
"Ada apa denganmu, Hugo" . Axel menyerahkan sebotol soda pada Hugo yang duduk di atas meja sambil bersandar di dinding. Hari ini, dia enggan ke kantin sekolah.
"Kau berkelahi dengan siapa?" Sambung Daren yang duduk tak jauh dari Hugo.
Hugo manarik penutup soda dan menenggaknya. "Stripe".
"Apa?" Sontak yang lain terbelalak.
Stripe, geng yang Hugo bentuk sendiri. Tetapi pada akhirnya, dialah yang terusir karena perbedaan pandangan. Bagaimana itu bisa terjadi?
Daren berdiri dari tempatnya. "Hei, kau serius? Bagaimana mungkin kau bisa berhubungan lagi dengan mereka?"
"Jadi kau tidak datang ke pesta karena bertemu Stripe?" Lanjut Isac penasaran.
"Aku tidak sengaja bertemu Richi di Wallpox. Lapangan basket itu". Hugo menenggak soda sampai habis. "Stripe juga disana."
"Jadi kau dan Richi..."
Hugo mengangguk, seperti tahu apa yang ingin dikatakan Daren. Dia meremas botol kaleng kosong di tangannya.
"Gila! Kau membuat Richi dalam bahaya". Ungkap Axel dengan wajah tegang.
Selama ini, mereka sudah memilih lokasi sekolah yang agak jauh dari sarang Stripe. Beberapa tahun sudah berlalu, mereka tidak ingin berhubungan apapun dengan kelompok itu. Namun sekarang, Hugo malah mendatangi tempat itu.
"Richi tahu tempat itu berbahaya". Lanjut Hugo lagi. Dia sedikit bingung. Kalau gadis itu tahu, kenapa dia malah mendatangi tempat bahaya?
"Benarkah? Lalu kenapa dia kesana?" Axel memberikan pertanyaan yang sama dengan Hugo.
"Stripe tidak akan keluar kalau bukan karena Hugo disana". Sambung Daren dengan asumsinya. Sebagai anggota, tentu saja dia tahu apa yang terjadi hingga Stripe menjadi lebih hati-hati dalam memilih target.
Hugo mengangguk. Dia tahu betul itu. Karena itulah dia merasa bersalah pada Richi. Dia juga tidak sangka, Stripe datang secepat itu.
❤️🩹
Sepulang sekolah, Hugo bersandar pada badan mobilnya. Dia terus menatap pintu utama untuk melihat sosok Richi keluar dari sana.
Lama dia menunggu, nampaknya Richi tidak juga keluar. Hugo melirik ponselnya untuk melihat jam. 'Apa dia sudah keluar?'
"Hugo!" Camilla datang dengan wajah kesalnya karena Hugo tidak hadir di acara pesta penutup malam tadi. Tapi, setelah melihat wajah Hugo, dia berubah khawatir karena sedikit luka biru di sudut bibir lelaki itu.
__ADS_1
"Kau kenapa, Hugo? Lihat wajahmu". Camilla menyentuh perlahan pipi Hugo.
"Aku tidak apa-apa". Ucapnya sambil melirik beberapa kali ke arah Richi yang mulai berjalan mendekat.
"Hugo. Apa kau marah padaku sampai-sampai membiarkanku sendirian tadi malam?"
"Tidak, Mil. Kau bicara apa?"
"Lalu kenapa kau tidak datang? Bahkan tidak memberi kabar. Aku pikir, aku melakukan kesalahan padamu". Ucapnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Eh, kenapa menangis? Aku tidak datang karena ada urusan. Bukan karena marah padamu". Hugo terlihat panik saat Camilla mulai cemberut dengan air mata yang hampir tumpah.
"Benarkah? Kau tidak pergi dengan perempuan lain, kan?" Tanyanya lagi.
"Ha? Tentu, tidak." Hugo menjawab dengan enteng karena Camilla tidak mungkin tahu kemana dirinya malam tadi.
Hugo menghela napas. Dia mulai tahu, Richi tidak mau menemuinya.
~
"Rand, bagaimana?"
"Kenapa tidak langsung di bawa ke dokter?" Randy duduk di kursinya.
"Ada sedikit keretakan. Tapi tidak parah, ini bisa sembuh. Aku juga akan memberikan salepnya supaya denyutnya berkurang" Randy menulis sesuatu di sebuah kertas.
"Berikan obat yang paling bagus". Kata Emerald.
"Iya, kau tenang saja. Besok, nyerinya akan sembuh. Yang penting, jangan melakukan apapun yang membuat tanganmu keberatan". Ucap Randy tanpa melihat. Dia fokus menulis.
