Topan & Cahaya

Topan & Cahaya
Bab 76. Orang suruhan?


__ADS_3

...HALO GUYS!...


...WELCOME TO MY NEW STORY!...


..."TOPAN & CAHAYA"...


...~~~...


#TOPAN&CAHAYA EPS. 75


...•...


...•...


"Topan...."


Calissa langsung memanggil nama pria tersebut yang masih tergelatak di atas ranjang, ia terus berjalan mendekati Topan sembari mengukir senyum di bibirnya dan tidak sama sekali mengalihkan pandangan dari wajah tampan nan mulus milik Topan disana.


Sementara Topan juga terkejut dan reflek menoleh ke asal suara untuk memastikan siapa yang memanggil namanya, ya Topan bertambah syok ketika melihat Calissa tengah berjalan ke arahnya dengan senyum terukir di bibirnya dan kini sudah semakin mendekati dirinya disana.


"Hey, Topan! Syukur deh kamu udah siuman, aku tadi khawatir banget loh!" ucap Calissa tersenyum mendekatkan diri ke Topan.


"Calissa? Bagaimana kamu bisa disini?" tanya Topan terheran-heran penasaran.


"Iya, jadi tadi aku lagi di jalan mau pulang... eh tiba-tiba pas di tengah jalan, aku lihat ada cowok kegeletak pingsan ya udah aku turun dulu dan samperin buat tolong itu cowok! Eh ternyata cowoknya itu kamu, makanya aku cemas banget dan langsung aja bawa kamu ke rumah sakit!" jawab Calissa menjelaskan semuanya.


"Jadi kamu yang udah tolong aku, Calissa?" tanya Topan penasaran lalu diangguki oleh gadis itu.


"Terimakasih, aku berhutang budi sama kamu! Kalau gak ada kamu, mungkin aku masih tergeletak di jalan sana dan bisa aja kondisi aku bakalan semakin memburuk!" sambung pria itu tampak sangat berterimakasih pada wanita di dekatnya.


"Sama-sama, Topan! Udah gausah pikirin itu dulu sekarang, karena kamu harus bisa sembuh dan kembali seperti dulu!" ucap Calissa.


Topan mengangguk pelan tanda setuju, wajahnya kini dipenuhi oleh perban karena memang luka disana cukup banyak dan lumayan menyakitkan tentunya bagi seorang Topan.

__ADS_1


Tak hanya wajahnya yang banyak diperban, bahkan sekujur tubuhnya yang lain juga ditutupi perban untuk mencegah infeksi atau penyebaran virus ke bagian tubuh lainnya yang bisa saja menambah luka serta bahaya bagi kondisi tubuh Topan.


"Oh ya, kamu kenapa sih kok bisa sampe kayak gini?" tanya Calissa penasaran seraya menarik kursi lalu duduk di samping pria itu.


Sontak Topan teringat pada tujuannya untuk mencari Cahaya yang pergi, ya seketika Topan terdiam memikirkan kondisi Cahaya saat ini yang belum ia ketahui dimana keberadaannya karena ia malah dicegat dan dihajar habis-habisan oleh orang-orang aneh yang ingin sekali menghabisinya.


"Topan, kok diem? Apa ini gara-gara pacar kamu?" tanya Calissa sekali lagi seperti memaksa Topan untuk menjawab pertanyaan darinya.


Tentu saja Topan syok karena tiba-tiba Calissa menyebut pacarnya, padahal sebelumnya ia tak pernah bercerita pada Calissa tentang pacarnya dan tentu saja ia bingung darimana Calissa bisa tahu soal pacarnya yang tidak jelas siapa itu.


"Pacar? Kok kamu bilang gitu??" ujar Topan tak mengerti, ia malah balik bertanya pada Calissa.


"Ya aku nebak aja, barangkali kamu sampe luka gini karena ada masalah sama pacar kamu itu! Kalau emang bukan, yaudah maaf kan aku gak tahu!" ucap Calissa ngeles sambil nyengir.


"Ohh, bukan kok! Tadi tuh ada rombongan orang yang tiba-tiba cegat aku pas lagi jalan, terus aku langsung dihajar gitu aja sama mereka padahal aku gak tahu punya masalah apa! Ya setahu aku sih aku gak kenal sama mereka, apalagi punya masalah!" ucap Topan menjelaskan yang sebenarnya.


