
Hugo duduk bersantai di balkon kamar hotel, membiarkan Richi membersihkan tubuhnya, lalu kemudian diperiksa oleh dokter pribadi Hugo.
Sesuai permintaan, Richi hanya mau diobati oleh dokter perempuan sebab sumber sakitnya mengharuskan dirinya membuka baju saat diperiksa.
Pintu kaca balkon terbuka, dokter Vivi menemui Hugo.
"Apa aku mengganggu?"
Hugo menggeleng, lalu dokter Vivi duduk di kursi sebelah Hugo.
"Apa dia pacarmu?"
Hugo tersenyum lalu mengangguk. "Bagaimana kondisinya?"
Dokter Vivi menghela napas, "Kenapa bisa sampai seperti itu? Memarnya sangat panjang dan aku ikut merasa nyeri. Tetapi dia terlihat baik-baik saja, tidak merintih kesakitan saat aku memberi salep."
"Dia itu tahan banting" sambung Hugo sembari tertawa.
"Wah, baru kali ini kulihat kau senang memuji kekasihmu." Ucap Dokter. "Jadi, ini yang keberapa?"
"Ini kekasih terakhir, kau harus tahu itu, dok!"
Dokter Vivi tertawa renyah, dia sangat tahu anak sahabatnya itu sangat suka berganti pasangan. "Baiklah, aku pergi dulu. Selamat bersenang-senang." Tukasnya lalu keluar dari kamar.
Richi duduk di kursi, dia tengah memakai sepatu yang baru dibelikan Hugo, mengingat sepatu kets putihnya sudah berlumur darah. "Hugo, aku sangat lapar."
"Lalu, kau mau kemana?"
"Cari makan. Ayo, aku lapar."
Tok..tok..
Hugo membuka pintu, lalu seorang pelayan mendorong troli saji yang nampaknya penuh dengan makanan.
"Taruh semua di meja balkon." Titahnya, pelayan mengangguk lalu menyusun makanan di meja.
Hugo tersenyum melihat Richi memakai kemeja hitam yang agak kebesaran, sebab dia memilih asal supaya cepat mengobati luka Richi.
"Kenapa senyum-senyum?" Richi mengerutkan dahi, dia tahu Hugo tengah menertawakannya.
"Memangnya tidak boleh senyum? Aku kan, senyum karena melihatmu."
"Aku tahu, kau tengah mengejekku."
Hugo semakin tertawa lebar karena kepekaannya itu. "Sudah, ayo, makan."
Setelah menata makanan, pelayan itu mengangguk lalu menutup pintu.
Hugo duduk berhadapan dengan Richi. Langit hampir gelap, mereka duduk di balkon dengan similir angin lembut dan beragam hidangan yang menyelerakan di hadapan Richi.
"Oh?" Richi menatap makanan di depannya.
"Aku sengaja memesannya, karena kau bilang makanan itu menghangatkan perutmu, kan?" Ucap Hugo, dia ingat apa yang Richi pesan pada restoran tangga seribu waktu itu.
Richi tersenyum dan langsung menyantap makanannya. "Aah.. ini lebih lezat dari yang kemarin!" Wajah Richi kembali segar, dia berbinar menatap makanan itu.
"Wajar. Harganya juga dua kali lipat".
"Kau itu perhitungan, ya. Aku baru tahu." Gerutunya sambil tetap menyantap makanannya.
"Tidak, kau mau apapun pasti kuturuti. Kau mau makan itu setiap hari? Aku akan membelikannya. Atau kau mau Villa cantik di pinggir pantai? Aku bisa membelinya untukmu". Hugo tersenyum puas, dia merasa senang karena mampu membeli apapun yang Richi inginkan.
"Tidak perlu, Ayahku juga mampu melakukan itu, bahkan tanpa kuminta." Jawabnya lalu memasukkan suapan terakhir.
__ADS_1
Jawaban Richi membuatnya tertohok dan langsung hilang semangat. Dia meneguk habis air putih dan meletakkannya dengan suara keras.
"Ada apa?" Tanya Richi yang tak paham dengan perubahan sikap Hugo.
Belum dijawab, suara pesan masuk di ponsel Hugo terdengar. Mata Richi membulat melihat foto screenlock Hugo yang memampangkan dirinya memakai bando lucu.
"Ehhh??" Richi langsung meraih ponsel Hugo.
"Dari mana kau dapat ini??" Tanyanya sambil menunjuk fotonya di layar ponsel Hugo.
"Hahaha. Aku mencurinya dari ponselmu waktu itu". Tawanya memecahkan suasana hati yang sempat buruk.
"Apa? Kau membuka-bukanya, ya!"
"Kenapa? Kau kan, pacarku".
"Waktu itu kan, belum!"
"Yang penting sekarang kan, sudah." Tawanya lagi karena melihat ekspresi lucu Richi.
Gadis itu mencoba membuka ponsel Hugo, namun tidak bisa karena terkunci.
