Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Penyesalan


__ADS_3

Hugo membawa Richi perlahan menuju daratan. Tapi, sebuah ombak besar menghantam mereka sampai membuat dia dan Richi terpisah.


"Hu-hugoo.." Richi teriak dengan suara yang mulai tenggelam. Richi berusaha berenang. Tetapi karena syok, tenaga Richi seketika hilang.


Menyadari tangannya terlepas dari Richi, Hugo segera mencari gadis itu, yang perlahan menjauh darinya.


Hugo melihat Richi yang berusaha menengadahkan kepala supaya tetap bisa mengambil napas. Tangannya melambai ke arah Hugo.


"Hugo, tolong. Hu-"


Hugo langsung berenang mendekat, menarik tangan Richi dan mendekapnya dengan erat.


"Aku disini. Aku disini." Bisiknya dengan suara gemetar, dia juga kalut. Kalau saja tangannya tidak sampai menarik Richi, apakah gadis ini akan terus terseret ombak?


Dia memeluk Richi yang menggigil. Rasa bersalah menyelimuti dirinya. Dia menyesal, dia mengaku salah dan semua karena dirinya.


Menyadari kakinya telah menyentuh pasir laut, Richi melepas pelukannya dengan sisa tenaga yang ada. Matanya memerah, wajahnya pucat pasi. Kali pertama Hugo melihat wajah gadis itu sangat ketakutan.


Richi berjalan dengan langkah berat keluar dari air. Tubuhnya terasa ingin tumbang, tapi dia menahan diri supaya bisa segera keluar dari sana.


"Darreeel.. apa yang.." Clair yang melihat Richi tenggelam dari atas villa, berlari kencang turun kebawah.


Gadis itu tak menjawab, diapun menepis tangan Hugo yang meraih tangannya. Tak ada kata, Richi berjalan melewati Clair dan Bella yang baru saja datang dengan wajah panik, karena mendengar teriakan Clair tadi.


Mereka bertiga diam menatap kepergian Richi. Dengan berat dia menyeret langkahnya menuju Villa.


"Chi.." Hugo ingin mengejar Richi. Tapi tangan Clair yang membentang menghalanginya berjalan. Dan...


BUK!


Satu pukulan keras dilayangkan Clair di wajah Hugo. Lelaki itu sampai terjatuh ke dalam air.


"KAU GILA, HAH??!"


Bella mulai paham, dia langsung berlari mengejar Richi, ingin memastikan keadaannya.


"KAU MAU DIA MATI? KAU SAKIT JIWA!" Pekik Clair lagi. Walau dirinya masih ingin menghajar Hugo, tapi dia menahannya.


"Hugo! Ada apa?" Axel dan Isac berlari mendekat, membantu Hugo berdiri dengan hidung yang sudah mengeluarkan banyak berdarah.


"Clair, apa-apaan kau!" Teriak Axel geram melihat temannya sudah dengan darah yang mengalir banyak dari hidungnya.


Clair tak menghiraukan ucapan Axel, matanya terkunci pada Hugo yang memegangi hidungnya yang mengalirkan darah.


"KAU TAHU DIA TIDAK SUKA PANTAI, KAN? DIA SENGAJA DATANG KESINI DEMI KAU, SIALAN!!" Maki Clair dengan leher yang menegang.


Hugo masih diam dengan wajah bersalah. Dia juga menyesal. Tidak ada niat dalam hatinya membuat Richi seperti itu. Dia hanya ingin membuat gadis itu tidak takut karena ada dirinya yang menjaga, tanpa sadar kalau ada ombak besar dan sialnya saat ia tengah lengah.


"Kau tidak bisa menjaganya. Aku akan laporkan ini pada Komander dan Jenderal, kalau mereka memilih orang yang salah."


"Ada apa ini?" Isac menatap Clair dan Hugo secara bergantian, dia hanya melihat saat Hugo ditinju Clair entah karena apa.


"Kau tanya saja padanya!" Clair pergi. Dia sudah tidak ingin melihat Hugo. Dia menganggap laki-laki itu sudah lalai dan gagal menjaga sahabatnya.


