Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Pengorbanan Shera


__ADS_3

...πŸ¦‹...


...(Flash Back On)...


"Kau yakin mau pergi sendirian?"


"Hugo, Ayolah. Setelah ini aku harus melapor pada Keen. Ini adalah bagian pentingnya." Jawab Richi lalu membuka seatbelt-nya.


"Jaga dirimu baik-baik. Perasaanku tidak enak."


"Aku bisa menjaga diriku sendiri, percayalah. Aku pergi, ya. Jangan telepon aku selagi masih disana. Dadah."


Richi keluar dari mobil Hugo, dia menyebrang dan berdiri di depan sebuah apartemen.


Hugo masih memperhatikan kekasihnya yang menunggu Harry disana.


Ponsel Hugo berdering, dia mengangkat telepon temannya yang menyamar sebagai anggota Stripe.


"Apa kau bilang?" Hugo membelalakkan mata saat mendengar penjelasan temannya itu.


"Maaf, aku baru sampai di markas. Saat tahu, aku langsung menelponmu."


Hugo keluar dari mobil dan dia terlambat, sebab mobil Harry sudah jalan bersama Richi.


Dia masuk lagi ke dalam mobil dan menelepon Clair.


"Clair! Harry sudah tahu Richi adalah Darrel dan mereka berencana membunuhnya! Aku akan kesana bersama seluruh anggotaku!" Hugo mencengkram setir dengan satu tangannya.


"Apa? Hugo, jangan gegabah. Kau bisa merusak seluruh rencana!"


"Richi akan dibunuh, sialan! Aku akan kesana, terserah dengan kalian!" Pekik Hugo dan langsung menancap gasnya. Pikirannya langsung kacau seketika. Dia menghubungi Daren dan yang lain untuk bersiap.


~


Clair menegang. "A-apa yang harus kita lakukan?"


"Kenapa??" Tanya Bella dan Olivia bersamaan.


"Darrel, dia sudah dibidik dan berencana akan dibunuh."


"Apa?? Cepat lapor pada Komander!!" Pekik Olivia yang ikut menegang. Mereka langsung bersiap untuk menuju markas Valiant.


Clair menghubungi Keen walau dia bingung akan bicara apa soal informasi yang ia dapat.


"Ha-halo, Komander." Clair menarik napas.


"Lapor, Komander. Aku baru mendapatkan informasi kalau Darrel sudah diketahui kedatangannya di markas Stripe dan dia berencana akan dibunuh."


"Apa? Cepat bersiap dan bergerak sekarang!!" Pekik Keen dari seberang sampai membuat Clair terperanjat. Untungnya Keen tidak menanyakan lagi dari siapa informasi itu sebab dia terdengar sangat panik dan khawatir pada adiknya itu.


Sesampainya di markas, ketiganya mendapati semua orang sudah bersiap lengkap dengan baju anti peluru.


"Hah, gila, ini perang besar!" Bisik Bella.


"Sudah, cepat ganti!" Olivia berlari dan segera menuju ruangan mereka.


Mereka memakai Sotnik, baju yang mampu menahan peluru dari senapan mesin berat kaliber 50, dilapisi lagi dengan hoodie hitam untuk menutupi kepala. Masker merah sebagai tanda bahwa mereka adalah Valiant.


Bella mengambil senjata yang biasa ia pakai, begitu juga Olivia yang menyelipkan pistol di belakang sepatunya.


"Clair, kau sudah bawa perlengkapanmu?" Lirik Olivia pada Clair yang berbeda perlengkapan.


Clair memakai setelan jas dan dasi. Dia menggulung rambutnya ke atas dan memasukkan barang-barangnya ke dalam koper kecil berwarna hitam.


"Sudah." Ucapnya lalu memakai kacamata hitamnya.


"Ayo, kita harus segera menyelamatkan Ketua Tim." Olivia dan yang lainnya keluar, mereka masuk ke mobil dan menuju tempat yang sudah mereka incar selama ini.


Pasukan Valiant bersiap dari tempatnya, mereka sudah mendapat perintah dari Keen.


Clair langsung berjalan ke arah lain. Dia mendapat tugas penting dari Keen.


Keen terhenti saat mendapati sekelompok orang bergerak tak jauh dari mereka dengan memakai kaos dan jeket kulit hitam.


