Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Resign-nya Olivia


__ADS_3

Daren mengintai. Matanya menatap satu persatu murid-murid Meteroid yang keluar dari gerbang sekolah, mencari sosok Olivia disana.


Beberapa menit berlalu, Olivia keluar dengan menaiki sepedanya sambil berbicara dengan seorang laki-laki yang menaiki motor.


"Itu si laron-laron itu, kan?" Gumanya sendiri di dalam mobil, menyorot tajam ke arah dua orang yang tengah beriringan sambil bercanda dan tertawa. Entah apa yang mereka bicarakan, Daren tidak mendengar apa-apa.


Sampai di perempatan jalan, Aron melambaikan tangan dan menancap gas motornya lurus ke depan sementara Olivia belok ke arah kiri. Daren pun langsung mempercepat laju mobilnya.


Gadis itu tampak mengayun santai. Dia tidak pulang ke rumah, melainkan menuju arah lain.


"Mau kemana dia??"


Tak mau hilang kesempatan, saat mereka memasuki jalanan sepi, langsung Daren menyalipkan mobilnya kesebelah Olivia, membuat gadis itu hampir terjatuh. Sempat ingin mengomel, namun Olivia justru menjadi bungkam saat tahu mobil siapa yang mengganggunya.


Daren keluar dari mobil memakai kacamata hitam. Dia berdiri di depan Olivia sambil melipat tangan di dada.


"Tidak pernah masuk kerja, tidak berkabar, tidak mengangkat telepon. Apa maksud dari semua itu, hah?"


Olivia membuang wajah. Mencoba bersikap santai. Melihat wajah Daren saja sudah membuatnya kesal, karena dia selalu saja teringat ciuman pertamanya yang direbut lelaki itu yang ternyata hanya prank.


"Minggir. Aku tidak punya waktu." Olivia menuntun sepedanya melewati Daren, namun tersendat karena Daren menahan lingkar sepeda dengan sepatunya.


"Kau pikir, kau mau kemana? Sudah berhari-hari tidak masuk kerja dan hari ini mau bolos juga? Kau mau kupecat, hah?"


"Pecat saja."


"Aduh!" Daren mengaduh saat Olivia menginjak kakinya dengan ban sepedanya. Dia berjalan lagi.


"Hei, aku tidak memecatmu karena aku masih berperikemanusiaan."


"Terserah." Jawab gadis itu santai tanpa menoleh lagi pada Daren.


Daren menarik paksa sepeda Olivia, melipatnya dan langsung membawa ke bagasi mobilnya.


"Daren, apa-apaan. Hei! Lepaskan sepedaku!" Pekik Olivia.


"Kau tidak boleh bolos lagi. Kau pikir, kau bisa bekerja seenaknya." Dengus Daren sambil memasukkan sepeda Olivia ke dalam bagasi.


"Aku berhenti."


"Apa?" Daren melepas kacamatanya. Menatap Olivia saat mendengar berita yang terdengar buruk.


"Aku berhenti bekerja denganmu. Aku sudah mencari pekerjaan di tempat lain. Cepat keluarkan sepedaku!"


"Hah. Kau pikir, kau bisa berhenti begitu saja? Aku tidak setuju!"


"Aku tidak perlu persetujuanmu!" Tekan Olivia, membuat Daren terdiam sejenak.


"Tidak bisa! Aku atasanmu. Kau berhenti atau tidak, harus dengan persetujuanku!"


Olivia tak menjawab lagi. Dia langsung mengambil kembali sepedanya, namun ditahan oleh Daren.


"Kau tidak bisa berhenti begitu saja, Olivia!" Seru Daren dengan wajah berang. Dia melihat Olivia dengan tatapan marah, entah apa yang terjadi padanya saat itu.


Olivia mendesah kasar. "Kau pikir, kau bisa mengatur hidupku, hah? Mentang-mentang kau seorang tuan muda, lalu kau bisa seenaknya terhadap orang lain, begitu??"


Daren diam, namun matanya masih menatap tajam pada Olivia.


