
Seorang laki-laki tengah diikat diatas kursi di lapangan basket Wallpox. Dia sejak tadi memberontak ingin melepaskan diri tapi gagal karena ikatan yang begitu kuat.
Bella duduk santai di lantai lapangan basket sambil makan coklat. Dia menunggu Richi hadir karena perempuan itu yang akan menginterogasi.
"Heh, cepat lepaskan aku!" Pekik laki-laki itu.
"Diamlah. Kau tidak tahu ini lokasi Stripe? Kau bisa dicekik dan dibunuh kalau berisik." Tukas Bella, berusaha membuat lelaki itu diam dengan menakut-nakutinya.
"Aaah. Aku sudah sering berhadapan dengan mereka! Atau kau anggota Stripe, ya? Ha? Kau mau apa? Mau balas dendam karena kemarin temanku aku siksa??"
Bella langsung berdiri. Dianggap anggota Stripe membuatnya tersinggung.
"Kecuali kalau kau Valiant! Baru aku akan takut!" Lanjutnya lagi.
"Aku Valiant, bodoh!"
"Jangan mengaku-ngaku. Memangnya ada Valiant perempuan??"
"Kau memang cari mati, ya?" Bella hendak menghajar lelaki itu, tapi tangannya tertahan.
"Bells." Richi berlari dari mobilnya, mendekati lelaki yang pernah menantangnya bertanding basket waktu itu.
"Hah. Kau rupanya! Aku sudah mengaku kalah, untuk apa kau menangkapku lagii, hah?"
"Mana yang lain?" Tanya Richi tak menghiraukan lelaki itu. Dia hanya mendapati Bella yang ada disekitarnya.
"Mengejar Dachi Moon."
"Hah? Kenapa tidak bilang padaku?"
"Dia kan, mengenalmu. Tentu tidak akan berhasil menangkapnya kalau bersamamu." Jelas Bella.
Richi mendesah, segalanya tampak ruwet dan memusingkannya.
"Siapa yang menyuruhmu menyerangku." Tanya Richi tanpa basa-basi.
"Ti-tidak ada!"
BRAK! Tendangan keras Richi membuat kursi lelaki itu terjungkal hingga membuatnya menangis.
Bella menegakkan lagi posisi lelaki yang sudah sangat ketakutan. "Kau jujur saja. Supaya selamat." Bisik Bella sambil tertawa pelan pada lelaki itu.
"Satu.." Richi mulai menghitung.
"Dua.."
"Tidak ada. A-aku berkata juj-"
BRAK! Richi memutar tubuhnya, menendang wajah lelaki itu sampai terjatuh kesamping.
__ADS_1
Dia meringis, kepalanya terbentur lantai dan bibirnya mengeluarkan darah. Dengan posisi tangan yang diikat seperti itu membuatnya tak bisa bergerak.
Bella memberdirikan kursi lelaki itu lagi. "Nampaknya kau bersiap mati, ya." Bisik Bella lagi.
"Ka-kami ha-hanya menjalankan pe-perintah."
"Perintah siapa?" Tanya Bella.
Lelaki itu tampak menelan ludah. Dia menangis tanpa suara. Tubuhnya bergetar karena kini dirinya ibarat makan buah simalakama.
"Haduh, malah menangis. Kau ini calon preman masa depan, kan? Kenapa jadi seperti kami menyiksa laki-laki lemah, ya!" Bella menggaruk kepalanya. Merasa aneh melihat lelaki yang garang berubah cengeng.
Yah, memang Bella akui. Wajah Richi cukup menyeramkan sekarang. Kerutan di dahinya tidak hilang sejak siang tadi. Itu wajar karena Richi marah ada orang yang berani menyenggol privasinya.
"Wah, wah, wah.. ada apa bising-bising di area Stripe??"
Terdengar suara seseorang dari belakangnya, Richi tak ingin menoleh. Dia sudah tahu siapa yang datang karena tempat itu memang mengingatkannya dengan kejadian pertama kali dia dan Hugo melawan Stripe.
"Pergilah. Ini urusan kami." Tukas Bella.
"Hahaha. Aku membuat keributan di area kami, tentu kami harus ikut andil. Siapa kau? Beraninya menyiksa laki-laki. Aku jadi ikut tersinggung."
Richi menghela napas ke atas langit, rasa kesalnya ada diujung. Apa kini dia harus menghabisi orang-orang dibelakangnya juga?
Richi berbalik dan menatap tajam ke arah segerombolan orang yang tampak panik saat melihat Richi.