Satu orang yang berdiri paling depan, ia mengenalnya. Lelaki itu mendekati Keen yang berdiri bersama pasukannya yang siap menembak saat melihat orang itu mendekat.


"Aku akan ikut masuk ke dalam, tujuan kita sama, jadi aku minta untuk tidak saling menyerang."


Keen tak menyahut, melihat dengan pandangan tak suka.


"Fokusku hanya Richi, terserah padamu." Lanjutnya lagi.


"Valiant tidak akan bertanggung jawab untuk kematian anggotamu atau bisa saja kau yang tak sengaja kubunuh." Tukas Keen dengan wajah berangnya.


Simon menepuk pelan bahu Keen. "Biarkan dia, kita tetap lanjutkan misi dan kembali ke rencana A." Bisik Simon pada Keen yang langsung pergi bersama beberapa anggota lain. Ya, mereka sempat memgubah ke rencana B karena Richi terancam. Sedangkan kedatangan Hugo seperti bantuan tambahan yang meringankan beban mereka.


"Pakai ini pada seluruh anggotamu supaya kami menandainya." Simon memberi beberapa kain merah pada Hugo. Dia sudah mendapat informasi tentang kedatangan Hugo dari Clair sebelumnya.


Simon lalu memberi sebuah Earpiece. "Ini akan menghubungkanmu dengan Clair dan yang lain. Kau akan mendengar perintah dari sini. Berhati-hatilah dan temukan Darrel." Ucap Simon lalu mulai bergerak, diikuti anggotanya yang lain.


~


Hugo meminta Darren dan yang lain untuk mengcovernya sebab dia ingin langsung naik ke atas tanpa hambatan.


Dengan pistol yang ia genggam, Hugo maju tanpa tersentuh sebab siapapun yang mendekat, anggotanya langsung menghajarnya.


Hugo, tekatnya telah kuat untuk mengangkat senjata pada siapapun yang mengancam keselamatan Richi. Dia takkan ragu untuk membunuh walau itu Harry sekalipun.

__ADS_1


Hugo menaiki lift sendirian. Dia mulai menaikkan senjata ke depan wajahnya untuk bersiap. Perasaannya tak karuan, apakah dia terlambat atau tidak. Yang pasti, informasi yang ia dapatkan dari temannya, Richi ada di lantai paling atas, di ruangan Harry.


'Hugo, kau dengar aku?' Suara Clair muncul di Earpiece.


'Dengar, Hugo. Bawalah Harry ke arah selatan ruangan. Giring dia kesana, sisanya serahkan padaku.' Jelas Clair dan Hugo semakin menguatkan genggamannya pada senjata saat pintu mulai terbuka.


Hugo berjalan perlahan dan mendapati beberapa orang keluar dari salah satu sudut. Hugo langsung menembak keduanya tanpa negosiasi. Baginya, waktu adalah yang terpenting saat otaknya penuh dengan kemungkinan hal buruk yang terjadi pada Richi.


Mendengar suara tembakan, beberapa orang keluar dengan senjata. Hugo menembak bahkan sebelum orang-orang itu mengangkat senjatanya.


Dia mengisi peluru, menembak siapapun yang keluar menyerangnya.


Hugo berjalan lagi dan mendapati Shera keluar dengan menodongkan pistol padanya. Hugo tersentak, sebab wajah Shera sembab seperti tengah menangis.


"Shera.." Hugo menurunkan senjatanya, namun gadis itu tetap mengarahkan senjata pada Hugo.


"Pergilah sebelum kutembak." Suaranya serak dan air matanya mengalir di pipi.


"Shera, katakan padaku dimana Richi. Apa Harry menahannya?"


Shera menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu dan tidak peduli."


"Shera, aku tidak ingin menyakitimu. Katakan, dimana Harry?"


"Langkahi dulu aku sebelum kau berhadapan dengan Harry." Ucapnya lalu mengokang senjatanya.


Shera tampak serius dengan ucapannya. Dia sangat melindungi Harry yang batang hidungnya bahkan belum terlihat.


"Baiklah, Shera. Dengarkan aku, mari buat kesepakatan. Aku tidak akan menyakitimu maupun Harry asal kau menyerahkan Richi padaku. Bagaimana?"


