
Hujan deras juga dirasakan oleh Daren dinginnya. Dia merapatkan jeket yang ia pakai, berusaha bertahan di tengah angin dingin yang menerpa tubuhnya.
"Nak Daren, ayo masuk." Elisa berdiri diambang pintu. Dia mengajak Daren masuk karena angin ikut menghembuskan percikan air ke teras rumah mereka.
Daren menurut. Dia juga sudah merasa kedinginan sejak tadi. Tapi demi Olivia, dia merasa harus berusaha rintangan apapun yang ada di hadapannya.
"Kalau mau tidur, masuk saja ke kamar Olivia, atau duduk disini sambil menunggu juga tidak masalah, biar Bibi buatkan teh sebentar."
"Terima kasih, Bi." Setelah Elisa masuk ke dapur, Daren pula masuk ke dalam kamar Olivia. Dia langsung mendapati sebuah gaun putih tergantung di paku tembok dengan dilapisi plastik untuk melindungi gaun itu.
Daren tersenyum, ternyata gadis itu masih menyimpan dress yang pernah ia belikan waktu itu, walau dibagian belakangnya terdapat robekan yang cukup serius.
Dia beralih pada deretan foto yang lagi-lagi memperlihatkan wajah cantik Olivia dengan rambut pendeknya, bersama Richi dan yang lain. Dia tampak bahagia. Sudah beberapa kali Daren melihat itu, bahkan ia mencuri satu dan meletakkannya di atas meja belajarnya.
"Nak Daren.."
Elisa membuyarkan lamunan Daren. Dia keluar dari kamar Olivia.
"Oh, Nak Daren mau tidur di kamar?"
"Enggak, Bi. Saya disini saja." Ucapnya sembari duduk. "Bibi ke dalam saja. Saya yang akan menunggu Olivia disini." Kata Daren lagi.
Elisa meletakkan teh di atas meja kemudian masuk ke dalam kamar. Dia juga tidak menghubungi anaknya karena khawatir gadis itu tidak mau pulang jika ada Daren di rumah ini.
Selang beberapa menit, Olivia pulang dengan kebasahan. Beberapa kali terdengar hembusan napas kasar dari Olivia karena merasa kedinginan.
"Bundaa, tolong ambilkan handuk. Aku kebasahan." Teriak gadis itu dari depan rumah.
Daren bergerak. Dia mengambilkan handuk Olivia di kamar lalu menyerahkannya pada perempuan yang memeluk tubuhnya sendiri dan menggigil.
Daren membentangkan handuk ke rambut basah Olivia, menggosoknya pelan-pelan, membuat gadis itu membalikkan badan dengan wajah yang tertutup handuk.
"Bunda, tumben perhatian. Haha." Tawa gadis itu karena merasa Bundanya agak berlebihan.
__ADS_1
Daren hanya tersenyum, dia terus mengelap Olivia dengan kedua tangannya. Sementara Olivia merasa heran dengan pelakuan tiba-tiba sang Bunda.
Olivia menarik turun Handuk dari kepalanya perlahan. Handuk itu baru turun dibawah matanya, namun ia sudah terbelalak saat ternyata Daren berdiri tepat di depannya.
Mendadak wajah senyum Olivia berubah marah. Ternyata Daren ada di rumah, padahal mobilnya tidak ada. Lalu Bunda, sudah ia katakan untuk melapor jika ada Daren di rumah, tapi sang Bunda tak memberitahunya.
"Bundaa.. bundaa.." teriak Olivia sembari masuk ke dalam rumah. Lantai menjadi basah tetapi dia tidak mempedulikan itu.
"Ada apa Liv? Kenapa teriak-teriak? Nanti adik kamu bangun." Tukas Elisa yang muncul dari kamarnya.
"Bunda tidak lihat ada siapa di rumah? Kenapa Bunda tidak bilang padaku? Aah, bikin kesal saja!" Sentak Olivia lalu membanting pintu kamar dan menguncinya.
Elisa terkejut dengan perlakuan putrinya kepada Daren. Padahal berulang kali Elisa mengatakan, kalau Olivia harus sopan kepada Daren. Tapi gadis itu terlalu terang-terangan menunjukkan ketidak sukaannya pada Daren.
"D-daren.. Bibi.." Elisa tampak bingung dengan kondisi sekarang ini. Dia tak tahu harus bicara apa.
"Tidak apa-apa, Bi. Olivia mungkin masih kesal pada saya. Saya sangat mengerti." Jawabnya dengan masih menatap pintu kamar Olivia.
"Kalau begitu, tidurlah dulu disini. Sudah tengah malam dan masih hujan deras. Mau tidur di kamar Bibi?"
Elisa masuk ke dalam kamarnya, lalu keluar lagi dengan membawa selimut tebal dan bantal.
