Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Terasa Manis


__ADS_3

"Hah? Jadi kau mau meninggalkanku selama dua tahun??" Tanya Hugo tak percaya.


"Bukan dua tahun, Hugo. Empat tahun."


"APAAAA!!!?"


Orang-orang menoleh ke arah Hugo. Teriakannya membuat beberapa pasien disana ikut terkejut.


"Hei, kecilkan suaramu." Bisik Richi pada Hugo yang menegang.


"Chi, yang benar saja? Kau mau meninggalkanku selama itu? Satu hari saja aku belum tentu bisa!" Ungkapnya dengan leher berurat, terasa berat membayangkannya.


Richi menghela napas panjang. Dia juga jadi bingung sebab keinginannya masuk ke akademi militer pun besar.


"Apa kita menikah saja dulu? Ah, tidak bisa, ya!" Racaunya mulai gila memikirkan impian kekasihnya.


"Padahal aku ingin sekali menikah denganmu. Aku tidak mau dengan yang lain. Cuma denganmu, Chi. Kau perempuan hebat dan anggun, tidak kutemui lagi perempuan sepertimu. Aku ingin anak-anakku kelak hebat sepertimu. Aku ingin cepat-cepat melamarmu."


"Hah?" Richi melongo mendengar semua ocehan Hugo yang sudah sangat jauh. Sementara dirinya belum memikirkan apa-apa.


Ketegangan Hugo perlahan mengendur. Dia merasa tidak punya pilihan selain menunggu Richi selama empat tahun itu. Kini dia lemas, memikirkan nasibnya nanti.


"Hugo..."


Richi melihati raut Hugo yang mendadak berubah sendu.


"Hugo.."


Lelaki itu tak bergeming, dia memutar-mutar cincin yang sudah melingkar sempurna di jari manis Richi.


"Hugo, waktunya masih satu tahun lagi."


"Hm.."


"Lagipula aku belum tentu lulus tahap seleksi." Ucapnya mencoba menghibur Hugo.


Hugo malah memandangi wajah Richi yang menyengir. Rasanya ingin sekali dia menjitak kepala gadis itu. Jangankan seleksi awal, mungkin Richi bisa langsung jadi jenderal jika melihat kemampuannya yang di atas rata-rata. Bukan di atas rata-rata perempuan, tetapi laki-laki!


"Sekolahnya cuma sebentar. Kan, nanti bertemu lagi. Empat tahun itu tidak lama."


"Empat tahun tidak lama, ya?" Ulang Hugo dengan wajah yang bertekuk-tekuk.


"Jangan dipikirkan. Kita jalani saja dulu." Jawab Richi enteng dan Hugo mengangguk saja, karena dia sudah pusing memikirkannya.


Dia lalu meletakkan kepalanya di atas lutut Richi. Rasanya aneh, padahal sejak membeli cincin itu, dia amat merasa bersemangat. Lalu tiba-tiba, semangat itu dipatahkan oleh kekasihnya sendiri.


Richi mengelus lembut rambut Hugo. Dia mengerti kekhawatiran lelaki itu. Tetapi dia juga ingin meraih impiannya.


"Kalau kau bagaimana, Hugo? Ingin lanjut kemana?"


"Aku merubah semua masa depanku semenjak berpacaran denganmu." Jawabnya tanpa bergerak dari posisinya. Kini terasa nyaman sebab Richi mengusap-usap rambutnya.


Richi diam sebentar, ternyata laki-laki yang tengah ia belai benar-benar serius dengan ucapannya.


Richi tersenyum, "memangnya dulu kemana?"


"Universitas negara J."


"Oh, jauh juga. Bagaimana kalau kita sama-sama belajar. Setelah empat tahun, kita bertemu lagi dan bisa melanjutkan hubungan." Tutur Richi dengan ceria, berharap Hugo sedikit terhibur. Namun nampaknya sia-sia, Hugo diam saja.


Ingin sekali Hugo meminta Richi untuk kuliah biasa saja, supaya bisa tetap bertemu walau Richi memang belum mau menikah dengannya. Tetapi rasanya terlalu egois, meminta dia menghentikan sesuatu yang sudah lama ia impikan.


"Hugo, rambutmu sudah panjang rupanya." Celoteh Richi mengalihkan pembicaraan.


Hugo mengangkat tubuhnya. "Ya, sepertinya aku akan botak saja."


"Apa? Tidak, tidak bisa. Masa botak, sih!"


"Kenapa?" Tanya Hugo sambil melipat kedua tangan di dada.


"Aku tidak suka kalau kau botak!" Jawabnya dengan wajah cemberut.


"Cepat tumbuh, kok. Empat bulan." Jawab Hugo enteng.

__ADS_1


"Empat bulan? Lama! Aku tidak suka laki-laki botaaaak.." Rengek Richi.