Hugo merasa ucapan Clair benar. Dia tidak berguna dan tidak bisa menjaga Richi. Tapi dia berani sumpah, kalau itu kecelakaan.

__ADS_1


Hugo menjambaki rambutnya. Sedih, marah, kecewa, menyesal, semua menjadi satu dalam hatinya.


"Hugo, tenangkan dirimu dulu." Isac berusaha menenangkan Hugo. Tapi ucapan lelaki itu bahkan tak menyangkut di telinga Hugo.


"Hei, kau menarik Richi ke dalam air, ya?"


Tebakan Axel benar, tapi Hugo hanya diam, memaki dirinya sendiri dalam hati.


"Benarkah, Hugo? Kenapa kau lakukan itu? Kau tahu kan, dia sebenarnya tidak suka berada disini." Isac menggelengkan kepala, tak percaya Hugo bisa sebodoh itu.


"Aku tidak bermaksud.." Hugo tidak melanjutkan ucapannya. Percuma, karena pada awalnya memang dia pelaku yang membawa Richi masuk ke dalam air padahal gadis itu sudah menolak berkali-kali.


"For the first time in my life, aku tidak bisa membelamu." Tukas Axel. Dia menyesali perbuatan Hugo yang keterlaluan menurutnya.


Sementara di dalam kamar, Richi duduk di atas tempat tidur. Pelan-pelan Bella menghanduki tubuhnya. Gadis itu masih memeluk lutut karena takut. Bayangan ombak besar dan air laut yang berusaha menenggelamkannya, juga kenangan buruk dulu kecil saat terseret ombak juga ikut muncul dalam pikirannya.


"Rel, kita ganti baju dulu. Nanti kau bisa sakit." Bujuk Bella. Sedari tadi ucapannya tidak direspon Richi. Gadis itu hanya menangis tanpa suara.


Bella menarik Richi dan memeluknya. Gadis itu masih terisak disana. Dia pasti kecewa karena Hugo yang ia kira akan menjaganya, malah membuatnya seperti sekarang ini.


"Rel!" Clair langsung masuk tanpa mengetuk. Bella mengisyaratkannya untuk diam dengan telunjuk di bibirnya. Saat ini Richi tak butuh kata-kata. Yang gadis itu mau hanya ketenangan untuk dirinya sendiri.


Clair berjongkok di bawah Richi, menggenggam kedua tangan gadis itu.


"Rel, kita pulang, ya? Tapi kau harus ganti baju dulu. Kami akan mengantarmu."


Richi menghapus air matanya, lalu beranjak dan masuk ke dalam kamar mandi.


"Sialan, Hugo. Apa dia mendadak tidak punya otak?" Geram Bella.


"Eh? Kau akan mengadukan ini pada Komander?"


"Tidak. Aku hanya mengancam Hugo."


"Aku rasa, Hugo tidak mungkin mencelakai Darrel." Ujar Bella. Siapapun bisa melihat bagaimana cintanya Hugo pada Richi. Tidak mungkin dia sengaja melakukan itu.


"Tapi tetap saja, untuk apa dia menggendong Darrel ke dalam air!"


"Kau tahu dari mana?" Tanya Bella dengan alis berkerut. "Bukannya kau masuk ke dalam villa? Aku mengintipmu meninggalkanku disana!"


Ditanya begitu, Clair malah gelagapan.


"Aaah, kau mengintip mereka, ya?" Tebak Bella.


"Hei, jaga mulutmu." Clair menutup mulut Bella dan matanya terus menatap pintu kamar mandi, berharap Richi tidak mendengarnya.


Bella dengan kuat melepaskan tangan Clair yang menutup mulutnya. "Clair, kau gila, ya? Kau pikir tindakanmu ini benar, hah?" Bella menekan suaranya supaya Richi yang berada di dalam kamar mandi tidak mendengarnya.


"Ssst. Diam! Aku.. kebetulan melihatnya." Elak Clair.


