Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Truth or Dare (1)


__ADS_3

Esokan harinya, orang-orang beraktifitas seperti biasa. Hanya Daren dan Olivia yang tak terlihat. Yang lain pun tak menanyakan karena sudah tahu sama tahu.


Sampai waktunya malam tiba, Bella menyeret Olivia keluar kamar karena ini malam terakhir mereka di Villa. Mereka mengadakan acara kecil-kecilan. Membakar jagung, cumi, dan lainnya.


"Hoho.. siapa yang menyediakan minuman beracun ini?" Tanya Bella yang sudah mengangkat botol emas berisikan wine.


"Itu memang sudah ada disini. Jadi kupikir, tidak ada salahnya mencoba sedikit." Sahut Hugo yang duduk bersebelahan dengan Richi.


Olivia menguap, lalu meminta izin masuk ke kamar dengan alasan mengantuk. Dengan cepat Clair menahannya.


"Tunggu disini sebentar lagi. Masa kau mau menghabisi waktu di kamar terus?" Kata Clair yang langsung membuat Olivia mau tak mau duduk lagi.


Matanya menangkap Daren yang berdiri mengipas-kipas jagung membelakangi mereka semua.


"Sudah matang." Daren berbalik arah sembari membawa jagung bakar namun matanya langsung menangkap Olivia yang duduk tak jauh dari hadapannya.


"Uwaah.." Hugo langsung mengambil 2 buah di nampan yang bahkan belum diletakkan Daren lalu menyerahkannya pada Richi.


"Enak. Daren memang jago." Kata Hugo mengalihkan pandangan Daren yang masih menatap Olivia. Padahal, gadis itu sudah membuang wajahnya saat sebelum Daren membalikkan tubuh.


"Kau beralih saja. Dari pada sibuk memikirkan dunia kerajaan, lebih baik jualan jagung." Celetuk Hugo.


"Kau saja sana!" Balas Daren lalu meletakkan nampan jagungnya.


"Masih panas, sayang." Celetuk Hugo lagi pada Richi. Gadis itu mengerutkan dahi, padahal dia tidak sedang memakan jagung itu karena dia juga tahu, masih sangat panas.


"Oh, aku baru melamar Richi." Oceh Hugo lagi dan berhasil membuat semua orang melirik pada mereka.


"Apa-"


"Lihat.." Hugo memotong ucapan Richi sembari menunjukkan jari gadis itu.


"He? Serius?" Tanya Bella.


"Iyalah! Kau kira aku bercanda. Aku melakukan ini sebelum Richi direbut orang. Aku tidak akan sanggup jika hal itu terjadi."


Richi mengerutkan alisnya, ingin memprotes tapi tatapan Hugo menandakan sesuatu.


"Kau ingat, Chi. Dulu kau sangat membenciku, kan? Lalu akhirnya jatuh cinta padaku. Hehe."


Richi mulai malas mendengarkan Hugo, dia memilih meniup pelan jagung yang mulai menghangat.


"Untunglah aku cepat menyadari perasaanku. Kalau tidak, mungkin aku akan menyesal seumur hidupku." Ucapnya sambil melirik Daren yang ketepatan tengah melihatnya. Mata Daren memicing, merasa aneh dengan sikap Hugo.


Ocehan Hugo pula mendapat kikikan dari Isac dan Axel yang menutup mulut mereka. Geli. Itu yang mereka rasakan mendengar Hugo seperti itu.


"Aku-"


Triririring...


Ponsel Hugo menghentikan ocehannya. Dia segera bangkit dan mengangkatnya.

__ADS_1


"Kenapa pacarmu itu?" Tanya Bella dan Richi hanya mengangkat bahunya.


"Iya. Ada apa?" Tanya Hugo pada orang diseberang.


"Kalian kemana saja? Lama sekali! Besok sudah harus sampai disini. Keadaan genting." Ujar Ricky.


"Ada apa memangnya?"


"Aku tidak bisa menjelaskannya disini. Yang jelas, besok siang kita harus beraksi. Kuharap pagi-pagi buta kau sudah sampai sini."


"Apa? Pagi-pagi buta? Yang benar sa-" Hugo menatap layar ponselnya saat Ricky langsung mematikan sambungan telepon.


"Sial."


Hugo kembali ke tempat dan mendapati Olivia sudah tidur di pangkuan Richi.


"Hei, Olivia! Minggir sana. Kenapa malah kau yang di pangkuan Richi??" Omel Hugo.


"Apasih, Hugo. Berisik." Balas Olivia tanpa membuka matanya.


"Kau disana saja! Pindah ke pangkuan Daren yang kosong!"


