Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Tinju


__ADS_3

Di kantin sekolah, tiga orang ini sedang berbincang.


"Ri, nanti sore kita main, ya" Ucap Frans mengajak Richi berbasket.


"Aku latihan."


"Taekwondo-mu kan kemarin?"


"Bukan, aku mau daftar Tinju".


"Bukannya kau sudah ikut Muay Thai?" Tanya Eric


"Iya, Bukannya sama saja?" Timpal Frans.


Richi menggeleng. "Beda dikit. Tapi aku penasaran. Sepertinya boxing itu seru".


"Ada-ada saja. Padahal itu juga tidak digunakan. Ya, gak Ric?"


Eric mengangguk-angguk setuju.


Richi diam saja dan membaca Novelnya lagi.


"Kapan pertandingan basket?" Tanya Eric pada Frans yang sedang makan.


"Sepertinya tiga hari lagi. Kenapa?"


"Aku tidak sabar dengan Acara penutupnya. Kau bagaimana, Ri?" Tanya Eric pada Richi.


"Bagaimana apanya?" Tanya Richi balik sambil menyeruput kopi dan tak mengalihkan pandangannya dari novel.


"Di acara pesta penutupan pertandingan. Itukan, acara beberapa sekolah. Kau ikut?" Tanya Eric.


"No." Tolaknya singkat.


"Memangnya kau pernah lihat dia datang di acara-acara sekolah?" Tanya Frans pada Eric. Richi tidak pernah hadir dalam acara pesta-pestaan. Dia, entah bagaimana kurang menyukainya.


"Bagaimana kalau Hugo yang mengajakmu?"


Pertanyaan Eric membuat gadis itu menoleh ke arahnya.


"Kau berharap apa, Ric?" Richi melototkan matanya.


"Bukan begitu. Setelah kemarin aku melihat Camilla yang di agung-agungkan itu, aku merasa dia masih kalah darimu. Kau lebih cantik, rambutmu lebih indah, kau juga pintar. Dan..."


Ucapan Eric terputus. Dia melihat Richi menaikkan sebelah alisnya.


"Hehehehe." Eric malah cengengesan karena tahu Richi tidak suka dipuji.


"Richi itu tak suka jadi pusat perhatian. Seharusnya kau yang lebih tahu itu." Kata Frans lalu menyeruput minumannya.


"Ri, Hugo itu masih mengatakan kau pacarnya, kan?" Tanya Eric lagi.

__ADS_1


Richi diam saja. Dia fokus lagi membaca novelnya.


"Bagi Hugo, Richi itu ibarat poster gorilla yang dipasang di depan pintu kamar". Ucap Frans tiba-tiba.


"Kenapa, tuh?" Tanya Eric.


"Buat nakut-nakutin nyamuk. Jiaahahaha" Kompak keduanya tertawa terbahak-bahak pada lelucon garingnya. Yang jadi bahan lelucon, diam saja sambil menyeruput kopinya.


🍁🍁🍁🍁


"Hugo.." panggil Camilla lembut.


"Hmm" Hugo menenggak air di botol. Dia duduk menekuk di atas lantai.


"Kau datang kan, di acara penutup nanti.." Tanya Camilla. Walau dia pacarnya, namun tak yakin Hugo akan mengajaknya. Karena tahun lalu, saat berpacaran dengan Diana, dia malah datang menggandeng Sonia, ketua Cheerleaders sekolah mereka.


"Belum tahu." Jawabnya asal. Dia sedang menstabilkan detak jantung yang berdegub karena latihan basket tadi.


"Kau harus datang ya, Hugo. Kau harus menggandengku." Pintanya dengan manja. Namun Hugo hanya memandang jauh kedepan. Entah apa yang ia pikirkan.


"Kalau Hugo tidak bisa, kau kan bisa datang dengan Daren". Sambung Isac tiba-tiba.


"Aku inginnya cuma sama Hugo". Jawabnya dengan halus sambil menatap Hugo.


"Kau seperti tidak tahu Hugo saja" Kata Axel yang lalu berdiri dan memantul-mantulkan bola basket.


Camilla memandang Hugo lagi. "Hugo, apa kau kemarin pergi dengan perempuan lain?" Tanya Camilla dengan hati-hati. dia hanya menanyakan apa yang diributkan teman-temannya di sekolah.


"Aku juga tidak tahu. Kata Jils, kau naik motor membonceng seorang perempuan cantik berambut hitam panjang".


"Benarkah, Hugo?" Axel menghentikan permainannya. "Siapa itu?"


Yang di tanya hanya diam menenggak lagi minuman di tangannya.


"Bagaimana ciri-cirinya?" Daren tiba-tiba bersuara. Karena dia sepertinya tahu perempuan itu.


"Aku juga tidak tahu karena tidak melihatnya langsung. Mereka juga tidak sempat memotret karena Hugo membawa motornya dengan kencang sekali".


