
Hugo melihat Richi berhenti dan keluar lapangan basket ketika Hugo ikut bermain bersama teman-teman Richi. Kejadian ini sama seperti awal dirinya ingin mendekati Richi. Dia menghindar.
Jam pelajaran sekolah berlangsung. Hugo keluar kelas tanpa alasan jelas. Beberapa kali dia lewat di depan kelas Richi. Sesekali matanya melihat ke tempat Richi duduk. Sudut paling belakang.
Dia merasa ada yang kurang, hingga dia harus melakukan sesuatu. Dia lewat dari kelas Richi, melihat gadis itu lagi. Merasa tidak puas, dia kembali lagi.
Hugo yang dari tadi mondar-mandir di depan kelas, membuatnya mendapat perhatian dari beberapa siswi di kelas Richi.
"Lihat, Hugo lewat lagi" Bisik seorang siswi pada teman di belakangnya sambil cekikan. Pemandangan indah ada di depan mereka.
Greta merasa aneh sebab Hugo terus melihat ke arah Richi. Dia menengok ke belakang, tempat Richi duduk. Gadis itu sedang menoleh menghadap jendela yang terbuka. Hal yang selalu gadis itu lakukan setiap jam pelajaran. Anehnya, walau ditegur dan ditanya Guru, dia hampir selalu bisa menjawabnya.
Hugo lewat lagi. Dia mendecak karena hanya melihat punggung gadis itu yang sama sekali tidak bergerak. "Kenapa dia menghadap kesana terus, sih". Gumamnya kesal.
Tak lama, bel tanda berakhirnya kelas pun berbunyi. Seorang guru yang mengajar di kelas Richi lewat. Hugo membungkukkan badan.
Begitu juga anak-anak di kelas itu berhamburan, Hugo masih berdiri di depan jendela. Dia mendapat sapaan dari beberapa orang, hingga tawaan karena tingkah Hugo yang dari tadi sengaja mondar-mandir di depan kelas mereka.
Richi tidak bergerak. Dia masih saja menatap luar jendela dengan bertopang dagu. Seperti tidak mendengar bel usainya pelajaran hari ini.
"Hugo!" Isac melempar tas ke arahnya dan ditangkap dengan cepat.
Daren ikut berdiri dan melihat apa yang membuat Hugo melewatkan satu jam pelajaran.
Setelah tahu, Daren hanya menepuk-nepuk pundak Hugo. "Semangat" Ucap Daren sambil berjalan meninggalkannya.
"Berjuanglah, Hugo" kata Axel ikut-ikutan sambil cekikikan.
"Apa?" Hugo yang tersadar sedang di ledeki, mengikuti temannya dengan matanya tetap melihat ke arah Richi yang sama sekali belum merubah posisi.
"Tidak bisa kupercaya, kau akhirnya jatuh cinta pada Nona Darrel". Ujar Isac sambil menuruni anak tangga. Mereka cekikan. Tingkah aneh Hugo akhir-akhir ini, terjawab dengan jelas.
"Siapa yang jatuh cinta? Aku hanya penasaran. Apakah dia sudah baikan? Kalian tahu kan, tangannya terluka karena aku". Jelasnya pada teman-temannya yang mengiranya jatuh cinta. tetapi mereka hanya tertawa kecil.
"Tanya saja Daren, dia kan, selalu tahu tentang apapun." Isac mencoba memberi solusi pada Hugo yang penasaran dengan Richi.
"Untuk apa? Aku sama sekali tidak penasaran". Ucapnya lalu meletakkan tas di atas bangku pinggir lapangan basket.
"Aku sudah coba. Tetapi, keluarganya sama sekali tidak bisa di akses". Sambung Daren sambil membuka seragamnya hingga memperlihatkan lekukan keras di bahunya. Dia memakai baju basket sebagai baju dalamnya.
__ADS_1
"Kenapa begitu? Setahuku dia punya kakak laki-laki." Jawab Axel sambil men-dribble bola.
"Benarkah? Sama sekali tidak ada info apapun?" Hugo mengerutkan alis. Dia memang belum menyelidiki apapun karena sibuk dengan perasaannya sendiri.
"Ya. Biasanya yang datanya tidak bisa di akses seperti itu adalah bagian dari negarawan". Daren menenggak minumannya.
Hugo mengerutkan alisnya. "Negarawan? Kau tidak salah? Rumah yang kau kirimkan alamatnya padaku, bukankah dia anak pembantu disana?"
Bffttt! Daren menyemburkan minuman yang hampir ia telan. "Kau gila, ya? Memangnya kau melihatnya seperti pembantu?"
"Wah. Hugo, apa kau tidak tahu keluarganya punya banyak cabang usaha?" Sambung Isac yang tak habis pikir. Bisa-bisanya Hugo mengira Richi anak pembantu.
Hugo menegang. Bagaimana mungkin dia asal bicara pada Richi waktu itu? Tapi, kalau memang Hugo melakukan kesalahan, kenapa gadis itu tidak marah?
"Hahaha pembantu katamu? Dasar gila!" Axel menggelengkan kepala. "Kau tahu Hugo, Ayahku mengirimkan hadiah untuk Richi waktu itu. Hadiahnya bahkan harus diperiksa berulang kali saat di pintu gerbang untuk meyakinkan bahwa barang itu aman."
Hugo terdiam. Dia benar-benar sudah gila. Jika benar gadis itu bukan orang sembarangan, tidak heran dia mengetahui kelompok-kelompok rahasia.
