Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Pingsan


__ADS_3

"Enak tidurnya?" Tanya Hugo saat Richi baru masuk ke dalam mobil.


"Siapa yang tidur. Aku tidak tidur, kok." Ucapnya lalu memasang seatbelt.


"Jadi, kau pura-pura tidur?"


"Aku bukan pura-pura tidur, Hugo. Aku tengah memejamkan mata dari adegan tak senonoh." Jawabnya sambil menahan tawa.


"Tak senonoh apanya? Itu adegan romantis."


"Hahaha" Richi malah tertawa lebar, dia menikmati kegalauan Hugo karena dirinya yang pura-pura tidur tadi.


Hugo menatap tajam ke arah Richi. "Jadi kau mengerjaiku, ya!" Hugo langsung memegang kepala Richi dengan cepat mencium pelipis gadis itu.


Richi ternganga.


"Hugooo. Apa yang.." dia menyentuh pelipis yang dicium Hugo dengan mata yang membulat.


Sementara Hugo tertawa riang sambil menjalankan mobilnya.


"Haha, rasakan pembalasanku." Ucapnya sambil terus tertawa.


"Kenapa? Aku bahkan sudah mencium bibirmu dua kali." Jawabnya dengan padat dan jelas sementara Richi membuang wajah, tak ingin ketahuan bahwa pipinya memerah.


"Ooh, jangan-jangan kau mau kucium dibibir, ya." Hugo langsung menepikan mobilnya.


Richi langsung membuat tanda X pada kedua tangannya, dia mundur mendekat ke jendela pintu mobil hingga membuat Hugo semakin terkekeh.


"Hahaa, kau berani mengerjaiku, tapi tidak kuat kalau kukerjai, kan?" Gelaknya lalu melanjutkan perjalanannya.


"Aku tidak mau tahu, hari senin aku sudah akan mengumumkan bahwa kau pacarku." Tukas Hugo dengan tatapan lurus ke depan.


"Tidak ada penolakan. 3 hari lagi misimu selesai dan akupun tidak susah-susah menahan diri di sekolah." Ucapnya lagi sebelum Richi menjawab.


"Hmm.. baiklah.." jawab gadis itu pasrah.


"Sesekali panggil aku sayang, Honey, Sweety, myboy, myman, my love, atau apalah itu. Aku juga mau mendengar itu darimu." Hugo terlihat cemberut membuat Richi gemas melihatnya.


"Iya, nanti aku panggil begitu."


"Apa? Apa panggilan khusus untukku?" Tanya Hugo penasaran.


"Apa ya.. aku belum memikirkannya." Jawab Richi dengan malas.


"Pikirkan, besok harus sudah ada panggilan untukku." Jawabnya dengan nada tegas.


"Memangnya kau memanggilku apa?" Tanya Richi balik.


"Baby. Karena kau seperti bayi yang menggemaskan."


Richi menahan tawanya. Padahal dia juga belum pernah mendengar Hugo memanggilnya dengan sebutan itu.


"Oh ya, sayang. Nanti malam aku sibuk bersama Ayah. mungkin aku tidak bisa dihubungi. Aku memberitahumu walau kau tidak pernah mencariku duluan." Tukas Hugo sambil menyindir Richi.


"Iya, baiklah sayang.."


"Eh, apa? Apa tadi kau bilang?" Hugo melirik Richi berkali-kali, ingin mendengar lagi panggilan Richi untuknya.


"Iya, baiklah.."


"Lagi, tadi ada lanjutannya."

__ADS_1


"Tidak ada. Hanya itu." Jawab Richi lalu menahan senyumnya melihat wajah Hugo yang bertekuk dan langsung menatap lurus ke depan.


...🐧...


Richi berjalan berdampingan bersama Harry. Malam ini, Harry hanya ingin ditemani makan malam sebentar. Richi pula menurutinya karena Harry akan membawanya ke perusahaan yang tengah ia kelola. Richi berasumsi, bisa saja perusahaan yang ka kelola adalah markasnya.


