Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
S2 - Menyerang Blackhole


__ADS_3

Mata mereka menuju kearah Richi berlari. Pertengkaran perempuan dan laki-laki itukah yang membuat Richi tergerak?


Gadis yang memakai celana army, kaos polos hitam itu berjalan kearah dimana sepasang kekasih itu bertengkar.


Tak berkata apa-apa, Richi menangkap tangan lelaki yang hendak menampar kekasihnya.


"Jangan ikut campur!" Pekik lelaki itu.


Kesal, Richi memelintir tangan lelaki itu dan menghantamkan wajahnya ke kap mobil yang ada didekat mereka hingga alarm mobil itu berbunyi.


"Ke-kenapa dia begitu?" Tanya Bella yang menyaksikan itu dari dalam mobil.


"Dia pasti ada masalah dengan Hugo dan melampiaskannya pada si brengsek itu." Jelas Clair.


"Padahal dia tak pernah ikut campur urusan orang lain." Olivia sampai menggelengkan kepala.


"Brengsek! Kau pikir kau siapa, hah!" Urat leher lelaki itu mengeras, memegangi kepalanya yang sakit.


"Minta maaflah pada kekasihmu."


"Hh.. kau pikir kau siapa! Hei, sialan, aku ini anggota Blackhole. Kau tahu kan, kelompok apa itu?!"


Anggota Blackhole? Cocok sekali. Richi menoleh kebelakang, kearah dimana mobilnya terparkir. Dia memerintahkan timnya keluar dengan mengangkat dagunya.


"Aku tahu. Bisa bicara baik-baik?" Pinta Richi pada lelaki itu.


Bukannya menurut, lelaki itu mengabaikan ucapan Richi. Dia malah mendekat dan melayangkan hantaman kearah gadis itu. Dengan cepat Richi menangkap tangan dan memelintirnya kebelakang.


"Aaakhhh." Rintihnya.


"Aku kan, minta baik-baik. Kenapa kau kasar sekali."


"Le-lepaskan, sialan!"


"Kau pergilah." Titah Richi pada perempuan yang tampak ketakutan. Gadis itu mengangguk dan dengan cepat meninggalkan lokasi itu.


Walau orang-orang berlalu lalang, tampaknya mereka tak peduli seakan hal seperti ini sudah biasa.


Clair mengambil alih. Dia langsung menekan kepala lelaki itu diatas kap mobil.


"Anggota Blackhole." Kata Richi sebelum teman-temannya bertanya.


"Brengsek! Siapa kalian, hah." Lelaki itu berusaha melepaskan diri, namun cengkraman Clair membuatnya tak bisa bergerak. Dia mengeraskan rahang saat mengetahui bahwa perempuan-perempuan dihadapannya nampaknya bukan orang sembarangan.


"Katakan, ada siapa di dalam markas kalian sekarang!" Tanya Richi.


"Tidak akan kuberitahu walau kau- Aaakkhh!!" Clair semakin memelintir tangan lelaki itu.


"Cepat jawab!" Sentak Olivia.


Lelaki itu meringis. "Lepaskan dulu tanganku!"


"Hei. Kau pikir aku bodoh." Ujar Clair dan dibantu geplakan dikepala lelaki itu oleh Bella.


Tak mau berlama-lama, Richi mengeluarkan pistol dari balik badannya dan langsung mengokang senjata itu tepat di depan wajah lelaki itu.


Tentu hal itu membuatnya menelan ludah.

__ADS_1


"I-iya, baik. Di-di dalam ada bos Benny dan teman-temannya."


"Eh? Tadi kami tidak lihat ada yang masuk." Sahut Olivia.


"Ada pintu masuk lain. Dari depan sana."


"Katakan dengan benar!" Sentak Bella padanya.


"Toko roti Butter. Masuk dari sana."


"Nampaknya itu pertemuan rahasia, ya." Sahut Clair.


"Kalian masuk pun percuma. Banyak penjaga di dalam dan kalian akan mati." Lelaki itu tersenyum miring.


"Ini mobilmu, kan?" Richi mengintip kedalam mobil itu. Lalu ia membuka pintunya dan mengambil tali dari dalam.


"Ikat. Masukkan ke dalam!" Titah Richi pada Olivia.


"Hei, aku kan, sudah mengatakannya! Kenapa kau malah.. eemmmmpp." Olivia membungkam mulut lelaki itu dengan kain.


Richi melangkah menuju mobilnya. Dia mengambil sesuatu, memakai rompi anti peluru kemudian menutup pintu mobil dan berjalan kearah yang dimaksud laki-laki tadi.


"Dia mau kemana?" Tanya Bella.


"Akhh. Sial. Dia mau menyerang. Hei, cepat selesaikan ini!" Seru Clair kemudian berlari mengambil senjatanya di dalam mobil, bersiap mengejar Richi yang ingin masuk sendiri.


"Selamat datang di ButterBread. Silakan." Sapa pegawai dengan ramah walau matanya memperhatikan penampilan Richi dari atas sampai bawah. Dia heran karena perempuan berkuncir kuda itu memakai syal militer timur tengah yang menutup sampai bagian mata di cuaca yang panas ini.


