
...HALO GUYS!...
...WELCOME TO MY NEW STORY!...
..."TOPAN & CAHAYA"...
...~~~...
#TOPAN&CAHAYA EPS. 9
...•...
...•...
Cahaya sampai di rumah sakit, ia tampak sangat cemas dan khawatir turun langsung dari motornya lalu berlari menuju ruang rawat mamanya sambil tergesa-gesa.
Sesampainya disana, ia melihat sebuah brankar keluar dari dalam ruangan itu membawa seseorang di atasnya... sontak Cahaya berpikir kalau itu adalah mamanya dan langsung berlari menghampiri brankar itu.
"Tunggu!" teriak Cahaya membuat para perawat yang sedang membawa brankar itu berhenti.
Cahaya menangis saat melihat wajah mamanya yang sedang pingsan dengan selang infus di hidungnya, ia memegang wajah mamanya itu dengan kedua tangannya.
"Maaf mbak, kami harus segera memindahkan pasien ke ruang operasi! Jika terlambat maka nyawa pasien bisa menjadi taruhannya, mohon mbak minggir dulu ya!" ucap dokter.
"I-i-iya dok, tolong selamatkan mama saya!" ucap Cahaya menjauh sambil menyeka air matanya.
"Kami akan melakukan itu!" ucap dokter kemudian meminta para perawat lanjut mendorong brankar ke ruang operasi.
Cahaya terus menghapus air matanya kemudian hendak mengikuti mereka, namun sebuah suara berat memanggil namanya membuat ia menghentikan langkahnya.
"Cahaya!" panggil sang papa yang baru keluar dari ruangan itu.
Cahaya pun menoleh ke belakang memandang papanya yang sedang berjalan mendekatinya bersama seorang wanita yang sangat ia benci disampingnya itu.
"Papa..." ucap Cahaya langsung memeluk tubuh papanya dengan erat dan menangis disana.
__ADS_1
Hendra bisa merasakan kesedihan yang dirasakan putrinya itu, ia memeluk sambil coba menenangkan Cahaya agar tak terus bersedih.
"Apa yang terjadi sama mama, pa? Kenapa mama harus dibawa ke ruang operasi? Apa kondisi mama drop lagi pa?" tanya Cahaya terisak masih di dalam pelukan papanya.
"Iya sayang, mama kamu harus di operasi karena penyakitnya semakin mengganas! Kita doakan saja ya semoga operasinya lancar dan mama kamu bisa sembuh sayang!" jawab Hendra mengusap-usap punggung Cahaya.
Gadis itu pun melepas pelukannya serta menyeka air mata yang ada di wajahnya, sementara Hendra menatap Cahaya dan menggenggam wajah putrinya dengan kedua telapak tangannya.
"Kamu harus kuat demi mama kamu! Jangan lemah, kita sama sama doakan kesembuhan mama kamu dan kelancaran operasi ini!" ucap Hendra menenangkan putrinya itu.
"Iya pah, aku berusaha kuat kok! Walau aku harus menghadapi kenyataan punya papa yang seperti papa... yaudah pah, aku mau temenin mama disana!" ucap Cahaya menyingkirkan tangan papanya dari wajahnya lalu pergi menyusul sang mama ke ruang operasi.
Sementara Hendra merasa tersentak dengan perkataan putrinya, ia terpaku disana seperti menahan emosi.
Melihat sang suami tampak kesal, Calissa langsung melingkarkan tangannya di sela-sela lengan Hendra lalu menempelkan kepalanya ke bahu suaminya.
"Tenang ya mas, Cahaya mungkin lagi sedih karena mamanya harus masuk ruang operasi! Sabar mas jangan emosi, tenangin diri kamu! Yuk kita susul Cahaya kesana, karena kamu tetap harus ada disana menemani dia sebagai seorang papa yang baik..." ucap Calissa.
"Iya sayang, makasih lagi lagi kamu bisa bikin hati aku merasa tenang... oke kamu benar, yuk kita berdua kesana lihat kondisi istri saya!" ucap Hendra mengecup kening Calissa.
Lalu, mereka berdua bergandengan tangan menuju ruang operasi menyusul Cahaya yang sudah lebih dulu berada disana.
"Duh ya Tuhan, tolong selamatkan mama! Aku gak bisa kalau harus kehilangan mama, tolong sembuhkan mama ya Tuhan!" gumam Cahaya menatap ke langit memanjatkan doa untuk kesembuhan mamanya.
