
...HALO GUYS!...
...WELCOME TO MY NEW STORY!...
..."TOPAN & CAHAYA"...
...~~~...
#TOPAN&CAHAYA EPS. 12
...•...
...•...
Cahaya masih berjalan sendirian entah kemana, ia tak memiliki tujuan saat ini karena para saudaranya tinggal di luar kota dan hanya papanya lah yang ia miliki sekarang. Akan tetapi, justru sang papa malah tak lagi perduli padanya dan lebih memilih bersama istri mudanya yang menjadi penyebab mamanya pergi untuk selamanya itu.
Karena tak memiliki tujuan, Cahaya pun lontang lantung tidak jelas menyusuri jalan sambil terus membayangkan saat-saat dulu bersama mamanya dan ketika papanya masih waras atau belum tergila-gila dengan wanita lain.
TIIINNN... suara klakson mobil menyadarkan Cahaya dari lamunannya, ia syok memegangi dadanya karena suara tersebut cukup keras.
"Woi, cari mati ya lu?" teriak pemilik mobil memarahi Cahaya karena gadis itu menyeberang jalan tanpa lihat-lihat.
"Ma-maaf pak," ucap Cahaya pelan menundukkan kepalanya menghadap ke arah pengemudi mobil yang mengamuk itu.
"Ah yaudah minggir!"
Cahaya pun memundurkan langkahnya naik ke atas trotoar memberi jalan pada mobil tersebut agar dapat melaju, dengan cepat pria itu menancap gas pergi dari sana meninggalkan Cahaya yang masih deg-degan.
Setelah mobil itu pergi, Cahaya kini menoleh ke kanan dan kiri secara bergantian memastikan tidak ada lagi mobil yang melintas sebelum ia hendak menyeberang jalan.
Cukup jauh gadis itu berjalan kaki, kini kakinya sudah mulai terasa lelah dan perutnya pun mulai kruwuk kruwuk tanda lapar karena ia memang belum makan sama sekali sejak pagi akibat kesedihan yang menimpanya.
"Duh, gue laper banget lagi! Tapi masalahnya dompet gue ketinggalan di rumah papa, masa iya gue harus balik dulu kesana buat ambil dompet? Ah enggak deh, gengsi banget gue balik lagi kesana apalagi kalo harus ketemu sama lontee murahan itu..." gumam Cahaya memegangi perutnya yang kelaparan.
__ADS_1
Akhirnya Cahaya memilih istirahat sejenak di sebuah kursi dekat sana, ia melihat ada warung makan yang terletak tak jauh dari tempatnya duduk saat ini. Namun, tentunya ia tak bisa pergi kesana meminta makan tanpa membawa uang sepeserpun.
Cahaya hanya bisa memandang dari sana melihat orang-orang yang sedang makan di dalam warung itu, Cahaya semakin lapar dibuatnya tapi apa boleh buat ia tak mempunyai uang untuk bisa membeli makanan disana yang pastinya tak murah.
"Duh, gue harus ngapain ya sekarang biar bisa makan? Selama ini kan gue selalu dimanja sama mama papa, jadi gue gak pernah diajarin buat hidup mandiri apalagi sekarang kondisinya gue gak pegang uang sama sekali!" ucap Cahaya kebingungan ia ingin makan tapi tidak tau harus bagaimana.
Tak lama kemudian, seseorang datang mendekatinya dan meminta izin padanya untuk duduk disampingnya. Orang itu adalah pria dan memakai topi coklat serta kaos oblong dengan bawahan celana jeans pendek robek-robek, ia juga memegang rokok di tangannya.
"Misi, boleh saya duduk disini?" tanya pria itu merunduk menatap wajah wanita yang sedang duduk disana sambil terus mengarahkan pandangannya ke warung makan di dekat sana.
"Eee ya boleh kok," jawab Cahaya mendongak sedikit menatap wajah pria itu, namun tetap tak terlihat karena pria itu menurunkan topinya.
Cahaya pun menggeser sedikit tubuhnya memberi ruang bagi pria tersebut untuk duduk disana, ia sebenarnya merasa takut dan cemas melihat setelan baju yang dikenakan pria itu karena tampak seperti preman jalanan.