"Apa sandinya?"
"Tanggal jadian kita." Jawabnya santai.
Richi mengangkat alisnya. Dia tidak tahu tanggal berapa itu.
"Kapan itu?"
Hugo menganga, bisa-bisanya perempuan satu ini tidak mengingat hari penting mereka. Padahal dari pengalamannya selama ini, para mantan kekasihnya pasti selalu menjadikan tanggal jadian mereka sebagai tanggal keramat yang wajib di sembah saat tanggal itu muncul bahkan setiap bulan.
Terdengar helaan kasar dari Hugo, "kita sudah jadian hampir 3 bulan, kau menjalani hidupmu seperti apa sampai tidak mengingatnya?"
"Tiga bulan, apanya!" Sanggah Richi.
"Hah?!" Richi melongo, bisa-bisanya kejadian yang dirinya benci saat itu dijadikan tanggal spesial oleh Hugo.
"Jadi, tanggal berapa itu? Cepat beritahu." Richi sudah tidak peduli, terserah padanya saja asal ponselnya bisa terbuka.
"Masa tidak ingat!" Hugo mulai kesal.
Richi mengerutkan alisnya dengan kesal, mana mungkin dia mengingat tanggal saat Hugo, lelaki yang ia benci mengancamnya untuk berkencan.
"Kau pikir aku suka saat kau mengancamku ini itu supaya menjadi kekasihku sementara aku membencimu!" Tukas Richi penuh penekanan mengatakan kata benci, membuat wajah Hugo bertekuk-tekuk.
"111020" jawabnya. Mendengar ucapan terakhir Richi membuatnya malas berdebat walau dia juga tahu di awal pertemuan mereka memang Richi sangat terlihat tidak menyukai Hugo.
"Oh? Kenapa kau bisa tahu. Kau benar-benar menyukaiku sejak awal, ya.." ledek Richi.
"Iya, sudah kubilang padamu kan, kalau aku menyukaimu sejak awal, tapi selalu kutepis. Kupikir, mana mungkin aku menyukai gadis sepertimu".
"Seperti apa memangnya?" Tanya Richi santai sambil mengunyah makanan.
Hugo tak menjawab, dia hanya memperhatikan Richi yang asyik mencomoti makanan satu persatu di depannya tanpa merasa perlu menjaga image di depan Hugo.
"Apa?" Richi menaikkan bahu saat menyadari Hugo menatapnya dengan wajah datar.
Richi lalu mengerti. "Ya, ya, aku tahu kau menyukai gadis anggun, feminim, berambut panjang, seksi, yang kalau berjalan seluruh mata tertuju padanya. Jadi, kenapa tidak pacaran saja dengan yang seperti itu?"
"Inikan sedang dipacari." Goda Hugo, namun Richi malah mengerutkan alisnya.
"Kau pikir aku sama dengan para pemujamu itu."
__ADS_1
"Iya, kau memang sangat berbeda. Kau perempuan tangguh yang memikat hatiku, tapi juga sangat mempesona. Itu sebabnya aku sangat menyukai dirimu lebih dari apapun dan kau harus tahu bahwa kaupun sudah terikat denganku, dan tak boleh meninggalkanku."
Richi menahan makanan yang hampir ia masukkan ke mulutnya. "Walaupun kau selingkuh? Aku tetap tidak boleh meninggalkanmu? Enak sekali.."
"Itu tidak akan mungkin terjadi. Aku tidak akan melakukan itu.." sanggah Hugo.
"Bagaimana kalau kau selingkuh?"
"Aku bilang, itu tidak akan terjadi.."
"Ya bagaimana kalau seandainya itu terjadi?" Tanya Richi berandai-andai.
"Tidak ada yang seperti itu."
"Misalnya, misalnya saja kau selingkuh atau kau yang meninggalkan aku, bagaimana?"
"Aku bilang itu takkan terjadi, tidak ada andai-andai atau permisalan." Tukas Hugo dengan tatapan tajam.
"Tetap saja, Hugo. Yang namanya perasaan itu ada masanya naik turun, merasa bosan, jenuh, apapun yang bisa membuat perasaan kita perlahan menghilang." Richi mencoba berpikir panjang dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, tidak berani berjanji apapun saat dirinya tengah terbang.
"Kau meragukanku?" Wajah tegas Hugo mulai terlihat.
Richi meletakkan sendoknya dan menatap lurus ke wajah Hugo. "Dengar ya, Hugo. Dalam suatu hubungan, tidak selalu berjalan mulus. Kadang masalah kecil dalam hubungan kita bisa jadi besar karena rasa lelah dan juga letih, memicu perdebatan panjang hingga membuat kita merasa jenuh dan bosan dengan hubungan kita. Itu baru saja terjadi pada kita. Iya, kan? Hal yang lebih besar pasti akan datang. Hanya saja sekarang kita masih baru dan sedang mekar-mekarnya. Jadi, pastilah kata 'bosan' terdengar sangat tidak mungkin terjadi."