Disaat Cahaya tengah berdoa sambil memejamkan mata di depan ruang operasi, Hendra justru menegurnya dengan nada tinggi.
"Cahaya!" ujar Hendra melotot ke arah gadis itu yang berdiri membelakangi dirinya.
"Mas, jangan gitu ah!" ucap Calissa coba menenangkan suaminya lagi yang terbawa emosi karena perkataan Cahaya tadi.
Mendengar suara papanya, Cahaya menoleh dan menatap malas ke arah mereka apalagi ada Calissa disana sedang memegang lengan papanya.
"Apa sih pah? Udah deh jangan cari ribut terus sama aku, sekarang kondisi mama lagi gawat dan butuh doa dari kita semua! Tolong dong papa sekali aja ngertiin mama, dan lu cewek murahan mending pergi aja deh dari sini! Lu itu gak guna disini, gue muak lihat drama lu tau gak?" ujar Cahaya.
"Cahaya!" ujar Hendra tersulut emosi bahkan sampai menghentakkan tangannya lepas dari genggaman Calissa, ia maju mendekati Cahaya dengan emosi yang memuncak.
__ADS_1
"Jaga bicara kamu Cahaya!" sambungnya sambil menunjuk wajah Cahaya dengan jari telunjuknya dan mata yang menyala.
"Apa pah? Sekarang papa lebih pentingin cewek itu daripada mama? Suami macam apa sih papa ini? Aku jadi kasihan banget sama mama, seharusnya mama gak nikah sama papa!" ujar Cahaya dengan sangat berani.
PLAAKK... satu tamparan keras mendarat di wajah sebelah kanan Cahaya membuat gadis itu memegangi wajahnya yang memerah, sementara Calissa menutup mulutnya terkejut karena Hendra bisa melakukan itu pada putrinya demi membela dirinya.
"Kurang ajar kamu!" ujar Hendra sangat emosi.
Cahaya memang merasakan sakit di wajahnya akibat tamparan dari sang papa, namun itu tak sebanding dengan rasa sakit di hatinya karena papanya tega menampar ia hanya demi membela selingkuhannya.
...•••...
Disisi lain, Bella menemui seorang pria di sebuah cafe setelah mereka sempat berjanjian lewat sms tadi.
Tampak pria berjaket biru tua serta celana jeans hitam tersenyum menyambut kedatangan Bella, wanita yang ia cintai sejak dulu.
"Welcome Bella cantik..." ujarnya berdiri menyambut Bella sambil tersenyum.
"Gausah alay deh, ada apaan lu minta ketemu sama gue? Jangan bilang kalo gak ada apa-apa ya! Gue udah bosen loh sama bualan lu ini, ayolah sekali-kali lu serius jangan sering kerjain gue kayak gini!" ujar Bella baru datang sudah langsung marah-marah saja.
"Duh sayang, kamu apaan sih? Masa baru datang aja udah marah-marah begitu, sini sini duduk dulu tenangin diri kamu! Pasti kamu haus kan? Mau pesan apa cantik?" ujar pria itu menarik kursi agar Bella bisa duduk.
Gadis itu pun duduk disana tepat di samping pria tersebut, ia masih tetap berwajah masam dan jutek mengingat kejadian memalukan saat Topan memuji bokong nya tadi.
"Kok diem sih sayang? Ayo pesan aja apa yang kamu mau, nanti biar aku yang traktir! Atau kamu mau minum punya aku nih?" ujar pria itu menyodorkan minumannya.
"Ish najis banget gue minum bekas lu! Udah lah Bram, langsung aja to the point lu mau apa ngajak gue ketemuan disini!" ujar Bella.
"Ohh jadi lu gak suka yang namanya basa-basi ya? Oke deh langsung aja gue terus terang sama lu, tapi jangan kaget loh ya!" ujar pria bernama Bram itu.
Bram kemudian meraih tangan mulus Bella lalu menggenggamnya erat, ia juga menegakkan posisi tubuhnya dan menatap mata Bella.
"Gue mau lu jadi pacar gue Bel!" ucap Bram.
Bella menganga terkejut mendengarnya, wajah yang tadinya cemberut mendadak berubah kaget akibat perkataan dari Bram.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...