"Botaknya cuma sebentar. Kan, nanti tumbuh lagi. Empat bulan itu tidak lama." Ucapnya dengan tersenyum miring.


"Eh?" Richi merasa aneh dengan nada bicara Hugo. Lelaki itu membalikkan kata-kata Richi yang menganggap enteng 4 tahun itu.


"Hugoo, sekolah dan rambut itu beda."


"Bagaimana perasaanmu melihatku botak dan harus menunggu 4 bulan? Perasaanku 20x lipat dari itu." Jawabnya lalu berdiri.


"Kita masuk saja, ya." Tukasnya dan mendorong kursi roda Richi.


Gadis itu mencebik, jelas-jelas rambut dan sekolah itu berbeda. Huh! Keluhnya dalam hati.


...🖤...


"Apa kau melihat Shera?" Tanya Harry pada supirnya saat ia masuk ke dalam mobil.


"Ya, tuan. Dia naik taksi beberapa menit yang lalu."


"Ke penthouse-ku." Ucapnya sembari terus tersenyum. Shera pasti ada disana. Mendengar ucapan Harry tentang ranjang yang ia ingin tiduri sejak lama, pasti membuat Shera tak sabar dan segera kesana.


Harry menggelengkan kepalanya, Shera benar-benar menggemaskan.


Sesampainya disana, Harry naik ke lift yang menghubungkan langsung ke penthouse-nya. Ia keluar saat lift terbuka, memperhatikan sekitar dan tidak menemukan Shera disana.


Harry mengecek kamar mandi dan tempat lainnya, Shera benar-benar tidak disana.


Dia memutuskan untuk menunggu, bisa saja Shera belum sampai.


Beberapa menit berlalu, Harry terus melirik jam di tangannya dan Shera tak kunjung datang.


Dia menelepon namun tidak tersambung dan itu membuatnya mulai geram.


"Cari Shera sekarang!" Ucapnya lewat telepon. Dia melangkah keluar menuju apartemen Shera, barangkali gadis itu ada disana.


Sesampainya disana, tempat itu masih sama. Kosong tak berpenghuni.


Amarah Harry mulai dipuncak, dia membanting barang-barang di atas meja.


Harry menatap ke depannya dengan rahang mengeras. Dia tidak mau ditinggal Shera, gadis itu yang paling mengerti Harry. Jika dia pergi, Harry tidak punya tempat untuk pulang.


"Dimana Shera?!!" Teriaknya pada bawahannya melalui ponsel.


"Belum ketemu, bos."


"Cepaatt!! Mati kau kalau sampai tidak ketemu!" Geramnya lalu melangkah keluar.


...🦢...


Shera memandang jalanan dari jendela kaca taksi yang berjalan lambat. Dia sangat tahu apa yang sedang dilakukan Harry padanya. Oleh sebab itu, dia akan mencari tempat yang lebih kecil yang Harry tidak akan sangka.


Shera turun dan menyeret kopernya. Dia sudah memesan satu rumah sewa kecil di lantai dua pinggir kota. Tempat yang tidak begitu buruk namun Harry pasti tidak sangka dia akan ada di tempat seperti ini.


Shera masuk ke dalam, memperhatikan sekitarnya. Sejenak dia melepaskan napas yang panjang, sedikit lega karena Harry tidak akan bisa menemukannya. Tetapi dia mulai bingung, apa yang harus ia lakukan selanjutnya.


Kini dia tidak bisa sembarang mengaktifkan ponsel sebab Harry pasti terus memantaunya.


"Haah." Shera merebahkan tubuhnya di atas kasur. Jika Harry melakukan ini dari dulu, tidak, seminggu yang lalu saja, dia pasti akan sangat senang. Tetapi sekarang, hatinya terasa sesak dan ingin segera lepas dari lelaki itu.


Shera langsung bangkit untuk mencari makanan sebab dia harus meminum obatnya.


...🦋...


Hugo menggendong tubuh Richi dan meletakkannya di atas tempat tidur. Dia lalu mendorong kursi roda supaya menjauh dan duduk di sebelah ranjang Richi.


Richi masih bisa melihat gurat sedihnya walau Hugo menatapnya dengan penuh kasih sayang.


"Hugo, bagaimana kalau kau ikut masuk sekolah militer?" Usul Richi dan Hugo langsung menolak, menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak tertarik."


Richi mengangguk kecil, jika sudah tidak tertarik maka sulit dipengaruhi. Richi menyandarkan tubuhnya. Kenapa dia jadi ikut berpikir, padahal awalnya dia biasa saja. Tetapi melihat raut Hugo, dia jadi berpikir lagi tengang sekolah militernya.