"Waduh, kok bisa sih ada orang-orang kayak gitu ya? Kalau yang aku duga bisa jadi itu suruhan orang lain yang emang pengen celakain kamu, coba deh kira-kira kamu punya musuh gak?" ujar Calissa.


"Umm... yaudah soal itu diurus nanti aja, sekarang kamu banyak-banyak istirahat supaya cepet sembuh dan bisa pulang ke rumah!" ucap Calissa.


Topan mengangguk sembari tersenyum, matanya terus diarahkan pada wajah Calissa sang mantan yang memang masih cantik dan tidak berubah sejak terakhir kali mereka bertemu dulu sewaktu pacaran dan Calissa belum menikah dengan Hendra.


"Aku heran, tadi aku temuin Topan dari arah jalan ke rumah mas Hendra... ngapain ya dia kesana?" batin Calissa menerka-nerka.


...•••...


Disisi lain, Cahaya diajak makan bersama di sebuah kedai bakso enak yang sederhana dan dekat dari tempat mereka berada sebelumnya alias tebing curam itu oleh Robi.


Ya Cahaya pun mau-mau saja karena kebetulan ia juga lapar dan menikmati bakso di sore hari itu lumayan menggugah selera, apalagi tempatnya sangat sejuk dan nyaman membuat Cahaya tambah merasa tenang.


"Lu yakin bisa makan di tempat begini? Kalo misal lu nanti sakit perut atau kenapa-napa, jangan salahin makanan dan tempatnya ya!" ucap Robi sembari menarik kursi untuknya serta Cahaya.


"Yaelah, gue udah biasa kali makan di tempat modelan kayak gini! Lagian emang lu pikir gue ini orang apaan sih, masa makan bakso pinggir jalan aja gak pernah??" ujar Cahaya agak ketus.

__ADS_1


"Hahaha, kan jaga-jaga aja! Siapa tahu lu anak orang kaya yang gak terbiasa makan di tempat kayak gini, soalnya motor lu aja canggih bener harganya pasti mahal banget!" ucap Robi.


"Bokap gue emang orang berada, tapi bukan berarti gue gak pernah makan kayak gini!" ucap Cahaya.


"Ohh, ya bagus deh jadi gue gak perlu takut atau cemas dilaporin ke polisi atas tuduhan meracuni makanan!" ujar Robi sambil nyengir dengan gigi-gigi yang terpampang jelas.


"Ada-ada aja lu, udah jangan nyengir gitu jelek! Gue nanti jadi gak nafsu makan kalo lu kayak gitu terus!" ujar Cahaya sembari membuang muka.


"Buset di roasting depan muka gua, emang parah banget dah lu cewek mentang-mentang cakep!" ujar Robi pura-pura ngambek.


"Gue gak roasting, itu fakta!" ucap Cahaya.


Robi pun tersentak dengan ucapan Cahaya barusan, ia coba mengalihkan pembicaraan dengan memesan makanan pada abang bakso serta menawarkan juga pada Cahaya ingin memesan apa.


"Pak, mau pesen dong!" teriak Robi dengan satu tangan diangkat ke atas.


Sontak pedagang bakso itu datang menghampiri Robi dan juga Cahaya untuk mencatat pesanan mereka, sedangkan gadis itu masih sibuk membayangkan kejadian tadi siang disaat ia mengetahui sebuah kebenaran yang menyakitkan.


"Saya mau baksonya satu, sama es jeruk satu!" ucap Robi sambil tersenyum mengutarakan pesanannya.


"Eh Cahaya, lu mau pesen apa...??" tegur Robi pada Cahaya yang malah melamun.


"Ah eee... samain aja sama lu!" jawab Cahaya gugup.


"Yaudah, pak yang tadi saya bilang itu diralat ya! Jadinya bakso dua sama es jeruk dua..." ucap Robi memberitahu pedagang bakso itu.


"Siap, kang! Ditunggu sebentar ya..."


Pedagang itu pun kembali ke tempatnya untuk membuatkan pesanan Robi & Cahaya, sementara kedua manusia itu hanya saling diam dan sesekali Robi coba melirik Cahaya sekilas.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2