Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Ditembak


__ADS_3

Hugo memegang kedua bahu Daren yang sejak tadi terbahak-bahak, "Aku serius, beritahu aku. Apakah menurutmu Richi menyukaiku?" Tanyanya dengan antusias.


"Pastikan saja sendiri. Kau harus berjuang dan mengutarakannya." Ujar Daren.


Hugo mengepalkan kedua tangannya di depan dada. "Kau benar. Aku harus bertanya langsung. Aku harus memberitahunya tentang perasaanku yang sesungguhnya!" Ucapnya dengan tegas lalu keluar kelas dengan tangan yang masih terkepal.


"Kenapa dia?" Bisik Isac pada Axel yang sejak tadi berdiri di depan kelas. Axel hanya menangkat bahu dengan heran.


Hugo menengok ke dalam kelas Richi, gadis itu tidak ada di dalam kelasnya. Lalu dia melihat kebawah dari tembok pembatas depan kelas dan mendapati Richi tengah bermain basket dengan Emerald sambil tertawa-tawa.


Hugo melemas. Padahal, baru saja dia semangat hingga melupakan sikap Richi padanya. Lalu sekarang, gadis itu malah tengah bergembira dengan ketua osis.


Bagaimana cara untuk mengatakan perasaannya sedangkan Richi amat tidak peduli padanya. Lihat, Emerald mampu membuat gadis itu tertawa terus menerus.


Hugo menyipitkan matanya, melihat Emerald menarik tangan Richi sambil berjalan, mereka terlihat senang dengan sesekali Emerald menoleh ke belakang melihat Richi yang ia tarik hingga naik ke lantai tiga. Sungguh manis! Hugo mengikuti dari belakang.


Mereka terus bergandengan tangan hingga atap sekolah.


Disana, Emerald menggenggam kedua tangan Richi, dia menarik napas.


"Ichi, sudah lama aku ingin mengatakan ini, sebenarnya aku menyukaimu.."


DEG! Jantung Hugo berdetak kencang. Emerald mengungkapkan perasaannya kepada Richi di atas atap itu.


Dengan cepat Hugo turun, dia tidak ingin mendengar lagi kelanjutannya sebab wajah Richi juga terlihat memerah.


Dia melangkah cepat masuk ke dalam kelas. Axel dan Isac sampai terheran karena melihat wajah Hugo yang sumringah awalnya, berubah menjadi berang.


Daren mengerutkan alisnya saat tiba-tiba wajah sahabatnya itu berubah geram.


"Ada apa?"


Hugo mengepalkan kedua tangannya. "Emerald sudah duluan mengungkapkannya".


Daren mengangkat alisnya. "Lalu?"


"Lalu apanya! jelas mereka sudah pacaran. Aku lihat wajahnya gembira! aah sudahlah. memikirkannya saja sudah membuatku pusing!" Ucapnya lalu menaikkan kakinya ke atas meja dan bersandar di kursi.


"Pepet terus, dong. Masa pesona seorang Hugo kalah dengan ketua osis". Ejek Daren sambil terkikik dan Hugo tidak bergeming.


...🌶...


Ricky menemui adiknya yang tengah membaca novel di tepi kolam renang.


"Chi, mari bicara sebentar". Ajak Ricky.


Richi menoleh, "Kemarilah, aku lelah".

__ADS_1


Ricky datang ke tempatnya dan ikut merendamkan kakinya di kolam renang.


"Jawablah, apa kau melihat siapa yang naik ke helikopter waktu itu?"


Richi menatap kakaknya. Ya, dia melihat tetapi tidak ingin mengatakannya karena dirinya ingin menyelidiki dan menangkapnya sendiri.


"Tidak sempat kulihat".


"Ah, sayang sekali." Kesalnya. "Aku sudah berusaha melacak tempat lainnya tetapi tidak ketemu. Aku yakin mereka punya markas lain." Ucapnya dengan serius.


"Menurutmu, berapa anggota Stripe yang tersebar, kak?"


Ricky tampak berpikir. "Berdasarkan peta yang sempat kulihat, sepertinya sekitar seribu".


Richi mengangguk lambat, itu artinya mereka memang sudah sangat banyak dibanding Valiant yang hanya sekitar 40 orang.


"Senjata yang sempat kulihat, apa semua hancur?" Tanya Richi lagi.


"Ya, tanpa sisa. Mereka memang sengaja meletakkan bom supaya tidak meninggalkan jejak jika ketahuan musuh".


"Siapa yang mendanai mereka sampai berkembang seperti sekarang? Bukankah senjata dan alat yang ada disana mahal-mahal?" Gumam Richi sambil berpikir. "Jika markas mereka bukan cuma satu, artinya alat seperti itu ada disetiap markas, kan? Bukankah butuh dana yang besar untuk itu?"


