
Malam hari di Uranus terang dengan banyaknya lampu hingga membuat suasana malam sangat indah. Dekorasi ruang aula yang artistik dan mampu menampung banyaknya orang dari berbagai sekolah membuat banyak kebahagiaan tersendiri bagi seluruh murid.
Terkecuali Hugo. Dia menolak banyak panggilan dari berbagai macam nomor untuk mengajaknya bertemu di acara pesta. Dia juga sempat gelagapan menjawab banyak permintaan dari para gadis yang datang memintanya menjadi pasangan di acara penutup.
Isac berulang kali mengirimkannya pesan. Penerimaan piala besar harus diwakilkan oleh ketua basket. Namun, Hugo menolak dan menyuruh Daren yang melakukannya.
Dia mengendarai motornya dengan santai. Hoodie dari jeket jeans menutupi kepalanya. Dia memakai masker hitam. Supaya orang-orang tidak mengenalinya dan bertanya panjang lebar kenapa tidak ikut di acara penting malam ini.
Hugo menimbang-nimbang tempat yang akan dia tuju malam ini. Yang jauh dari pandangan orang-orang yang mengenalnya. Setelah menemukan satu tempat, dia melajukan dengan cepat motornya hingga membuat angin malam menerobos masuk ke dalam jeketnya.
~
Richi tengah bersiap. Dia sudah lengkap dengan hoodie yang menutup kepala dan kets putih santai yang sering ia gunakan.
Dia keluar dengan hati bahagia. Hari ini, dia menonaktifkan ponselnya supaya tidak mengganggunya. Karena dia akan keluar mencari novel baru.
"Lah? Bukannya malam ini puncak acara di Uranus?" Ricky membuat langkah Richi terhenti. Dia melirik ke sumber suara.
Ricky tengah duduk bersantai dengan Mary. Malam ini, sang Ayah belum pulang karena pekerjaan.
"Iya, sayang. Kenapa tidak pergi? Kalau butuh bantuan dress, Ibu akan bantu pilihkan." Ucap Mary yang sudah menurunkan majalah yang ia baca.
"Tidak, Bu. Aku tidak tertarik kesana. Aku akan bawa mobil sendiri untuk cari novel baru. Jangan telepon aku". Ujarnya lalu melambaikan tangan sambil berjalan meninggalkan kakak dan Ibunya.
Mary mendesah. Kalau Richi sudah mengatakan itu, artinya dia memang tidak ingin diganggu.
Ricky mengeluarkan ponselnya. Dia lalu menelepon seseorang.
"Kerahkan anak-anak untuk mengikuti Richi. Jangan sampai dia...Aduhh!!"
Mary melempar bantal sofa ke wajah Ricky. "Kau ini, kasih sedikit kebebasan untuk adikmu itu. Biarkan dia!" Erang Mary sambil melotot.
"Kau dengar, kan. Tidak usah ikuti dia". Ucap Ricky pada orang diseberang lalu menyimpan ponselnya dengan wajah cemberut.
...🐈⬛...
TRING!
Bunyi lonceng pada pintu kaca membuat Mouza menoleh.
__ADS_1
"Hei, Mo." Richi berlari kecil menuju tempat Mouza berdiri dengan riang gembira.
"Kau semakin gendut saja, Mo" Richi memeluk dan menguyel-uyel kucing itu di wajahnya.
"Rel?" Clair menyapanya dari belakang kasir.
"Hm?" Jawabnya singkat dengan masih memeluk erat Mouza di dekat wajahnya.
"Kau sendirian? Ada janji?"
"No." Richi menggendong Mouza dan mulai melirik buku deretan Novel. "Apa kau sering melihatku bersama orang lain?" Tanyanya tanpa melihat ke arah Clair.
"Ya, tuan Hugo, misalnya." Jawab Clair dengan santai.
"Of course, not. Dia sedang berpesta dengan gadis-gadis." Ucap Richi yang berjinjit untuk meraih satu novel.
"Tidak juga". Suara Hugo tiba-tiba menyambar di telinga Richi.
BUK!
Buku yang ia hampir gapai di rak atas terjatuh ke lantai. Mata Richi melihat ke arah meja sudut dekat Clair berdiri. 'Hugo?' Batinnya bertanya. 'Kenapa dia malah disini?'
