serius.
"Benarkah? Kau yang bilang?" Axel mengoceh, dia duduk disebelah kanan Richi dengan santai, tanpa menghiraukan pandangan gadis itu yang merasa heran.
"Ya, karena aku penasaran padanya". Jawab Isac yang ikut duduk di kirinya.
__ADS_1
Mereka asyik bercerita hal yang Richi tidak pahami, tanpa menghiraukan pandangan tajam Richi yang mengisyaratkan 'kenapa kalian duduk disini?' , Daren ikut duduk di depannya.
"Kau sudah makan, Richi?" Daren meletakkan nampan di depannya dan mulai mengambil sendok.
"Aku rasa kita tak cukup akrab untuk duduk seperti ini". Tutur Richi sambil menoleh kiri dan kanan.
"Jadi, dia menyukaimu tidak?" Axel bertanya lagi pada Isac di sebelah Richi.
Mereka mengobrol lagi, bahkan tidak menggubris ucapannya. Richi mendesah kesal.
Brak!
Hugo menghentakkan nampan berisi steak di atas meja. Dia duduk di sebelah Daren.
"Sejak kapan kita gabung dengannya?" Tanya Hugo lalu menyendokkan makanannya ke mulut.
"Bukankah pacar Hugo adalah sahabat kita?". Jawab Isac mengangkat alisnya pada Richi.
Gadis itu melongos, seperti sebuah pertolongan, Emerald datang ke mejanya.
"Ichi, bisa bicara sebentar?"
Ah, Richi merasa lega melihat Emerald yang tiba-tiba muncul bagai malaikat.
Hugo menelan kunyahannya dengan cepat. Gadis di depannya tersenyum cerah melihat siapa yang datang.
"Iya, sebentar". Jawab Richi dengan girang. Dia menutup novelnya dan keluar dari meja makan mendekati Emerald.
TRING!
Hugo menjatuhkan garpunya ke lantai. Hal itu membuat ketiga temannya membeku dengan apa yang Hugo lakukan.
"Garpuku di bawahmu". Hugo berbicara pada Richi dengan wajah dingin.
Dengan sigap, Emerald merunduk, mengambil garpu itu dan meletakkannya di atas meja.
Hugo diam menatap garpu itu dengan sedikit kesal karena bukan Richi yang mengambilnya.
Emerald merangkul Richi dan berjalan keluar kantin. Melihat itu, Hugo menggenggam erat pisau di tangannya.
"Kak, apa ada masalah dengan Hugo?" Tanya Richi penasaran karena tingkah Hugo barusan.
"Tidak, aku bahkan tidak pernah bertegur sapa dengannya".
__ADS_1
Richi mengangguk lambat walau dia merasa Hugo seperti mengajak perang pada Emerald.
To Be Continued...