
Olivia duduk melamun sambil memainkan ranting di dalam kobaran api. Wajahnya kusut sejak tadi karena sudah mencoba berbagai macam ide dari yang waras sampai tidak masuk akal pun sudah ia sebutkan tapi memang mereka terjebak di tempat itu. Apalagi hari sudah mulai gelap.
"Kau diam saja, Daren? Kau tidak takut berada disini? Kau sangat tenang." Gumamnya tanpa menoleh pada Daren.
"Mau bagaimana lagi? Teriak-teriak juga tak ada guna. Yang ada malah menghabiskan tenaga."
Olivia mendesah, benar kata Daren. Tapi harus bagaimana? Lalu, kenapa Richi dan yang lain tak mencarinya?
"Tapi.." Oliva menegakkan tubuh saat dia teringat sesuatu.
"Kau tidak mendengar suara Richi meneriaki namaku saat kita terjatuh tadi?" Tanyanya dengan nada yang semangat.
"Hm?" Daren mulai berpikir. "Aku tidak dengar."
"Aku mendengarnya. Aku sangat mendengar teriakan Richi."
"Ck. Kalau dia tahu, pasti kita sudah ditemukan sejak tadi."
"Aaah, apa mereka menganggap kita mati, Daren??" Badan yang tegak itu kini melemas. Bagaimana kalau benar begitu? Apa jangan-jangan berita kematiannya sudah sampai ke telinga bunda?
"Jangan berpikir yang aneh-aneh."
Terlambat, Olivia menangis lagi membayangkan hal buruk yang terjadi diluar sana. Lalu, hari mulai gelap. Bagaimana kalau ada hewan buas menerkam mereka?? Kalau saja ada satu senjata, Olivia pasti merasa lebih aman.
"Daren.." Olivia memanggil ditengah tangisnya. "Apa.. apa kau bawa pistol? Hiks.."
"Hah?" Daren menatap aneh pada gadis itu.
"Aku takut dimakan harimau." Katanya dengan suara parau.
Aduh, Daren hampir saja melepaskan tawanya. Dia tak sangka, Olivia, gadis ketus dan pemberani itu kini malah menangis karena memikirkan hal yang tidak-tidak. Harimau apanya, ini pedesaan. Di balik gua ini adalah pedesaan, bukan hutan.
Olivia kini menangis tanpa suara. Dia memilih memendamkan wajahnya diatas lutut karena merasa putus asa.
Daren pindah dan duduk disebelahnya. Dia menepuk-nepuk punggung Olivia. "Kita akan keluar dari sini. Kau jangan khawatir."
Olivia tak menjawab. Bahunya terguncang karena isakannya.
"Aku tak sangka kau benar-benar seperti perempuan pada umumnya. Ternyata kau bisa takut dan menangis juga."
"Apa kau berusaha menghiburku?"
"Anggap saja begitu."
Olivia mengangkat kepalanya. "Apa kita akan berakhir disini, Daren?"
Daren diam sejenak. Rasanya dia ingin membuat Olivia mengungkapkan sesuatu padanya.
"Kalau kita berakhir disini, apa yang akan kau lakukan?" Tanya Daren sembari menatap Olivia disebelahnya.
"Kalau kita berakhir disini.." Olivia mengulang kalimat Daren. Rasanya dia belum ikhlas mati di tempat seperti ini. Dia menarik napas dalam, lalu mulai berpikir.
"Aku tidak tahu. Apa kau punya keinginan yang belum tercapai?" Tanya Olivia.
"Ya. Ada."
__ADS_1
"Orang sepertimu juga punya keinginan yang belum tercapai?" Tanya Olivia lagi. Menurutnya, Daren adalah anak tunggal manja yang semua keinginannya pasti dikabulkan. Lalu, keinginan apa yang tidak bisa ia raih?
"Aku ingin menjalani hidup sesuai yang aku inginkan."
