
Richi keluar dari hotel bersamaan dengan Hugo. Cuaca panas membuatnya mengibaskan tangan sambil berjalan. Lalu tak sengaja ekor matanya menangkap seseorang yang berjalan namun terus menatapnya.
Saat ia melihat, orang itu mengalihkan pandangannya.
"Ada apa?" Hugo sudah bersiap membuka pintu mobilnya sementara Richi masih berdiri mematung dengan bola mata yang melirik ke kanannya.
Richi berjalan perlahan ke arah kanan, matanya menangkap bayangan seseorang dengan kaos hitam berdiri di belakang sebuah mobil yang terparkir di belakang mobil Hugo.
Richi memberi kode pada Hugo dengan meletakkan jari telunjuknya di bibir saat Hugo ingin bergerak mengikutinya.
Tiba-tiba dari arah belakang mobil seseorang berusaha menyerang Richi, namun dengan cepat gadis itu menghajar dan membanting tubuh orang itu ke kap mobil yang terparkir hingga menimbulkan alarm mobil yang memekik.
Lalu, Banyak orang yang tampak keluar dari persembunyiannya saat melihat teman mereka terjatuh disana.
Richi menatap sekelilingnya. "Hugo, ayo jalan.. cepat" Richi langsung masuk ke mobil begitu juga Hugo yang langsung menancap gas mobilnya.
Mobil-mobil hitam yang Richi kenali sebagai mobil yang pernah menculiknya dulu, mengikuti mereka dibelakang, berusaha mengejar.
"Aku rasa mereka adalah Blackstone" ucap Hugo yang terus menatap ke depan sesekali melirik spion depan dan sampingnya.
"Siapa itu?"
"Orang-orang yang baru kau habisi di Skywheel. Aku tahu sebab membaca tulisan di buku-buku mereka."
Richi menegang, melihat kondisinya sekarang, rasanya tak mungkin dia bisa menghabisi mereka yang terlihat ada sekitar 12-13 mobil.
"Aku rasa mereka berjumlah 100 kurang lebih."
Mendengar ucapan Hugo, Richi mengeluarkan ponselnya, menimbang sebentar apakah ia perlu menelpon kakaknya.
BRUK!
"Aargh!" Kepala Richi terantuk dashboard saat Hugo mendadak memberi rem. Ternyata Hugo menabrak mobil di depan yang berusaha menghadang jalannya.
"Sialan! Mobil hancur!!" Pekik orang diluar sana saat samping mobil mereka remuk terhantam mobil Hugo.
Melihat orang-orang yang keluar dari mobil-mobil dengan senjata tajam, membuat Richi bergidik.
Dia menekan alarm dan mengirim ke Simon. Dia berharap Simon segera sampai.
"Chi, jangan keluar." Hugo membuka pintunya.
"Hei, jangan. Mereka banyak sekali, aku sendiri tidak yakin."
Orang-orang berkaos hitam itu mulai mengelilingi mobil Hugo.
Salah seorang dari mereka memukul kaca mobil hingga pecah.
"Keluar!!" Teriaknya lalu memecahkan kaca spion dekat Hugo.
Richi mengeluarkan pisau dari saku roknya.
"Darrel, segera keluar dan ikut kami atau kalian mati!" Teriak orang itu lagi.
"Apa? Mereka mengetahui dirimu?" Hugo menatap Richi yang terbelalak.
"Sialan dia!" Gumam Richi mengingat wajah orang yang ia hajar di mobil waktu itu.
"Cepat keluar, kami memerlukan dirimu hidup-hidup."
"Kau di dalam dulu, Hugo." Richi keluar dengan pisau di tangannya.
"Hah, lama sekali. Kau takkan menang, pergi saja dengan tenang bersama kami. Kami hanya ingin menyerahkanmu pada tuan besar kami hahaa"
"Jangan banyak cakap kau!" Pekik temannya yang lain.
Cuaca terik membuat Richi menahan matanya agar tetap memandang tajam ke arah mereka. 'Menyerahkanku pada tuan besar? Siapa?' Batin Richi bertanya-tanya
"Ayo ikut!" Sergah lelaki di dekat Richi sembari menggenggam keras lengannya.
Richi memutar tangannya dan menendang pria itu hingga tersungkur. Melihat itu, Hugo langsung membuka dengan keras pintu mobil hingga orang di sebelahnya mundur beberapa langkah, dengan cepat Hugo keluar dan menghabisi orang-orang di dekatnya.
__ADS_1
Suara decitan mobil terdengar lalu menabrak orang-orang disana.
Simon dan Jonathan keluar dan langsung dengan cepat menghabisi orang-orang disana.
