
Richi sudah membaca peta tempat dimana dia berpijak sekarang. Kini dia duduk santai di atas pohon sambil sesekali meneropong ke bawah sana, pintu menuju ruang bawah tanah yang tertutup semak belukar.
Sesuai apa yang Harry katakan, tempat itu memang terlihat sepi tak berpenghuni. Tapi banyak kamera pengawas di atas pohon. Termasuk kamera yang tepat berada di sebelah kepala Richi. Kamera itu bisa memutar memindai sesuatu yang bergerak dalam pengawasannya.
Gadis itu agak mengeluh karena menunggu terlalu lama. Tiga permen karet sudah ia kunyah sampai manisnya hilang dan belum ada tanda-tanda tim Valiant muncul.
Bzztt
'Bentuk formasi sesuai aturan dan bersiaplah.'
Suara Ricky terdengar dari earpiace Kanan yang masih menempel di telinganya sejak tadi.
Ah, mereka sudah sampai dan Richi mulai mengambil senjatanya.
Richi mengambil permen karet dari mulutnya dan menempelkannya di kamera pengawas.
'Iyeewhh'
Terdengar suara Harry dari earpiece kirinya. Richi tergelak kecil, lupa kalau dia diawasi Harry dari jauh.
'Mereka mendekat.' Kata Harry.
Richi menaikkan kain yang melilit leher ke wajahnya dan menengok kebawah, ia mendapati tim Jaguar mengendap tepat dibawahnya.
Dedaunan yang rimbun benar-benar menutupi tubuh Richi. Benar kata Harry, tempat ini banyak jebakannya karena hutan yang lebat. Andai saja Richi datang belakangan, mungkin ia tak bisa menyingkirkan banyaknya jebakan di area itu.
Salah satu dari anggota Valiant menarik tali yang menyangkut di kakinya.
"Sepertinya ini jebakan."
"Ya, jebakan ini sudah rusak."
"Ayo, jalan lagi."
Richi memperhatikan sosok yang ia tandai. Hugo, berjalan paling depan dan perlahan membuka pintu yang langsung roboh seketika, membuat mereka mengangkat senjata.
'Hati-hati, tempat ini banyak jebakan.' Suara Ricky terdengar dari earpiece kanan.
'Benar, Komander. Disini juga ada jebakan yang telah rusak.'
'Tim Fox juga mendapati jebakan yang sudah terbuka.'
'Ya, kami juga menemukan jebakan yang tak berfungsi.'
Richi tersenyum miring mendengar laporan orang-orang dari earpiece di telinganya. Untunglah mengenai bermacam jebakan sudah ia pelajari saat pelatihan dulu.
Seluruh pasukan nampaknya sudah mulai masuk dan hanya tim Fox yang berjaga diluar. Untungnya, formasi tidak dirubah.
Richi melompat turun dari sarangnya, membuat ketiga temannya itu spontan mengangkat senjata dan Richi mengangkat tangannya.
"Jangan tembak aku, kumohon." Canda Richi pada ketiga sahabatnya yang sontak kaget dan berlari mendekatinya.
"Darrel, kau kenapa bisa disini?" Pekik Olivia dan Richi langsung meletakkan telunjuknya di bibir, menyuruh teman-temannya tak berisik.
__ADS_1
"Aku bersama Harry."
"Jadi, kau yang menghancurkan jebakan ini?" Tanya Bella dan Richi mengangguk.
"Astaga, kenapa kau tadi pergi?" Tanya Clair penasaran.
"Keen mau menangkap Harry. Aku tidak setuju karena dia yang sudah membantu kita."
"Kau benar." Sahut yang lain.
"Kita tidak punya banyak waktu. Aku akan masuk melalui pintu lain." Ujar Richi.
"Ada pintu lain?" Kata Bella dengan alis terangkat.
"Ya, denah yang diterima Keen adalah denah lama. Aku akan masuk dari sana." Kata Richi menunjuk ke arah lain. "Kalian, tetaplah disini."
"Tidak, aku akan mengcovermu." Sahut Clair sambil mengangkat senjatanya.
"Baiklah. Ayo."
Richi berlari dan diikuti Clair, sementara Bella dan Olivia kembali berjaga.
"Apa ada sesuatu yang mencurigakan?" Tanya Richi dari earpiece kirinya.
'Kosong.' Jawab Harry. 'Kau masuk dari pintu yang kutunjuk tadi. Ingat, kau bisa saja bertemu dengan banyak penjaga ketat yang terlatih.' Seru Harry pada Richi.