Shera menggelengkan kepalanya lagi. Dia terisak. "Aku tidak percaya padamu. Bahkan lebih baik dia mati supaya Harry melupakannya. Aku sangat membencinya."


"Shera, mari berpikir lagi. Ini tidak ada gunanya. Aku akan membawa Richi dan kau bisa bersama Harry."


"Aku hanya ingin membuktikan kesetiaanku pada Harry, aku tidak akan bernegosiasi padamu, Hugo. Pergi saja dari sini, kau tidak perlu repot mengorbankan nyawamu pada perempuan sialan itu!"


Hugo mengangkat senjatanya, mengarahkannya pada Shera yang menegang melihat arah ujung pistol itu.


Hugo maju, berjalan perlahan ke arah Shera. "Baiklah, Shera. Jika aku mengorbankan nyawaku untuk kekasihku, lalu kau? Apa yang kau lakukan sekarang? Mengorbankan dirimu untuk lelaki yang tidak memikirkanmu?"


Shera mundur, dia menangis tertahan mendengar ucapan Hugo.


"Kau sangat mencintai Harry, kan? Aku juga mencintai kekasihku. Kau mengorbankan hidupmu demi dia? Akupun begitu." Hugo mendekati Shera dengan pistol yang mengarah padanya.


Shera terus bergerak mundur walau tangannya tetap mengarahkan senjatanya pada Hugo. Dia tidak menjawab apapun selain tangisan dan mundur secara perlahan, takut Hugo menyakitinya.


"Shera, berpikirlah dengan jernih. Jika Harry mencintaimu, dia takkan mungkin menyuruhmu menghadapiku. Dia pasti melindungimu."


"Diam!" Jerit Shera.


"Aku tahu kau sangat mencintainya, tapi caramu melindunginya salah. Shera, aku tahu kau menyadari kesalahannya. Kau tahu dia berbuat salah. Iya, kan?" Hugo berhenti dan membidik Shera.


"Aku Bilang Diaaaammm!!"


Hugo langsung berlindung dibalik meja yang ada sampingnya karena menyadari Shera yang memejamkan mata lalu menembaki ke arah depannya berkali-kali sampai pelurunya habis.


Hugo menyandarkan tubuhnya dibalik meja. Dia tidak menyangka Shera melakukan ini demi Harry.


Hugo berdiri dan menghadapi Shera yang masih menangis lalu membuang pistolnya.


"Bunuh saja aku, Hugo."


"Kau bodoh." Ucap Hugo lalu mengangkat senjatanya.


"Harry! Keluar kau! Dasar pengecut!!" Teriak Hugo dengan mata yang masih tertuju pada Shera. Perempuan itu mundur hingga tubuhnya menyentuh tembok kaca.


Mata Shera membulat saat melihat Harry muncul dari belakang Hugo.


Menyadari itu, Hugo langsung dengan cepat memutar tubuhnya dan menendang tubuh Harry yang bersiap menusuknya dengan pisau yang ia dapat dari Richi.


"Dari dulu tidak berubah, pengecut."


Harry merangkak mengambil pisaunya dan Shera datang membantunya berdiri.


"Katakan dimana Richi!" Hugo mengarahkan pistol pada Harry.


Lelaki itu tersenyum sinis sambil memegang dadanya yang ditendang Hugo. "Nyawanya di tanganku, berani membunuhku artinya dia juga akan mati."


"Apa maumu, katakan. Kau sudah mendapatkan apa yang kau mau. Lalu sekarang kau membuat masalah besar dengan meledakkan perusahaan Ayah." Ucap Hugo dengan suara berat, dia menekan suaranya pada Harry.


"Kau anak yang tidak tahu diri. Semua keinginanmu dituruti, lalu apa balasan yang kau beri pada Ayah." Mata Hugo memerah, dia geram saat beberapa hari lalu masuk diam-diam ke ruangan Ayahnya dan mendapati David yang menghadiahkan Brizen Hills dan helikopter untuk Harry. Mengetahui itu membuat Hugo berang. Dia bukan cemburu, namun setelah tahu Harry memanfaatkan Ayahnya untuk menghancurkan perusahaan Ayahnya sendiri membuat amarah Hugo memuncak.