Olivia langsung mengerti. Dia lupa kalau di pundak Daren sudah banyak beban dan tanggung jawab yang akan dia jalankan sebagai pewaris tunggal.
"Begitu, ya."
"Setidaknya kalau aku mati, aku bisa tenang dan bertemu dengan ibuku."
Olivia menatap Daren dengan rasa iba. Ternyata Daren memang merindukan sosok ibu. Apakah itu sebabnya dulu dia menangis histeris saat pekerjaan bunda telah usai diusianya yang sudah menginjak remaja itu?
"Aku tidak tahu kalau kau ternyata diam-diam mempunyai beban berat."
"Yang orang tahu hanya hidupku yang menyenangkan sebagai pewaris tunggal. Padahal, jauh sebelum aku lahir, kehidupanku sudah ditentukan oleh kakekku."
Olivia jadi sedikit mengubah pemikirannya soal Daren.
"Lalu kau, apa ada keinginan yang belum tercapai?" Tanya Daren balik.
"Kau bercanda? Keinginanku bahkan belum ada yang tercapai."
"Beritahu aku."
Olivia memilin jari-jarinya. Jika berbicara tentang mimpi, harapan, dan cita-cita, sungguh itu membuatnya merasa sedih.
"Aku anak pertama, aku merasa harus bertanggung jawab untuk bunda dan adik laki-lakiku. Semenjak Ayahku pergi membawa semua harta bunda, kamipun hidup dengan ekonimi yang bisa dibilang..." Olivia menarik napas berat, tak ingin melanjutkan ucapannya.
"Jadi, kau tahu kan, bagaimana rasanya jika bunda tahu aku mati konyol seperti ini?" Lanjutnya lagi.
"Aku mengerti. Tapi, apa bedanya kalau kau mati saat bertempur. Bukannya pekerjaanmu di Valiant sangat beresiko?"
"Kau benar. Tapi, jika aku mati saat bertarung, maka Valiant akan memberikan bunda uang yang banyak, dan pendidikan gratis untuk adikku sampai jenjang perkuliahan. Itu sebabnya aku sangat setuju bergabung dengan Valiant." Olivia mulai menunduk.
"Aku sangat menyayangi Richi Darrel karena walau terlihat cuek, dia sangat peduli. Dia memberikan hadiah yang sangat layak jika kami mati dalam pertempuran. Itulah kupikir, tidak masalah aku akan mati asal bunda dan adikku tertanggungi."
"Apa semua anggota Valiant begitu?"
"Ya, semua mendapat balasan sesuai keinginan mereka."
Daren malah diam beberapa saat memikirkan sesuatu.
"Ada apa?" Tanya Olivia.
"Lalu, Hugo? Untuk apa dia masuk ke Valiant?" Tanyanya bingung. Sebab lelaki itu sudah kaya raya tujuh turunan. Apa yang dia pinta?
"Kau tidak tahu? Tentu saja restu orang tua dan kakak Richi! Hahaa." Tawa Olivia meledak, seakan dia lupa posisinya yang tersesat.
Melihat Olivia tertawa seperti itu, membuat Daren menatapnya lekat-lekat. Baru ini dia melihat tawa lepas Olivia.
"Apa kau punya pacar?" Tanya Daren dan Olivia langsung berhenti tertawa.
"Apa?"
"Pacar, apa kau punya?"
__ADS_1
Olivia terlihat mulai canggung, pembahasan Daren mulai aneh.
"Kau tidak pernah pacaran, ya??" Tebakan Daren nampaknya benar. Sebab Olivia langsung diam bahasa dengan menatap Daren.
"Benar. Kau ternyata belum pernah pacaran. Berarti ciuman pertamamu kau berikan padaku waktu itu." Tukas Daren dan spontan mata Olivia membelalak.
"Benar, kan? Waktu itu kau menciumku di dalam mobil saat aku tak sadarkan diri."