Mendengar itu, Hugo tersenyum miring memperlihatkan gigi taringnya.


"Yang jelas, rambutnya lebih panjang sedikit dariku, berwarna hitam, wajahnya sangat cantik. Dia memeluk Hugo dari belakang." Jelasnya sambil merengut sedih.


Daren sejenak terdiam. "Mungkin itu Richi".


"Apa! Jelas bukan dia. Teman-temanku bilang dia cantik. Hugo, katakanlah sesuatu". Camilla memegang tangan Huga yang berkeringat.


"Kalau rambut panjang melebihi dirimu, setahuku juga Richi." Sambung Axel.


"Apa? rambut gadis itu panjang?" Camilla mengepalkan tangannya. Selama ini dia hanya melihat Richi menggulung-gulung rambutnya.


"Itu hanya dugaanku saja." Daren menenggak minumannya. Lalu bermain dengan Axel lagi.

__ADS_1


"Hei, Milla. Sudah berapa lama kalian pacaran?" Tanya Isac sambil berdiri.


"Tiga minggu".


"Wahahaha. Sebentar lagi, tuh". Serunya sambil ikut bermain lagi.


"Semangat, Camilla.." Axel menaikkan suaranya supaya Camilla mendengarnya dengan jelas.


"Apa maksudmu?" Teriak Camilla sebal.


"Apa lagi. Paling lama, Sang penakluk wanita itu hanya berpacaran satu bulan". Sambung Isac sambil merebut bola dari tangan Axel.


Camilla membisu. Dari tadi bahkan Hugo hanya diam. Dia tidak berani bertanya sebab Hugo terlihat kurang bersemangat. Tapi dia akan menyusun rencana supaya Hugo tidak terlepas darinya.


Satu tahun dia berkenalan dengan Hugo. Sudah mencoba merayunya dan mengajaknya kesana kemari. Sejauh ini, Hugo mau saja. Dia bahkan sering memuji kecantikan Camilla. Camilla juga rela menunggu saat ternyata Hugo berpacaran dengan orang lain. Dia bahkan rela tidak memotong rambutnya demi lelaki itu.


"Kau mau kuantar pulang?" Tanya Hugo tiba-tiba pada Camilla.


"Mau. Antar aku ya. Tapi jangan sekarang. Aku masih ingin bersamamu". Rengeknya.


"Aku bawa motor."


"Apa? Kenapa motor? Kemana mobilmu?"


"Aku tidak pernah bawa mobil ke sekolah. Selalu dijemput" jawab Hugo. "Kau mau tidak?"


Camilla memanyunkan bibirnya. "Aku tidak suka naik motor, Hugo. Pinggangku sakit, pasti juga kena debu dan polusi, kan".


"Ya sudah. Aku pulang duluan. Ada kepentingan." Hugo beranjak saat penawarannya ditolak Camilla.


Dia sedikitnya membandingkan Camilla dengan Richi yang tidak masalah berkeringat, bahkan di jalan saat itu, dia tidak memakai masker atau helm. Dia membiarkan wajahnya terkena sinar matahari, maupun polusi udara lainnya.


Sedetik kemudian Hugo sadar, bukankah perempuan memang seharusnya seperti Camilla? Menjaga dan merawat tubuhnya supaya tetap indah dan mempesona. Bahkan saat acara pesta, Ibu-Ibu disana dengan bangga memamerkan bentuk tubuhnya yang tetap mereka jaga. Perempuan itu makhluk yang indah ciptaan Tuhan. Hugo mengangguk-angguk sendiri.


Hugo Erhard, sampai detik ini masih membantah perasaannya terhadap Richi Wiley, yang dianggap tidak seperti perempuan pada umumnya.


~


Richi masuk ke dalam gedung ruang tinju sendirian. Dia sedikit ragu awalnya. Ronald merekomendasikan tempat ini padanya. Katanya, tempat ini sudah banyak melahirkan petinju handal.


Richi sempat menjadi lirikan orang-orang. Dia memakai jeket hoodie-nya hingga menutup kepalanya. Dia melangkahkan kakinya ke tempat yang tidak begitu terang. Ramai orang-orang bersorak sorai.


Ya, tempat ini sering menjadi ajang pertandingan tinju. Bahkan tak jarang orang-orang ini menjadikannya sebagai ajang taruhan. Selain anak didik disini, banyak juga petinju amatiran yang ikut-ikutan naik ke atas ring.


Richi berdiri diantara kerumunan orang-orang yang bersorak ramai menyaksikan pertandingan dua orang di atas ring.


Dua orang itu sudah memakai sarung tinju.


Richi tertegun melihat orang itu. Matanya memicing meyakinkan penglihatannya. Satu diantaranya, dia mengenalnya.


"Hugo.." Gumamnya pelan.

__ADS_1


To Be Continued...


__ADS_2