Topan & Cahaya

Topan & Cahaya
Bab 50. Teringat kembali


__ADS_3

...HALO GUYS!...


...WELCOME TO MY NEW STORY!...


..."TOPAN & CAHAYA"...


...~~~...


#TOPAN&CAHAYA EPS. 49


...•...


...•...


Cahaya hendak kembali ke sekolah untuk menyerahkan makalah yang sudah ia buat dalam rangka menjalankan hukuman dari pak Jumali, awalnya ia merasa seperti biasa saja ketika mengendarai motor di jalan tersebut karena memang tidak ada apa-apa disana.


Namun, tiba-tiba saja ia melihat sebuah motor yang sepertinya sedang mengikutinya dari belakang melalui kaca spion motornya. Cahaya pun merasa panik dan cemas apalagi di jalan ini sepi dan tidak ada siapapun yang lewat, akhirnya ia menambah kecepatan motornya berusaha menjauh dari pengendara motor yang mengikutinya.


"Duh itu siapa sih? Mau apa coba dia pake ngikutin gue segala sampe kesini?"


Syukurlah Cahaya berhasil sampai dengan selamat di tempat tujuannya yakni sekolah, ia langsung masuk melewati gerbang dan memarkirkan motornya di tempat biasa. Terlihat pemotor yang mengikutinya itu berhenti agak jauh dari gerbang sekolah dan masih terus mengawasi Cahaya, entah apa yang diinginkan pemotor tersebut.


Sesudah menaruh motornya di tempat aman, Cahaya pun pergi menuju ruang guru sembari membawa makalah di tangannya untuk ia serahkan pada pak Jumali sebagai bentuk permintaan maaf sekaligus hukuman karena sudah membohongi pak Jumali.


Di sekolah itu memang masih lumayan ramai oleh para murid yang mengikuti ekskul, makanya tak heran jika Cahaya bertemu dengan rombongan seniornya sekaligus anak-anak basket yang dulu pernah membully Cahaya ketika ia baru masuk ke sekolah tersebut.


"Wih wih, lihat siapa yang kita temuin ini guys!" ujar seseorang dari mereka, sebut saja namanya Aldo alias ketua ekskul basket yang jadi idaman para siswi disana karena sikapnya yang cool.


"Aduh aduh, wisata masa lalu ya bray? Jadi keinget waktu cewek ini kita bully habis-habisan dan gak bisa ngelawan, rasanya pengen banget gitu mengulang masa-masa inda dahulu..." sahut temannya yang bernama Jaelani atau biasa dipanggil Jae.


Cahaya berusaha diam menahan emosinya, ia tidak ingin berurusan kembali dengan orang-orang seperti mereka yang pernah mempermalukan dirinya di hadapan banyak orang termasuk temannya.

__ADS_1


Cahaya pun hendak pergi dari sana melewati mereka untuk menemui pak Jumali di ruang guru, akan tetapi dengan cepat tangan Jae mencegah Cahaya untuk melangkah dengan mencengkeram tangan gadis itu.


"Eitss, mau kemana? Jangan buru-buru dong Aya, kita main-main dulu disini mengingat masa lalu yang indah! Gue yakin lu juga pasti masih inget saat-saat indah itu kan, atau mungkin lu malah terus bayangin momen itu?" ujar Jae disahuti oleh rekannya dengan tertawa terbahak-bahak.


"Lepasin gue!" ujar Cahaya berusaha berontak untuk melepaskan tangannya dari cengkeraman Jae.


"Enak aja minta dilepasin, heh jangan manja! Kalo lu mau, lepas sendiri dong! Nanti gue bakal kasih hadiah buat lu seandainya lu bisa lepas dari cengkeraman gue, hadiahnya lu boleh jadi simpanan gue!" ucap Jae sembari membelai wajah Cahaya.


"Gausah ngada-ngada lu ya! Gue gak sudi deket-deket sama cowok kayak kalian!" ujar Cahaya.


"Waduh, mantap banget ya lu sekarang! Beda jauh loh dari lu yang dulu, tapi lebih asyik sih soalnya kita suka sama yang ngelawan kayak gini!" ujar Aldo mendekati Cahaya dengan rokok di mulutnya.