__ADS_1


"Hugo, jangan dipikirkan soal tadi. Jalan kita masih saaangat panjang di depan." Ucapnya sembari merentangkan tangan lebar-lebar.


"Hm.." jawabnya dengan wajah datarnya.


"Hugo, bagaimana kabar sekolah?" Tanya Richi lagi.


"Kau tanya saja aku. Bagaimana perasaanku, bagaimana aktifitasku. Untuk apa bertanya tentang sekolah?" Sungutnya.


"Hehe, iya.. bagaimana perasaanmu, Hugo?" Tanya Richi dengan wajah yang dibuat manis.


Hugo malah tertawa melihat perubahan wajah Richi. "Hei, kau ini sangat cantik jika senyum begitu. Cepatlah sembuh, aku sudah tidak sabar memamerkanmu pada orang-orang."


Richi tersenyum lebar, entah mengapa sekarang dia juga menanti itu.


"Aku ingin cepat pulang, Hugo. Aku sangat bosan."


Hugo seperti berpikir. "Hm.. mau nonton?"


"Nonton apanya, jalan saja belum diizinkan."


"Kalau begitu, sore nanti kita nonton."


Richi menaikkan alisnya tanda tidak mengerti maksud Hugo. Sementara Hugo mulai sibuk dengan ponselnya.


~


"Hugo kemana?" Tanya Richi pada Bella yang tengah memakan jeruk yang pada awalnya ia kupas untuk Richi.


"Entah, katanya ada perlu."


"Hei, berikan pada Richi, kenapa malah kau makan!" Omel Clair pada Bella yang terkekeh karena memakan buah jeruk.


Hugo masuk membawa proyektor kecil. Dia tidak sendiri, beberapa teman lainnya masuk ke kamar Richi.


"Hai, Richi.."


Axel, Isac, dan Daren masuk. Mereka menyapa dan berkenalan pada Clair, Bella, dan Olivia.


Beberapa menit mereka asyik mengobrol selagi Hugo mempersiapkan film yang akan diputar. Ruangan terasa sangat ramai dan Richi, entah mengapa menyukai itu.


Richi terus tertawa mendengar ocehan dan candaan teman-temannya.


Hugo berdiri di ujung, memperhatikan kekasihnya yang sangat ceria. Untunglah teman-temannya punya waktu luang untuk datang sekedar menemani Richi menonton.


Tak lama, makanan dan minuman yang Hugo pesan datang, ruangan yang lebar itu kini terlihat penuh. Bangku dan meja tersusun di depan ranjang Richi.


"Oke, Film akan aku putar. Cepat ambil posisi." Ucap Hugo lalu mematikan lampu, menutup gorden dan pintu.


Ruang terasa agak gelap. Yang lain mulai mengambil tempat duduk masing-masing. Mereka menikmati film sambil memakan makanan yang tersedia didepan mereka, sementara Hugo duduk bersandar di ranjang, bersebelahan dengan Richi.


Film pun diputar, semua mulai tenang kecuali terdengar suara remahan makanan yang mereka makan. Sesekali mereka tertawa saat adegan film terasa kocak.


Richi memandang lelaki yang duduk disebelahnya, melihat Hugo yang tengah fokus menonton film.


Merasa diperhatikan, Hugo menoleh pada Richi yang tengah tersenyum memandangnya.


"Terima kasih." Bisik Richi di telinga Hugo.


"Katakan saja apa yang kau inginkan, aku akan mengabulkannya untukmu." Balas Hugo dengan suara yang lembut di telinga Richi.


Richi mengangguk, "baiklah, honey."


Hugo mengerutkan alisnya lalu tersenyum lebar. "Coba ulang." Bisiknya lagi.


"Honey, Hugo sayang." Bisik Richi.


Hugo menatap senyuman Richi yang sangat manis, dia ingin mencicipinya.


Hugo mengangkat dagu Richi, dia mengecup bibir gadis itu dengan lembut. Benar-benar terasa manis, apalagi Richi menikmatinya. Gadis itu menutup matanya, menikmati sesapan demi sesapan yang Hugo berikan di bibirnya.


"HAHAHAHAA..."


Tawa teman-temannya membuat Hugo dan Richi terkesiap dan salah tingkah. Padahal mereka menertawakan adegan di film, tetapi rasa malu membuat Richi mencubit perut Hugo hingga lelaki itu meringis lalu tertawa melihat Richi yang malu-malu.

__ADS_1


Hugo menyandarkan kepala Richi di dadanya, melanjutkan film yang tengah ramai-ramai mereka tonton hingga tanpa sadar, Richi tertidur di dada Hugo, Membuat teman-teman yang lain tersenyum-senyum, merasa iri juga senang pada sepasang kekasih yang tengah hangat-hangatnya itu.


TBC


__ADS_2