Harry terlihat berpakaian lebih santai. Dia memakai kemeja lengan panjang berwarna hitam, sementara Richi memakai dress simpel selutut dan lengan panjang yang memperlihatkan kedua bahunya.


Harry menarik kursi untuk Richi. Dia lalu duduk dan mendapati minuman keras di atas meja.


Tanpa kata, Richi menunjuk botol minuman di depannya.


"Ah, aku tidak bermaksud mengajakmu mabuk-mabukan. Itu minuman yang aku beli dari luar negeri. Minuman paling mahal tapi tidak begitu memabukkan." Jawab Harry yang mengerti ketidaksukaan Richi pada alkohol.


Richi mulai menyantap makanannya, begitu pula Harry yang tampak bersemangat.


Harry lalu menuang minuman itu ke gelas Richi dan gelasnya.


"Sudah kukatakan, aku tidak minum."


"Ah, maaf.." jawab Harry lalu meneguk minumannya sendiri.


"Chi, apa syarat supaya kau menyukaiku?" Tanya Harry tiba-tiba. "Aku merasa belum mendapatkan hatimu, padahal aku sudah maksimal. Apa sudah ada yang merebut hatimu?"


Richi meletakkan sendoknya, dia menatap lurus pada Harry.


"Apa kau benar-benar menyukaiku?" Tanya Richi seolah membuat Harry berusaha untuk mendapatkan hatinya.


"Aku sangat-sangat menyukaimu. Aku ingin sekali terus bersamamu. Mengenalmu beberapa minggu sudah seperti bertahun-tahun lamanya." Jawab Harry lalu meraih tangan Richi.


"Benarkah begitu?" Richi tertawa dalam hati. Bagaimana mungkin dengan yakin Harry mengatakan hal demikian, padahal apa yang ia ucapkan bertimbal balik dengan sifat Richi yang sebenarnya.


"Ya, aku merasa sangat nyaman berada di dekatmu. Kau juga mampu menyadarkanku tentang hubunganku dengan Hugo. Kau adalah gadis yang baik."


"Apa yang kau ingin tahu? Aku akan menjelaskannya padamu."


Richi menopangkan dagunya di atas meja. "Aku ingin lihat perusahaanmu, yang pernah kau bilang sebagai tempat khusus untukmu."


"Aku pernah bilang begitu?"


Richi mengangguk. "Waktu itu kau mabuk, jadi kau tidak ingat. Tapi kau bilang, hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk kesana


Aku ingin tahu, apakah aku termasuk orang khusus yang bisa masuk kesana?"


Harry tertawa pelan. "Begitu, ya? Baiklah aku akan membawamu ke perusahaanku itu."


"Benarkah? Besok bagaimana? Aku ingin tahu banyak hal tentang perusahaan."


Harry tertawa renyah. "Baiklah, baik. Aku akan membawamu keliling perusahaan dan mengenalkannya padamu. Besok saat pulang sekolah aku akan menjemputmu. Lalu, minggu malam, apa kau mau pergi bersamaku?"


"Kemana?" Tanya Richi.


"Hm.. pergi ke tempat yang indah dan agak jauh dari kota." Jawab Harry tanpa menjelaskan bahwa minggu malam mungkin dia akan meledakkan kota.


"Baiklah, aku akan ikut asal ke tempat yang indah." Jawabnya asal, sebab dia akan mengakhiri perbuatan Harry dan itu adalah akhir dari misinya.


Harry tersenyum, dia menenggak lagi minumannya sedikit demi sedikit, sembari terus menatap Richi yang masih mengunyah makanannya.


"Richi Wiley, apa hanya itu? Siapa nama panjangmu?"


"Uhuk!" Richi terbatuk mendengar pertanyaan Harry hingga dia meneguk habis minuman di depannya.

__ADS_1


Richi mengerjap beberapa kali, minuman yang ia tenggak amat berat di tenggorokannya. Lalu dia terkejut saat yang diminumnya adalah minuman yang dituang Harry padanya.


