
Daren duduk di belakang kemudi, memperhatikan luarnya sesekali menatap jam di tangan kirinya.
Setelah mendapati orang yang ia tunggu datang dengan sepedanya menggunakan seragam Meteroid, Daren keluar dari mobilnya dan mendekat.
Olivia tersentak saat seseorang menarik lengannya, tangannya bersiap untuk memberikan pukulan. Namun tertahan, karena wajah datar Daren tertangkap di matanya.
Olivia langsung menurunkan tangannya, "maafkan saya, tuan." Ucapnya sembari menunduk sekaligus mengutuk lelaki itu, kenapa pula menarik tangan dan mengejutkannya.
"Ikut aku."
"Maaf tuan, saya mau bekerja sekarang." Tolaknya secara halus karena dia pun enggan ikut dengan lelaki itu.
"Aku sudah mendapatkan izin dari manager cafemu."
"Apa?"
"Cepat. Jangan buat aku menunggu!" Tukasnya lalu berjalan menuju mobilnya, diikuti Olivia yang masih bingung, mengingat bagaimana caranya mendapatkan izin semudah itu? Tetapi setelah sadar siapa laki-laki yang berdiri depan mobil itu membuatnya menggeleng kepala.
Saat membuka pintu mobil, dia malah disembur Daren.
"Siapa yang menyuruhmu masuk?"
Olivia menutup lagi pintu mobil, dia memasang wajah malasnya.
"Kau yang menyetir." Ucap Daren lalu masuk ke kursi belakang.
"Apa? Tuan.." sepertinya Daren tak mau mendengar penjelasan apapun.
"Memangnya aku supirnya, apa! Sial!" Makinya lalu membuka pintu mobil dan masuk.
"Kau tadi memakiku, ya?" Tanya Daren sambil menatap ponselnya.
"Tidak, tuan. Saya akan menjalankan mobilnya." Elak Olivia lalu menjalankan mobilnya dengan santai.
"Kita kemana, tuan?"
"Ke rumahmu."
"Apa? Maaf tuan tapi.."
"Tidak ada bantahan" Tukas Daren lalu memasukkan ponselnya, melihat wajah cemberut Olivia dari spion depan membuatnya menahan tawa.
Ponsel Daren bergetar, dia melihat nama Camilla tertera di layar ponselnya.
"Dareeeen!" Pekiknya dari seberang sana.
"Ya, ada apa?"
"Apa? Bisa-bisanya kau berkata begitu padaku! Kau bahkan tidak menghubungiku lagi!"
Daren menyunggingkan senyum, Camilla akhirnya mencari dirinya.
"Bukannya kau yang tidak mau kuganggu lagi."
Olivia melirik dari spion depannya, melihat wajah Daren yang tersenyum cerah membuatnya kesal. Bisa-bisanya lelaki itu membuatnya bolos bekerja, lalu menjadikannya supir dan dia asyik mengobrol dengan pacarnya!
"Aku tidak pernah berkata begitu, tahu!" Kata Camilla lalu diselingi tawa renyah dari Daren.
"Jadi, kau kecarian, hm? Tapi kalau kau menghubungiku karena orang lain, aku akan menutupnya."
"Jangan! Bukan karena Hugo, kok! Bukan.." pekiknya lagi.
"Aku lagi sedih, Daren.. " Camilla lalu bercerita kesedihannya pada Daren dan lelaki itu benar-benar mendengarkannya dengan seksama.
Olivia melirik lagi dari spion dan mendapati Daren juga melihatnya dari kaca itu, membuat Olivia langsung mengalihkan pandangan lalu sedikit membungkukkan badan.
__ADS_1
"Ya, aku mengerti.." Sahut Daren lagi pada orang di telepon lalu menutupnya.
"Kau menguping?"
Olivia tersentak, dia langsung menegakkan tubuhnya dan fokus ke depan jalan.
"Tidak, tuan." Pertanyaan gila, jelas-jelas suaranya kuat, sudah pasti dengar, kan! Batinnya.