Beberapa bulan lalu, David mengirimi ucapan selamat ulang tahun pada Harry dan bertanya, apa yang diinginkan anak tirinya itu. Jawaban Harry sungguh luar biasa, dia ingin David merakitkan bom untuknya. Ya, David ahli dalam merakit peledak yang ia pernah pelajari diluar negeri. Tanpa alasan, David mempelajarinya karena menyukai kimia murni.


Hugo yang mengetahui keinginan Harry, menentang Ayahnya. Walau akhirnya diam-diam David menuruti permintaan Harry yang masih merasa dendam dengan Ayah kandungnya. Harry ingin menghancurkan perusahaan Ayah kandungnya, dia masih merasa dendam dengan perbuatan Ayahnya pada sang Ibu, meninggalkan Ibunya tanpa bertanggung jawab pada dirinya yang masih Bayi. Lalu saat Ibunya meninggal dan mengetahui potensi Harry, Ayahnya datang lagi dengan membawa surat hubungan darah mereka.


Lalu dari yang David ucapkan, dia hanya membuat satu peledak saja. Dia tidak tahu Harry dapat darimana sebanyak itu. Apalagi sampai ikut memasang di perusahaan David.


"Apa salah Ayah.." Hugo mengeraskan genggaman pistolnya, matanya menuju pada Harry.


"Apa maksudmu? Aku tidak meledakkan perusahan Ayah!" Harry mengerutkan dahinya. Dia memang tidak mengetahui ucapan Hugo.


Hugo semakin berang karena kepura-puraan Harry. "Tidak ada guna berbicara padamu, cepat beritahu dimana Richi!"


"Letakkan senjatamu jika kau mau dia hidup-hidup. Atau kau mau bawahanku mendorong kursi yang dia pijaki, supaya tali di lehernya mengencang sempurna?" Harry mengancam sebab dirinya mulai takut pada Hugo yang berang.


Hugo mengeraskan rahangnya, menatap Harry dengan tajam tanpa berkedip.

__ADS_1


"Kau tinggal pilih karena aku yang memerintah disini." Ucap Harry dengan senyuman miringnya.


Hugo menjatuhkan pistol dibawahnya.


Melihat itu, Harry tertawa puas.


"Lucu sekali. Kau sangat mencintai dia, ya? Apa kau tahu dia dari Valiant? Bukankah kau dan Keen musuh bebuyutan?" Harry berjalan perlahan mendekati Hugo dengan pisaunya.


"Itu bukan urusanmu."


"Wah, sudah tahu, ya? Hahaa". Tawa Harry meledak. "Sayang sekali, baik Richi maupun Keen tidak akan bisa keluar dari sini hidup-hidup karena kami telah memasang banyak perangkap."


"Sudahi omong kosongmu, cepat beritahu aku dimana Richi."


"Aaahh, terburu-buru sekali. Bagaimana kalau aku melukaimu sedikit saja lalu akan memberitahu dimana gadis itu. Aku serius." Harry menatap Hugo dengan sedikit hinaan. Lelaki itu, dulu pernah menghajarnya beberapa kali. Rasanya tidak adil karena dia belum pernah menyentuh Hugo sedikitpun. Bukankah menarik jika dia bisa memberi bekas pada Hugo sedikit saja?


"Laki-laki pengecut sepertimu, menyentuhkupun takkan meninggalkan luka."


Wajah Harry mulai berang.


"Kau pasti tahu itu. Kemampuan beladirimu buruk, kau sadar itu makanya kau menggunakan Richi untuk melukaiku."


Ucapan Hugo membuat emosi Harry dipuncaknya. Dengan cepat dia menusukkan pisau ke arah Hugo.


"Hugo, awas!"


Harry menegang saat dengan cepat Richi melindungi tubuh Hugo hingga pisau yang seharusnya tertancap pada Hugo justru menusuk perut Richi.


"Richiii!!!" Hugo langsung menahan tubuh Richi dan memeluk gadis itu.


"Chi...!" Harry menjatuhkan pisau dan kini tangannya ikut memerah. Dia menusuk Richi. Gadis itu melihatnya, Richi melihat ke arahnya dengan wajah yang menahan rasa sakit akibat dirinya.


"Chi, tahan. Aku akan membawamu. Tahan Chi." Hugo menangis, Richi bisa merasakan tangisan Hugo. Pistol yang ia genggam merenggang dan terjatuh dari tangannya. Dia terlalu panik saat melihat Harry mengarahkan pisau pada Hugo hingga mengorbankan tubuhnya.