Richi memperhatikan sekeliling. Ada beberapa pelanggan di dalam. Lalu sebuah pintu diujung yang mungkin jalan masuk ke dalam markas.


"Permisi, anda tidak boleh kesana."


Richi menoleh. Matanya menatap pelayan itu bagai mangsa yang siap menerkam. Tentu tatapan itu membuat pelayan mundur.


Richi masuk ke dalam dengan tendangan keras, membuat seisi toko terkejut dan takut. Apalagi saat gadis itu masuk ke pintu sembari mengeluarkan pistolnya, seketika pengunjung berhambur keluar.


Melihat itu, pelayan mengeluarkan ponselnya dari saku dan siap menelepon. Namun tiba-tiba saja tubuhnya kaku saat merasakan sesuatu menempel di kepalanya.


"Diam atau kutembak kepalamu."


Tubuh pelayan seketika bergetar mendengar suara perempuan yang ternyata menempelkan pistol di kepalanya.


Bella memerintahkan yang lain masuk untuk mengcover Richi sedangkan dia akan menahan seluruh pelayan itu.


Richi, dengan pistol di dada, berjalan perlahan di lorong sempit. Dia melihat ruangan besar diujung dan sedikit berisik.


Richi langsung mengerahkan pistol kehadapan orang-orang yang merupakan penjaga. Tembakan terus ia luncurkan tanpa memberi sepuluh orang itu kesempatan untuk mengeluarkan pistol mereka.


Richi mengisi amunisi sedangkan Olivia dan Clair yang baru masuk mendekati musuh untuk mengecek kondisi mereka.


"Mati semua." Bisik Olivia. Padahal biasanya Richi hanya menyerang dibagian tubuh yang hanya untuk melumpuhkan mereka sebentar. Tapi nampaknya kali ini Richi tidak main-main.


"Tunggu dulu!" Olivia memperhatikan seseorang yang sudah berlumur darah itu.


"Kau kenal?" Tanya Clair.


"Dia... ajudan yang ada dibelakang ayah Daren tadi pagi."

__ADS_1


Richi menatap pintu besar di dekatnya. Artinya, ayah Daren memang ada di dalam. Tapi, bukankah Daren bilang pertemuannya malam ini? Dan sekarang masih sore.


Pintu besar itu nampaknya tak membuat suara tembakan masuk ke dalam.


Dua kali tendangan, Richi berhasil membuka pintu itu.


"Naikkan maskermu, Olivia." Kata Clair dan Olivia mengangguk. Ia takut wajahnya dikenali.


Richi mengerahkan senjata kedalam. Seketika riuh, anak-anak yang ada di dalam menunduk dan ketakutan.


Seseorang yang hampir menyuntikkan cairan hitam ke bahu seorang anakpun terhenti. Mereka menunduk saat Richi langsung menembak penjaganya.


Selagi tembak menembak berjalan, orang-orang yang dianggap penting itu berlari menunduk kearah pintu yang sudah ditunggu oleh seorang pengawal.


Dua orang yang berdiri diujung reflek mengangkat tangan. Mata Richi menajam padanya. Dia pun tampak sangat terkejut dengan apa yang ia saksikan.


"Eline!" Clair tampak terkejut melihat Erine dan seorang laki-laki disebelahnya.


"Sial!" Virgo berlari cepat menuju pintu, namun sialnya kakinya terkena timah panas oleh Olivia. Dia menjerit kesakitan, tapi tak ada yang bisa menolong.


"Eline, lakukan sesuatu!!" Pekiknya.


Namun Eline malah berlutut. Dia sangat ketakutan karena ketahuan masuk dalam kelompk ilegal seperti Blackhole.


"Apa aku ketinggalan sesuatu?" Bella datang setelah berhasil menutup toko dan mengurung pegawai di kamar mandi.


Matanya membulat dengan mulut terbuka ketika melihat Eline ada disana.


"Eline?? Kau gila??" Pekik Bella tak habis pikir. Dan Eline hanya menangis.


Tak punya banyak waktu, Richi berlari masuk mengikuti tiga orang penting itu. Diantaranya Benny dan Orlando, ayah Daren.


Pintu yang transparan itu tertutup rapat dan Richi menembakinya hingga pecah.


Dia bisa melihat kemana arah pergerakan orang-orang itu diujung lorong.


Dengan keras Richi menendang handel pintu, lalu terbuka lebar.


"Clair, jaga anak-anak ini!" Titah Olivia dan mengejar Richi. Dia penasaran apa yang dilakukan ayah Daren yang juga akan menyuntikkan cairan hitam itu ke lengan anak-anak.


Richi berhenti dipersimpangan lorong.


"Kau kesana." Titah Richi pada Olivia.


Gadis itu langsung berlari kearah yang dimaksud Richi.


Dia melihat orang yang baru saja berbelok, Olivia mengikutinya.


"Stop! Jangan bergerak atau aku akan menembakmu!" Orlando mengokang senjata. Napasnya memburu dan dia tampak ketakutan.


"Aku sangat terkesan, tuan Orlando."


Orlando terkesiap. Dia menatap gadis bermasker itu lekat-lekat.


"Anda mengenali suaraku?"


Olivia tampak santai walau pistol Orlando mengarah padanya.

__ADS_1


__ADS_2