"Sedang apa kau disini?" Tanya Richi heran. Dia sempat mendengar Camilla mengatakan dengan bangga pada teman-temannya tadi, kalau dia akan datang bersama Hugo malam ini.
"Kau memakai rok?" Hugo menutup mulutnya dengan tangan. Menahan tawanya supaya tidak meledak.
"Kenapa?" Richi melihat ke arah roknya. Dia mengira ada yang salah dari apa yang ia pakai. "Kau lihat selama disekolah aku pakai apa?"
"Bukan. Rokmu ini sangat pendek". Goda Hugo yang masih merasa geli dan aneh melihat Richi yang feminim malam ini. Kalau di sekolah, itukan suatu kewajiban. Lalu di luar? "Kau mau berubah jadi perempuan seutuhnya, ya?"
Richi memutar bola matanya tak peduli dengan ocehan Hugo. Dia terlalu memperhatikan penampilan Richi. Padahal rok yang dipakainya kesekolah hanya lebih panjang tiga jari dari rok yang ia pakai sekarang.
Richi meletakkan Mouza dan mengutip novel yang jatuh. Dia mulai membuka lembar demi lembar sambil berdiri disana.
"Hei, tuan Hugo". Clair berbicara setengah berbisik.
"Apa kau tidak tahu bahwa Nona Darrel memang seorang feminim?"
"Ppfftt.." Hugo menutup mulutnya dengan rapat. Ucapan Clair tak masuk akal baginya.
__ADS_1
"Aku serius. Kau belum pernah melihatnya berdandan dan memakai heels? Apalagi kalau dia menguraikan rambut indahnya itu". Clair lalu melemparkan selembar foto kecil ke meja Hugo.
Hugo menatap wajah gadis dengan dress merah jambu di foto itu.
Clair mendekat dan dengan cepat merampas lagi foto yang ia lempar tadi.
"Cuma 5 detik. Kalau mau, kau boleh membayarnya". Ucapnya lalu mengedipkan mata sambil berlalu pergi.
Hugo membeku. Tangannya masih berdiam seperti menggenggam sesuatu. 'Itu tadi, Richi?' Hugo bertanya-tanya dalam hati.
Walau sebentar, dia bisa melihat wajah cantik Richi dengan balutan Dress dan rambut panjangnya. Dia lalu mengingat sesuatu.
"Apa ada pesanan, Rel?" Clair menguatkan suaranya supaya gadis yang tengah fokus itu mendengarnya.
Richi menoleh. Dia berjalan menuju meja Hugo yang berada di depan kasir tempat Clair berdiri.
"Tidak, aku hanya sebentar." ucapnya lalu duduk di hadapan Hugo dan fokus membaca novelnya.
"Kenapa kau tidak pergi ke pesta?" Tanya Hugo penasaran. Ada sedikit rasa senang dalam hatinya melihat orang di depannya ini. Rasanya, tidak sia-sia dia bolos di acara itu.
"Aku tidak suka pesta". Ucapnya tanpa menoleh dari novelnya.
"Aku pikir kau akan bersama Emerald. Kasihan dia harus datang sendirian". Hugo menyeringai hingga menunjukkan gigi taringnya.
Richi tidak menjawab. Dia memang berkali-kali mendapat bujukan Emerald untuk datang ke acara itu. Namun Richi berkali-kali juga menolak.
"Clair, aku bawa yang ini". Ucapnya sambil menunjuk novel di tangannya. Dia lalu berdiri dan memutar badan untuk pergi.
"Hei, kau mau kemana?" Hugo ikut berdiri. Dia baru saja senang sebab gadis itu tidak pergi ke pesta.
DRRTTT!
Getaran ponsel Hugo di atas meja membuat Richi melirik sekilas ke arah ponsel Hugo. Nama Camilla tertera disana. Buru-buru Hugo mengambilnya dan menyimpan di dalam saku jeketnya.
"Aku mau bersantai". Ucapnya lalu berjalan meninggalkan Hugo.
Hugo termangu beberapa saat.
"Hei, aku pergi." Ucap Hugo pada Clair yang dari tadi menonton mereka.
__ADS_1
Clair menggelengkan kepalanya. "Kisah cinta yang sulit. Apakah tuan Hugo mampu membuka hati Nona Darrel?" Gumamnya sambil melihat Hugo keluar dari pintu kafe mengejar mobil Richi dengan motornya.
To Be Continued...