Penjelasan Richi membuat Hugo berdiam cukup lama. Lalu dia menggenggam tangan Richi.
"Selama ini aku tidak pernah benar-benar menyukai gadis-gadis itu. Lalu saat aku jatuh cinta padamu, aku merasa diriku bukan lagi seperti dulu. Aku bukanlah orang yang gampang bosan, Richi. Justru kaulah yang mungkin akan bosan dengan sikapku. Sebenarnya, Aku tidak suka melihatmu bercanda dan bersenang-senang dengan laki-laki lain. Hanya saja, aku tidak bisa menahanmu, karena sifat kita yang berbeda dan aku takut kau meninggalkanku karena itu. Tapi, aku mengerti dengan maksudmu."
Hugo menarik napasnya. "Jika aku yang selingkuh atau aku yang meninggalkanmu, kau bisa menyiksaku sampai mati. Karena aku pasti bukan lagi manusia."
Richi tak langsung menjawab, dia melihat raut wajah Hugo sama seperti kemarin saat meminta maaf secara sungguh-sungguh. Dia mempercayai ucapan Hugo, sangat terlihat ketulusannya. Juga dengan bukti yang sudah beberapa kali ia lakukan seperti mengorbankan dirinya tertembak, juga menyelamatkan Richi dari kelompok radikal yang baru saja terjadi.
"Aku belum bisa berjanji apapun padamu, Hugo. Namun aku berusaha untuk tidak meninggalkanmu tanpa alasan."
Hugo menundukkan pandangan, dia tahu perasaan Richi tak sebesar perasaannya pada gadis itu.
"Apa yang harus aku lakukan supaya kau percaya padaku?" Hugo mengelus lembut tangan yang ia genggam.
"Kau tidak perlu melakukan apa-apa. Kita hanya perlu menjalaninya saja. Perjalanan itulah yang membuktikan apakah kita memang pantas bersatu atau tidak."
"Kau juga harus mengatakannya padaku, apa-apa yang membuatmu tidak suka atau terganggu. Supaya aku tahu dan membuat batasan."
Hugo tersenyum, "kalau aku mengatakannya, kau pasti kebingungan dan merasa terkurung."
"Oh ya? Memangnya apa saja yang tak suka?"
"Banyak. Aku tidak suka kau berteman dengan laki-laki, bermain basket bersama mereka, jangan terima hadiah atau surat dari siapapun itu, jangan bersentuhan dengan laki-laki lain, harus selalu memberitahuku posisimu, harus cepat mengangkat teleponku, harus.."
Richi langsung menarik tangannya dari genggaman Hugo "Stop.. stop..stopp!" Dia terbengong, mencoba mencerna apa saja yang Hugo barusan katakan.
"Kau mengekangku?"
Hugo tersenyum kecut. "Itulah kenyataannya. Aku selalu kesal dan marah setiap kau tidak mengangkat teleponku, mengabaikan pesanku, bercanda dan tertawa dengan teman laki-lakimu. Tapi aku juga tidak bisa memaksamu melakukan itu, karena aku sadar sifat kita yang berbeda. Aku juga bingung kenapa emosi tubuhku berbeda ketika berpacaran denganmu. Aku merasa kau tidak boleh melakukan semua itu kecuali denganku".
Richi menganga, dia baru tahu itu.
"Aku menyembunyikannya darimu. Aku tidak mau kau membenciku karena melarangmu ini dan itu. Jadi, lebih baik aku menahannya daripada kehilanganmu. Apalagi saat kau mengucapkan kata putus, aku benar-benar seperti orang gila." Ungkapnya sambil menunduk, dia menyadari keinginan dirinya yang tak biasa.
"Hugo, maaf. Tapi aku memang tidak akan bisa menuruti itu. Kau tahu, aku memang sudah begitu bahkan sebelum berpacaran denganmu."
"Iya, aku tahu. Aku tidak menyuruhmu melakukan itu. Yang terpenting sekarang adalah, kau tidak meninggalkan aku dan memastikan hatimu terus ada padaku. Maka dari itu, Richi. Cepat beritahu aku kalau ada yang tak kau sukai dari sikapku. Aku akan memperbaikinya.." Hugo menepuk-nepuk pelan tangan Richi yang di genggamnya, dia mencurahkan perasaannya hari ini dan itu cukup membuat Richi sejengkal lebih mengenal Hugo.
"Tidak ada, lakukan saja apa yang mau kau lakukan." Jawabnya santai. Karena bagi Richi, salah satu hubungan yang sehat adalah dengan tidak melarang apapun yang disukai pasangannya.
__ADS_1
Richi menatap Hugo yang tengah tersenyum cerah. 'Tetapi, setelah mendengar semuanya.. bukankah Hugo terlalu serius dalam menjalin hubungan ini?'
TBC