
Getar ponsel Richi membangunkannya. Dengan malas dia meraba kasur mencari posisi ponselnya yang terus bergetar.
"Hm?" Gumamnya pada orang yang menelepon tanpa membaca namanya.
"Morning, sayang."
Suara ceria Hugo diseberang membuat Richi membuka matanya sebentar, melirik jam di ponsel dan menutup matanya lagi.
"Hugo, ini masih pagi buta." Gumamnya dengan suara yang agak serak. Dia malas sekali sebab masih pukul 5 pagi.
"Iya aku tahu. Kau tidak olahraga?"
"Aku tidak pernah olahraga pagi." Gumamnya lagi tanpa membuka mata.
"Chi, suaramu seksi sekali kalau begini.." Goda Hugo dan berhasil membuat mata Richi terbuka.
"Hugo.."
"Iya, sayang?" Jawabnya dengan lemah lembut.
"Jangan bangunkan aku." Richi memutuskan sambungan telepon dan langsung memejamkan matanya lagi.
Sementara Hugo di seberang, mulutnya terbuka karena akan mengatakan sesuatu tetapi Richi sudah mematikan ponselnya.
"Akh. Dia ini benar suka padaku tidak, sih?" Gumamnya pada layar ponsel yang menyala.
Padahal dia ingin berlari pagi dengan pacarnya, namun nampaknya gadis tomboi itu tak berniat bangun pagi.
"Ck. Ya sudahlah." Hugo melemparkan ponselnya lalu mulai melakukan Pull Up, menggelantungkan badannya ke atas palang besi hingga otot-otot perutnya terbentuk sempurna.
~
Richi menguap, dia menutup pintu kamar dan menuju kolam renang, sebelum mandi dia selalu berenang terlebih dahulu di hari minggu.
Langkahnya terhenti, saat menyadari kolam renang tak berisi air.
"Ini kerjaan siapa, sih." Gumamnya dengan mata yang menyipit, mencari pelayan yang ada didekatnya.
"Kemari sebentar.." Panggilnya pada seorang pelayan laki-laki.
"Kenapa kolamnya kosong?"
"Ah, itu.. nona. Tadi malam, tuan Ricky kejebur kolam dan dia marah-marah memerintahkan kami untuk menguras kolam ini."
"Apa katamu? Kenapa dia begitu?"
"Anu, Nona. Tuan Ricky mabuk."
"Jadi kalian mendengarkan perintah orang mabuk? Kalian kan tahu, aku renang setiap minggu!" Pekik Richi dengan kesal.
Pelayan itu tertunduk. "Tuan Ricky marah-marah, Nona. Jadi kami.."
"Ya ya, ya sudah. Jam berapa kejadiannya?"
"Jam tiga pagi, Nona."
Richi menyuruh pelayan itu pergi dan dia mengambil ponselnya untuk mengecek cctv rumah. Dan benar saja, Richi terkekeh-kekeh melihat rekaman saat Ricky berjalan dengan oleng dan terjebur ke dalam kolam. Para pelayan datang dan menyelamatkan, namun Ricky malah marah-marah.
"Kenapa bisa ada air disini!" Pekik Ricky pada pelayan yang membantunya.
"Cepat buang semua air tanpa sisa! Cepat!" Teriaknya pada pelayan yang ketakutan dan langsung membuang air kolam.
Richi masih memegangi perutnya. "Sial, Lucu sekali dia!" Ucapnya terkikik lalu mengingat sesuatu. "Eh, Apa dia tidak menjalankan misi tadi malam?"
Ponsel Richi berdering, dia tersenyum saat membaca siapa yang meneleponnya.
"Kau sudah bangun?" Tanya yang diseberang.
"Sudah."
"Ayo, kencan." Ajak Hugo langsung.
Mendengar kata itu, Richi tersenyum sendiri. "Kemana?"
"Nanti saja bicaranya. Aku akan kesana menjemputmu".
"Eh, jangan masuk. Tunggu diluar gerbang saja."
Richi langsung menuju kamarnya dan bersiap. 20 menit berlalu, Hugo sudah di depan gerbangnya.
Richi masuk ke dalam mobilnya dan mendapati Hugo tengah memandang dengan wajah datarnya.
"Kenapa?" Tanya Richi tanpa beban.
"Aku bilang, kita mau kencan."
"Iya, lalu?"
Hugo memandang gadis itu dari celana yang sobek di lututnya, kemeja polos putih dan dalaman navy. Tak lupa topi hitam putih yang biasa dia gunakan.
"Kau tidak mau pakai dress? Lihat aku.."
Richi melihat Hugo yang tampan dengan memakai kaos dalam putih dan jas slimfit hitamnya.
__ADS_1
"Apa ini pertama kali kau kencan?"
"Iya, karena kau pacar pertamaku. Lalu kau? Ini sudah kencan yang keberapa bagimu?"
"Oke, kita berangkat sekarang!" Tukasnya lalu menjalankan mobil, tak ingin berdebat dengan Richi karena dia sadar, dia akan kalah.