"Yang sembuh sekali oles, ada tidak? Jangan permasalahkan harga".
"Ck! Kau ini tidak sabar sekali. Iya, iya, aku tahu kau bisa membayarnya. Tapi tidak ada. Semua pakai proses." Ucapnya dengan sedikit membentak.
Richi tersenyum melihat Emerald. Orang yang dia minta membantunya menemukan dokter yang tidak berkaitan dengan Ayahnya. Untungnya, dia mau membantu. Tentu saja karena khawatir dengan tangan Richi.
Setelah selesai, mereka kembali ke mobil Emerald.
"Janji ya, kak. Jangan beritahu Ayah dan Ibu, juga kak Ricky." Richi sejak tadi mewanti-wanti supaya Emerald tidak membocorkan masalahnya.
__ADS_1
"Tenang saja, Chi." Emerald mulai menjalankan mobilnya.
"Tapi, kenapa kau bisa sampai seperti itu? Berkelahi dengan siapa?" Emerald bertanya sambil matanya fokus ke jalan.
Richi sedang menimbang. Dia sepertinya tidak bisa banyak berkata pada Emerald.
"Preman, kak. Dia bawa kayu. Jadi, ya, seperti itulah". Jawab Richi tak berniat cerita mendetail. Dia tahu kedekatan Emer dengan kakaknya yang akrab tidak menjamin rahasia aman.
"Tapi janji ya, kak. Kalau ada cacat sedikit saja, mungkin aku dilarang pergi lagi. Kalaupun pergi, harus bersama Simon" Karang Richi. Karena dia tahu Emerald tidak akan mau itu terjadi. Akan sulit baginya untuk pergi dengan Richi nantinya.
"Sampai seperti itu? Baiklah, aku akan jaga rahasia ini". Ucapnya sambil mengangguk-angguk.
Richi hanya menahan tawanya karena apa yang dia pikirkan, ternyata benar. Emerald lebih khawatir kalau Richi tidak bisa keluar bersama dirinya.
🦒
Beberapa hari berlalu, Hugo tidak melihat Richi di sekolah. Padahal, Frans dan Eric mengatakan kalau Richi ada. Tetapi entah mengapa Hugo tidak menemukannya baik di kelas, kantin, maupun lapangan basket.
Hugo berdiri menjulang di pembatas balkon depan kelasnya. Dia melihat ke bawah, siapa tahu Richi lewat dari situ.
Dia lalu mendengar suara dari sampingnya dan menoleh ke arahnya. Disana, dia sekilas melihat seperti Richi yang naik ke lantai tiga. Dengan cepat dia mengikuti. Ternyata benar, Richi bersama Emerald menaiki tangga hingga lantai lima.
Mereka lalu masuk ke dalam pintu penghubung atap gedung, yang mana kuncinya dipegang oleh osis. Itulah kenapa Emerald dengan gampang membawa Richi naik ke rooftop, tempat yang tidak semua siswa bisa masuki.
Hugo melihat Richi dan Emerald yang sedang makan di atas meja kecil yang hanya punya dua kursi berhadapan. Seperti sudah disiapkan dengan baik.
Hugo berbalik arah. Dia turun, karena sudah tahu ternyata Richi menghabiskan waktunya di sekolah dengan Emerald. Dia juga melihat lengan Richi yang tampak membaik hingga dia tidak menutupinya lagi dengan jeketnya.
Hugo menuruni tangga. Entah mengapa suasana hatinya menjadi buruk. Dia menatap lantai koridor sambil berjalan. Sapaan demi sapaan tidak dia dengarkan. Telinganya seperti sedang tertutup karena pikirannya yang kacau.
Sepulang sekolah, Hugo melihat Richi sedang berjalan sendiri dengan santai seperti tanpa beban. Hugo berdiri menatap gadis yang tengah mengangguk-angguk pelan karena alunan musik melalui headsetnya. Dia tersenyum tipis melihat Richi. Tetapi senyum itu pudar, saat Richi menoleh melihatnya, lalu mengalihkan pandangannya lagi ke depan.
Hugo terdiam. Dia tahu Richi melihatnya tadi. Tetapi gadis itu seperti tidak mengenalnya. Kenapa?
Dia lalu berjalan cepat, ingin menarik lengan gadis itu. Lalu terhenti saat melihat Emerald yang menghadang jalannya Richi, hingga membuat wajah gadis itu berubah riang.
Dia mengurungkan niatnya. Berbalik badan menuju teman-temannya di lapangan basket.
TO BE CONTINUED...
__ADS_1