"Astaga, Richi, kau tidak apa-apa?" Harry mendekatinya, memeriksa kondisi gadis itu yang menatap bingung ke gelas kosong di tangannya.


Richi mulai sedikit pusing. Dia belum pernah meminum alkohol, apalagi tadi dia meneguk satu gelas langsung.


"Chi, kau baik-baik saja?"


Richi masih mendengar suara Harry, tetapi pandangannya mulai kabur dan kepalanya terasa pusing.


"A-aku.. " Richi berdiri tetapi terduduk lagi.


"Kau mulai pusing, ya? Kau mabuk?" Suara Harry terus mengganggu ditelinganya yang berusaha untuk fokus.


"A-aku ke toilet.." Richi berjalan sempoyong. Saat akan terjatuh, Harry menangkap tubuhnya.


"Hati-hati. Apa perlu kuantar?"


Richi mendorong pelan tubuh Harry, dia takut tidak sadarkan diri atau meracau tidak jelas di hadapan Harry, dia memilih ke toilet untuk mencuci wajahnya.


Sesampai di toilet, Richi menyiram wajahnya dengan air sebanyak-banyaknya. Namun, pusingnya masih terasa, seakan tempat itu tengah berputar karena gempa.


Richi langsung mengeluarkan ponselnya. Dia menghubungi Hugo, tetapi nomor lelaki itu tidak bisa dihubungi.


"Ahh.." Richi memegang kepalanya yang terasa berat. Dia lalu mengirim pesan suara pada Hugo.


"Hugo.. hugo.. kau harus.. datangi aku.. " Richi bersandar pada tembok toilet. Dia menarik napasnya lalu meletakkan lagi ponselnya ke telinganya.


"Hugo.." Richi menelan ludahnya. Pahit dan asam menjadi satu. "Aku.. salah minum.. jemput aku.." suara Richi terdengar sesak, dia lalu menggelengkan kepala untuk menyegarkan matanya.


Richi keluar dari kamar mandi, berusaha berdiri tegak tetapi kepalanya seperti sulit untuk diajak kompromi.


Dia berjalan menuju mejanya bersama Harry. Tidak ada orang bahkan pelayan untuk dimintai tolong.


Harry sudah menunggunya di lorong. "Richi, kau baik-baik saja?" Dia memegang tangan Richi yang terlihat akan jatuh.


"Bisa kau antar aku pulang?"


"Baik, aku akan mengantarmu." Ucap Harry lalu memeluk bahu Richi.


"Harry!"


Shera datang dengan wajah panik dan membawa sebotol minuman di tangannya.


"Kau? Sudah ku bilang berapa kali kau juga tidak paham!" Suara Harry meninggi. Wajahnya terlihat tidak suka akan kehadiran gadis itu.


"Harry, dengar aku dulu. Perempuan ini, dia punya rencana jahat padamu."


"Sudahlah. Aku sudah mengatakannya padamu di apartemen. Kau hanya cemburu buta!"


Richi bersandar pada tembok, berusaha memegang apapun yang bisa ia sentuh. Perdebatan dua orang di hadapannya tidak ia pedulikan. Richi hanya ingin kabur, dia sudah tidak bisa menahan matanya yang sangat berat.


TRANG!


Suara botol pecah terdengar, perdebatan kedua orang itu semakin terdengar keras sementara Richi terus mengerjapkan mata dan menggelengkan kepala, berusaha untuk terus tersadar.


Richi bersandar sambil menahan tubuhnya dengan kedua tangan di tembok. Matanya sudah sulit terbuka, kepalanya pula terasa semakin berat. Richi sudah tidak bisa menahannya, dia benar-benar sudah tidak bisa menahan tubuhnya.


BRUK!


Richi terjatuh, dia masih bisa mendengar teriakan Harry yang menyebut namanya dan suara Shera yang menjerit entah kenapa. Richi tidak sadarkan diri...

__ADS_1


TBC


__ADS_2