"Bohong. Baru saja kau katakan padaku, kalau kau-"


Buru-buru Clair menutup lagi mulut Bella saat mendengar suara handel pintu yang digerakkan.


Richi keluar dengan pakaian baru. Dia menarik ranselnya dari bawah tempat tidur, lalu mengemasi barang-barang yang ada.

__ADS_1


"Aku akan bersiap, kita pulang sekarang." Ucap Clair. Dia beranjak ke kamarnya dan juga Bella.


Setelah selesai berberes, Clair membawa tas Richi menuju mobil yang ia pinjam dari Simon.


Bella membukakan pintu, tetapi Hugo sudah datang dengan berlari ke arah mereka.


"Chi, aku minta maaf. Aku tidak ada maksud untuk membuatmu seperti ini. Aku bersumpah. Beri aku kesempatan-"


"Hugo, stop. Ocehanmu tidak berguna. Darrel tidak akan mendengarkanmu disaat sekarang." Clair menutup pintu saat Richi sudah tenang diatas kursi penumpang.


"Kau yang paling tahu, kalau kau memaksa bicara padanya saat emosinya tinggi, maka kata-kata yang kau anggap mimpi buruk, akan menjadi kenyataan." Lanjutnya lagi.


"Clair, Bells, kalian mau kemana?" Olivia baru saja tiba entah dari mana. Daren mengikutinya dari belakang.


"Pulang. Barang-barangmu belum kususun. Jadi kau pulang dengan Daren saja karena kami buru-buru.


"Apa? Kenapa? Ada apa sampai buru-buru begini?"


Clair menatap Hugo. "Kau tanya saja pada dia." Ucapnya lalu mengitari mobil untuk masuk ke dalam kursi kemudi.


Tak menunggu lama, mobil bergerak menjauh dari mereka. Hugo masih menatapi mobil yang sudah tak terlihat lagi bentuknya. Dia merasa sangat keterlaluan pada kekasihnya. Juga saat ini, tidak bisa melakukan apa-apa. Apalagi jika Richi meminta putus, maka dia mungkin akan menyesali ini seumur hidup.


"Katakan, apa yang terjadi sampai mereka pulang buru-buru begitu."


Kini mata elang Olivia fokus pada Hugo. Dia merasa ada sesuatu yang tak beres disini.


"Ah, begini. Sebenarnya ini kecelakaan. Iya kan, Hugo?" Isac berusaha menjelaskan karena nampaknya Hugo masih belum bisa menerima keadaan.


"Kecelakaan? Siapa? Darrel?" Kumpulan pertanyaan terlintas di pikiran Olivia.


Melihat tak ada yang menjawab, Axel memberi penjelasan singkat. "Hugo menarik Richi masuk ke dalam air. Lalu mereka kena ombak sampai Richi tenggelam. Lalu-"


"Apa kau bilang?" Olivia berusaha menahan diri sampai telinganya benar-benar mendengar itu secara jelas.


"Ini hanya kecelakaan. Hugo tidak bermaksud menarik Richi masuk ke dalam-"


BUK! Satu pukulan keras mendarat di rahang Hugo.


Daren yang terkesiap melihat perlakuan Olivia pada sahabatnya, langsung menarik lengan perempuan itu.


"Apa yang kau lakukan pada Darrel? Kau mau mati, ya!" Nada Olivia tidak tinggi, tapi tertekan karena menahan amarah. Tangannya sudah mengepal sempurna, tapi ditahan oleh Daren.


"Oliv, tahan dirimu." Bisiknya.


Hugo sudah tahu jika ini akan terjadi. Dia pasrah, karena memang bersalah. Kalau bisa, dia minta dihajar saja sampai setengah mati, asal Richi mau memaafkannya dan kembali padanya.


***


Follow IG ku, Pen. Isinya kisah Hugo dan Richi versi AU. Tapi ceritanya akan banyak berbeda. Juga beberapa visual yang akan aku ubah.


on IG -> penaputih27



Jangan Lupa kasih Vote cerita ini, yaahhh❤️‍🔥

__ADS_1


__ADS_2