"Itulah yang harus kita selidiki. Akupun tidak sangka ternyata diam-diam Stripe menyusun rencana." Ricky lalu mengeluarkan selembar kertas putih dan membukanya lebar.


"Lihat, apa kau mengerti arti titik-titik di kertas ini?"


Richi mengamati, kertas itu hanya dipenuhi beberapa titik yang tersusun seperti huruf S.


"Mungkin peta?"


"Peta apa?"


"Entah, bisa saja kota ini. Mungkin dia menempatkan titik-titik ini sebagai gedung-gedung mereka? Coba saja kau letakkan kertas ini di atas peta kota."


Ricky membelalakkan matanya. "Richi, kau hebat." Ucapnya sambil merampas lagi kertas itu.


"Bukan aku yang hebat, tapi kau yang bodoh. Bukannya saat akmil juga ini dipelajari?" Tukasnya pada Ricky yang kini menatapnya dengan berang.


"Apa? Aku benar, kan? Ini hal yang mudah!" Richi memeletkan lidahnya pada Kakaknya.


Ricky naik, lalu mendorong adiknya itu hingga terjebur ke dalam kolam, dia tertawa terbahak-bahak melihat Richi yang sudah basah kuyup.


"Aaaaah! Ricky gilaaa!" Pekik Richi sambil menyirami kakaknya dengan air. "Awas kau ya!!" Teriaknya dan Ricky terkekeh sambil berlari menjauh.


~


Richi berjalan santai menuju salah satu salon di tengah kota. Sore ini dia ingin melakukan sesuatu. Namun dia dijegat oleh seorang yang wajahnya sudah sumringah cerah menatap ke arah Richi.

__ADS_1


"Hai, kau masih mengingatku?"


Richi memicingkan mata, dia menggeleng karena tidak ingat.


"Kau ini, pelupa atau pura-pura lupa!" Bengaknya dengan kesal.


Richi mengerutkan dahinya. Orang gila, kenapa datang-datang malah marah? Pikir Richi.


"Aku yang pernah bertarung denganmu. Dion, dari Meteroid. Aku senang akhirnya bisa bertemu denganmu. Aku ingin mengajakmu kencan, bagaimana?" Tanyanya tanpa basa-basi.


"Tidak bisa, aku sudah punya pacar!"


"Kau pikir aku peduli?" Teriaknya di depan Richi.


"Hei, berisik sekali kau!"


Teriak seorang laki-laki yang tengah merokok di depan kedai kecil dekat Richi dan Dion berdiri.


"Sialan! Kau mau mati, ha?" Maki Dion tak kalah berang.


"Bangsat! Kau menantangku?" Pria bertubuh penuh tato itu berdiri, dia menghisap rokoknya lalu membuang dengan sembarang.


"Kau pikir aku takut padamu!" Teriak Dion balik.


"Sialan!!" Pria itu langsung menghajar Dion.


Pertarungan pun terjadi, Richi mundur beberapa langkah. Tempat itu langsung di lihati orang-orang lewat.


Tak lama, Dion jatuh tepat di bawah kaki Richi dengan wajah penuh darah.


"Sialan, menghabisi tenagaku saja!" Umpat lelaki itu.


Dion menyentuh kaki Richi. "Ba-n-tu-a-ku.." ucapnya terbata-bata.


"Apa? Kau meminta bantuan pada perempuan?" Pria itu tergelak.


"Sialan, kau merendahkanku, he?" Ucapnya lalu menatap Richi. "Hei, gadis kecil. Aku tidak takut walau dengan anggota Valiant sialan sekalipun, apalagi denganmu!"


Richi mengerutkan dahi. Ada masalah apa dia dengan Valiant?


"Dari pada kau menghajarku, lebih baik kau menemaniku malam ini, bagaimana?" Ucapnya lalu tertawa terbahak-bahak. "Tubuhmu oke juga.."


Richi berjalan dua langkah, lalu memutar tubuhnya, menempatkan ujung tumitnya ke wajah lelaki itu hingga terjatuh. Tanpa aba-aba, Richi langsung mengangkat dan meninju wajah pria itu. Richi benar-benar menghajarnya tanpa ampun.


Pria itu terkulai, dia memegangi hidungnya.


"Sudah ya, aku pergi." Ucapnya pada Dion yang masih terkapar di tempatnya. Lelaki itu hanya mengacungkan jempol lalu tergeletak lagi.

__ADS_1


Menghabisi waktuku saja, batinnya lalu masuk ke dalam salon.


TBC


__ADS_2