"Kenapa? Hah? Kenapa kau tidak mau aku berhenti?" Tanya Olivia sambil melangkah kedepan. Dia mulai merasa emosional karena ulah Daren.


"Kau menganggap aku mainan, iya?" Tanya Olivia lagi. Dia terus saja melangkah maju sementara Daren mundur dari tempatnya. Tatapan tajam Olivia membuat egonya meluruh.


"Kenapa, Daren? Mainanmu sudah tidak ada lagi, hah?"


Daren terhenti tepat dibelakangnya sebuah pohon besar. Tetapi Olivia masih saja melangkah maju tanpa beralih sedetikpun dari mata Daren.

__ADS_1


Olivia mendongak, menatap tajam Daren yang lebih tinggi darinya "Aku kan, yang selama ini menjadi bonekamu. Kau sesukamu memainkan aku. Memainkan perasaanku. Kau sengaja, kan?" Pekik Olivia kesal. Sementara Daren tidak sanggup berkata-kata.


Mata Daren menatap Olivia yang berkaca. Gadis itu benar-benar merapatkan tubuhnya pada Daren.


"Aku sudah cukup menjadi bahan tertawaanmu. Cari saja boneka lain yang bisa kau mainkan."


"Olivia.. Bukan begitu.." Daren mencoba menyentuh pipi gadis itu, namun ia menepisnya dengan keras.


"Bukan? Lalu apa?"


"A-aku..." Daren menatap mata Olivia begitu dalam. Entah kenapa, lidahnya terasa kelu.


"Melihatmu saja sudah membuatku kesal. Jangan pernah lagi muncul dihadapanku, atau kau tahu akibatnya." Bisik Olivia pada Daren. Dia langsung pergi dengan menaiki sepedanya. Mengayuh kencang agar bisa menjauh dari Daren.


Sementara lelaki itu, dia masih berdiri menatap Olivia yang menjauh. Dalam hatinya berdebar dengan tubuh yang sebegitu dekatnya dengan Olivia, namun ucapan Olivia pula nampak serius.


Daren merasa kacau. Dia tidak tahu perbuatannya benar-benar membuat Olivia semarah itu. Tapi dia mencoba mengerti dengan keputusan perempuan yang tanpa ia sadari namanya sudah tertanam di dalam hatinya.


...🦋...


"Kenapa, Liv? Galau?" Tanya Bella. Olivia duduk di atas rumput, mencabuti rumput-rumput itu dengan gemas.


"Olivia tuh, pernah galau, ya? Punya pacar juga enggak." Sahut Clair. Matanya membidik, jari telunjuknya perlahan menekan pelatuk. Tubuhnya sedikit terdorong kebelakang saat ia melepaskan tembakan.


"Daren, ya?" Tebak Bella.


"Kok tahu??"


"Iya, soalnya dia mengomel terus di kelas. Katanya kau tidak mau mengangkat teleponnya."


"Aku kan, sudah berhenti." Balas Olivia.


"Lalu, kenapa sampai sekesal itu?" Tanya Clair. Dia menyerahkan senapan laras panjang pada Bella.


Clair hanya menghela napas melihat Olivia yang tersungut-sungut. Lalu matanya mengarah pada Richi.


Gadis itu duduk dengan kedua kaki yang naik di atas sofa, mengunyah keripik kentang kesukaannya sambil menatap kosong ke depan.


"Kalau kau, kenapa pula nona Darrel?" Tanya Clair.


"Kenapa aku." Tanya Richi datar disela kunyahannya.


"Kau baik-baik saja? Kulihat kaupun tengah galau juga."


"Enggak. Aku mau ke toilet dulu." Ucapnya sembari beranjak.


"Hah, ada apa sih, orang-orang ini." Clair menggelengkan kepala.


"Tak perlu kau pikirkan, lihat saja aku. Aku akan menembak burung terbang itu dengan tepat." Bella mengangkat senjata, membidik kemudian mulai menembak saat burung mainan yang terbang tinggi dengan jarak yang cukup jauh.