"Kau kenapa bisa bersekolah di situ? Sekolah sampah seperti itu." Ucap Daren ketus.
"Apa?" Olivia menaikkan suaranya, tak terima kalau sekolahnya dibilang sekolah sampah. Ya, memang Meteroid terkenal dengan murid-muridnya yang brandal, tapi bukan berarti itu sekolah sampah.
"Kenapa? Kau tidak terima sekolahmu kubilang sekolah sampah?"
Olivia mencengkram erat kemudinya, ingin sekali dia membanting setir supaya tuan muda dibelakangnya celaka. Tapi dia mengurungkan niatnya sebab dia juga pasti akan celaka.
Olivia memilih diam saja, meladeni Daren sama seperti meladeni orang gila. Begitu pikirnya.
Tak lama, mobil berhenti tepat di halaman rumah Olivia. Rumah sederhana dengan banyak tanaman dan bunga disana.
Daren turun, matanya menyapu seluruh ruangan dan terkesan dengan halaman luas dengan ayunan di depannya.
"Turunkan barang-barang dibelakang!" Titahnya pada Olivia lalu berjalan menuju rumah itu.
"Tirinkin biring dibiliking!" ejek Olivia sambil berjalan ke arah bagasi mobil, lalu membukanya.
Mata Olivia membulat, melihat banyak sekali makanan, bahan pokok, mainan, juga cemilan yang nampak mahal.
Dia melirik Daren, lelaki itu berdiri di depan pintu rumahnya.
"Wah, dia benar-benar tuan muda Daren, seperti yang Bunda ceritakan." Gumamnya lalu mulai mengangkati barang-barang itu.
Seorang bocah laki-laki membuka pintu dengan membawa pedang-pedangan.
"Siapa kau, orang asing!" Jeritnya dengan mengacungkan pedangnya.
"Eh, tidak boleh begitu, turunkan senjatamu. Ini tamu." Ucap Olivia lalu menurunkan barang-barang dari tangannya.
"Wah, apa ini, kak?" Seru bocah itu saat melihat robot dan mobilan dari tangan kakaknya.
"Itu untukmu. Ambillah." Ucap Daren dengan senyum tipis.
"Kak, apa ini dari orang asing itu?" Tanya anak itu dengan melirik Daren dengan penuh curiga.
"Iya, itu tuan muda Daren, beri salam." Titah Olivia namun anak itu tak memberi salam malah memperhatikan Daren dari ujung kaki hingga kepala.
"Bukankah kakak bilang, tuan muda Daren itu jelek, pendek, dan ingus.."
Mulut bocah itu langsung dibungkam Olivia dan wajahnya mulai memucat.
"Ah.. dia pasti terlalu sering membaca dongeng pangeran kodok, hehe".
Daren menyipitkan matanya, apa yang anak kecil itu ucapkan pasti yang Olivia ceritakan padanya.
"Sebentar, saya akan memanggil Bunda." Ucap Olivia lalu masuk ke dalam.
"Apa benar kakakmu itu bilang begitu tentangku?" Tanya Daren setengah berbisik dan bocah itu mengangguk.
"Katanya tuan muda Daren itu jelek, pendek, dekil, ingusan, juga ada tompel besar di badannya. Apakah kakak punya tompel besar?" Tanya bocah itu dengan polos, namun belum menjawab, Bunda Olivia keluar dari rumahnya.
"Astaga, tuan muda.." Elisa menutup mulutnya dengan kedua tangannya, merasa terkejut juga senang karena anak lelaki yang ia rawat dari bayi hingga usia 12 tahun mau datang menemuinya.
"Bibi, apakah sehat?" Daren mendekat dan mencium tangan Elisa dan dengan cepat wanita itu menariknya.
"Maaf, tuan muda tidak boleh seperti itu.." Ucap Elisa yang sangat tahu didikan keluarga Daren seperti apa.
__ADS_1
Daren masih keturunan bangsawan negara, dia sangat dijaga dan dididik seperti anak raja pada umumnya.