"Lu mau apa?" ujar Cahaya sedikit gemetar ketakutan saat Aldo berjalan ke dekatnya, ia masih berusaha melepaskan diri tetapi gagal.


Aldo tak menjawab pertanyaan Cahaya, ia mengambil rokok di mulutnya lalu menunjukkan itu tepat di hadapan Cahaya sambil tersenyum sinis.


"Pegangin dia! Gue mau hias wajahnya pake rokok ini, gue jamin pasti bakal perfect hasilnya!" ucap Aldo.


Satu orang lagi yang bernama Iben pun mendekati Cahaya dan membantu Jae memegangi gadis itu, sedangkan Cahaya sendiri merasa ketakutan dan terus meronta-ronta minta dilepaskan.


"Hahaha.... hahaha...."


🔴


Suara-suara tawa dari mereka terus membuat Cahaya histeris ketakutan, gadis itu reflek menutup telinganya sambil berteriak membuat para murid disana termasuk seniornya itu terkejut.


"Tidaaakkk, jangaann..." teriak Cahaya.


Rupanya Cahaya masih parno pada kejadian masa lalunya, itu terbukti karena Cahaya membayangkan hal yang tidak-tidak begitu melihat Aldo dan yang lainnya disana.


Dua orang temannya yakni Mawar & Melani yang masih ada di sekolah pun datang menghampiri Cahaya, mereka berusaha menenangkan gadis yang tengah histeris itu.

__ADS_1


"Cahaya, lu kenapa?" ujar Mawar panik.


"War, kita bawa Cahaya ke tempat duduk dulu! Kayaknya dia lagi kepikiran sesuatu yang menakutkan deh," usul Melani.


"Iya iya bener, yaudah ayo!" ucap Mawar.


Mereka pun bekerjasama membawa Cahaya ke tempat duduk yang tersedia disana, gadis itu memang masih terus histeris mengingat kejadian masa lalunya yang begitu tragis dan menyeramkan.


Setelah duduk, Mawar pun mengipasi Cahaya dengan kipas tangan miliknya yang selalu ia bawa kemanapun. Sedangkan Melani berusaha menenangkan Cahaya dengan memeluk gadis itu, ia bertanya mengapa Cahaya bisa sampai begini.


"Aya, udah jangan dipikirin terus! Gue gak tahu lu kenapa, tapi yang pasti lu harus tetap tenang!" ucap Melani membujuk temannya.


Akhirnya Cahaya bisa sedikit lebih tenang dan melupakan semua kejadian itu, memang ia masih belum bisa memaafkan para senior yang membully dirinya ketika dulu. Namun, untuk saat ini ia sudah merasa lebih tenang dan tak perlu takut lagi karena seniornya itu sudah dihukum oleh sekolah.


"Nih lu minum dulu!" ucap Mawar menyodorkan botol air mineral pada Cahaya.


Cahaya mengangguk kemudian melepas pelukan Melani dan duduk tegap, ia meminum air pemberian Mawar sampai tinggal setengah.


"Lu itu sebenarnya kenapa sih? Ngapain tadi lu teriak-teriak histeris begitu di tengah lapangan?" tanya Melani penasaran.


"Gu-gue keinget sama masa lalu gue, soalnya tadi gue ngeliat kak Aldo disana!" jawab Cahaya.


"Ohh, jadi karena itu lu sampe histeris? Ya ampun Cahaya, kan kita udah pernah bilang sama lu buat lupain itu semua dan jangan diingat lagi! Setiap manusia pasti punya masa lalu yang kelam, tapi kita gak boleh terus mengingatnya!" ucap Melani.


"Iya bener tuh, lagian sekarang kan kak Aldo sama temennya juga udah gak begitu lagi! Lu sendiri juga udah berubah kan, buktinya sekarang malah cowok-cowok pada takut sama lu!" sahut Mawar.


"Thanks ya, kalian selalu ada buat gue disaat gue senang maupun susah!" ucap Cahaya tersenyum.


Cahaya pun merangkul kedua sahabatnya itu disana sembari mengusap lengan mereka, ya ketiganya kini saling rangkulan disana. Cahaya sedikit merasa lega karena memiliki dua sahabat seperti Mawar & Melani yang selalu bisa menjaganya, bahkan ketika ia histeris seperti tadi keduanya juga muncul untuk membantunya menenangkan diri.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2