Olivia malah semakin menutup wajahnya dengan bantal kecil yang ia bawa. Sementara Daren tersentak saat namanya disebut.


"Ah, Ricky menelepon. Katanya pagi-pagi harus sudah sampai disana. Ada keadaan genting. Tetapi dia tidak bilang masalahnya apa." Jelas Hugo dan dia bisa melihat wajah tegang dari Clair, Bella, dan Olivia.


"Ada apa, ya? Bukannya permasalahan Albern dan tuan besar akan dialihkan ke jenderal?" Tanya Clair dan yang lain hanya mengangkat bahu tanda tak tahu.


"Astaga, merepotkan sekali." Keluh Bella.


"Sudahlah. Ini malam terakhir. Ayo main Truth or Dare." Isac memberi ide.


"Waah. Ayo, ayo." Sahut yang lain setuju.


"Ck. Aku tidak ikut, ya. Kepalaku pusing." Ucap Olivia dari balik bantal.


"No!" Bella dan Clair langsung menegakkan tubuh Olivia yang tiduran di pangkuan Richi.


"Ck! Apa, sih. Kenapa harus?" Protesnya.


"Hoo. Kau takut?" Bella cekikikan sendiri melihat raut Olivia.


Olivia dengan malas duduk lalu memeluk bantal kecilnya.


Axel mengisi wine ke masing-masing gelas. Setelah isinya kosong, dia menjadikan botol itu sebagai panah.


"Oke, bersiap, ya." Axel memutar botolnya. Mereka diam seketika sambil menunggu dimana ujung botol itu berhenti.


Set! Semua mata menuju pada Hugo.


"Truth or Dare?" Tanya Isac.

__ADS_1


"Truth." Jawab Hugo semangat. Berharap dia ditanya tentang hal yang menarik.


"Oke, aku yang bertanya." Ucap Axel.


"Berapakah total mantan kekasihmu? Sudah melakukan apa saja pada mereka? Richi yang keberapa? Apa yang-"


"Stop, stop, stop! Pertanyaan macam apa itu??" Protes Hugo dan yang lain hanya menahan tawa.


"Oh, kau memilih Truth. Jadi, jawab saja dengan jujur." Tukas Axel.


Hugo berdehem, lalu menatap Richi yang tengah memakan jagungnya.


"Ee.. sejujurnya.." Hugo sedikit tegang. Bagaimana jika Richi marah nantinya?


"Aku tidak menghitungnya."


"Biar kubantu." Ucap Isac tiba-tiba. "Hugo berpacaran 2 minggu sekali sejak masuk Sma. Dalam satu tahun ada 12 bulan. 12 bulan dikali 2 sama dengan 24. 24 orang kekasih Hugo dalam setahun. Jadi ini sudah masuk tahun kedua artinya-"


"Hei, hei, hei!!" Hugo dengan cepat memotong ucapan Isac.


"Banyak sekali, ya. Sampai 48 orang dalam 2 tahun." Sambung Bella.


"Kalau ternak bebek, sudah banyak tuh." Sambung Clair.


"Arrgh.." Hugo yang merasa kesal melirik Richi yang wajahnya datar saja, mengunyah jagung bakarnya.


"Itu belum lagi yang di Smp." Tukas Axel tiba-tiba.


"Uwah, Hugo. Kau benar-benar playboy, ya." Olivia manggut-manggut tak menyangka.


"Lalu, Darrel yang keberapa, Hugo?" Tanya Olivia dengan polosnya.


"Aah. Pertanyaan kalian, apakah tidak ada yang bermutu??" Protes Hugo lagi.


"Itu cukup bermutu."


Jawaban Richi membuat semua diam menahan tawa kecuali Hugo. Dia merasa kebingungan.


"Chi, itu kan, dulu. Aku bahkan tidak ingat siapa saja mereka. Sumpah."


"Kenapa kau takut begitu? Ini hanya game." Jawab Richi dengan bijak dan Hugo mulai duduk tenang.


"Haha. Tegang sekali. Kuputar lagi, yaa." Axel memutar lagi botolnya dan menunggu sampai berhenti.


Kini, mata mereka menatap ke arah Daren.


"Truth or Dare?"


Daren tak langsung menjawab. Dia sedikit berpikir sampai menyebut Dare sebagai jawaban.


"Serahkan yang ini padaku." Kata Hugo sambil tersenyum jahil. Dia tahu Daren tak mau memilih truth karena tak mau jujur dihadapan semua orang.

__ADS_1


"Dare, ya. Baiklah. Sekarang, coba tembak Olivia. Ungkapkan perasaanmu padanya segera."


__ADS_2