"Bibi tidak bekerja lagi, tentu tidak masalah mengingat ini juga bukan di rumah. Apa boleh aku memeluk Bibi?"
Elisa memahan tangisnya, lalu tangannya terbuka menyambut Daren yang dengan cepat memeluk Elisa.
"Anakku.. kau sudah seperti anakku sendiri.." Elisa mulai menangis, dia mengelus lembut punggung Daren yang kini sudah jauh lebih tinggi darinya.
Mata Daren berkaca, Olivia bisa melihatnya. Namun laki-laki itu dengan cepat menghapusnya sebelum jatuh.
"Ayo, masuk, masuk.." Elisa menyuruh Daren masuk, lelaki itu mengikuti.
Olivia hanya diam ditempatnya, mengingat lagi cerita dulu, dimana Bundanya lebih sering bersama Daren ketimbang dirinya yang diurus neneknya.
Namun karena kondisi ekonomi, perlahan dia mulai mengerti.
Dia ingat, pernah bertemu Daren satu kali, saat usianya 6 tahun. Waktu itu dirinya dibawa Bunda ikut ke rumah yang besar layaknya istana. Di halaman luas itu, Daren tengah latihan pedang.
Waktu itu, Elisa menyuruh Olivia untuk duduk di depan halaman dan jangan masuk, sebab dirinya hanya mengambil sesuatu yang tertinggal.
Olivia kecil tertarik melihat bocah itu bermain pedang sendirian, sampai ia menghampirinya.
"Siapa kau?" Tanya Daren kecil yang tengah memegang pedang dengan kedua tangannya.
"Aku Olivia. Kalau kau?" Olivia mengulurkan tangannya, namun Daren malah melangkah mundur sambil memasukkan pedangnya kedalam sarung pedang.
"Kenapa kau bisa masuk kesini?" Tanya Daren lagi.
"Karena Bundaku. Oh ya, siapa namamu?" Tanya Olivia lagi dengan maju selangkah, dia masih menggantungkan tangannya yang belum disambut oleh Daren.
"Jangan mendekat, kau orang asing!" Pekik Daren dan mulai mundur selangkah lagi.
"Maka dari itu kita kenalan, supaya tidak jadi orang asing lagi.." Ucap Olivia yang tersenyum cerah.
"Aku tidak mau. Kau perempuan!"
"Memangnya kenapa kalau aku perempuan??" Pekik Olivia mulai jengkel.
"Perempuan itu merepotkan dan kau merepotkan!" Bentak Daren.
"Apa kau bilang? Sini kau!" Olivia hendak menarik baju Daren, namun bocah itu dengan cepat menangkis tangan Olivia hingga membuat gadis kecil itu terkejut.
Olivia menangis, karena tangannya yang ditangkis Daren terasa sakit.
"Kau jahat.." kata Olivia di tengah tangisnya. "Bundaa.." jerit Olivia.
Lalu Elisa dan beberapa pelayan datang dengan berlari, menghampiri putrinya. "Apa yang terjadi?"
"Dia.. dia jahat bunda.." rengek Olivia lalu Elisa memeluknya.
"Bukan jahat, sayang. Ini tuan muda Daren. Ayo, beri salam."
"Tidak mau, dia jahat!" Pekik Olivia.
"Bibi, kenapa ada anak perempuan disini!" Bentak Daren dengan wajah kesalnya.
"Maaf tuan muda, Bibi akan bawa dia pulang. Tuan muda, maafkan Olivia, ya." Ucap Elisa dengan nada lembut.
"Tuan muda, ayo kita masuk.." bujuk pelayan itu lalu membawa Daren masuk dengan wajahnya yang masih kesal pada Olivia.
Olivia terkekeh mengingat kejadian dulu. "Tuan muda memang bodoh dari kecil, sih." Gumamnya lalu melangkah masuk. Dia terlonjak kaget ternyata Daren berdiri di depan pintu entah sejak kapan.
"Siapa yang bodoh? Kau bilang aku bodoh?"
Mata Olivia membulat. "Mati aku.." bisiknya pada diri sendiri.
__ADS_1
TBC