"Maaf ya, nak. Disini tidak ada kamar lebih."
"Tidak apa-apa, Bi. Saya merasa terima kasih sudah diizinkan menginap." Ucapnya dengan sedikit menunduk.
"Kalau ada yang dibutuhkan, panggil bibi, ya. Bibi masuk dulu."
Daren merebahkan tubuhnya saat Elisa sudah masuk ke dalam kamarnya. Mata Daren pula terus menatap pintu kamar Olivia. Tidak terdengar suara apapun dari dalam sana, padahal seharusnya Olivia keluar lagi untuk sekedar mandi atau mengambil air hangat untuk dirinya. Tetapi gadis itu benar-benar tidak keluar lagi. Daren pun mulai memejamkan mata sambil menunggu Olivia keluar dari kamarnya.
Olivia di dalam kamar sudah berganti baju. Lantai kamarnya sedikit basah karena dirinya memaksa masuk dengan tubuh yang masih ditetesi air dari baju basahnya.
Olivia duduk di tepi tempat tidur. Dia melirik jam berkali-kali. Ingin keluar dari kamar untuk mengambil air hangat, tetapi khawatir Daren masih terjaga disana. Diapun memutuskan menunggu satu jam lagi sampai Daren benar-benar terlelap dari tidurnya.
__ADS_1
Setelah satu jam berlalu, Olivia bangkit dari tempat tidur. Dia berjalan jinjit supaya tidak membuat suara dan membangunkan Daren. Lampu sudah dipadamkan, dan dia bisa melihat siluet Daren yang berbaring dengan napas teratur. Melihat itu, Olivia merasa lega dan segera menuju dapur untuk mengambil air.
Tidak ada apapun yang terjadi sampai Olivia menyelesaikan urusannya di dapur dan akan kembali ke kamar. Namun saat dia berbalik, Olivia dikagetkan dengan Daren yang sudah berdiri dibelakangnya sejak tadi.
"Olivia." Suara Daren amat pelan karena dia pun tak ingin Elisa terbangun.
Olivia menepis tangan Daren dan berjalan meninggalkannya. Tetapi cepat sekali, Daren menarik tangan Olivia dan menyandarkan tubuh itu ke tembok.
"Olivia, dengarlah aku. Aku hanya ingin meminta maaf padamu."
"Lepas, sialan." Olivia berusaha melepaskan kedua tangannya yang ditahan Daren ke tembok.
Perlahan Daren melepaskannya. Mereka berdiam disana, hanya ada suara napas berat Daren yang terdengar.
"Bisa aku bicara sebentar saja.. aku datang kesini untuk meminta maaf padamu."
Suara lembut Daren membuat Olivia menatap wajahnya yang tidak begitu jelas dalam gelap.
Daren menggenggam tangan Olivia. "Maafkan aku. Aku sangat salah. Aku tidak bermaksud mempermainkanmu. Aku-"
Olivia menarik tangannya. "Aku tidak akan pernah memaafkanmu. Besok pagi-pagi sekali, pergilah dari sini. Aku tak mau melihatmu lagi. Aku sudah memperingatkanmu!"
Olivia ingin pergi tapi lagi-lagi Daren menahan pinggangnya. Lelaki itu memeluknya dari belakang, tentu hal itu membuat Olivia terkejut dan langsung menyikut perut Daren hingga membuatnya merintih.
"Kau gila!?"
Daren kembali mengungkung Olivia di kedua tangannya. Dia langsung mencium bibir gadis itu dengan rakus. Tentu saja hal itu membuat Olivia terdiam kaget, mencerna apa yang terjadi saat ini.
Ingatannya tentang ciuman pertama pada Daren kembali muncul, dimana Daren menganggap itu hanya sebuah lelucon.
Olivia dengan kesal mendorong tubuh Daren sampai terjungkal kebelakang. Dia langsung meninggalkan Daren, masuk ke dalam kamar dan menguncinya.
Olivia masih berdiri di tempatnya. Dia menelan ludah, harum napas dan wajah lekat Daren masih terasa. Bahkan bibir Daren yang terasa mint masih ada di bibirnya.
__ADS_1
Daren sialan, batinnya. Olivia mengutuk lelaki itu. Apa yang dilakukan Daren? Olivia tak habis pikir. Tapi, ada yang lebih membuat Olivia terusik. Yaitu getaran dalam dadanya. Olivia terduduk karena merasa tidak sanggup menahan debaran hatinya. Lagi-lagi Daren melakukan itu, tanpa seizinnya dan membuat perasaannya seperti ingin meledak.
Berkali-kali Olivia mengambil napas banyak saat mengingat kejadian beberapa detik yang lalu. Malam sial, karena Olivia ternyata sulit tertidur, memikirkan Daren yang dalam gelap pun sangat mempesonakannya.