Satu tembakan lepas, namun Bella gagal menembaknya.


"Aaah. Kau membuat jarak yang sangat jauh, Clair. Mana aku bisa!" Keluh gadis itu.


"Coba sekali lagi."


Bella mengangkat lagi senjatanya, menunggu burung itu terbang dan..


DOR!


Burung yang terbang itu jatuh terkena peluru.


"Nah kan, bisa juga akhirnya."


Bella menoleh kebelakang, "bukan aku. Tapi itu." Mata Bella mengarah pada dua orang yang cekikikan di tempatnya.

__ADS_1


"Tim Fox punya standart rendah, ya. Kenapa menembak begitu saja tidak bisa." Kata Eline dengan melipat tangan di dada.


"Mau kuajari?" Sambung Erine, menenggerkan senjatanya di atas bahu.


Clair menahan Bella yang sudah naik pitam, "Jangan ladenin. Biarkan saja."


"Dia berani karena tidak ada Darrel." Celetuk Olivia.


"Yaah, bukannya aku tak berani. Aku hanya tak suka cari ribut dengan adik Komander." Sela Eline.


"Sudahlah, sesama Valiant jangan saling ribut." Ujar Clair menengahi.


"Ayo, Lin." Erine mengajak kembarannya pergi, namun gadis satunya masih menahan diri.


"Tunggu. Aku belum selesai, Rin." Ucap gadis itu. "Bagaimana kalau kita bertanding. Siapa yang bisa melubangi baju tanpa menyentuh kulit, dia menang."


"Hah. Jelas sekali tujuanmu ingin menyakiti." Kata Olivia.


"Tidak, aku hanya ingin melihat kemampuan tim Fox ini. Kalau kalian bisa melakannya, maka-"


DOR! Suara tembakan membuat semua terperanjat. Termasuk Erine. Dia membuka kancing jeket dan mendapati lubang di bagian pinggang jeket itu.


"D-darrel.." Eline mundur tanpa sadar.


"Oh, apa kena kulitmu, Erine?" Tanya Richi.


Erine terus menatapi lubang pada jeket yang masih ia kenakan itu.


"Sepertinya tidak, berarti aku menang. Kau tidak tersinggung, kan?" Richi melebarkan senyum walau tetap terlihat palsu.


"J-jeketmu.." Eline ikut cemas dengan kondisi jeket yang dipakai Erine.


"Aku hanya melubangi jeket Hugo. Bukan jeketmu, kan? Pergi sana. Mengganggu." Celetuk Richi yang kemudian duduk lagi di atas sofa.


Erine menatap Richi cukup lama, sampai akhirnya dia duluan melangkah pergi dan disusul Eline dibelakangnya.


"Itu jeket Hugo?" Tanya Bella. Richi tak ingin menyahut. Dia duduk lagi di sofa untuk memulai makan cemilannya.


"Kenapa bisa ada pada Erine?" Tanya Clair.


"Apalagi, pasti dia mencurinya!" Tukas Olivia geram.


~


Sementara disudut lain...


"Ada apa, sih kalian?" Axel berdiri dibelakang dua orang yang tengah memegang stik Ps tapi nampaknya tidak bermain dengan serius.


"AARGH!" Daren membanting Stik Ps, membuat ketiga temannya kaget.


"Kenapa? Hei! Kau mengagetkanku!" pekik Isac.


"Paling juga Olivia. Itu juga, paling karena Richi." Sahut Axel.


"Bagus juga kita jomblo, Xel. Lebih bahagia dari mereka." Tukas Isac lalu cekikikan dengan Axel.


Ponsel Hugo bergetar. Dia merogoh sakunya.


"Yaa. Ada apa.." Tanya Hugo dengan lemas.


'Hugo, Erine tertembak!! Apa kau bisa kesini segera??' Pekik orang yang diseberang dengan suara melengking yang panik, 'Tolonglah akuu, Hugoo.'


Sambung jam 00 ya.


Eh Btw kan, Pen. Kalian udah kasih rate cerita ini belom sih😭

__ADS_1


__ADS_2