"Makasih," ucap pria itu singkat lalu duduk di samping Cahaya sambil menghadap ke depan melihat jalan dan menghisap rokoknya.
Suasana disana sangat sunyi karena mereka saling diam bahkan tak bertatapan, keduanya sibuk dengan kegiatan masing-masing. Cahaya fokus menatap warung makan di dekatnya memandangi orang-orang yang tengah makan, sementara pria itu juga fokus menghisap rokoknya sambil menatap ke depan.
"Ma-maaf..." ucap Cahaya pelan.
"Gapapa, lu laper?" tanya pria itu dingin.
Cahaya hanya manggut-manggut pelan, sementara pria itu tersenyum tipis lalu membuang rokoknya ke sembarang tempat dan menginjaknya.
"Kenapa?" tanya Cahaya heran karena pria itu malah tersenyum.
"Lucu aja, laper kok ditahan-tahan? Kalo laper itu makan sana, tuh warungnya deket!" jawab pria itu menunjuk ke arah warung dengan memajukan bibir bawahnya.
"Gu-gue gak punya duit..." ucap Cahaya.
"Ohh pantes, yaudah yok!" ujar pria itu berdiri.
"Kemana?" tanya Cahaya heran.
__ADS_1
"Ke warung itu, kita makan!" jawab pria itu.
"Kan tadi gue dah bilang, gue gak punya uang! Lu aja sendiri sana yang makan!" ujar Cahaya.
"Ya makanya gue mau traktir lu makan, gue kasian sama lu sampe kelaparan gitu! Udah yuk nanti lu sakit kalo gak makan!" ucap pria itu.
"Gue gak perlu dikasihani!" ucap Cahaya malah tersinggung dengan perkataan pria itu, ia bangkit dari duduknya lalu pergi meninggalkan si pria tanpa berkata apa-apa lagi.
Pria itu hanya geleng-geleng kepala lalu tersenyum, ia mengambil bungkus rokok dari saku celananya dan kembali menaruh sebatang rokok di mulutnya itu.
...•••...
Disisi lain, Topan baru menyelesaikan kuliahnya di siang hari yang terik ini... ia hendak menemui teman-temannya yang kemungkinan sedang kumpul-kumpul di kantin, karena kebiasaan mereka memang selalu mengobrol disana.
Akan tetapi, saat di jalan Topan malah berpapasan dengan Bella mantannya. Tampak gadis yang biasanya ceria ketika melihatnya itu kini hanya sekedar menatap ke arahnya lalu pergi begitu saja tanpa berbicara apapun.
Ada rasa kecewa di hati Topan melihat Bella yang seperti itu padanya, entah mengapa ia bisa jadi begitu padahal dulu selalu menduakan Bella setiap Minggu bahkan hari.
"Kok rasanya nyesek banget ya dicuekin kayak gitu sama Bella? Harusnya gue kan b aja, apalagi sejak pacaran Bella juga gak pernah ngasih sesuatu yang istimewa ke gue! Tapi kenapa giliran putus gue malah ngerasa sedih banget kayak gini??" gumam Topan terus memandangi Bella berjalan dari belakang.
"Heh!" tiba-tiba sebuah suara berat mengagetkan Topan karena muncul dari belakangnya dan saat ia sedang melamun.
Sontak Topan menoleh memastikan siapa yang bersuara itu, rupanya ada Bram serta teman-temannya tengah berjalan ke arahnya.
"Jangan pernah lu ngarep bisa dapetin Bella lagi! Lu udah dikasih kesempatan buat bersama Bella, tapi lu malah sia-siakan itu! Jadi jangan harap akan ada kesempatan lainnya buat lu Topan, karena Bella sekarang udah jadi milik gue! Lebih baik lu lupain dia dan jangan pernah berharap bisa bersama dia lagi!" ucap Bram berhenti melangkah tepat di depan Topan.
Hati Topan serasa tersentak mendengarnya, ia tak menyangka kalau Bella mantannya begitu cepat menemukan pengganti dirinya dan memilih Bram musuh bebuyutannya sebagai teman hidupnya.
"Apa ini cara kamu untuk balas dendam ke aku, Bella?" gumam Topan terheran-heran.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1