Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Ke Bioskop


__ADS_3

"Aku akan menjemputmu malam nanti." Ucap Harry sembari berjalan menuju mobil mereka.


"Baiklah. Janji hanya sebentar, ya." Richi berhenti melangkah saat menyadari Harry tak bergeming, diam menatap ke arah seberang jalan.


Richi mengikuti arah pandangan Harry dan mendapati Shera duduk di taman seberang jalan bersama...


Richi menyipitkan matanya, melihat sosok yang ia kenal dari belakang. "Hugo.." gumamnya pelan.


Richi melihat reaksi Harry, walau tidak bisa melihat wajahnya, namun tangan lelaki itu mengepal.


"Kau lihat apa, Harry?" Tanya Richi seolah tidak tahu apa yang membuat perubahan lelaki itu.


"Tidak, ayo masuk." Ucapnya namun dengan wajah yang masih mengarah kesana.


Richi tidak tahu, apakah Harry kesal karena cemburu saat Shera bersama laki-laki lain, atau kesal karena Hugo yang ada disana.


"Siapa yang bersama Shera tadi?" Tanya Richi setelah mobil berjalan meninggalkan restoran.


"Kau melihatnya?"


Richi mengangguk.


"Entahlah. Biarkan saja dia mau bersama siapapun." Jawabnya tanpa menoleh pada Richi namun gurat kekesalan masih tampak di wajahnya.


"Shera perempuan yang baik, ya. Sudah berapa lama dia bersamamu? Sepertinya dia loyal."


"Begitulah." Jawabnya dengan enggan karena suasana hatinya yang mendadak buruk.


"Apa kau cemburu?"


Harry menoleh pada Richi dengan wajah tak suka. "Sama sekali tidak. Dia hanya asistenku, bukan kekasihku. Jika kau yang begitu, pasti aku akan cemburu."


Richi menahan tawanya. Rasanya, tidak ada yang bisa berbohong soal perasaan.


...🐥...


Richi berdiri di depan jajaran novel-novel yang tersusun rapi di dalam rak. Dia meminta Harry menurunkannya di toko buku untuk membeli beberapa novel.


Pikirannya tidak terfokus pada buku di depannya. Dia hanya memikirkan Hugo sejak tadi.


Richi mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan pada Hugo.


'Hugo, kau sibuk?'


Baru beberapa detik mengirim pesan itu, ponsel Richi langsung bergetar. Hugo meneleponnya.


"Chi, maafkan aku.."


Suara Hugo terdengar memelas.


"Aku sudah memikirkan apa kesalahanku, tapi aku tidak tahu. Maaf kalau aku membuatmu kesal, tapi beritahu aku supaya aku meminta maaf padamu."


Richi menunduk, perlakuannya memang tidak adil pada Hugo. Namun apa yang diucapkan kakaknya juga seperti meyakinkan hingga membuatnya menjadi enggan melihat Hugo, apalagi jika apa yang kakaknya katakan benar, dia pasti sangat menyesali perasaannya pada lelaki itu.


"Bisa temui aku sekarang?" Richi langsung keluar dari toko buku menuju lokasi yang ia sebutkan pada Hugo.


~


Hugo muncul dengan napas tersengal, titik-titik keringat muncul di dahinya. Dia duduk dengan sudah berganti seragam sekolah, memakai kaos polo hitam dan celana jeans.


"Apa sudah menunggu lama? Apa aku lama?" Tanyanya sambil mengatur napasnya.


Richi tak menjawab, dia hanya menatap Hugo dengan sendu. Lelaki di hadapannya terlihat benar-benar menyukainya. Mana mungkin dia menusuk dari belakang.

__ADS_1


"Chi, ada apa? Katakan padaku." Hugo berpindah duduk di sebelah Richi. Dia merasa tidak puas jika tidak dekat pada gadis itu.


"Hugo, apa ada yang belum kau ceritakan padaku?"


Hugo mengernyitkan alisnya. "Apa ada sesuatu? Kau tanya saja, aku pasti jawab. Kau ingin tahu apa, pasti aku akan jujur padamu."


Richi memiringkan posisi duduknya menghadap Hugo, dia mendongakkan wajahnya melihat ke wajah Hugo.


"Aku dengar kalau kau bisa merakit bom. Apa benar?"


Richi bisa melihat gurat terkejutnya Hugo dari matanya yang sedikit melebar.


Terdengar Hugo membuang napasnya secara perlahan. Lalu dia mengangguk.


"Benar. Aku bisa melakukannya."


Richi membuang wajahnya, menatap minuman di depannya dan mengaduknya secara perlahan. Ternyata apa yang kakaknya katakan benar. Lalu, apa benar dia ikut terlibat?


"Tapi aku tidak berdiri bersama mereka." Jawabnya langsung seolah tahu isi kepala Richi.


Hugo menangkupkan kedua tangannya di pipi Richi. "Dengar aku. Aku butuh kepercayaanmu. Aku bukan tidak ingin cerita, hanya saja waktunya tidak tepat. Tolong percaya saja padaku. Aku tidak mungkin membela musuh kekasihku."


Richi menatap kedua mata Hugo yang mengharapkan jawaban untuk mendukungnya saat ini. Richi hanya mengangguk lambat walau dia sendiri tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Masalah ini sangat rumit. Hubungan dua orang anak yang tidak akur lalu entah bagaimana sepertinya memang benar, Hugolah yang membuatkan bom-bom itu untuk Harry.


Tiba-tiba Hugo menarik Richi ke pelukannya, dia mengusap kepala Richi dengan lembut.