"APAA!! Kau yang menarik lalu menciumku!!" Pekik Olivia tak terima dituduh menciumnya.
"Terserahlah, yang penting aku yang mendapatkan ciuman pertamamu."
Olivia membuang wajahnya yang memerah. Dia mengutuk dirinya yang entah kenapa terjadi getaran aneh di dalamnya.
"Kau belum pernah pacaran, kan? Apa kau mau itu menjadi permintaanmu yang terakhir?"
"Apa maksudmu?" Tanya Olivia bingung.
"Ayo, pacaran. Aku akan menjadi pacar terakhirmu."
Mata Olivia membulat sempurna, bibirnya menganga mendengar apa yang keluar dari mulut Daren.
"Kenapa? Jika kau mati disini, ku yakin Richi akan membantu keluargamu. Tapi, kau belum pernah merasakan yang namanya pacaran, kan?"
Olivia membeku. Kenapa Daren bisa berpikir sampai kesitu? Lalu, pacaran dengannya? Di tempat seperti ini? Lalu kalau sudah pacaran, mau apa?? Olivia menggelengkan kepalanya, menepis hal-hal aneh yang tiba-tiba melayang di pikirannya.
"Aku menyukaimu, Olivia."
DEG! Tubuh Olivia benar-benar bergetar. Jantungnya seperti akan terlompat saat mendengar kata itu dari mulut Daren. Benarkah? Daren menyukainy? Sejak kapan??
Olivia mencondongkan tubuhnya ke arah lain, dia tidak bisa berkata-kata. Dia pun mengepalkan jari-jarinya yang bergetar. Olivia sendiri bingung, kenapa tiba-tiba detakan jantungnya sangat kuat hingga seluruh tubuhnya pun mulai terasa panas. Padahal angin disini sangat dingin.
Daren memutarkan tubuh Olivia menghadapnya.
Daren menggenggam tangan Olivia. "Walau aku mati, setidaknya aku sudah mengatakannya padamu. Kalau kau, bagaimana?"
Jantung Olivia semakin berdetak hebat. Kenapa Daren bertanya begitu? Sebab dia sendiri juga tidak tahu. Olivia tengah berpikir, bukankah orang-orang bilang kalau hati berdebar berhadapan seseorang artinya kita menyukainya? Begitu, kan? Apa sekarang dia menyukai Daren?
"Tidak apa kalau kau tidak menjawabnya. Aku akan menunggu."
Ah, Olivia lega. Syukurlah Daren tak memaksanya menjawab. Olivia juga baru menyadari, nada bicara Daren sudah berubah. Bicaranya sekarang sungguh lembut. Sangat berbeda dengan Daren di beberapa jam yang lalu. Ternyata, Daren bisa selembut itu, membuat Olivia mulai meluluhkan hatinya.
"Tapi, bisa aku meminta sesuatu?"
Olivia menatap Daren, menunggu kalimat lanjutan Daren.
"Aku ingin menciummu."
Hah? Mata Olivia membulat sempurna. Cium, katanya?
Tak menunggu jawaban, Daren menarik tengkuk leher Olivia lalu mencium bibirnya.
Olivia menegang. Seluruh darahnya seakan mengalir dengan sangat cepat. Jantungnya, dia bisa mendengar detakannya. Olivia merasa waktu dan seluruh aktifitas alam terhenti.
Ingin dia mendorong tubuh Daren, tapi urung ia lakukan. Entah mengapa lembutnya bibir Daren membuatnya merasa seperti melayang di udara. Apa begini rasanya berciuman?
__ADS_1
Olivia memejamkan mata, dia mulai menikmati sentuhan demi sentuhan yang Daren berikan di bibirnya. Sentuhan itu membuat darahnya menghangat dan terasa sangat nikmat. Ah, begini rasanya. Jika hari ini dia memang akan mati, maka dia tidak akan menyesali apa yang terjadi malam ini.
TBC