Richi sudah tak menghiraukan kedatangan dua orang itu, dia terus menghajar dan menancapkan pisau itu di titik vital. Melihat banyaknya orang-orang itu membuatnya harus dengan cepat menghabisi mereka.
"Arrghh!" Richi mengerang saat pria di belakangnya menendang punggungnya.
BRAK! Pria itu terjerembab saat sebuah motor besar menabrak tubuhnya.
Ricky turun dan langsung menghajar satu-satu orang di dekatnya, menghabisinya tanpa ampun.
Dengan hanya satu pukulan, orang-orang itu sudah terjatuh dengan darah di hidung mereka.
"Kau di belakangku!" Ricky menarik tangan Richi ke belakangnya, membuat Richi menghela napas panjang. Dia benar-benar letih, sejak di tempat Blackstone sudah menguras tenaganya.
"Richi, Awas!" Hugo langsung memeluk Richi saat seseorang melayangkan sebuah balok ke arah belakang Richi, hingga mengenai punggung Hugo.
Melihat di belakangnya, Ricky tak banyak kata langsung menghajar orang yang membawa balok kayu dengan beberapa hantaman, membuat kepala pria itu penuh darah.
"Hugo, kau tidak apa-apa?" Richi terlihat khawatir, Hugo hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.
Ricky mengernyitkan alisnya melihat Hugo yang memeluk adiknya barusan. Dia ingin sekali menghajar Hugo, tapi melihat bahwa dia melindungi adiknya, dia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Katakan padaku, apa yang terjadi!"
Richi menatap kakaknya, melihat orang-orang disekeliling mereka sudah berjatuhan.
Richi tak menjawab, terasa berat jika harus diceritakan dari awal.
"Simon, Bawa orang ini!" Ricky memerintah membawa seseorang sebagai informan mereka.
Ricky menatap tajam ke arah Hugo. "Kau ikut aku!" Ucapnya pada Richi lalu menarik tangan adiknya untuk ikut ke motornya.
"Kak, sebentar." Richi mendekat ke arah Hugo yang wajahnya terdapat memar.
"Hugo, maaf aku tidak bisa ikut denganmu. Terima kasih banyak. Kau hati-hati dijalan, nanti aku akan menghubungimu." Ucapnya, dan mendapat anggukan dari Hugo yang lalu menatap ke arah Ricky.
"Dia kakakku." Ucapnya seperti menyadari tatapan Hugo pada Ricky.
"Apa dia Keen?" Gumam Hugo yang terus melihat ke arah punggung Richi yang perlahan menghilang.
Hugo beralih pada mobilnya yang terdapat bercak darah juga pecah di beberapa bagian. "Hah.. bagaimana aku menjelaskannya!!" Pekiknya memikirkan cara menjelaskan pada ayahnya. Ia lalu menendang pria yang hampir berdiri di dekat pintu mobilnya.
"Minggir kau!" Sepaknya hingga pria itu terkapar lagi.
...🐔...
Dua orang pria yang wajahnya babak belur di ikat di kursi. Kedua tangan mereka di ikat di tangan kursi sementara Jonathan duduk di kursi depan mereka.
"Dari pada main otot, mending kita bicara baik-baik." Ucapnya lalu menyalakan rokok, sementara Simon hanya menggelengkan kepala.
"Hei, yang serius!" Simon yang berdiri di belakang kedua tahanan itu menatap kesal pada Jonathan, salah satu anggota Elang yang sulit untuk serius dalam berbagai hal.
"Simon, keluar saja sana!" Tangannya mengibas-ngibas pada Simon.
Dengan kesal Simon bergerak, berdiri di sebelah Ricky yang duduk berpangku kaki. Sementara Richi duduk di atas pegangan sofa yang di duduki Ricky.
"Jelaskan, cepat." Jonathan bersandar di kursinya, menyesap rokoknya namun tatapannya tak lepas dari kedua orang itu.
"Ayo, siapa duluan yang mau menjelaskan padaku. Dari pada tangan kalian dipotong. Iya, kan?" Seru Jonathan lagi, dia membuang asap secara perlahan dari mulutnya.
Dua orang itu tak ada yang bersuara, membuat Jonathan menghela napasnya. "Ayolah, aku sudah lelah berkelahi. Tuntaskan saja sekarang." Jontahan menatap satu orang. "Kau saja. Cepat jelaskan."
Namun orang itu tak kunjung bicara.
BRUK!
Jonathan menendang keras wajah lelaki itu hingga terjungkal kebelakang. Terdengar ringisan dari mulutnya.
"Nah kan, jadi main otot. Ayo sekarang giliranmu." Ucapnya pada lelaki satu lagi.
__ADS_1
"Ka-kami anggota Blackstone." Ucapnya tergagap.