"Aku paham apa yang membuatmu bingung. Maaf, aku belum bisa banyak cerita. Tapi aku mohon, percaya padaku. Aku tidak akan mengkhianatimu. Ya?"


Richi mengangguk di dada Hugo. Dia juga tidak membalas pelukan Hugo sebab kebingungannya belum menghilang. Lalu bagaimana kelanjutannya? Dia takut Ricky menyerang Hugo diam-diam.


"Kau jangan khawatir, aku tidak akan melakukan hal buruk." Ucapnya lagi pada Richi.


"Kau bertemu Shera?" Tanya Richi sembari duduk tegak.


"Kau tahu?"


"Harry menamparnya. Shera sepertinya sudah biasa mendapat perlakuan kasar Harry. Tapi dia tidak peduli asal Harry mau bersamanya. Dia juga cemburu karena Harry terlihat hangat saat bersamamu. Dia tidak pernah melihat Harry yang seperti itu saat bersamanya." Jelas Hugo panjang lebar.


"Sepertinya Harry belum menyadari bahwa dia pun sudah bergantung pada gadis itu. Tunggu saat dia tahu siapa aku, barulah dia menyadari perasaannya pada gadis itu." Ucap Richi lalu meneguk minumannya.


"Mau nonton?" Tawar Hugo tiba-tiba.


"Aku masih pakai baju sekolah." Jawab Richi sembari mengangkat bahunya.


"Kita beli saja. Ayo.." Hugo menarik tangan Richi dan menggenggamnya menuju toko pakaian.


~


Hugo tengah membeli tiket, sementara Richi bersandar di salah satu tembok yang tidak banyak orang disana.


Dia bisa melihat Hugo yang tiba-tiba di datangi dua orang perempuan. Entah apa percakapan mereka, nampaknya perempuan itu meminta nomornya karena terlihat menyerahkan ponselnya pada Hugo. Hugo pula terlihat menunjuk Richi sebagai kekasihnya.


Menyadari itu, Richi menggelengkan kepala saat kedua perempuan itu ikut melihat ke arahnya.


"Bukan?" Samar-samar terdengar suara salah satu gadis itu.


"Sepertinya dia bukan pacarmu, kau hanya asal tunjuk, ya." Ucap gadis yang satu lagi.


Richi langsung membuang wajahnya, menyembunyikan rasa gelinya saat melihat Hugo yang mengerutkan dahinya. Sementara Richi tidak tahan ingin ketawa, rasanya senang bisa menjahili Hugo.


Dengan kesal, Hugo meninggalkan dua orang gadis itu dan berjalan menuju Richi.


Richi menutup mulutnya dengan tangan lalu tertawa lebar. Sementara Hugo langsung mengunci leher gadis itu dengan lengannya.

__ADS_1


"Apa kau bilang tadi?"


Richi memukul lengan Hugo yang mengunci lehernya sambil tertawa-tawa.


"Iya, iya, maaf.."


"Kenapa kau tidak mengakuiku, ha?"


Hugo seperti tidak peduli dengan sekitar, dia terus mendekap Richi yang belum berhenti tertawa.


"Aku bercanda, sumpah haha..lepasss!"


"Panggil aku 'sayang' baru aku melepaskanmu."


"Haha tidak mau!"


Hugo menekan lengannya.


"Aduh, aduh, kau serius mau membunuhku, ya. Haha."


"Cepat panggil aku sayang, baru akan kulepas."


"Hahaa, iya.. sayang. Sudah kan? Lepas dulu."


Hugo menahan senyum hingga membuat hidungnya kembang kempis. Baru kali ini Richi memanggil sayang, walau dengan paksaan.


"Ya sudah, Ayo, kita beli popcorn." Hugo menyeret gadis itu dengan lengannya yang masih melingkar dileher Richi.


Setelah membeli makanan, mereka duduk bersebelahan dan tampak Richi mengunyah cemilannya.


Hugo merapatkan wajahnya. "Kenapa tidak premier saja, sih?" Tanyanya pada Richi. Sebab kursi di reguler terpisah hingga menyulitkannya berinteraksi dengan Richi.


Gadis itu hanya menggelengkan kepala, padahal film belum mulai tapi matanya sudah fokus ke layar besar di depannya.


"Chi.." bisik Hugo.


"Hm.." jawabnya tanpa menoleh.


"Panggil aku sayang lagi."


"Kenapa?"


"Memangnya ada alasan untuk itu?" Wajah Hugo mulai menekuk.


"Fokuslah, Hugo. Film sudah dimulai." Bisik Richi lalu lampu di studio mulai padam.


Hugo duduk menyandar, kecewa sebab Richi tidak mau memanggilnya dengan sebutan sayang.


Hugo lalu tersenyum jahil, tadi dia memesan film yang amat romantis. Supaya kekasihnya itu tahu cara pacaran yang baik dan benar.


Beberapa menit mereka fokus, lalu saat adegan mesra mulai muncul, Hugo mengembangkan senyumnya.


Dia langsung menolehkan wajah pada Richi saat adegan ciuman terpampang nyata di layar.


"Chi.."


Hugo terbengong, dia melihat Richi tengah tertidur di kursinya.


Dia mendesah kesal, bisa-bisanya gadis itu malah tertidur di saat adegan penting.


"Chi.." bisik Hugo, namun Richi tak bergeming. Dia langsung duduk bersandar di kursinya, merasa kesal karena ternyata pacarnya tertidur.


Sementara Richi, tersenyum saat mendengar helaan napas Hugo yang sepertinya kecewa.

__ADS_1


Dia membuka mata dan melanjutkan tontonannya.


TBC


__ADS_2