Harry mundur beberapa langkah, dia sendiri masih terkejut dengan apa yang terjadi padanya.


Dia membeku saat menyadari sinar laser merah berkeliling di tubuhnya. Harry terus melihat laser yang berjalan di sekitar dadanya. Dia langsung menyadari posisinya sudah diincar sejak tadi.


"Beginikah akhirnya?" Harry tertawa pelan.


Hugo menggendong tubuh Richi yang mulai melemah dan langsung berlari menuju lift.


"Harry.. tubuhmu.. akan tertembak." Shera menatap jalannya laser di tubuh Harry.


"Shera, kemanapun aku berlari, aku tetap akan mati."


"No, kau harus tetap hidup. Ayo Lari, Harry." pekik Shera.


Harry tersenyum pada Shera. "Percuma. Aku sudah tidak bisa lari lagi. Shera, kau pergilah dari sini Kau sudah menunjukkan kesetiaanmu padaku. Aku tahu kau gadis baik yang menurut saja denganku yang memanfaatkanmu."


Shera mulai histeris saat laser itu berhenti di dada kiri. Tepat pada letak jantung Harry. Shera berlari ke arah Harry.


Clair yang membidik dari gedung lain, sudah terbakar emosi melihat Harry menusuk Richi. "Let my bullet come through your fckin' body, motherfcker!" Gumamnya geram. Clair menekan pelatuknya tepat di dada kiri lelaki itu.


DOR!


Suara laras lanjang itu membuat burung-burung yang berada didekat sana beterbangan. Clair mengangkat kepalanya, "a-apa?" Dia terkejut saat Shera memeluk tubuh Harry hingga peluru Clair masuk ke punggung kanan gadis itu.


Harry terdiam sesaat, Shera memeluknya dengan erat dan suara tembakan itu terdengar jauh.


Shera mengelus lembut rambut Harry sambil membaringkan kepalanya di bahu Harry.


"SHERAAAAA!!!" teriakan Harry membuat Shera meneteskan air matanya.


"Sheraa, Sheraa!"


Harry menahan tubuh Shera yang mulai menjatuhkan diri dari pelukan Harry. Ia tak kuat menahan sakitnya.


"Shera, kumohon.. SHERAA!" Harry berteriak saat Shera mulai melemas.


"Shera, kumohon jangan tinggalkan aku. Shera, aku tidak bisa tanpamu, SHERAAA..!!" Harry menyibakkan rambut Shera, mengelusnya dengan isakan yang ia tahan. Harry seperti kebingungan melihat Shera yang berlumuran darah.


Gadis itu menyentuh pipi Harry, mengelusnya dengan lembut. Harry menggenggam tangan itu, dia menciuminya.


"Aku sangat menyayangimu, Shera. Aku senang kau terus bersamaku, kau terus membelaku, kau setia disampingku. Maafkan aku Shera, kumohon hiduplah."


Shera menangis mendengar semua ucapan yang keluar dari mulut Harry.


"Berjanjilah untuk hidup, Shera. Aku akan bersamamu, aku akan hidup denganmu."


Shera membuka bibirnya, seperti ingin mengatakan sesuatu namun tak bisa.


Harry menatap mata yang hampir nenutup itu. "Aku akan menikahimu, Shera. Kita akan hidup bersama, ya? Kau mau menikah denganku, kan?"


Harry melihat senyuman samar Shera.


"Bertahan demi aku. Bertahan demi kebersamaan kita. Kau dengar aku kan, Shera?" Dia langsung menggotong tubuh Shera ke lantai atas.


"Bertahanlah, Shera. Bertahanlah.." Ucapnya sambil berlari menuju lift.


Dia sudah memikirkan caranya untuk lari, namun kali ini dia yang harus membawa Shera yang terluka, menuju rumah sakit terdekat. Harry membawa Shera, menyelamatkan gadis itu dengan helikopternya.


TBC


○●○●○


Maapkeun Author yang nulis alurnya lambat, ya. Soalnya sebenarnya Author suka karakter Shera walau oon. Author nulis part Shera sambil dengerin lagu STILL LOVE YOU - YOO HWE SEUNG. Ngena banget😭

__ADS_1


Izinkan Author ngembangin dikit karakter Shera, ya. Lop yuπŸ’œ


__ADS_2