"D-darrel!!"
"I-ya itu Darrel. Ayo kabur." Spontan mereka berlari meninggalkan lokasi. Hal itu juga membuat lelaki yang menangis tadi diam, membelalak mendengar nama itu disebut.
"K-kau D-darrel??" Tubuhnya semakin bergetar. Dia tidak tahu kalau yang ia hadapi adalah Darrel, salah satu anggota Valiant yang terkenal kehebatannya. Tapi, kenapa dia perempuan?
"Cepat katakan. Kesabaranku sudah dipuncaknya."
Ucapan Richi membuatnya mengangguk cepat. "A-aku di-disuruh seseorang."
"Siapa?"
"Philant.. aku disuruh salah satu anggota Philant."
"Philanthrope maksudmu?" Tanya Bella memastikan.
Lelaki itu mengangguk cepat. "Sa-salah satu anggota Philant menyuruh kami untuk merusuhi kalian sa-saja."
Bella dan Richi saling tatap. Philant adalah salah satu kelompok yang berjalan dibidang sosial masyarakat. Umumnya mereka yang paling depan dalam membantu orang-orang yang kesusahan, atau terkena bencana dan lainnya. Mereka dikenal baik dan dermawan, sesai namanya. Tapi, kenapa kini merusuh?
"Kau tahu Philant, kan Rel?" Tanya Bella.
"Ya, tapi kenapa dia melakukan itu?"
__ADS_1
"Aku juga tidak paham. Tapi menurutku, mungkin saja dia hanya mengganggu karena menyukaimu. Itu terbukti karena dia selalu mengupload fotomu." Jelas Bella.
"Siapa orangnya?" Tanya Richi pada lelaki itu.
Lelaki itu dengan cepat menggelengkan kepala. "Dia p-pakai masker, lalu pergi se-setelah memberi kami u-uang.."
"Hah, sudah kuduga." Desah Bella. "Beri kami informasi tentang orang itu. Kontak atau alamatnya."
"D-dia cuma bilang anggota Philant. A-aku tidak tahu yang lain."
"Awas kalau kau berbohong, ya!" Tukas Bella sambil mengepalkan tangan di depan wajah lelaki yang memejamkan mata karena takut kena hantaman lagi.
"Hei, guys." Clair dan Olivia muncul.
"Bagaimana?" Tanya Richi cepat.
"Kami belum menemukan Dachi Moon tapi sepertinya ada yang menarik." Kata Olivia sambil mengangkat sebuah ponsel di tangannya.
"Kalian bagaimana?" Tanya Clair.
"Belum diketahui. Bisa kita kembali, aku sangat lapar." Ucap Bella sembari memegang perutnya.
Bella melepaskan lelaki itu dan mereka pergi ke kafe Clair dengan mobil Richi.
Sesampainya disana, Bella langsung membuat makanan, Olivia berganti pakaian, Richi dan Clair berdiskusi dengan apa yang mereka temukan.
Olivia duduk dengan baju longgar yang dipinjamnya dari Clair. Tak lama Bella datang dengan semangkuk mie di tangannya.
"Aku dapat ini. Mari kita cek." Olivia mulai membuka kunci ponsel dengan trik curangnya.
"HIHIHII."
"AAAAAKKK!" Olivia reflek mencampakkan ponsel itu saat gambar menyeramkan dan suara tertawa aneh muncul di ponsel, membuat yang lain ikut terkejut lantaran Olivia melempar ponsel sitaannya dengan sembarang.
"Olive! Kau ini!" Clair mengutip ponsel itu, melihat layar yang memang menyeramkan.
"Sialan! Dia ngeremot ponselnya dari sana." Pekik Olivia.
"Benarkah?" Clair dan yang lain ikut mendekat, melihat ponsel yang kini sulit dibuka.
"Aku yakin dia hacker yang cukup keras. Aku benar-benar kewalahan mengurusnya." Kata Olivia. Dia meletakkan ponsel itu setelah tak berhasil membuka aksesnya.
"Kalian harus hati-hati setelah ini." Ucap Richi.
"Kenapa?"
"Karena dia pasti tahu dimana posisi ponselnya berada." Jawab Richi. Jika dia bisa meremot ponselnya, tentu dia juga tahu posisi ponselnya berada.
Richi mengamati ponsel itu. Ada huruf R di belakang case-nya.
__ADS_1
"R?" tanya Richi saat memegang ponsel itu.
"Namanya Roy. Sebenarnya sih, ganteng. Tapi culun." Tukas Clair.