"Aku penasaran, bagaimana kau kemarin menjemputnya? Padahal aku sempat meragukanmu. Tapi kelihatannya, kau bisa masuk dengan mudah, ya?" Ucap Daren sambil memulai peregangan.
Hugo tidak menjawab, karena dia bertemu Richi di depan gerbang dan masuk dengan mudah. Pantas saja rumah itu begitu besar. Penampilan gadis itu kemarin, kalau dia anak orang kaya, kenapa dia seperti itu? Hugo tidak bisa berpikir.
Mereka bermain basket hingga sore hari. Sesekali Hugo melirik ke atas, jejeran kelas di lantai dua. Gadis itu terlihat belum juga keluar dari sana hingga mereka usai bermain.
Hugo tidak menjawab. Dia sedikit khawatir karena sudah beberapa jam, Richi tidak turun.
Dia hendak melihat Richi, namun gadis itu tampak keluar kelas sambil menyandang tas. Wajahnya terlihat lesu. Entah apa yang membuat raut gadis itu seperti kesal dengan sesuatu. Lengan bajunya digulung ke atas hingga memperlihatkan sedikit bahunya. Juga ujung baju yang sudah keluar dari dalam rok. Gadis itu terlihat garang seperti biasa.
Richi turun dan melangkah saja tanpa memperdulikan Hugo dan teman-temannya yang juga akan berjalan keluar.
Richi berjalan gontai di pinggir jalan. Sepertinya dia tidak dijemput. Entah apa yang membuatnya mau melangkah jauh sendirian. Sepertinya suasana hatinya sangat buruk. Hugo yang memperhatikan dari belakang, berniat mengikutinya diam-diam.
"Axel" Hugo mencampakkan kunci mobil padanya lalu melangkah mengikuti Richi.
Tiba-tiba, mobil besar yang melaju kencang mencekit rem tepat di depan Richi. Dua orang pria dengan tampilan hitam mendekap dan menggendong Richi yang memberontak ke melalui belakang mobil.
Hugo yang melihat itu berlari mengejar dan berteriak pada teman-temannya. "Richi di culik. Cepat keluarkan mobil!"
Mendengar teriakan Hugo, yang lain terburu-buru masuk mobil dan mengejar ke arah Hugo berlari.
__ADS_1
Lari Hugo menyeimbangkan mobil yang jalannya tidak stabil. Oleng ke kiri dan kanan. Entah mengapa, tetapi membuat Hugo bisa mengejar mobil itu.
"Richi! Bertahanlah!" Teriak Hugo ke arah mobil di depannya.
"Hugo! Naikk!" Teriak Isac yang mensejajari mobil dengan lari Hugo.
Hugo malah menghentikan kejarannya. Menatap heran ke arah mobil di depannya yang tiba-tiba berhenti. Daren dan yang lainnya bergerak keluar dari mobil mereka.
Pintu belakang mobil itu terbuka. Mata Hugo terbelalak melihat Richi keluar dan berdiri dengan baju yang bebercak darah di bagian depan dan ujung Roknya. Richi tertegun disana. Melihat Hugo dan teman-temannya mencoba menyusulnya. Lalu dia menatap Hugo dengan tatapan sayu.
Bibir bawahnya sedikit mengalirkan darah hingga dagu dan sudut matanya memerah seperti bekas hantaman. Dia menghajar lima orang di dalam mobil itu dan mengunci leher pengemudi hingga semua tidak bergerak.
Mata Axel dan yang lain tidak berkedip. Mereka mematung dan terkejut dengan apa yang ada di hadapan mereka. Richi menghadapi semua penjahat sendirian. Entah bagaimana dia melakukannya, yang pasti dia melawan dengan tangan kosong.
Richi menyandangkan tasnya saat melihat Hugo berlari kecil mendekatinya. Dia sangat malas menghadapi Hugo yang menjadi penyebab dia akan di culik.
Hugo menarik ujung lengan baju Richi. Gadis itu berhenti dan menoleh ke belakang. Hugo melihat ke dalam mobil. Orang-orang di dalam benar-benar dihabisi tanpa sisa. Sepertinya, suasana hati yang buruk di limpahkan Richi ke para penjahat itu.
"Wajahmu, biar kubantu obati". Ucapnya sambil menatap mata gadis itu dengan raut khawatir.
Richi tidak berkedip, melihat Hugo dengan tatapan datarnya.
"Kau takkan bisa pulang dengan wajah seperti itu".
Kata-kata itu berhasil membuat Richi mengikutinya ke ruangan khusus anggota Hugo di sekolah.
Dia meminta Daren dan yang lain membereskan orang-orang di mobil itu tanpa jejak dan menghapus rekaman Cctv yang menangkap adegan mereka.
Hugo membersihkan luka di bibir Richi yang duduk di kursi besar. Gadis itu tampak diam saja. Seperti melamun memikirkan sesuatu yang tidak bisa ditebak.
Hugo mengobatinya dengan lembut. Richi tidak juga mengaduh padahal Hugo memberikan obat yang agak perih di luka terbuka.
"Kau baik-baik saja?" Suara Hugo membuat mata Richi menunduk, menatap Hugo yang duduk di bawahnya.
Richi tidak menjawab. Dia sempat mendengar Hugo mengejar dan memanggil namanya saat di mobil penjahat tadi. Lelaki di depannya, hendak menolongnya.
Mata Richi menatap lekat mata Hugo yang tidak berkedip. "Jadi, kau pemimpin Stripe?"
Hugo menunduk. Dia tahu, para penjahat yang mencoba menculik Richi adalah kelompok Stripe.
__ADS_1
"Benar. Aku pemimpinnya".
To Be Continued...