"Jadi, mau kemana?" Tanya Hugo lagi.
"Aku tidak tahu."
"Kita nonton bioskop?" Hugo memberikan pilihan.
"Dirumahku juga ada layar selebar itu."
"Tetap saja berbeda, memangnya dirumahmu kita bisa nonton bersama sambil pelukan dan pegangan tangan?"
"Oh, jadi itu maumu.." Tukas Richi datar dengan tatapan tetap ke depan jalan.
"Bu-bukan begitu maksudku.." Hugo mulai gelagapan.
"Kita ke kafe saja.." Kata Richi.
"Kafe? Yang benar saja. Ini kencan.."
"Aku lapar, belum sarapan."
"Oke, kita cari makan." Tukas Hugo lalu fokus ke jalan.
Richi menahan tawa, dia mulai paham cara kerja Hugo untuk dirinya.
~
Mereka duduk di salah satu meja sudut ruang. Hugo memilih tempat duduk tepat di sebelah gadis yang tengah makan itu.
Hugo mengelus lembut rambut Richi, sementara gadis itu terlihat tidak peduli, mengunyah makanannya sambil memainkan ponselnya.
"Sayang sekali, rambut cantikmu itu.." gumam Hugo pelan, tetapi Richi tetap bisa mendengarnya.
"Kenapa? Tidak suka?" Sahut Richi masih fokus pada ponselnya.
"Aku suka sekali padamu walau kau botak sekalipun."
Richi merapatkan bibirnya, menahan tawa atas ucapan Hugo.
"Kalau gitu, jangan komentar. Lagi pula siapa yang buat aku harus memangkas rambutku?"
"Iya, iya. Aku yang salah. Aku kan sudah minta maaf.." jawabnya sambil bersandar di sofa yang mereka duduki. "Kau sampai segitunya sakit hati, padahal aku hanya ingin melindungimu."
"Dari apa?"
"Kau pikir dia bisa apa tanpa persetujuan ayahku." Jawab Richi dengan enteng.
"Ayahmu?"
Richi mengangguk. "Suatu hari akan aku ceritakan." Tukasnya lalu menyantap makanannya.
"Chi.."
"Ya?" Jawabnya sambil fokus ke makanannya lagi.
"Apa alasannya tidak boleh beritahu hubungan kita?" Tanya Hugo sambil mengelus lembut rambut kekasihnya.
"Aku akan beritahu, tapi berjanjilah untuk setuju saja dengan semua rencanaku."
Hugo mengangguk cepat, karena menurutnya rencana Richi pasti luar biasa.
"Aku akan mendekati Harry, ketua basket Palmy."
"Apa!" Hugo duduk tegak, dia membulatkan matanya mengarah pada Richi. "Kau mendekatinya? Untuk apa? Tidak, aku tidak suka padanya. Kau tidak boleh melakukan itu. Rencana macam apa yang seperti itu?!" Omelnya panjang lebar. Sementara Richi mengunyah saja tanpa memperdulikan ocehan Hugo.
"Kau sudah berjanji untuk setuju, kan?" Tanya Richi sambil mengunyah.
"Iya, sebelum aku tahu isi rencanamu itu. Memangnya ada apa? Kenapa harus dia?"
Richi menghentikan aktifitasnya lalu menatap Hugo. "Hugo, sebelum aku menjawab, jawablah pertanyaanku dulu. Apa yang membuatmu datang ke gedung yang dibom waktu itu?"
"Kami mendapat laporan, dari salah satu anggota kami yang berhasil bergabung dengan Stripe. Dia bilang gedung akan diledakkan sementara dia belum mendapatkan apapun tentang rencana mereka. Jadi, kami kesana untuk mengecek lokasi saja." Jelas Hugo.
Richi mengangguk lambat. "Baiklah. Itu artinya tujuan kita sama."
"Lalu, tahu darimana kalau aku datang kesana? Kau kan, yang hampir menembakku waktu itu?" Tukas Hugo.
"Bukan."
"Kau tidak bisa berbohong padaku. Kenapa kau melakukan itu?"
Richi menyengir. "Sebab kau menganggapku orang lain waktu berdansa denganmu." Jawabnya enteng.
Hugo mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya.
"Kau dapat darimana?" Tanya Richi saat melihat topeng yang ia pakai malam itu ada pada Hugo.
"Kau membuangnya, jadi aku mengambilnya. Aku memperhatikanmu dari atap gedung. Mana mungkin aku sia-siakan kesempatan itu." Jawabnya lalu menyeduh teh di atas meja.
__ADS_1
"Lalu, rencanamu pada Harry?"
"Aku akan mencoba menjadi orang yang dia percayai. Aku tahu dia tertarik padaku, jadi aku memanfaatkan itu. Aku memintamu untuk bersabar kedepannya kalau melihatku dengan lelaki itu, supaya dia mau terbuka soal Stripe."
"Kau mencurigai dia Stripe?" Tanya Hugo.