"Apa? Siapa itu?"
"Blackstone kelompok kecil yang mengambil hak orang-orang yang berdagang di Skywheel. Mereka ini preman, lebih tepatnya." Jelas Simon pada Jonathan.
"Oalah. Preman rupanya. Gaya-gayaan pakai nama Blackstone. Kebagusan!" Ejeknya pada lelaki yang tertunduk itu.
"Lalu, ada apa kau menyerang gadis itu?"
Richi mengerutkan alis saat dirinya disebut sebagai gadis itu oleh Jonathan.
"Ka-kami disuruh oleh bos ka-kami. Dia ingin me-menangkap gadis yang m-masuk ke dalam markas kami dan.. dan menghabisi anggota lain."
Seluruh mata tertuju pada Richi yang membeku. Bisa-bisanya dia malah cerita yang bagian itu! Batin Richi.
Ricky berdiri dari tempatnya, berjalan menuju lelaki itu.
"Jelaskan secara rinci, dari awal hingga akhir, atau kupenggal kepalamu!" Suara berat Ricky terdengar menembus telinga lelaki itu yang badannya mulai bergetar.
"A-ampun.. sa-saya tidak ada da-lam rencana.. yang sa-saya tahu.. Gary memerintahkan sebagaian untuk.. untuk menangkap gadis itu karena denda.. ya.. dendam.." suara lelaki itu tercekat, dia menelan ludah beberapa kali karena ketakutannya.
"Siapa Gary?" Tanya Jonathan.
"Di-dia anak kepala dewan.. ka-katanya gadis itu pernah menghajarnya hingga giginya putus."
"Ppfftt" Jonathan menahan tawanya. Dia ingat saat Ricky bercerita kalau Richi menghajar salah satu murid Apollo hingga giginya rontok.
"La-lalu.. saat dia melihat gadis itu masuk skywheel dengan pacarnya, Gary menyusun rencana.."
Lagi, orang-orang di ruangan itu melihat ke arah Richi yang menahan napasnya. Untuk apa lelaki sialan itu sampai mengatakan pacar segalaaa.. batin Richi.
"Ga-gary menyuruh anggota menculiknya dan .. dan.."
"Dan apa!" Bentak Jonathan yang hanya iseng mengganggu lelaki itu.
"Memperkosanya ramai-ramai."
"Apa.." Jonathan ternganga mendengar jawaban Pria itu.
"Brengsek!!" Ricky langsung menghajar lelaki itu hingga wajahnya berdarah dan dia terkapar di atas kursi yang masih menempel di tubuhnya.
Jonathan mengangkat lelaki yang pertama, dia mendudukkannya tepat di depan Ricky. "Habis la kau." Bisiknya pada lelaki yang sempat kena tunjangannya itu.
Wajah Ricky memerah, dia menatap geram pada lelaki itu.
"Aa-mpun.. tu-tuan Keen.. anggota ka-kami berhasil di.. dilumpuhkan Nona Darrel.." tukasnya terbata-bata. Terlihat rahangnya yang gemetar tak berani menatap ke arah Ricky.
"Ka-kami.. ada video re-rekamannya.."
"Apa? Bukannya sudah dihapus?" Tanya Richi tiba-tiba berdiri.
"Asal tu-tuan mau me-mengampuni sa-saya.. saya a-akan cerita.."
"Ya ya ya, katakan saja." Jawab Jonathan asal.
"Bos kami.. me-mengirim video itu.. ke tuan be-besar.. ka-katanya tu-tuan besar mengincar Darrel dari Valiant."
Richi membelalakkan matanya, tidak disangka lelaki sialan itu punya rencana pada dirinya.
"Siapa tuan besar? Katakan dengan jelas!" Pekik Simon dari belakang.
"Sa,saya juga tidak tahu.. ka-kami hanya menjalankan perintah.."
BRUK!
Sekali hantaman, pria itu tersungkur dan jatuh pingsan. Kini giliran Richi yang ditatap begitu tajam oleh Ricky.
"Ikut aku!" Ucapnya lalu keluar dari ruangannya, diikuti oleh Richi yang mulai merasa takut.
"Habislah kau.." goda Jonathan yang melihat gurat kekhawatiran dari wajah Richi.
__ADS_1
"Ck! Berisik!" Ucap Richi lalu beranjak dari tempatnya, lalu menatap tajam pada Simon, memberi tanda dengan tangannya yang seperti memotong leher pada pria itu. Padahal dia hanya mengirim alarm pada Simon, bisa-bisanya orang gila itu malah mengirimnya pada kakaknya yang lebih gila.
Melihat itu, Simon hanya menahan tawanya.