Gadis itu mengangguk dan mulai berlari menuju pintu yang ditunjuk Harry. Pintu yang dibuat untuk melarikan diri, Kemungkinan ruangan baru yang dibangun merubah sedikit denah, begitu kata Harry. Jadi, Richi tak ingin tim Valiant terkecoh.
"Clair, pakai ini." Richi menyerahkan senjata pada Clair dan gadis itu menerimanya lalu menyimpan senjata lamanya.
Pintu besi itu terbuka melalui akses Harry dari helikopternya yang terparkir tak jauh dari ruang bawah tanah itu.
Saat pintu terbuka, para penjaga tampak kaget. Dengan cepat Richi dan Clair menembaki mereka dengan senapan yang tak bersuara.
"Wuaah. Senjata tanpa suara. Tajam mematikan pula. Luar biasaaa. " Oceh Clair menatapi pistol di tangannya.
"Aku tidak mau suara pistolku membuat tim Valiant berantakan. Jadi, berhati-hatilah karena pelurunya terbatas."
Clair mengangguk dan mulai mengcover Richi yang berjalan di depannya.
"Harry, apa di depanku pintu utama?" Tanya Richi yang sudah memasuki ruang baru.
'Bukan. Dia ada di tengah. Ruangan itu sangat luas, kau harus berjaga-jaga karena jebakan masih banyak disana.'
Richi menghembuskan napas. Rasanya berat sekali untuk melangkah karena dia benar-benar tidak bisa menebak apa yang ada di depannya.
Apalagi Harry mengatakan, ada dua orang penjaga inti yang sangat berbahaya. Entah apa yang dimaksud bahaya oleh Harry, yang jelas menurut Richi, dari cara bicara Harry, dia tahu itu laki-laki itu tidak bercanda.
"Kenapa?" Bisik Clair.
"Tidak. Ayo." Richi mulai bergerak lagi.
'Chi, sepertinya pergerakan kalian sudah disadari.' Suara Harry membuat Richi menghentikan langkahnya.
__ADS_1
'Bom nomor 5 diaktifkan.'
"Apaa!!"
~
"Hugo, kau baik-baik saja?" Jonathan membantu Hugo berdiri. Tangannya terkena timah panas yang menyasar dari jebakan pistol di atas tanah. Dengan cepat Simon menghancurkan jebakan yang terlihat seperti hiasan dinding.
Jonathan mengikat bahu Hugo dengan kain untuk menghentikan pendarahannya.
"Bagaimana?" Tanya Simon.
"Tenang, aku masih bisa." Jawab Hugo dengan napas yang menahan sakit.
Ricky melangkah di depan, tak lama langkahnya terhenti saat mendengar suara.
"Cepat, cek lokasi ini. Aku mendengar suara denting bom!" Titah Ricky dan berhasil membuat tim Rajawali maju.
Mereka langsung mendapatkan dimana titik suara yang ternyata bom aktif.
"Erine!" Titah Ricky yang langsung mendapat anggukan dari gadis itu.
"Komander, satu lagi!" Anggota Rajawali lainnya mendapatkan bom yang waktunya belum berjalan.
Hugo langsung mendekat dan menonaktifkan bom itu dengan cepat.
"Wah, kau luar biasa. Bagaimana bisa?" Tanya Jonathan yang memang terlatih menjinakkan bom tapi tak secepat Hugo.
Bunyi alarm masih terdengar. Erine tampak memilah milih kabel disana.
Hugo yang melihat itu langsung mendekat.
"Bagaimana?" Tanya Hugo.
Erine menoleh sekilas. Lalu fokus lagi memperhatikan detail kabel.
"Ini dia." Hugo menunjuk satu kabel berwarna kuning.
"Hei, kau terlalu cepat memutuskan!" Tukas Erine, tapi Hugo tak peduli dan langsung menggunting kabel itu. Seketika alarm pada bom itu mati.
Erine menatap Hugo yang tersenyum padanya.
"Kau yang berambut panjang atau yang berambut pendek?" Tanya Hugo.
Erine langsung berdiri tanpa menjawab pertanyaan Hugo.
Hah, kalau sifatnya begitu, artinya dia yang berambut panjang. Batin Hugo.
'Dengar, disekitar kita ternyata banyak sekali bom. Segera periksa semua sisi dan jika menemukan bom, lapor segera!' Seru Ricky mengumumkan melalui earpiece-nya.
~
'Aman.'
__ADS_1
Hah, Richi bernapas lega setelah mendengar itu dari Harry. Ternyata setiap ruang dipenuhi bom sementara menurut denah lama, hanya ada 3 bom disana yang besar untuk meratakan semua isi gudang bawah tanah untuk menghapus jejak.