"Bukan mencurigai, tapi aku tahu, dia salah satu orang tertinggi Stripe. Aku melihatnya saat dia masuk ke dalam helikopter."
Hugo terdiam sejenak, dia tampak berpikir. "Kenapa kau sampai seperti itu terhadap Stripe?"
"Mereka sudah tersebar sangat luas, Hugo. Bahkan mereka merekrut perempuan sebagai anggota. Waktu kami menggeleda markas mereka, aku melihat banyak sekali senjata. Sayangnya, semua habis karena ledakan Bom."
Hugo terkesiap. "Berarti benar dugaan bahwa mereka memang disupport oleh orang tertinggi di kota ini. Kalau gitu, beri aku tugas."
"Tugasmu cuma satu, berlapang dada melihat kedekatanku dengan Harry. Mungkin saja kami akan berkencan."
"Apa tidak bisa dengan cara lain?" Jawabnya dengan suara memelas.
Richi menggeleng. "Tidak ada."
"Baiklahh" jawabnya dengan lemas menempelkan kepalanya di bahu Richi.
~
"Haaah.. kenyangnya.." Richi keluar sendirian dari Kafe dengan kaos navy nya dan mengikat kemeja putih di pinggangnya.
Hugo keluar. Richi meninggalkannya karena Hugo yang membayar makanannya terlebih dahulu.
"Kau terus terang sekali, ya. Menyuruhku membayar makananmu." Ketusnya.
"Kenapa harus malu-malu padamu". jawabnya langsung.
"Kau sengaja pilih makanan mahal karena aku yang akan bayar?" Tanya Hugo lagi.
"Iya. Aku mau menghabiskan uangmu".
Hugo malah tertawa lebar. "Kau tidak akan bisa, karena aku kaya raya." Hugo lalu merangkulkan tangannya ke pundak Richi. "Ayo, mau kemana lagi?"
Richi melihat tangan Hugo yang menempel di bahunya, lalu menatap Hugo dengan tajam. "Singkirkan tanganmu".
"Kenapa?!"
"Kalau diluar, kita harus biasa saja, seperti berteman." Ucapnya lalu menepuk tangan Hugo yang menempel.
Dengan malas, Hugo melepaskan tangannya dan mengikuti Richi yang berjalan.
"Jadi, Apa seleramu sudah berubah? Kalau melihat perempuan anggun dan berambut panjang, masih suka?" Tanya Richi memancing.
"Tidak perlu yang seperti itu, asal dia Richi, aku suka". jawabnya menyenangkan hati Richi.
"Begitu, ya."
"TOLONGG PENCURII!!"
Teriak seorang perempuan, lalu datanglah laki-laki yang berlari dengan cepat ke arah Richi dan membawa sebuah tas.
Setelah mendekat, Richi menjegal kaki pria itu hingga tersungkur dan tas yang ia pegang terjatuh.
Seketika lelaki itu bangkit dan berusaha menghajar Richi, namun dengan cepat Hugo memutar tubuhnya dan menendang kepala lelaki itu hingga terjatuh.
Lelaki itu kabur tanpa membawa tas yang ia curi. Hugo mengambil tas itu dan tak lama datang seorang gadis cantik berambut panjang dan rok mini menghampiri.
"Terima kasih atas bantuannya."
Ucapnya dengan tersenyum cerah pada Hugo.
"Ya, sama-sama. Lain kali hati-hati." Ujar Hugo dengan ramah.
"Iya. Sekali lagi terima kasih. Oh ya, perkenalkan. Aku Shera." Gadis itu mengulurkan tangannya tanpa melihat Richi yang berada di belakang Hugo.
"Hugo" jawabnya sambil menyambut tangan gadis itu.
"Oh, itu.." gadis itu melirik pada Richi.
"Temanku." Jawab Hugo dan Richi membelalakkan matanya.
"Begitu ya, baiklah. Sampai nanti.." gadis itu melambaikan tangan pada Hugo dan berlalu pergi.
Sementara Richi menyugar rambutnya ke belakang dengan jari, menatap kesal ke arah Hugo.
Hugo berbalik badan, Richi masih bisa melihat garis senyum di wajah lelaki itu. "Jadi, kita mau kemana lagi?" Tanya Hugo yang melirik jam di tangannya, masih pukul 11 dan masih punya sangat banyak waktu.
"Teman, ya?" Ucap Richi dengan senyum miring.
"Bukankah kau yang bilang untuk merahasiakan hubungan kita?" Jawabnya enteng dan berhasil membuat Richi semakin kesal padanya.
Richi melangkah meninggalkan Hugo. Gadis itu berjalan cepat sementara Hugo masih bingung dengan Richi.
"Chi, mau kemana? Lho, kan katanya tidak boleh bilang siapa-siapa. Jadi, aku harus bagaimana?" Ucapnya pada Richi yang berjalan saja.
"Hei.. Chi.. Astaga, yang benar saja." Tukasnya lalu mengejar Richi yang mulai menjauh.
Seperti itulah, kencan pertama sepertinya tidak berjalan dengan baik~
__ADS_1
TBC